
Dua bulan kemudian, suasana Kafe milik Owen terlihat sangat ramai. Banyak kiriman ucapan selamat atas pernikahan sepasang kekasih berjajar di halaman Kafe. Ya, mereka adalah Max dan Helga. Max sengaja memilih Kafe Owen sebagai tempat yang pas untuk menikah.
Selepas resmi sah menjadi sepasang suami istri di kantor catatan sipil, Max memboyong istrinya memasuki Kafe Owen yang sengaja disulap menjadi tempat resepsi pernikahan yang cukup megah.
Keluarga Darsh, Glenda, dan beberapa sahabatnya turut hadir di sana. Berikut dua balita Willy dan Welenora yang lincah berjalan ke sana ke mari sehingga membuat baby sitter-nya kewalahan.
Memasuki area Kafe kemudian naik ke pelaminan, beberapa sahabatnya langsung mengucap selamat pada mereka. Saling bergantian kemudian berfoto bersama.
"Selamat, ya." Owen lelaki pertama yang maju untuk mengucapkan selamat. Sekarang statusnya sudah menduda. Dia belum ingin menikah lagi.
"Terima kasih, Owen. Kapan kamu menyusul?" balas Max.
"Tunggu aku siap lagi. Aku masih ingin sendiri saja," ucapnya.
"Terima kasih, Brother. Kamu lelaki baik dan berhak bahagia," balas Helga.
Tidak menyangka kini kehidupannya telah berubah semenjak memutuskan untuk menikah dengan Max. Selanjutnya giliran Darsh dan keluarganya. Satu persatu mereka menyalami Max dan Helga secara bergantian.
"Selamat, Max," ucap Darsh.
"Congratulations, Max," ucap Glenda.
"Terima kasih. Kalian pasangan yang sangat hebat." Puji Max pada sahabatnya.
"Kamu juga." Darsh memeluk Max cukup lama. Dia masih tidak menyangka kebebasannya sempat terenggut karena mencoba menutupi kesalahan orang lain demi keutuhan rumah tangga sahabatnya.
Selepas berpelukan, mereka foto bersama untuk membuat cerita lagi di masa depan. Hanya kebahagiaan yang tiada terkira saat ini.
"Akhirnya semuanya selesai, Pa. Semoga kebahagiaan selalu bersama kita semua," ucap Olivia.
"Ya, Ma. Saatnya kita fokus pada kedua cucuku itu. Aku mau keduanya menjadi orang hebat."
Dizon sudah menyadari banyak hal setelah berseteru dengan putranya. Tak perlu lagi ada perdebatan panjang setelah ini.
"Bagaimana, Pa? Apakah sekarang kita terus berdamai?" tanya Darsh yang baru saja bergabung bersama istrinya.
"Tidak semudah itu, Darsh. Papa masih punya permintaan padamu."
Deg!
Jantung Darsh maupun Glenda berdetak cukup kencang. Tidak biasanya Dizon mengajukan sebuah permintaan yang membuat sepasang suami istri itu mendadak tegang.
"Memangnya kamu mau minta apa?" selidik Olivia yang baru saja mencicipi makanan yang terhidang di meja.
__ADS_1
"Kamu tahu Willy dan Welenora, tentunya mereka sudah tumbuh dewasa dengan sangat cepat. Sehingga kalian tahu kan konsekuensinya? Willy dan Welenora akan tinggal bersama kami dan kalian, silakan berproduksi untuk adik kedua balita itu."
Glek!
"Papa!" Darsh terkejut. Bisa-bisanya diacara bahagia ini papanya membahas hal seperti itu.
"Om jangan khawatir. Kalau Darsh belum siap, kami berdua siap untuk memberikannya," sahut Max yang mendadak bergabung dengan keluarga ini.
Vigor dan Zelene sengaja memisahkan diri dari Dizon dan Olivia. Keduanya menghindari keributan yang terkadang tidak sengaja hanya karena sebuah candaan.
"Oh, tidak bisa, Max! Kita bersaing saja. Siapa yang cepat, berarti dia yang paling mujarab." Darsh tidak mau kalah dengan sahabatnya itu.
"Sayang, Willy dan Welenora belum dua tahun, loh. Aku belum berani memiliki bayi lagi," tolak Glenda di hadapan orang banyak.
"Nah, kamu benar, Sayang. Jangan turuti permintaan papa mertuamu. Rawat saja kedua balita kalian sampai dua tahun. Setelah itu, barulah kalian pikirkan untuk memiliki momongan lagi." Olivia tidak setuju. Balita yang belum berumur dua tahun itu masih membutuhkan kedua orang tuanya. Apalagi mommynya.
