Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Darsh seorang CEO?


__ADS_3

Sejenak melupakan pertengkaran hebat papa dan anak. Seseorang yang sedang berjuang untuk kembali ke negaranya agar segera menyelesaikan semua masalah. Ya, Helga Orlen sudah keluar dari apartemen Livia semenjak pagi. Livia yang membantu segalanya agar terbebas dari jeratan Juvenal untuk selamanya.


"Apa kau yakin kalau Juvenal tidak mencariku?"


"Jangan khawatir Orlen, aku sudah mengabari mami kalau aku kembali. Oh ya, mengenai sahabat kekasihmu itu, kurasa lebih baik carikan perempuan atau wanita baik-baik. Kasihan dia. Lagi pula aku juga tidak berminat dengan lelaki kalem dan sabar sepertinya." Livia menyadari perbedaan yang cukup tinggi antara dia dan Owen. Sehingga dia menganggap bahwa seorang Livia tidak akan pantas bersanding dengan lelaki baik sepertinya.


"Baiklah. Setidaknya dia terlepas dulu dari jeratan wanita sihir Willow ini. Entahlah, kenapa kekasihku juga tidak bisa melawan. Sengaja membuat suasana menjadi rumit atau apa?" gerutu Orlen yang berjalan menuju tempat pemberhentian taksi.


Dari sudut lain, Juvenal rupanya mengamati dari jauh. Setelah dari kamar mandi hotelnya kemarin, Juvenal menyadari satu hal kalau sugar baby-nya mendadak kabur. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


"Mau ke mana, kau?" Juvenal mencekal tangan Orlen yang hendak masuk ke dalam taksi.


Livia yang berada tak jauh dari tempat Orlen berdiri itu lantas menghampirinya. Sementara Orlen masih terkejut dengan apa yang terjadi sekarang.


"Dad?" ucapnya lirih.


"Kau mau kabur ke mana, gadis manis?" ucap Juvenal dengan nada suara yang memburu. Pasalnya, semalaman dia tidak bisa tidur tanpa kehadiran Orlen.


"Dad, lepaskan dia!" bentak Livia. Usahanya tidak boleh gagal hanya karena ulah Juvenal yang mendadak muncul.


"Tidak! Aku akan terus memaksanya untuk ikut denganku." Juvenal berusaha menarik lagi tangan Orlen. Livia sempat membuat tangan Juvenal terlepas dari tangan Orlen.


"Orlen, pergilah! Biar Daddy jadi urusanku," ucap Livia yang berhasil menarik tangan Juvenal menjauh darinya.


Orlen lantas memasuki taksi dengan tergesa-gesa. Secepatnya dia meminta sopir taksi untuk mengantarkannya ke bandara.


"Kenapa kamu biarkan Orlen pergi?" protes Juvenal. Selama beberapa bulan, hanya dia yang bisa membuatnya nyaman. Banyak cerita yang sudah didengarkan Orlen dengan cukup baik.


"Dad, keluarganya butuh pertolongan. Kalaupun dia harus bertahan di sini, apa Daddy tidak kasihan?" Jika Orlen mampu menjerat Juvenal dengan perlakuan manis dan sebagai pendengar yang baik, lain halnya dengan Livia. Dia bisa merayu Juvenal hanya dengan kata-kata sederhananya itu.


"Kau mau menggantikannya?" pinta Juvenal.


"Tentu, Dad." Inilah alasan mengapa Livia menolak Orlen untuk berkenalan dengan Owen. Dia tidak terbiasa hidup tanpa ikatan. Sementara Orlen, dia sudah berjanji akan kembali pada kekasihnya.


...*****...


Di sisi lain, Orlen yang sudah masuk ke dalam pesawat harus menyusun strategi untuk melawan Willow.


"Apa sebaiknya aku menemui Darsh, ya?" ucap Helga. "Tapi, bagaimana caraku menemuinya? Apa aku harus tanya dulu pada Owen? Kalau harus ke penjara dan menemui Max, itu tidak akan mungkin. Semuanya akan menghabiskan waktu."


Sejenak Helga melupakan rencananya. Saat ini dia merasa lega, setidaknya sudah terlepas dari pria paruh baya itu. Rasanya Helga ingin lekas memeluk Max dan tidak akan melepaskannya lagi.


Max, cinta kita terbangun karena masalah orang lain. Semoga cinta kita abadi, ya. Batin Helga.


Perjalanan panjang telah membawanya sampai ke negara H. Tempat tinggal yang sebenarnya. Turun dari pesawat, Helga berhenti sejenak untuk berpikir. Sekarang dia harus ke mana terlebih dahulu? Helga harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jangan sampai dia kalah dengan Willow. Lagi pula hanya beberapa bulan lagi, Max akan bebas.


