
Jillian sudah lulus. Sebentar lagi dia akan menggantikan posisi daddynya di perusahaan. Namun, ada hal yang mengganjal di benaknya. Dia harus segera menikah jika tidak mau menggantikan daddynya.
Cintanya telah pergi. Dia tidak mungkin menunggu selama itu. Lagi pula, Frey tidak benar-benar serius. Bahkan, dia tidak ada kabar sama sekali. Masuk ke perusahaan sama saja akan berhubungan dengan pria hebat seperti kakak sepupunya dan Jillian tidak mau.
Frey telah meninggalkan luka yang mendalam untuknya. Tidak akan ada lagi lelaki yang bisa diterimanya sebaik Frey, namun permintaan daddynya membuat dirinya terjepit. Haruskah Jillian kabur ke tempat kakak sepupunya? Setelah dia menemukan lelaki yang tepat, maka dia akan kembali.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kayana.
"Aku bingung, Mom. Daddy memintaku segera menikah, tetapi Frey telah lama meninggalkanku. Aku ingin pergi ke tempat Kak Darsh. Apa Mommy setuju?"
"Memangnya kenapa kamu harus ke sana?"
"Aku akan mengejar cintaku, Mom. Aku tidak mau ikut dunia bisnis daddy. Aku ingin jadi ibu rumah tangga seperti Kak Glenda. Apa aku salah?"
Kayana membelai rambut putrinya. Ini pertama kalinya gadis itu mengalami dilema yang luar biasa.
"Kamu mencintai Frey? Lalu, bagaimana kalau lelaki itu meninggalkanmu? Cinta, kenyataan, dan harapan terkadang tidak seperti apa yang selama ini menjadi gambaran hidupmu. Realitanya, kadang kita memikirkan cinta kepada orang lain, namun ternyata kamu tidak berjodoh dengannya. Kamu bisa apa?"
Seketika bayangan pernikahan indah dengan lelaki atau pria yang dicintainya hilang begitu saja. Semenjak pertemuan terakhir dengan Frey, lelaki itu tidak ada kabarnya.
"Apakah aku harus melupakannya dan memilih lelaki lain yang lebih mencintaiku?"
"Tentu saja, Sayang. Lebih baik dicintai daripada mencintai. Jangan samakan hubungan Mommy dan daddy. Kami berawal tidak saling cinta, namun ketika Mommy mengandung dirimu, daddy sangat menyayangi Mommy. Mommy tidak pernah menanyakan lagi apakah dia mencintaiku atau tidak. Cukup dengan tindakannya sudah mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Jadi, kamu tak perlu khawatir kalau lelaki itu mencintaimu. Justru ini malah bagus."
Bayangan Jillian langsung tertuju pada Max. Akankah lelaki itu yang memenangkan hatinya? Lelaki yang menurutnya sangat posesif dan agresif itu.
"Mom, kalau misalnya aku berjodoh dengan Max bagaimana?"
"Cinta akan mengubah segalanya, Sayang. Mommy sempat mendengar Max itu seperti apa, namun mengenai cintanya kalau kamu tidak meragukan, maka dia pasti akan sangat menyayangimu."
"Tidak, Mom. Aku tidak akan memilih Max, namun izinkan aku untuk pergi ke tempat Kak Darsh selama beberapa bulan. Setelah itu, Jillian akan kembali."
__ADS_1
"Apakah daddymu mengizinkan?"
"Mommy bantu bicara dengannya. Aku akan mempersiapkan diriku terlebih dahulu. Aku janji tidak akan lebih dari tiga bulan di sana."
Waktu selama itu untuk Jillian memang sangat cepat, tetapi untuk Kayana, tiga bulan itu cukup lama. Dia pasti merindukan putri tunggalnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Jillian pergi ke sana dan kemudian pulang untuk memutuskan pernikahannya. Dia akan kehilangan gadis kesayangan untuk menantunya.
Hidup terus berjalan, Kayana tidak boleh egois. Kalau pun menunggu suaminya pulang akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sementara Jillian ternyata sudah menyiapkan semua kopernya.
"Pergilah! Mommy mengizinkanmu. Lekaslah pulang dan bawalah CEO baru Damarion Corporation," ucap Kayana.
...🌿🌿🌿...
Olivia menyiapkan makan malam di rumahnya. Malam ini, Darsh dan istrinya meminta makan bersama. Darsh sudah merindukan masakan mamanya. Sebelum Darsh datang, rupanya Olivia menerima kabar dari Kayana bahwa putrinya akan tinggal di rumahnya selama kurang lebih tiga bulan.
