
"Mama setuju jika aku mencarinya?" tanya Darsh lagi. Dia ingin memastikan jika memang cinta pertamanya itu setuju.
"Tentu, sayang. Pergilah! Hari ini kamu bebas," ucapnya.
Darsh segera menghubungi sahabatnya. Dia tidak mungkin pergi ke restoran ZA seorang diri walaupun tujuannya ke sana hanya untuk mencari seseorang. Darsh hanya mengirim pesan ke grub chat gesreknya itu.
[Bro, makan siang kutunggu di restoran ZA.]
Pesan dari Darsh terkirim. Di sana terlihat mereka sangat ramai sekali yang sedang mengetik.
[Apakah ini acara makan gratis?]
Balas Frey. Tak lama, balasan dari Max muncul.
[Apakah ini perayaan karena kamu memilih salah satu dari Aimee ataupun Helga? Jangan bilang, kalau siang ini kamu akan merugikan showroom-ku?]
Max masih saja meributkan masalah Darsh. Padahal lelaki itu tidak sedikitpun tertarik pada keduanya.
[Tidak untuk keduanya, Max! Lebih baik kamu pikirkan dirimu sendiri.]
Balas Darsh. Setelah itu dia mematikan ponselnya agar tidak ada lagi pesan konyol dari sahabatnya.
Darsh merebahkan dirinya di ranjang. Sebenarnya dia ingin mandi terlebih dahulu, tetapi ingatan pada gadis itu membuatnya malas melakukan apapun.
Oh God, ini pertama kalinya aku memikirkan gadis itu. Gadis yang sangat menarik untukku. Dia sangat langka.
Lamunannya terhenti ketika mamanya masuk ke kamar.
"Ma, kenapa tidak mengetuk pintu dulu?" protes Darsh.
Olivia mengambil nafas panjang kemudian menghembuskannya.
"Darsh, Mama sudah dua kali mengetuknya dan kamu tidak menjawab. Mama pikir, kamu sedang tidur. Ternyata masih melamun saja. Apa gadis itu mengganggu pikiranmu?" Olivia duduk di tepi ranjang.
Darsh duduk. Dia memandang lekat wajah mamanya. Sepertinya benar, bayangan gadis itu yang tidak terlihat jelas malah muncul di wajah mamanya.
"Entahlah, Ma. Bayangannya muncul di mana-mana," ucapnya.
__ADS_1
Olivia tersenyum. Dia malah membayangkan bagaimana paniknya suaminya saat dirinya sengaja kabur dulu dan berakhir di ranjang yang hangat dan pengakuan cintanya yang mendadak itu.
Sekarang, Olivia malah melihat kegalauan tampak jelas di wajah putranya. Padahal Darsh belum pernah bertemu langsung dengan gadis itu. Bagaimana jika putranya sudah bertemu? Akankah kelakuannya sama seperti Dizon? Selalu saja mengajak ribut tanpa alasan yang jelas, padahal pria itu sudah mencintainya.
"Pergilah mandi dulu! Kamu belum makan, 'kan? Jangan melewatkan sarapan pagi. Itu tidak bagus untukmu," ucap mamanya.
"Aku mau sekalian makan siang di restoran ZA, Ma. Semoga aku bisa menemukan gadis itu." Darsh beranjak masuk ke kamar mandi. Secepatnya dia ingin pergi ke restoran ZA dan ingin berlama-lama di sana.
"Baiklah, Mama keluar dulu."
Darsh masih di dalam kamar mandinya. Dia sudah tidak sabar ingin menemui gadis itu dan berkenalan dengannya.
"Apa aku segila ini? Ini baru permulaan. Bagaimana kalau ternyata gadis itu sudah memiliki kekasih? Apakah aku rela untuk melepasnya?" Rentetan pertanyaan mengusik dirinya sendiri. Darsh semakin galau. Bergegas diambilnya bathrobe-nya. Dia ingin mandi di shower saja. Semakin cepat semakin baik. Semua sahabatnya tidak boleh tau jika dirinya sudah mempunyai incaran. Bisa saja salah satu dari mereka menikung Darsh dan merebut gadis itu darinya. Itu tidak boleh terjadi.
Darsh selesai dengan ritual mandinya. Dia segera masuk ke walk in closet dan memilih baju yang cocok. Baju biasa yang sangat santai. Sesuai dengan mobil bututnya itu.