"Ya, Kafe Owen. Di sana aku bisa bertanya tentang Darsh."

__ADS_1


Secepatnya Helga mencari taksi. Dia harus menggunakan jaket Hoodie-nya untuk mengelabuhi Willow. Selama berada di taksi, Helga tidak memakai penutup kepalanya. Namun, rasanya masih bisa dikenali. Dia harus mencari masker supaya Willow tidak tahu jika sampai keduanya tak sengaja bertemu.


"Mau ke mana, Nona?" tanya sopir taksi.


"Kafe X, jalan XY," jawabnya.


Taksi segera meninggalkan bandara. Jarak antara bandara dan Kafe X milik Owen memang lumayan jauh. Namun, demi sebuah misi untuk menemui Darsh, apapun akan dilakukan.


Suasana Kafe yang selalu ramai membuat Helga bisa leluasa masuk dengan mudah. Tak perlu menggunakan penutup kepala jaket Hoodie-nya. Cukup dengan menambahkan masker yang dibeli saat perjalanan menuju ke sini. Setelah membayar ongkos taksi, Helga turun membawa tas ransel kecilnya yang selalu menemani ke manapun dia pergi.


Secepatnya Helga mencari tempat duduk yang strategis ketika berada di dalam Kafe. Bukan strategis yang gampang dijangkau orang, melainkan dia memilih tempat yang jauh dari jangkauan. Lebih tepatnya memilih di sudut ruangan.


Tepat setelah mendapat tempat duduk, seorang pelayan langsung menghampirinya.


"Mau pesan apa, Nona?" tanya pelayan itu.


"Ehm, minuman dan makanan ini." Helga menunjukkan sebuah paket minuman dan makanan di buku menunya.


"Baiklah. Mau tambah apalagi, Nona?"


"Cukup itu saja. Oh ya, apa pemilik Kafe ini sudah datang?"


"Oh, Tuan Owen. Iya, Nona. Sudah datang. Apakah Anda ada perlu dengannya?"


"Bisa minta tolong dipanggilkan? Aku menunggunya di sini," ucap Helga yang masih memakai maskernya.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Owen dari dalam.


Ceklek!


"Tuan, maaf. Ada seseorang yang mencari Anda."


Deg!


Kenapa perasaan Owen mendadak tidak nyaman. Siapakah yang sedang mencarinya? Apakah Willow, sang istri? Ataukah orang lain?


"Siapa? Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan."


Sekali lagi Owen merasakan suasana yang berbeda.


Ada apa ini? Batin Owen.


"Di mana dia menunggu?" tanya Owen lagi. Dia tidak ingin menunggu lama karena rasa penasarannya.

__ADS_1


"Di meja nomor 25, Tuan," ucap pelayan itu.


"Baiklah. Kembalilah bekerja. Aku akan menemuinya."


Owen mempersiapkan dirinya. Dia lantas keluar menuju meja nomor 25. Di sana, ada seorang perempuan yang sepertinya tidak asing ketika melihat sorot matanya. Namun, karena masker yang menutupi wajahnya, Owen sedikit ragu.


"Halo, kamu siapa?" sapa Owen.


Helga mendongak. "Oh, kau Owen."


Owen langsung bisa mengenali suaranya. "Helga?"


Helga cukup memberikan anggukan saja. "Duduklah!"


"Bukankah kamu menghilang?"


"Jangan bahas itu sekarang. Oh ya, apakah kamu tahu di mana rumah Darsh? Ehm, maksudku tempatnya bekerja juga boleh."


Sebelum Owen menjawab, pelayan lebih dulu mengantar pesanannya.


"Maaf, aku harus minum dulu," ucap Helga. Dia kehausan semenjak di jalan dari Bandara.


"Silakan."


Helga segera memakan makanannya. Selain haus, dia juga lapar. Owen menunggunya dengan cukup sabar sampai Helga selesai. Namun, Owen tidak diam saja. Dia memikirkan banyak hal. Mengapa tiba-tiba Helga muncul?


"Oke, langsung ke inti pertanyaanku. Di mana aku bisa menemui Darsh sekarang?" tanya Helga.


"Aku akan mengantarmu."


"Ke mana?"


"Bertemu Darsh, kan?"


"Memangnya kamu akan membawaku ke mana?"


"DD Corporation."


"Hah, kenapa harus ke sana?" tanya Helga yang memang tidak tahu kalau Darsh bekerja di sana.


"Ke sana untuk menemui Darsh. Dia itu CEO-nya."


"Hah, Darsh seorang CEO?" Helga masih tidak percaya kalau kehidupannya di kelilingi orang-orang hebat seperti mereka.


...🍃🍃🍃...


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏 ♥️

__ADS_1



__ADS_2