Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Justin Bijak Sekali


__ADS_3

Membayangkan akan pergi berdua lagi dengan Justin rasanya sungguh berbeda. Jillian sepagi ini sudah melamun di meja makan. Padahal di sana juga ada kedua kakaknya. Ini terlihat sangat lucu, seorang gadis yang sebenarnya berada dalam fase kebingungan untuk menentukan cintanya.


"Jill, kamu baik-baik saja?" tanya Darsh.


"Eh, kenapa, Kak?"


"Oh ya ampun. Kamu melamun ya? Apakah ini tentang Max atau Justin?"


"Oh astaga! Jauhkan aku dari nama Max, Kak. Mendengar namanya, rasanya aku ingin secepatnya menikah dengan Kak Justin."


Rupanya patah hati pada Frey sangat parah. Sekarang pendekatannya dengan Justin mulai berhasil. Sepertinya tidak sampai dua bulan, Justin akan segera menikah.


"Kamu membenci Max?" tanya Darsh.


"Tidak, aku hanya tidak nyaman saja berada di dekatnya."


"Kalau Justin?"


"Apaan sih, Kak? Kak Justin baik kok."


"Sudahlah, Sayang. Jangan ribut terus dengan Jillian. Lekaslah sarapan, kalau tidak kamu bisa terlambat. Ingat, besok kamu harus ikut aku ke dokter."


"Iya," jawabnya.


Darsh itu unik. Terkadang dia bisa bicara panjang lebar kepada orang lain, tetapi dia sendiri sangat irit bicara pada istrinya. Spesies langka yang katanya kulkas empat pintu ada pada diri Darsh.


"Kak Glenda, andaikan di dunia ini ada dua manusia aneh yaitu Kak Darsh ataupun Max, kakak akan lebih memilih siapa?" tanya Jillian. Semoga pertanyaannya ini mampu membuat kakak sepupunya itu sedikit saja bisa mencair.


"Tentu saja aku lebih memilih Max."


Deg!


Darsh seperti tertampar melalui ucapan istrinya. Apa yang kurang darinya sehingga Glenda lebih memilih orang lain daripada dirinya?


"Lalu, kenapa kamu menikahiku?" tanya Darsh.


"Terpaksa!"


Deg!

__ADS_1


"Iya, terpaksa karena kamu orang yang pertama mau serius sama aku. Makanya bersikaplah sedikit lebih romantis, jika tidak-"


"Maka apa?" tanya Darsh.


"Aku bisa saja tebar pesona pada semua teman lelakimu," ucap Glenda.


"Ck, dasar! Mereka tidak akan menyukai wanita gendut sepertimu! Selera mereka itu perempuan seksi! Jadi, aku tidak perlu khawatir padamu."


Marah? Sensitif? Tentu saja. Glenda langsung meninggalkan meja makan begitu saja karena ucapan Darsh barusan. Itu sungguh menyakiti hatinya.


"Kak Darsh! Aku tidak percaya kakak bisa sekejam itu pada istrimu sendiri. Aku heran, nanti kalau Kak Glenda beneran berpaling pada lelaki lain, baru kakak menyesal." Wujud protes Jillian pun sama. Gadis itu meninggalkan meja makan dengan setengah makanan yang ditinggalkan. Tingkah kakak sepupunya benar-benar membuatnya gemas.


"Oh ya ampun. Beginikah para perempuan kalau ngambek. Sungguh rumit sekali." Darsh harus merayu istrinya sebentar sebelum dia berangkat ke kantor. Jika sampai orang tua atau mertuanya tahu kejadian hari ini, bisa saja Glenda akan diminta pulang ke rumah mereka. Darsh akan sendirian. Ini bukan hal yang lucu untuk dinikmati, tetapi menyedihkan.


Ceklek!


Rupanya Glenda tidak mengunci pintunya. Dia menangis sesenggukan di ranjang king size-nya. Kesal, marah, bercampur menjadi satu. Darsh mendekati istrinya untuk meminta maaf.


"Maafkan aku, Glenda. Aku hanya bercanda dan tidak bermaksud menyakitimu."


"Cukup, Darsh! Aku lelah mendapatkan permintaan maaf darimu terlalu sering. Kamu terus saja mengulanginya. Apa kamu pikir aku tidak akan sakit hati dengan ucapanmu barusan? Baiklah, begini saja, kalau kamu tidak mulai berubah untuk bersikap manis padaku, setelah aku melahirkan, aku akan membawa anakku pergi jauh darimu. Mungkin itu yang akan membuatmu menyesal!"


Deg!


