Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Persetujuan


__ADS_3

Zelene dan Vigor tidak terpikirkan sejauh itu. Rupanya calon menantunya yang dianggap masih terlalu muda itu bisa memikirkan masa depan untuk putrinya. Tentu keduanya akan setuju jika mereka memilih berpisah rumah. Namun, apakah Glenda siap untuk semua ini? Berpisah dari orang tuanya dan hidup berdua dengan pasangannya?


"Glenda sayang, bagaimana menurutmu? Apa kamu setuju untuk ikut suamimu nantinya?" tanya Zelene.


Glenda terdiam. Dia masih memikirkan apa yang akan diucapkan pada Mommynya. Sebenarnya berat untuk meninggalkan mereka, tetapi bagaimana pun Glenda akan menjadi seorang istri. Mommynya pernah berpesan bahwa setelah seorang gadis menikah, hampir keseluruhan hidupnya harus digunakan untuk bersama suaminya. Kemana pun suaminya akan membawanya, Glenda harus siap dan tidak menolak.


"Kalau memang Darsh sudah menentukan tempatnya, Glenda tidak bisa menolaknya, Ma," jawabnya lirih.


Bayangan pernikahan satu bulan lagi, tinggal di tempat baru, dan mengurus suaminya sudah menari indah dipelupuk matanya. Glenda merasa kehidupannya langsung berubah seratus delapan puluh derajat untuk hidup bersama dengan Darsh Damarion.


"Nah, Glenda sudah setuju. Apakah kamu ada apartemen atau rumah untuk tempat tinggal kalian?" selidik Vigor.


Kalau memang belum ada, Vigor berencana akan membelikan apartemen yang tidak jauh dari restorannya. Sewaktu-waktu putrinya bosan berada di sana, dia bisa datang ke restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh. Namun, itu kembali lagi pada Darsh. Apakah lelaki itu setuju untuk tinggal di apartemen?


"Aku berencana untuk membeli rumah, Om," ucap Darsh.


Keinginannya itu sudah diutarakan kepada mamanya beberapa waktu lalu. Namun, wanita itu melarangnya dan menunggu keputusan dari keluarga Glenda.


"Sebaiknya kalian tinggal di apartemen saja. Aku akan menghadiahkan apartemen yang tidak jauh dari restoran ZA. Semisal kalau Glenda bosan berada di apartemen, dia bisa datang ke restoran yang letaknya tidak terlalu jauh. Apa kamu setuju, Darsh?" tanya Vigor.

__ADS_1


Kali ini kedua wanita paruh baya itu terdiam mendengarkan pembicaraan mereka. Dizon sendiri tidak terlalu merespon. Bagaimanapun juga, mereka berhak menentukan untuk kenyamanan putri tunggalnya.


Darsh sedang menimbang ucapan calon mertuanya. Sebenarnya dia bisa saja setuju untuk tinggal di apartemen, tetapi ada satu hal yang tidak nyaman untuknya. Apartemen terlalu bebas orang keluar masuk. Sementara untuk rumah, mereka bisa menyewa penjaga dan pelayan untuk tinggal bersama mereka. Rasanya Darsh akan cenderung memilih rumah karena tidak ingin istrinya merasa kesepian di dalamnya.


"Ehm, setelah kupikirkan, sepertinya aku akan memilih untuk membeli rumah saja, Om. Apa Om setuju?" tanya Darsh balik.


Vigor tidak mengerti jalan pikiran calon menantunya itu. Dia memberikan kemudahan berupa hadiah gratis sebuah unit apartemen malah ditolaknya.


"Darsh, berikan alasan pada calon mertuamu, kenapa kamu lebih memilih rumah daripada apartemen?" sahut Olivia. Wanita paruh baya itu melihat rasa tidak suka yang ditunjukkan Vigor pada putranya. Sebenarnya alasan pria itu juga benar, tetapi alasan Darsh memilih rumah juga tidak salah.


"Maaf, Om," ucapnya. "Aku lebih memilih rumah karena privasi kami lebih terjamin. Kami bisa menyewa pelayan agar Glenda tidak merasa kesepian. Penjaga rumah juga akan stand by di sana. Aku rasa itu pilihan lebih baik. Bagaimana menurutmu, Glenda?" Tentu saja Darsh akan meminta pendapat calon istrinya. Nantinya kedua orang itu yang akan menempati rumah atau apartemen yang akan mereka putuskan.


