Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Serba Mendadak


__ADS_3

Ponsel Jillian yang terus-terusan berdering membuatnya pusing juga. Bukan karena kesal, jalanan yang sedikit lebih padat daripada biasanya membuatnya malas berhenti untuk mengangkat telepon. Glenda yang merasa tak bisa membantu apa-apa berusaha untuk berguna bagi orang lain.


"Jill, maaf jika aku lancang. Ponselmu terus saja berdering. Bisakah aku membantumu mengangkatnya dan aku akan menekan loudspeaker supaya kamu bisa berbicara langsung. Mungkin ini penting," jelasnya.


"Iya, Kak. Tolong ya," pinta Jillian.


Glenda segera mengambil ponsel Jillian yang kebetulan diletakkan di dasboard. Sejak tadi ponsel itu tak berhenti untuk berdering. Pemanggil yang sempat dibacanya adalah Mommy.


Glenda secepatnya menggeser tombol hijau di ponsel itu.


"Jill, akhirnya kamu menyangkatnya juga," ucap Kayana.


"Ya, Mom. Ada apa?" balas Jillian sedikit mengeraskan suaranya.


Kayana tidak langsung menjawab. Sepertinya dia akan mengatakan sesuatu yang mengejutkan mereka. Tidak hanya grandpa, Glenda dan Jillian pun khawatir dengan apa yang akan diucapkan Kayana.


"Mom, ada apa?" Jillian mengulangnya lagi.


"Jill, sebelum ke rumah sakit, mampirlah ke butik." Kayana pikir kalau putrinya masih di rumah.


"Untuk apa, Mom? Aku sekarang di jalan bersama Kak Glenda dan Grandpa. Kenapa aku harus ke butik, grandma bukannya jauh lebih penting dari ini semua?" balas Jillian.


"Ini demi grandma. Kamu ambil gaun pengantin di ruangan Mommy dan satu set jas yang ada di ruangan sebelah. Warna putih semua. Kamu tanya Nona Kalea, pegawai Mommy. Dia tahu dimana tempatnya," jelas Kayana.


"Wait, Mom! Apa hubungannya gaun pengantin dan grandma?" selidik Jillian. Mungkin saja gadis itu diminta mommynya untuk mengantarkan gaun itu ke kliennya.


"Pernikahan kakakmu akan dilaksanakan hari ini juga. Kamu minta tolong Glenda untuk mengabari orang tuanya atau kalau bisa, Om Sean suruh datang. Ini mendadak, Sayang. Grandma yang memintanya," jelas Kayana.


Deg!


Glenda hampir tidak bisa bernapas. Rupanya kedatangannya ke negara I dikejutkan dengan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Pernikahan mendadak.


"Oke, Mom. Tunggu 30 menit lagi aku sampai," ucapnya.


Jarak butik dan rumah sakit kebetulan searah. Tak sulit untuk Jillian. Untung saja butik mommynya belum terlewati. Jadi, dia tidak perlu memutar jalan. Kayana kemudian memutuskan sambungan telepon sepihak. Dia harus mengabari orang tua Darsh yang baru akan berangkat hari ini.


Sementara Glenda sendiri harus segera mengirimkan pesan untuk orang tuanya. Kalau melalui telepon, rasanya dia malu karena ada grandpa dan Jillian.


"Kak, lekaslah kabari orang tua seperti ucapan Mommy. Mungkin grandma merasa tidak kuat lagi," ucapnya sendu.

__ADS_1


"Iya, Jill. Aku akan meneleponnya."


Glenda malu kalau harus menelepon di hadapan grandpanya Darsh. Ketika mobil Jillian memasuki area parkir butik, barulah dia turun di sana. Sementara Jillian masuk, Glenda mendial nomor mommynya.


"Halo, sayang. Kamu sampai jam berapa?" sapa Zelene ketika sambungan telepon terhubung.


"Jam satu dini hari, Mom. Oh ya, ada kabar buruk," ucapnya sendu.


"Kabar buruk apa, Sayang? Cepat katakan!"


"Mom, pernikahanku akan dilangsungkan hari ini juga. Grandmanya Darsh mendadak masuk ke rumah sakit. Mommy bisa bantu telepon Om Sean dan Aunty Call untuk mendampingiku?"


"Tentu, Sayang. Mommy baru berangkat siang ini. Mungkin sampai sana esok dini hari juga."


"Mom, sekarang coba telepon Om Sean. Aku tidak tahu di rumah sakit mana. Nanti Om Sean suruh kirim pesan padaku. Aku bisa saja meneleponnya, tetapi yang berhak untuk berbicara padanya hanya Mommy."


