Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Berjanjilah


__ADS_3

Pagi menjelang, Glenda dan Darsh masih berada di selimut yang sama di dalam kamar hotel. Pagi ini, mereka akan ke rumah sakit untuk mengecek perkembangan kehamilan.


"Sayang, ayo bangun! Apa kamu tidak akan bersiap untuk ke rumah sakit?" Darsh berusaha membangunkannya.


"Hemmm, aku masih ngantuk, Darsh. Sebentar lagi." Semalam Glenda tidur sedikit larut.


"Kita bisa terlambat," ucap Darsh menggoyang pundak istrinya agar wanita itu mau bangun.


"Hemm, baiklah."


Glenda lekas ke kamar mandi untuk bersiap. Setelah itu giliran Darsh. Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah berada di restoran hotel. Tak lupa, Darsh sudah membereskan beberapa barang bawaannya dan dimasukkan ke dalam mobil. Sopirnya sudah menunggunya.


Sarapan pagi dilakukan dengan sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan tanpa sebab karena hari ini mereka akan pergi ke rumah sakit. Glenda sudah mengirimkan pesan untuk membuat jadwal kontrol pagi ini. Untung saja antrean tidak terlalu penuh sehingga dia mendapatkan jadwal bertemu dokter jam delapan lebih 15 menit.


"Darsh, cepat! Aku sudah mendapatkan jadwalnya."


"Hemm, baiklah."


...🍃🍃🍃...


Rumah sakit X terlihat lebih ramai daripada biasanya. Setelah satu orang yang baru saja keluar, sekarang giliran Glenda dan suaminya.


Setelah melalui prosedur pemeriksaan rumah sakit, Glenda harus berbaring di atas brankar untuk melakukan USG. Sebenarnya sudah beberapa kali dia melakukannya, namun kali ini sedikit berbeda. Glenda penasaran pada jenis kelamin bayinya agar dia bisa menyiapkan namanya dengan cepat.


Saat tranducer mulai bergerak di atas perutnya, dokter memberikan ucapan selamat kepada Glenda.


"Selamat, Nyonya. Salah satu bayimu sudah menunjukkan kalau dia laki-laki, namun salah satunya masih malu-malu," ucap dokter.


"Jadi, anakku kembar, dokter?" tanya Darsh.


"Nyonya, apakah sebelumnya suami Anda tidak tahu kalau ini kembar?" tanya dokter.


"Tidak, dokter. Suamiku baru pulang dari luar kota," ucapnya berbohong. Padahal selama ini jangankan bertanya, Darsh memang tidak perhatian sama sekali pada istrinya.


Darsh memang salah, tetapi mau bagaimana lagi. Dia akan memperbaiki keadaan.


"Oh, tak masalah. Kehamilannya berjalan dengan baik, namun kami akan melahirkan bayi ini lebih cepat dari kehamilan pada umumnya. Karena ini bayi kembar. Sekitar dua atau tiga minggu dari kehamilan pada umumnya. Namun, itu kembali lagi pada kesiapan Nyonya Glenda."


"Baik, dok. Aku akan mempersiapkan diri."


Sementara Darsh, dia sudah duduk di hadapan dokter. Dia ingin menanyakan yang semalam mengganjal dibenaknya. Glenda pun kini sudah berada di samping suaminya.


"Saya akan meresepkan beberapa vitamin," ucap dokter.

__ADS_1


"Dok, bolehkah kami melakukannya?" tanya Darsh terlihat malu-malu.


"Melakukan apa, Tuan Darsh?"


"Hubungan suami istri, dokter," jawabnya.


"Tentu saja, asal dilakukan dengan hati-hati."


Darsh cukup lega mendengarkan jawaban dokter. Selepas dari sana, Darsh membeli vitamin di apotek sesuai resep yang diberikan dokter.


"Sayang, setelah ini kamu mau ke mana?"


"Pulang saja, Sayang. Aku sangat lelah."


"Baiklah, kita pulang, Pak," ucap Darsh pada sopirnya.


Darsh rasanya sangat bahagia. Sebentar lagi, dia akan memiliki dua bayi kembar. Dia sudah memikirkan nama yang pantas untuk salah satu jagoannya.


...🍃🍃🍃...


Ruangan CEO DD Corporation terlihat sangat sepi. Walaupun ada dua orang di dalam sana, namun tidak ada pembicaraan yang terjadi. Justin fokus pada beberapa pekerjaannya. Dia harus menyelesaikannya dengan cepat.


"Kak, apakah masih lama?" tanya Jillian.