Olivia akan menempatkan gadis itu di rumah kakaknya untuk menemani istrinya. Apalagi mereka hampir seumuran, tentunya Jillian tidak akan nyaman jika berada di rumah Olivia. Darsh baru saja masuk dengan istrinya. Dia terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Kamu terlihat lebih segar, Darsh. Apa itu artinya kamu siap untuk ke kantor lagi?" tanya Dizon.
Sejak tadi, Dizon sudah berada di meja makan bersama istrinya. Beberapa pelayan menyiapkan makanan pelengkap yang diminta. Setelah itu, mereka baru memulai makan malamnya.
"Hemm, ya ampun. Kenapa lagi?" gerutu Darsh.
"Sudahlah. Tanyakan saja kalau sudah sampai," balas Olivia.
Mereka memulai acara makan malamnya. Malam ini, Darsh terlihat bisa makan banyak. Semenjak berdamai dengan istrinya, kondisinya semakin membaik. Usul Justin tempo hari juga dijalaninya dengan baik dan itu berhasil.
Selesai makan, Darsh masih menikmati puding mangga yang sengaja dimintanya. Dia memang menginginkan puding itu dan harus dibuat oleh mamanya. Olivia kemudian mengajaknya ke ruang tengah untuk berbincang sebentar sebelum mereka pulang.
"Darsh, apa kamu yakin kalau kondisimu sudah membaik?" tanya Olivia.
"Iya, Ma. Aku jenuh terus berada di rumah. Kamu tidak apa-apa kan, Glenda?" ucap Darsh.
__ADS_1
"Harusnya aku yang tanya seperti itu kepadamu Darsh. Bagaimana kalau kamu mual lagi di kantor?"
"Itu tidak akan terjadi, Sayang. Selama kita berdamai, semuanya akan baik-baik saja," ucapnya.
"Memangnya kalian bertengkar?" tanya Olivia.
"Tidak, Ma. Kami baik-baik saja," jawab Glenda.
Glenda tidak ingin membuat mertuanya khawatir. Sangat wajar kalau ada keributan kecil dalam rumah tangganya.
"Darsh, kalau kamu sudah siap, mulai besok masuklah ke perusahaan. Papa ingin mengambil cuti selama beberapa hari."
"Baik, Pa. Bagaimana kabar Justin?"
"Dia sudah bekerja dengan baik. Teman-temanmu cukup bisa diandalkan. Kurasa dia berbakat untuk mengurus perusahaan," jelas Dizon.
"Itu artinya Justin bisa menjadi seorang CEO hebat?" tanya Darsh.
"Apa maksudmu, Darsh?" tanya Olivia.
Darsh sudah berpikir kalau Jillian pergi ke tempatnya karena daddynya pasti meminta untuk masuk ke perusahaan. Apalagi Darsh tahu kalau gadis itu sudah lulus kuliah. Patah hati dengan Frey jelas membuatnya mencari pelampiasan baru.
"Kalau menurut Mama, antara Owen atau Justin, lebih mendingan mana?" Tentu saja semua yang ada di sana bingung dengan ucapan Darsh.
"Mama masih tidak mengerti, Darsh. Apa hubungannya kedua sahabatmu itu?" tanya Olivia.
"Ma, Felix sedang membutuhkan pengganti Damarion Corporation. Papa pikir, Jillian tidak akan mau masuk ke perusahaan. Itulah sebabnya Felix memberikan syarat untuk menggantikan posisinya. Itu artinya, Jillian harus menentukan calon suaminya sendiri," sahut Dizon.
"Oh, ya ampun. Jadi, Jillian ke sini kabur dari daddynya?"
"Tidak seperti itu juga, Ma. Dia mungkin meminta tenggang waktu seperti yang kulakukan dulu. Bagaimana, Sayang? Apakah kamu punya pandangan lain dari kedua lelaki itu?" Darsh berusaha meminta pendapat istrinya. Sejak tadi dia tidak ikut andil dalam pembicaraan ini.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Darsh. Sebaiknya kita bicarakan dulu dengan Jillian kalau sudah sampai."
Rasanya ini akan menjadi masalah yang rumit. Pasalnya, dari kedua orang yang dibicarakan barusan, tidak ada satu orang pun yang menarik perhatian Jillian. Harapan Darsh bergantung pada kedua orang itu, kecuali Frey kembali dan melanjutkan kisah cintanya yang terputus.