Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Kehilangan Keduanya


__ADS_3

Keputusan Sean untuk memakamkan grandma Jelita akhirnya jatuh pada sore hari. Sean sengaja menunggu adiknya, Zelene.


Pagi ini, beberapa anggota keluarga pergi ke rumah sakit untuk menengok grandma Jenica yang sedang berjuang di dalam tidurnya. Grandma Jenica masih dalam kondisi koma sehingga semua keluarga merasa sedih. Bagaimana jadinya kalau wanita tua itu sadar dan menanyakan keberadaan saudari kembarnya?


Sementara sore hari, semua orang sudah berada di pemakaman. Termasuk Zelene yang baru saja datang bersama suaminya. Wanita paruh baya itu terlihat sedang memeluk putrinya.


"Sayang, mommy merasa kehilangan sekali," ucap Zelene ketika melihat peti sudah masuk ke dalam tanah. Setelah itu orang-orang menguburkannya.


Beberapa pelayan menyiapkan bunga untuk ditaburkan di atas makam itu. Beberapa lagi buket bunga segar yang sengaja di minta Sean untuk diletakkan di sana.


Seluruh anggota keluarga dan pelayan yang berada di sana ikut menabur bunga bersama. Selama hidup Jelita, wanita tua itu selalu bersikap baik pada pelayan dan menganggapnya sebagai keluarga. Itu juga berkat arahan dari Jenica.


"Selamat jalan, grandma," ucap seluruh anggota keluarga yang berada di sana. Setelah itu, satu per satu pelayan mulai meninggalkan pemakaman. Tersisa keluarga inti saja.


Hari menjelang petang, Sean lekas mengajak seluruh keluarganya untuk pulang. Namun, Zelene masih betah berada di sana dengan alasan yang membuat semua orang berkaca-kaca mendengarnya.


"Kak, pergilah! Aku masih ingin menemani mama Jelita. Walau bagaimanapun sikap buruknya di masa lalu terhadap kita, mama Jelita sudah membesarkan kita berdua dengan sangat baik."


Rasanya Sean tidak bisa melanjutkan langkahnya lagi. Zelene benar. Jelita yang mempunyai niat buruk di masa lalunya, tetapi masih merawat dan membesarkan kedua kakak beradik itu dengan baik.


Sean kembali untuk menemani adiknya. Namun, langkahnya terhenti lagi ketika ponselnya berdering. Rumah sakit meneleponnya. Setelah berbicara sebentar, raut wajah Sean tidak bisa diartikan lagi seperti apa. Mendadak dia pucat pasi dan seluruh badannya luruh ke tanah.


"Kak, ada apa?" tanya Zelene.


Semua orang yang berada di sana tidak berani bertanya selain Zelene.


"Kita pergi ke rumah sakit sekarang." Sean beranjak berdiri.


Sean tidak bisa membicarakannya sekarang. Setelah pemakaman, terpaksa semua harus meninggalkan makam yang masih segar dengan taburan bunga. Mereka pergi ke rumah sakit menggunakan dua mobil.


"Dad, sebenernya ada apa?" tanya Aquarabella.


"Grandma Jenica kesehatannya menurun. Dokter sedang berjuang untuk membuatnya stabil."

__ADS_1


"Oh God, grandma," ucap Aquarabella lirih. Suaminya berusaha menguatkan.


"Sayang, yakinlah semua akan baik-baik saja." Zack menyandarkan kepala istrinya di pundaknya.


Sementara di mobil lain, Zelene sudah sangat cemas sekali. Pengemudi mobil itu adalah Owen. Dia tidak tega membiarkan Darsh mengemudikan karena sebelum pemakaman, dia sudah pulang pergi ke bandara untuk menjemput mertuanya.


"Jangan cemas, Honey." Vigor berusaha menepuk pundak istrinya untuk memberikan semangat. Mama mertuanya pasti baik-baik saja.


"Mom, grandma pasti baik-baik saja. Mommy jangan cemas, ya?" Glenda duduk tepat berada di samping mommynya.


Willow kembali ke rumah naik taksi karena dia tidak kuasa untuk terus bersedih sepanjang waktu. Owen bisa memakluminya. Mungkin saja istrinya itu teringat masa lalu bersama grandma Jelita.


Mobil yang beriringan itu akhirnya sampai juga di tempat parkir rumah sakit. Mereka semua turun kemudian ke ruang rawat grandma Jenica. Rupanya di sana sudah ada tim medis yang sedang berjuang untuk menyelamatkan grandma yang mendadak drop. Mereka hanya bisa menunggu di luar ruangan.