"Ma, kamu ini malah membela mereka. Papa kesepian di rumah. Makanya aku meminta Willy dan Welenora."
"Sudah-sudah, sebaiknya Max juga kembali ke pelaminan. Tuh, mereka pada antre untuk merebutkan buket bunga yang selalu di tunggu." Olivia tidak sabar melihat kehebohan yang terjadi. Dia langsung teringat masa lalunya dengan sang suami yang berakhir ricuh.
Selepas kepergian Max, Darsh malah mengancam balik papanya.
"Salah sendiri kenapa punya anak cuma satu! Kalau Papa mau, Papa saja yang berproduksi lagi. Ya, setidaknya aku bisa punya adik," ucapnya.
"Kurasa sebaiknya kalian minggir! Kalaupun dapat, apa Darsh akan menikah lagi?" cibir Owen.
"Wah, jelas tidak kuizinkan, lah. Mana mau aku berbagi suami. Yang benar saja," sahut Glenda.
"Cie, mama muda sensitif sekali," canda Owen.
"Owen, ingat ya. Kalau kamu tidak menikah sekarang, bisa dipastikan kamu akan mendapatkan mama muda yang sensitif sepertiku," ucap Glenda kesal. Dia kemudian lebih memilih keluar dari antrean karena puas mengerjai Owen.
"Istrimu sensitif, Darsh," ucap Owen.
"Biasa, wanita selalu begitu. Kalau kamu menikah lagi, kamu pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku," sahut Darsh.
Tidak sempat melanjutkan obrolan yang tidak jelas itu karena pembawa acara keburu mengumumkan pelemparan bunga. Sebentar lagi, hanya tinggal hitungan jari saja, dua buket bunga akan di lemparkan oleh sepasang pengantin.
Satu.
Dua.
Tiga.
__ADS_1
Huuup!
Dua orang lelaki mendapatkan buket bunga. Keduanya sama-sama semringah ketika mendapatkannya.
"Kamu?" Owen tentu saja terkejut. Tidak hanya dirinya, tetapi salah satu sahabatnya pun mendapatkan.
"Halo, Brother. Kita bertemu lagi," ucapnya. Selama beberapa bulan terakhir ini, setelah pertemuannya dengan Owen di hotel kapan hari, mendadak Frey datang. Jelas dia tahu kabar pernikahan sahabatnya. "Di mana istrimu?"
Deg!
Ya, pertemuan mereka adalah ketika Owen berbulan madu. Mereka bahkan makan di hotel yang sama.
"Wah, rupanya kamu datang," sahut Darsh yang melihat wajah lelaki yang tidak asing baginya.
"Tentu. Aku akan datang ke pernikahan sahabatku," jawab Frey dengan entengnya.
"Kekasihmu mana?" tanya Darsh.
Sepasang pengantin yang melihat ketiga lelaki sedang berbincang itu semakin membuatnya penasaran. Max lantas turun dan menemui mereka.
"Max, selamat! Kau lebih dulu rupanya. Dan, ah, pengantin wanitanya aku tidak perlu berkenalan lagi."
"Apa kau ini, Frey. Ya ya ya, setidaknya ucapkan selamat padaku. Kamu sendirian?" tanya Helga.
"Ya, seperti yang kalian lihat. Aku sendiri di sini," jawabnya.
"Mezzaluna di mana?" tanya Glenda yang juga menyadari kehadiran Frey.
"Sudahlah, jangan tanya tentangnya. Hari bahagia Max tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bukan begitu, Max," ucap Frey.
"Yah, kamu benar, Frey. Mari kita bersenang-senang," ajak Darsh.
Suasana Kafe semakin semarak mana kala sebuah alunan musik untuk berdansa sudah terdengar nyaring di sana. Ya, walaupun mereka tidak pandai berdansa, tetapi menikmati pesta apa salahnya.
Mereka bergantian berdansa. Yang pertama kali adalah Max dan istrinya. Selanjutnya Darsh dan Glenda. Barulah Frey yang kemudian menolaknya.
"Tidak, aku tidak akan berdansa tanpa pasangan," ucapnya.
Darsh nampak terkejut. Dia senang kalau Frey kembali. Namun, yang menjadi pertanyaan, kembalinya Frey ini hanya sementara atau tidak?
...🪴🪴🪴...
sambil menunggu update, yuk mampir karya keren berikut ini. jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1