"Baiklah, Sayang. Siapkan dirimu dengan baik. Mommy tutup teleponnya dulu."


Klik.


Jillian sudah memasukkan semua pesanan Mommynya. Dia melihat Glenda yang baru saja menyelesaikan urusannya.


"Ayo, Jill. Mungkin mereka sudah menungguku juga."


Glenda dan Jillian lekas masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanannya. Tak lama, mobilnya sudah memasuki area rumah sakit.


...❣️❣️❣️...


"Mom, apakah Jillian dalam perjalanan?" selidik Felix.


"Iya, Dad. Apa semuanya sudah siap? Mungkin saja orang tua Glenda tidak keburu untuk datang. Bisa diwakilkan oleh Om Sean-nya."


"Ya, kamu benar, Mom. Kondisi Mama tiba-tiba menurun. Aku bertanya padanya apa yang diinginkan agar lekas membaik. Dia meminta pernikahan Darsh hari ini. Terkesan mendadak, tetapi aku sudah meminta petugas pernikahan untuk menyiapkan segalanya."


Semua orang dilanda kebingungan. Pasalnya, jadwal Darsh dan Glenda hari ini harusnya untuk fitting gaun pengantin. Beberapa hari lagi baru prosesi pernikahan sekaligus resepsinya. Ini sangat mendadak dan kemungkinan kalau terjadi hal buruk pada Carlotta, semuanya akan dibatalkan.


Darsh, lelaki itu sedang menyendiri di kursi tunggu yang tak jauh dari ruang perawatan grandmanya. Setelah di tangani di IGD, Carlotta langsung dipindahkan ke ruang rawat atas permintaan keluarganya.


Jillian, Grandpa, dan Glenda yang baru datang langsung memisahkan diri. Glenda menuju ke tempat Darsh, dan Grandpa serta Jillian mendekati Felix dan Kayana.

__ADS_1


"Darsh, apa kamu yakin?" tanya Glenda. Lelaki itu pasti sama bingungnya.


Darsh tak menoleh sama sekali. Dia hanya menjawab apa yang ditanyakan Glenda.


"Tidak, aku tidak akan pernah mengecewakan grandma. Persiapkan dirimu!"


Deg!


Kesedihan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu. Sedih melihat kondisi grandma yang menurun dan bahagia karena sebentar lagi dia akan menikah dengan Darsh.


Glenda tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia tinggal menunggu kedatangan Omnya saja.


"Glenda, kamu ikut tante sebentar, ya?" ajak Kayana.


"Darsh," panggil Glenda.


"Hemm, tunggu di sini! Aku tidak akan lama," ucapnya.


Felix, Jillian, dan Granpa sedang berbincang mengenai kondisi grandma. Sedangkan Kayana membawa Glenda ke tempat parkir mobil putrinya untuk mengambil gaun pengantin.


"Glenda, maaf ini sangat mendadak sekali. Tante tidak bisa mencegahnya. Grandma mulai kritis. Sebelum masuk ruang rawat, apapun kondisinya dia tetap ingin menyaksikan pernikahan kalian."


Tentu saja ini sangat menyedihkan untuk Glenda. Semula pernikahannya akan digelar sebulan lagi, kemudian dimajukan menjadi dua minggu. Belum sampai dua minggu, hari ini mendadak harus menikah.


Kayana sudah menyiapkan semuanya. Dia juga sudah menelepon pelayan rumah untuk mendekorasi kamar pengantin di kamar Darsh. Mereka juga sudah memindahkan koper di kamar Glenda untuk dipindahkan ke kamar itu.


"Om Sean pasti datang, kan?" selidik Kayana lagi. Dia harus memastikan tidak terlambat untuk mengurus semuanya dengan sangat cepat.


"Tentu, Tante. Mommyku yang akan mengabarinya."


Glenda melihat ponselnya ada pesan dari Om Sean. Dia langsung mengirimkan share lokasinya saat ini. Dia bilang akan datang sendiri karena langsung berangkat dari kantornya.


"Om Sean dalam perjalanan, Tante," jelasnya.


"Apakah dia akan datang bersama tantemu?" tanya Kayana. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


Glenda menggeleng. "Tidak, Tante. Om berangkat sendiri. Mungkin takut waktunya tidak keburu kalau menjemput lagi ke rumahnya."


Harapan Kayana untuk bertemu Callista sangat besar. Namun, untuk acara mendadak seperti ini dia tidak bisa berharap lebih. Dia harus fokus untuk mengurus pernikahan yang serba mendadak ini.

__ADS_1


__ADS_2