Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Menginginkan Perhatian


__ADS_3

Darsh malah terdiam mendengar ucapan adik sepupunya itu. Dia yakin kalau Jillian pasti galau menghadapi keempat sahabatnya dengan tingkah dan pembawaan masing-masing.


"Grandpa akan membantumu memilih, Jill," ucap Grandpa.


"Tidak, Grandpa. Aku tidak mau. Dad, Mom, katakan pada Grandpa kalau aku tidak mau ada yang ikut campur dengan urusanku," tolak Jillian.


"Sudahlah, Pa. Jangan ganggu Jillian. Biarkan dia memilih salah satu. Toh Felix juga butuh untuk pengganti CEO Damarion Corporation," sahut Dizon.


"Mama setuju denganmu, Dizon. Jangan paksa anak-anak menuruti semua kemauan kita selagi mereka bisa memilih yang terbaik menurutnya," sambung Grandma.


Kalau Grandma sudah menunjukkan taringnya, Grandpa akan otomatis terdiam dan tidak melakukan perlawanan apapun.


"Benar, Ma. Aku pun sama, tidak akan memaksa pilihan Darsh. Biarkan dia memilih seperti kemauannya. Yang terpenting, dia berasal dari keluarga baik-baik. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Olivia.


Darsh kali ini setuju dengan Mamanya. Dia bersyukur sekali punya orang tua sepertinya dan tidak seperti Grandpanya.


Selesai makan malam, Darsh bergegas masuk ke kamarnya. Dia ingin mengirim pesan pada Glenda. Semua orang juga sudah kembali ke kamar masing-masing. Hanya ada satu orang yang saat ini sedang pusing memikirkan hari esok. Ya, dia adalah Jillian. Berada di kamarnya membuat pikirannya tidak tenang. Dia sudah terlanjur nyaman dengan Frey, tetapi kata Darsh, masih ada tiga orang teman lainnya yang perlu dikenal.


"Sebenarnya ini acara pengangkatan CEO-nya Kak Darsh atau sayembara calon jodohku, sih? Kak Darsh naik jabatan, malah aku yang pusing seperti ini," gerutunya.


Jillian mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia belum bisa memejamkan matanya. Dia ingin bertemu dengan Darsh, tetapi diurungkannya.


"Hemm, Kak Darsh pasti mengejekku. Sepertinya ini rencananya untuk membuatku pusing. Pantas saja permintaannya aneh seperti itu. Tante Olivia juga memaksaku untuk datang."


Beda lagi dengan Darsh. Dia sangat puas bisa membuat adik sepupunya berada dalam dilema. Malam ini, dia sengaja mengirim pesan kepada Glenda hanya untuk sekadar mengucapkan selamat beristirahat.


[Selamat beristirahat.]


Hanya itu yang dikirimkan. Darsh kemudian mengirim pesan ke grup chat-nya mengenai acara besok malam.


[Acaranya besok malam. Jangan lupa untuk datang!]


Frey, Max, Justin, dan Owen terlihat mulai mengetik balasan.


"Hemm, rupanya mereka mulai berlomba, ya. Aku tidak bisa membayangkan kalau keempatnya memperebutkan Jillian. Itu pasti seru," ucap Darsh.


[Jillian sudah datang belum? Kalau dia datang, aku pasti datang.]


Balasan pertama dari Max.


[Kami pasti datang, Darsh.]


Justin juga terlihat antusias.

__ADS_1


[Ada atau tidak ada Jillian, aku pasti datang.]


Owen paling netral. Dia belum tahu saja kalau pesaing untuk mendapatkan Jillian sudah bertambah satu.


[Aku akan datang lebih awal, Darsh.]


Jawaban Frey paling mengejutkan. Rupanya dia tidak mau kalah start dengan kedua sahabatnya.


Darsh membacanya sambil tersenyum tidak karuan. Dia melihat kiriman pesan pada Glenda belum ada balasan.


"Mungkin sudah tidur," ucap Darsh. Dia meletakkan kembali ponselnya dan bersiap untuk tidur.


...***...


Glenda berulang kali melihat ponselnya. Ada notifikasi pesan masuk dari Darsh, tetapi dia bingung mau membalasnya seperti apa. Dia juga ragu kalau harus membalasnya.


"Balas, tidak, balas, tidak, balas, tidak." Glenda menghitung kancing piyamanya.


Ugh, kenapa hasilnya tidak? Kalau diulang lagi, bakalan sama atau tidak, ya?


"Tidak, balas, tidak, balas, tidak, balas." Pengulangan kedua hasilnya berbeda. Ya iyalah, kan mulainya juga beda, Glenda.


