
Rasa penasaran Frey terlalu tinggi. Bukan karena dia terlalu penasaran dengan urusan orang lain, tetapi mengenai pembahasan barusan sepertinya ada hubungannya dengan Darsh ataupun Jillian. Niat hati ingin menanyakan kepada Jillian, tetapi masih ada keluarga besarnya.
"Sudah lama mengenal Darsh?" tanya Grandma pada Frey.
"Iya, Grandma. Sejak kecil malah," jawabnya.
"Kamu pernah mendengarnya kalau dia memiliki seorang kekasih?" selidik Grandma. Wanita tua itu paham kalau sahabatnya Darsh ini tahu segalanya tentang cucunya.
Frey bingung harus menceritakan tiga gadis penggoda itu atau tidak. Kalau diam, itu artinya sama saja dia menciptakan kebohongan untuk sahabatnya yang statusnya sekarang berubah menjadi atasannya.
"Ehm, sebenarnya aku kurang tahu, Grandma. Hanya saja, ada beberapa gadis yang terus saja mengejarnya dan Darsh selalu cuek bahkan menghindarinya."
Sudah kuduga. Gadis pilihan Darsh mungkin sangat berbeda. Karakter anak itu seperti papanya.
"Bagus. Kamu sekarang sudah menjadi asisten pribadinya. Sudah sepantasnya kamu harus menjadi tangan kanannya dan orang yang harus menjadi perisai ketika atasanmu mengalami masalah," jelas Grandma.
"Mama harusnya jangan hanya berbicara kepada--" Felix menghentikan ucapannya karena agak lupa dengan penyebutan namanya.
"Frey, Dad. Namanya Frey, F-R-E-Y," tegas Jillian.
"Oh iya, Frey. Maksudku, Mama jangan cuma berbicara pada Frey saja, tetapi juga harus disampaikan pada Darsh juga," protes Felix.
"Sudahlah, Dad. Darsh cukup paham akan hal ini. Iya kan, Mam?" sahut Kayana.
"Jangan ribut. Papa pusing mendengarnya!" protes Denzel.
"Grandpa, kalau pusing lebih baik tidur saja," sahut Jillian.
Tak ada obrolan lagi. Semuanya terdiam. Mobil mulai memasuki area Bandara, tetapi pikiran Frey sudah ke mana-mana.
Frey menghentikan mobilnya tepat di pintu masuk. Setelah semuanya turun, Frey memarkir mobilnya terlebih dahulu baru menyusul Jillian.
"Jill, tidak ada yang ketinggalan?" tanya Frey.
"Semuanya sudah, Kak," balasnya.
"Frey, terima kasih sudah mengantarkan kami ke Bandara. Oh ya, kalau ada waktu senggang, silakan main-main ke tempat kami," ucap Felix.
"Terima kasih, Om. Mungkin lain waktu bersama Darsh. Tidak mungkin tiba-tiba ke sana seorang diri," jawabnya dengan senyum semringah.
__ADS_1
Semuanya mulai masuk ke dalam, tetapi tidak bagi Jillian. Gadis itu masih ingin berbincang walaupun hanya sebentar.
"Kak Frey, terima kasih, ya," ucapnya.
"Jill, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?"
"Hemm, silakan saja!"
"Siapa yang dimaksud dalam pembicaraan antara Daddymu dan Om Dizon?" selidik Frey.
"Oh, Kak Darsh sudah melamar seorang gadis dan sebentar lagi akan menikah," jawabnya.
Deg!
Darsh akan menikah? Kenapa aku sampai tidak tahu sama sekali? Apa dia sengaja menyembunyikannya?
"Kenapa mendadak seperti itu?" selidik Frey lagi.
"Panjang ceritanya, Kak Frey. Jillian pergi ya, terima kasih sudah memberikan kenyamanan selama aku di sini. Kalau ada kesempatan, main ke tempatku, Kak," pamit Jillian.
"Hati-hati, Jill," balas Frey.
...***...
Keesokan harinya di rumah keluarga Dizon, Olivia sudah dibuat heboh sejak pagi. Pasalnya malam ini keluarganya akan bertemu dengan keluarga calon besannya. Mereka akan bertemu dan melanjutkan pembicaraan antara Darsh dan calon menantunya.
"Darsh, siang ini kita beli cincin pertunangan, ya," ajak Olivia.
Darsh menghentikan aktivitasnya di meja makan. Dia memandang lekat wajah mamanya.