"Tidak, Glenda! Cukup, jangan katakan itu lagi! Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Aku mohon, kali ini maafkanlah aku. Aku tidak bisa jauh darimu, apalagi anak kita," ucapnya penuh harap. Kali ini diluar dugaan, Darsh memeluk Glenda dengan sangat erat. Entah ini penyesalannya ingin benar-benar berubah, atau sekadar bualan belaka.


Glenda diam. Dia tidak merespon tindakan maupun ucapan suaminya. Benar-benar kekesalannya pada lelaki itu sudah berada di ubun-ubun.


"Sayang, katakan! Aku minta maaf padamu. Apakah kamu mau memaafkanku?" Masih dalam mode memohon.


Glenda mendorong pelukan suaminya. Perutnya rasanya begah karena kesal. Dia menatap tajam suaminya.


"Janji mau berubah? Kalau tetap seperti itu, jangan kamu pikir ancamanku ini main-main, ya!"


"Iya."


"Awas saja kalau bohong!" ancam Glenda. Sebenarnya dia juga kasihan pada Darsh, tetapi lebih kasihan dirinya yang tidak mendapatkan sisi romantis seorang lelaki seperti suaminya. Kehamilannya ini membuatnya ingin di manja.


"Iya, aku janji. Aku akan berusaha membuatmu terus bahagia. Sekali lagi, maafkan aku." Darsh merogoh dompetnya. Dia memberikan debit card yang kemarin sempat disampaikan pada istrinya. "Kamu melupakannya."

__ADS_1


"Tidak, kupikir memakai milikku sudah lebih dari cukup. Setiap bulan sudah kamu transfer ke sana, kan?"


"Bawa saja. Siapa tahu perlu. Masih ingat PIN-nya, kan?"


Glenda menggeleng.


"Malam pertama kita," jawabnya.


Glenda tentu saja terkejut. Terakhir, yang dia tahu debit card ini masih menggunakan tanggal pernikahan mereka.


"Hemm, baiklah." Glenda menerimanya. Dia tentu tidak akan lupa malam pertama yang membuatnya bisa hamil secepat ini. Setelah malam itu, jangan tanyakan lagi sikap Darsh seperti apa. Hanya sekadar tidur bersama dan mengobrol bersama. Sebenarnya Glenda menginginkan lebih dari itu, tetapi Darsh tidak tega. Mungkin besok waktu yang tepat untuk mengantarkan istrinya kontrol dan menanyakan hal itu.


"Aku berangkat kerja dulu. Bersenang-senanglah! Kamu pergi pakai sopir saja. Jangan naik taksi online."


"Iya, Darsh. Lekaslah berangkat!"


Masalah selesai. Glenda sudah memaafkannya dengan syarat. Yang membuatnya pusing saat ini, bagaimana dia bersikap selanjutnya? Ini bukan tipikal Darsh banget, namun dia akan tetap berusaha.


...πŸ’πŸ’πŸ’...


Sampai di kantor, Darsh menuju ke ruangannya. Sementara Justin rupanya sudah menunggunya di depan pintu ruangan itu.


"Bos, tumben sekali terlambat?" tanya Justin.


"Aku harus merayu istriku lebih dulu, Justin. Gara-gara candaanku, dia ngambek dan mulai mengancamku." Darsh membuka pintunya, dia masuk kemudian diikuti Justin dibelakangnya. Tak lupa, Justin melakukan hal yang sama dengan menutup pintunya kembali.


"Ancaman apa yang diberikan kakak ipar padamu?"


"Dia akan membawa kabur anak-anakku. Aku bisa gila dengan ancamannya kalau terus seperti itu."


"Mungkin kamu yang kurang bersikap romantis padanya. Perempuan itu tidak melulu soal uang, Darsh. Sekaya apapun, kalau perhatian yang kamu berikan biasa-biasa saja, akan banyak lelaki lain yang menawarkan kebahagiaan berlebih untuknya. Pernahkah kamu mengajaknya jalan-jalan, makan malam, atau sekadar pergi ke toko perhiasan dan membelikannya hadiah? Cobalah, jangan sampai kamu menyesal! Kakak ipar itu bukan wanita biasa, dia terlampau sempurna untuk mendampingimu. Kamu saja yang tidak sadar!"


Ucapan Justin barusan membuatnya semakin pusing. Dia tidak hanya akan kehilangan Glenda kalau sikapnya tidak lekas berubah. Jillian saja bisa move on secepat itu dari Frey. Kemungkinan Justin bisa mengambil hatinya lebih cepat. Buktinya, gadis itu sudah mulai menempel terus padanya.


...🌿🌿🌿...


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya teman Emak... Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih πŸ˜πŸ™πŸ»


__ADS_1


__ADS_2