Sean, Zelene, dan semua orang yang berada di sana mendadak terlihat sangat cemas. Aquarabella mendekati daddynya yang berada tepat di depan aunty Zelene-nya.


"Dad, jangan khawatir. Grandma pasti baik-baik saja." Aquarabella berusaha membuat daddynya untuk tetap tenang.


Suasana ketegangan semakin tegang manakala dokter keluar dari kamar rawat. Aura yang sangat terlihat letih dan tidak ada kekuatan sama sekali.


Isak tangis mulai membanjiri beberapa wanita yang berada di sana. Glenda, Zelene, dan Aquarabella langsung tanggap bahwa mereka kehilangan lagi. Baru saja selesai pemakaman grandma Jelita, sekarang grandma Jenica menyusul.


Dunia keluarga Armstrong seakan runtuh. Sean langsung terduduk lemas. Dia kehilangan mamanya.


Zelene mendekati Sean kemudian memeluk kakaknya. "Jangan khawatir, mama sudah tenang bersama saudari kembarnya."


Glenda pun tiba-tiba lemas kemudian tak sadarkan diri. Dia kelelahan sehingga Darsh harus membawanya ke ruang gawat darurat. Zelene semakin khawatir pada putrinya.


"Mommy jangan khawatir. Glenda hanya pingsan," Darsh baru saja keluar dari ruang gawat darurat. "Dia istirahat sejenak di sana."


"Darsh, mommy sangat khawatir sekali pada Glenda. Apa dia baik-baik saja? Atau mungkin dia hamil lagi?"


Glek!

__ADS_1


Hamil? Bisa-bisanya dalam kabar duka seperti ini mommy mertuanya menggiring opini yang salah. Hamil darimananya? Bersentuhan saja belum.


"Tidak, Mom. Glenda mungkin kelelahan. Mommy jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."


"Darsh, pemakamannya bagaimana? Apa aku kabari Willow saja supaya meminta pelayan untuk bersiap-siap?" ucap Owen.


"Benar, tolong kamu kabari Willow," sahut Sean yang mulai bangkit dari tempat duduknya. Tidak ada gunanya terpuruk terlalu lama. Mamanya pergi bersama saudari kembarnya.


Sean beranjak menuju ke pengurusan administrasi. Secepatnya dia harus membereskan berkas dan mengurus pembayaran agar mamanya lekas diantarkan ke rumah. Esok pagi baru pemakaman akan dilangsungkan.


"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Zack.


"Aku baik, Sayang. Namun, aku kepikiran dengan daddy. Daddy pasti sangat terpukul sekali dengan semua ini."


"Aqua, aunty harap agar kamu tetap menjadi suporter untuk daddymu. Kuatkan dia. Aunty yakin kalau kepergian mama ini membuat Kak Sean terpuruk. Dia sangat mencintai mama. Begitu juga denganku." Zelene meyakinkan keponakannya.


"Aunty jangan khawatir. Daddyku itu pria yang kuat. Walaupun grandma Jenica pergi, setidaknya daddy berada disisinya sebelum grandma pergi untuk selamanya."


Perbincangan terhenti manakala Glenda sudah keluar dari ruang gawat darurat. Dia terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya. Darsh mendekati dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


"Iya, Darsh. Aku baik." Glenda menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Sean yang barusan pergi ke tempat administrasi, sekarang sudah kembali lagi ke tempat keluarganya berkumpul. Pria paruh baya itu mendekati adiknya dan memeluk dengan penuh haru. Sementara Vigor, hanya mengamati kakak ipar dan istrinya saja.


"Ze, kita kehilangan mama untuk kedua kalinya. Kamu tahu kan kalau kita pernah kehilangan mama. Sekarang kita kehilangan untuk selamanya." Sean yang tidak bisa menangis, kali ini benar-benar terlihat rapuh. Zelene sebagai adiknya berusaha untuk menguatkan sang kakak supaya kesedihannya berkurang.


"Kak, kita memang kehilangan mama. Apa kamu tahu bahwa sebenarnya mama hanya pindah ke dalam hati kita lebih dalam? Mama mau agar kita mengenangnya dengan cinta."


Maksud Zelene adalah mamanya itu tidak akan pernah tergantikan. Semua kenangan akan menyatu seiring kepergiannya. Apalagi tidak hanya sendirian. Keluarga Armstrong kehilangan keduanya.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya keren milik Author Kirana Pramudya



__ADS_2