"Tidak juga, Kak. Cuma, waktu rasanya berjalan cukup lambat."


Justin berdiri. Dia memandang keluar jendela. Saat Darsh tidak ada, dia memang memperbolehkan asistennya untuk bekerja di ruangannya. Di sana ada meja kerja khusus untuknya, jadi Justin tidak akan menggunakan meja kerja milik Bosnya.


"Kamu tidak suka kalau kita berlama-lama seperti ini?" tanya Justin.


"Bukan seperti itu maksudku. Sejak tadi, kakak fokus bekerja. Sementara aku, aku tidak tahu harus berbuat apa. Sangat membosankan!"


Justin tersenyum. Ini bukan senyuman pertamanya, tetapi sudah berulang kali tersenyum melihat tingkah laku Jillian.


"Tunggulah sebentar lagi. Jam makan siang segera tiba," ucap Justin.


"Hemm, pantas saja aku malas sekali ke kantor. Daddy memaksaku untuk menggantikan posisinya. Bukan maksudku untuk tidak mau, Kak. Namun, aku ingin seperti mommy. Dia ibu rumah tangga yang bekerja sesuai keinginannya. Mommy desainer, sementara aku, aku ingin mewujudkan cita-citaku."


Justin berbalik ke arahnya. Dia sekarang tersenyum ke arah gadis itu.


"Memangnya apa cita-citamu?"


"Menjadi ibu rumah tangga seperti Kak Glenda."

__ADS_1


"Kamu tidak bosan berada di rumah terus?"


Jillian menggeleng. Selama ini dia sudah puas berada di luar rumah. Satu yang membuatnya enggan untuk masuk ke perusahaan daddynya, yaitu karena menyita waktu dan kebebasannya.


"Tidak, Kak. Justru aku senang berada di rumah. Aku bisa memasak, beberes, pergi ke salon, dan-"


Jillian tidak melanjutkan ucapannya. Dia malu akan mengatakannya.


"Dan apa?"


"Merawat anak-anak."


Lagi-lagi, Justin dibuat takjub oleh jawaban gadis itu. Jika banyak wanita yang mementingkan karier, dia malah memilih untuk di rumah saja. Sebenarnya Justin berniat memperkenalkan Jillian pada keluarganya, namun tidak sekarang. Dia perlu meyakinkan dulu tentang keputusannya.


"Baiklah, Nona Jillian. Ini saatnya makan siang," ucap Justin.


Justin mengajak makan siang di tempat biasanya. Letaknya tak jauh dari kantor sehingga banyak waktu untuk berdua dan mengobrol sekenanya.


Setelah memesan makanan, Justin ingin mengobrol banyak dengan Jillian. Dia mulai bingung dengan perasaannya kali ini.


"Jill, kapan kamu pulang?"


"Entahlah, Kak. Sebenarnya mommy memberikan aku waktu selama tiga bulan, tetapi kalau aku bisa pulang lebih cepat mungkin mereka senang."


"Apa yang sebenarnya kamu cari di sini?"


"Aku mencari suami, Kak. Aku hanya ingin mendapatkan penerus perusahaan keluargaku dan pendamping hidupku."


Sebelum melanjutkan obrolan, pesanan makanan datang. Mereka harus menghabiskan makanannya dulu baru melanjutkan perbincangan.


"Kak, apa kakak ragu denganku?" tanya Jillian di sela makannya.


"Aku tidak ragu, Jill. Namun, aku khawatir kalau Frey kembali dalam waktu dekat dan kamu masih mencintainya. Aku tahu bagaimana kamu mencintai sahabatku itu."


Sebenarnya ini memang terlalu cepat untuk Jillian, namun mengharapkan Frey yang sudah meninggalkannya begitu saja membuatnya dilema.


"Kak, kalau kakak ragu, aku tidak masalah. Aku bukan bermaksud menjadikan kakak sebagai pelarian karena gagal dengan Kak Frey. Aku mencari sosok lelaki yang bisa menerimaku."


Justin masih memikirkan ucapan Jillian. Kalau memang dia akan melanjutkan ke jenjang selanjutnya, Justin harus memberikan syarat padanya.


"Berjanjilah tidak akan ada Frey di antara kita! Kalau kamu mau berjanji, aku akan mempertemukan kamu dengan keluargaku," pungkas Justin.


Jillian setuju. Niatnya bukan lagi untuk memikirkan masa lalunya. Justin akan menjadi masa depannya. Ini memang bukan perkara mudah, namun demi orang tuanya, Jillian harus melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2