"Ehm, bolehkah kita tinggal di apartemen dulu? Itu impianku sejak lama, Darsh. Apakah kamu setuju?" tanya Glenda.


Semua orang yang berada di ruangan itu tentunya berada pada pikirannya masing-masing. Berbeda pendapat itu sudah wajar, tetapi bagaimana cara Darsh menyikapi permintaan calon istrinya itu perlu dipertanyakan. Apakah dia akan menunjukkan egonya atau mengalah demi kebahagiaan pasangan? Atau malah dia memberikan opsi lain tag tidak pernah terpikirkan oleh calon istrinya maupun keluarganya?


"Baiklah, aku setuju dengan pilihanmu, Glenda. Kita akan tinggal di apartemen, tetapi--"


Keluarga Vigor sangat terkejut mendapati jawaban calon menantunya itu. Dia menyetujui untuk tinggal di apartemen dan memberikan sebuah teka-teki untuk mereka semua. Lain halnya dengan Olivia. Dia lebih tanggap pada pilihan putranya.

__ADS_1


"Jadi begini, Ze, Tuan Vigor, dan Glenda. Darsh memang setuju untuk tinggal di apartemen selama kehidupan kalian berjalan normal. Ehm maksudnya selama awal pernikahan kalian, tetapi jika Glenda sudah hamil, tentunya Darsh akan memindahkan Glenda untuk tinggal di sebuah rumah yang dipenuhi dengan pelayan dan penjaga. Agar Glenda tidak kesepian lagi," sahut Olivia.


Deg!


Lagi-lagi Glenda dibuat terkejut. Rupanya menikah tidak semanis untuk menjalin hubungan kekasih yang seperti dielu-elukan beberapa temannya. Kebahagiaan dan keromantisan berlebih. Cenderung sepasang kekasih akan selalu menunjukkan kebahagiaan saja. Entahlah kalau soal pernikahan. Glenda akan bisa berbicara setelah menjalaninya. Dia tidak memikirkan jika menikah harus siap untuk hamil dan lain sebagainya. Itu artinya seluruh hidupnya akan terpenuhi atas nama Darsh, Darsh, dan Darsh. Dia harus melayani suaminya lahir dan batin.


Oh ya ampun. Rupanya aku tidak hanya terjebak pernikahan dengannya, tetapi seluruh kehidupanku. Astaga, kenapa ini baru terpikirkan sekarang? Apakah Darsh akan memintaku untuk langsung hamil? Itu artinya aku harus siap tidur dengannya? Oh God.


Bayangan Glenda sudah ke mana-mana. Dia merupakan gadis rumahan yang memang belum tahu betul hal-hal seperti itu, tetapi dia juga tahu dari beberapa temannya yang sudah melakukan itu. Kata mereka awalnya sakit dan Glenda tidak mampu melanjutkan khayalannya yang sudah keluar batas itu.


"Baiklah, Tante. Glenda setuju saja pada usul Darsh."


Semua yang ada di ruangan itu sangat berbahagia. Sebelum pulang, Zelene meminta mereka untuk mencicipi camilan dan meminum minumannya. Pembahasan yang panjang membuat mereka melupakan makanan di meja.


"Karena waktu sudah larut, silakan langsung mencicip camilannya dan minum terlebih dahulu. Maaf, terlalu banyak pembahasan jadi lupa untuk mempersilakannya," ucap Zelene.


"Tak masalah, Ze. Setidaknya kita sudah lega, bukan," balas Olivia.


Mereka menikmati camilan dan minum bersama-sama. Setelah itu, keluarga Darsh pamit undur diri. Mengenai selanjutnya Darsh yang akan berkomunikasi dengan Glenda mengenai semua kebutuhan yang akan mereka pakai di acara pernikahan dan sampai pemilihan apartemen maupun rumah yang sudah mereka setujui.

__ADS_1


Malam ini menjadi malam istimewa dalam kehidupan Darsh maupun Glenda. Mereka akan menapaki babak baru sebuah pernikahan yang akan berlangsung satu bulan lagi. Rasanya seperti mimpi.


__ADS_2