Kalau begitu, lebih baik kubalas saja.


"Kira-kira Darsh akan setuju atau tidak, ya? Ah, baiklah. Lebih baik kucoba saja dulu," ucap Glenda.


Glenda mulai mengetik pesan balasan. Dia berharap kalau Darsh akan menanggapinya dengan positif.


[Aku belum tidur, Darsh. Bagaimana pendapatmu kalau aku ingin belajar mengemudikan mobil?]


Terkirim.


Lama Glenda memandangi ponselnya yang tak kunjung mendapatkan balasan itu. Dia juga telah menyesal karena meminta pendapat lelaki itu. Dia hanya berusaha meyakinkan dirinya untuk bisa dekat dengan Darsh. Dia bukan memandang Darsh dari kekayaan yang dilihatnya. Tanpa dijelaskan pun, Glenda bisa mengatakan jika Darsh anak orang kaya.


Glenda malah semakin khawatir jika Darsh tidak bisa menerima dirinya sebagai seorang pelayan. Daddynya jelas masih akan menutupi identitasnya sampai waktu yang tepat untuk membukanya.


Tring.


Ponselnya berbunyi tanda pesan balasan masuk.


[Untuk apa? Aku tidak suka kalau kamu belajar mengemudi.]


Deg!

__ADS_1


Rupanya lelaki itu tidak setuju. Glenda mengernyitkan dahinya. Dia harus bagaimana sekarang? Menanyakan alasannya atau diam saja.


Glenda dilanda kebingungan. Pasalnya, Darsh ternyata lelaki pertama yang melarangnya untuk belajar mengemudi. Padahal sebagai gadis muda, dia ingin seperti yang lainnya.


[Alasannya apa?]


Hanya itu pesan yang dikirimkan pada Darsh. Semakin hari, Darsh membuatnya penasaran. Pemikiran lelaki romantis sudah tidak ada lagi dalam bayangan Glenda. Dia malah menyukai sikap Darsh yang terkadang misterius itu.


Glenda meletakkan ponselnya. Dia ingin ke dapur untuk sekadar mengambil air minum karena haus. Baru saja keluar kamar, Glenda bertemu dengan Daddynya.


"Belum tidur, sayang?" tanya Vigor.


"Belum, Dad. Aku haus dan baru mau tidur," ucapnya.


"Hemm, jangan terlalu memikirkan Darsh. Kalau jodoh tidak akan kemana kok," ledek Vigor.


"Ish, Daddy. Bercandanya keterlaluan, sih," ucap Glenda. Gadis itu kemudian masuk ke dapur. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin yang berada di dispenser. Tanpa pikir panjang, dia langsung meminumnya sampai tandas. Bahkan, dia mengambil lagi untuk yang kedua kalinya.


"Sangat haus, sayang?" canda Vigor.


Untung saja Glenda bisa mengantisipasi untuk tidak menyemburkan air minumnya. Dia sangat terkejut karena Daddynya mengikuti sampai ke dapur. Glenda meletakkan kembali gelasnya.


"Iya, Dad. Sangat haus sekali. Oh ya, Glenda pamit tidur dulu, ya," pamitnya. Dia tidak ingin terlihat aneh di depan Daddynya.


Glenda masih memikirkan balasan apa yang akan dikirimkan Darsh untuknya. Dia merasa khawatir kalau lelaki itu akan marah.


Ceklek!


Glenda masuk kembali ke kamarnya. Bergegas dia mengambil ponselnya dan melihat pesan balasan dari Darsh.


Jeduar!


Glenda sangat kecewa karena tidak mendapatkan balasan apapun dari lelaki itu. Diletakkan lagi ponselnya.


"Darsh, padahal aku ingin sekali mendapatkan perhatian lebih darimu. Kalau terus seperti ini, sanggupkah aku berjuang seorang diri," ucapnya.


Hampir putus asa. Glenda berusaha memejamkan matanya untuk menetralisir perasaannya pada lelaki itu. Dia memang belum mencintainya, tetapi rasa ketertarikan itu sangat kuat. Bahkan lebih kuat lagi menarik dirinya untuk ingin selalu mendekat dengan lelaki itu.


Tring!


Glenda langsung membuka matanya. Walaupun dia tidak tahu apakah itu balasan dari Darsh atau bukan. Bergegas diambil ponselnya dan membaca pesan singkat yang kaku namun sangat perhatian menurutnya.


[Karena aku tidak suka!]

__ADS_1


Sebuah pesan kaku pengantar tidur yang membuat hari-hari Glenda akan semakin berwarna. Gadis itu memeluk ponselnya sampai terlelap ke alam mimpi.


__ADS_2