"Ma, aku sudah katakan padanya, kalau sudah setuju, pinangan resmi akan menyusul," jawab Darsh.
"Jadi, kita tidak membawa apapun untuk nanti malam?" tanya Olivia.
Darsh menggeleng.
"Kamu terlalu berlebihan, Ma. Hanya pertemuan keluarga saja hebohnya sudah seperti itu. Bagaimana kalau pertunangannya digelar? Apa tidak semakin heboh?" sindir Dizon.
"Terserah aku, Pa. Yang pasti aku bahagia kalau Darsh juga bahagia," balasnya.
__ADS_1
Mereka melanjutkan sarapan paginya dalam diam. Pikiran Olivia sudah merembet ke mana-mana.
Aku sedikit khawatir kalau sampai gadis itu menolak Darsh. Aku harap pertemuan malam ini menemukan keputusan yang terbaik.
"Ma, kenapa melamun?" tanya Darsh.
"Tidak apa-apa, Darsh. Mama akan menyiapkan baju untukmu dan juga Papa," balas Olivia.
"Darsh, besok kamu harus mulai ke kantor. Jangan libur terlalu lama!" ucap Dizon.
"Iya, Pa."
Hari ini Darsh memang tidak ke mana-mana. Dia ingin mengobrol berdua dengan mamanya. Selepas papanya berangkat, barulah Darsh membuka obrolannya kembali.
"Ma, serumit apa menikah itu?"
Olivia yang semula membereskan meja makan kemudian menghentikan aktivitasnya. Dia menatap putra semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak semua pernikahan itu rumit, Darsh. Kalian cukup saling mengerti dan memahami, tetapi untuk pernikahanmu ini, Mama harap kalian bisa menekan ego. Usia kalian masih muda dan Mama rasa itu cukup melelahkan."
Sejenak Darsh berpikir tentang pernikahannya. Ternyata tidak serumit orang yang menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Bersenang-senang terus seperti yang dilakukan Max, sahabatnya.
"Mama juga tak perlu lagi menjelaskan pernikahan itu seperti apa. Mama rasa kamu sudah cukup cerdas untuk memahaminya. Kalian akan tinggal di kamar yang sama dan berbagi apapun di sana," imbuh Olivia.
Rasanya itu yang paling berat untuk dijalani. Selama ini, Darsh terbiasa tidur sendiri di kamarnya. Apalagi Darsh juga tidak mempunyai adik. Kalau menginap di rumah sahabatnya, itu sudah berbeda lagi. Mereka tidur sesama lelaki Jadi, Darsh merasa biasa saja. Menikah dan berbagi kamar, apalagi dengan perempuan, rasanya Darsh seperti berada di tepi jurang dan siap terjun ke dasarnya. Apakah dia sanggup menjalani kehidupannya seperti ini?
"Semuanya, Ma?" tanya Darsh.
"Tentu saja. Itu tidak akan mudah. Kamu pikir Mama dan papa menikah dan langsung bahagia seperti ini? Semuanya berproses, Darsh. Bahkan, sampai sekarang Mama dan papa masih sering ribut mengenai hal-hal kecil, kadang ada juga hal yang tidak penting menjadi penyebab keributan. Setelah itu, kami akan meminta maaf. Suasana kamar kembali damai," jelas Olivia.
"Apa harus seperti itu, Ma?"
"Memang harus, Darsh. Setelah itu, kalian akan melakukan malam pertama. Nah, itu sih Mama tidak perlu menjelaskan lagi harus bagaimana. Itu privasimu," ucap Olivia.
Darsh memegang keningnya. Belum terlalu jauh masuk ke jenjang pernikahan, mendengar ceritanya saja seperti berada di medan pertempuran. Bagaimana kalau Glenda tidak mau berbagi tempat tidur?
Rumit juga ya. Bagaimana aku bisa bersikap pada gadis itu? Aku baru saja mengenalnya, tentu saja banyak yang tidak kutahu tentang apa saja yang disukai dan tidak. Sanggupkah aku menjalani kehidupan baru bersama Glenda? Ah, rasanya berat untuk mengikuti permintaan terakhir Grandma.
Bayangan pernikahan Darsh menari-nari di pelupuk matanya. Rupanya bukan perkara mudah untuk sekadar mengatakan iya dan tidak, tetapi butuh perjalanan panjang untuk menikmati hari-harinya yang belum tahu akan seperti apa.
__ADS_1