Ini akan lebih nyaman, daripada aku memakai pakaian yang terlihat mewah.
Tak lupa, dia menyisir rambutnya dan memakai sedikit minyak wangi khas cowok. Bergegas dia menyambar ponsel, dompet, dan kunci mobilnya. Dia harus meminta restu pada mamanya demi kelancaran pertemuan pertamanya dengan gadis itu.
Tok tok tok.
Olivia ternyata tidak di kamarnya. Dia baru saja dari dapur membantu beberapa pekerjaan pelayannya.
"Ada apa, Darsh?" Mama berada tepat di belakangnya.
"Aku pamit pergi dulu, Ma. Siang ini doakan Darsh supaya bertemu dengan gadis itu," ucapnya penuh harap.
"Tentu, sayang. Mama selalu mendoakanmu." Wanita paruh baya itu memeluk putranya dan memberikan semangat.
Darsh kemudian berangkat dengan perasaan yang lega. Mamanya tidak pernah melarang mau bertemu dengan siapa dan bergaul dengan siapapun. Asalkan Darsh tetap berada pada jalan yang benar.
"Hei, gadis. Semoga aku bisa bertemu denganmu," ucapnya dalam perjalanan.
Darsh sangat mirip dengan kelakuan papanya, tetapi tidak menutup kemungkinan ada sedikit kelakuan mamanya yang terselip padanya.
Darsh langsung memarkirkan mobilnya ketika sampai di halaman restoran ZA. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya ketika mulai masuk ke dalam.
__ADS_1
Suasana restoran sangat ramai karena mendekati jam makan siang. Untung saja masih ada satu tempat di sudut ruangan yang sangat strategis. Tempat yang bisa digunakan untuk memandang ke luar restoran.
Walaupun restoran sangat ramai, tetapi suasananya tenang. Berbeda dengan irama jantungnya yang semakin lama naik dari biasanya.
Kalau seperti ini, aku bisa jantungan. Semoga saja rasa penasaranku terjawab kali ini.
Ketika sedang fokus mencari keberadaan gadis itu, dari arah lain terlihat sesama pelayan restoran sedang meminta tolong.
"Glen, tolong kamu tanyakan pesanan kakak yang di sudut itu. Biar chef kita segera menyiapkannya," ucap salah satu pelayan pada rekan kerjanya.
"Iya, Kak. Aku ke sana dulu."
Tak tok tak tok.
Denting suara jam dinding di ruangan itu mengantarkan kedatangan seorang gadis yang sengaja ditunggunya. Sepertinya keberuntungan kali ini milik Darsh seutuhnya.
Pelayan restoran itu mendekati Darsh, tetapi Darsh terlalu fokus pada wajah dan kecantikan pelayan itu.
Jantung, tolong jaga diri baik-baik. Ini nyata dan bukan mimpi.
"Tuan...," panggil pelayan itu.
"Ah, iya. Ada apa?" tanya Darsh. Dia seperti terlihat bodoh dihadapannya.
"Tuan mau pesan apa? Biar saya catat," ucapan gadis itu sangat lembut sekali.
"Pesan semua menu yang ada di restoran ini dan masing-masing satu porsi," ucap Darsh asal. Dia masih memandang lekat wajah gadis itu.
"Maaf, Tuan. Apa Anda yakin dengan pesanannya? Ini banyak sekali," ucap pelayan itu.
"Kalau begitu, keluarkan semua menu terfavorit restoran ini. Makanan dan minumannya, masing-masing satu," ucapnya lagi.
"Tuan, kalau seperti ini akan membuat pekerjaan saya menjadi lama. Saya bingung harus memesankan yang mana. Tolong putuskan dan memesanlah dengan benar!" ucap pelayan itu masih dengan mode sabarnya. Padahal pelanggan di hadapannya ini sangat keterlaluan, tetapi apapun itu pesan mamanya harus dijalani. Tetap bersikap baik dan profesional apapun pelanggan yang kita hadapi.
"Sebentar. Sebutkan namamu dulu, baru aku akan memesan dengan benar." Darsh sengaja seperti itu karena dia malu untuk menanyakan langsung namanya. Dia harus melakukan drama yang tidak penting ini demi sebuah nama.
"Panggil saja Glen, Tuan," jawab pelayan itu.
__ADS_1
Glen? What? Secantik ini namanya Glen? Aku tertarik padanya. Oh God, apakah tidak ada nama lain yang lebih indah dari ini?
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️