Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Kesedihan Glenda


__ADS_3

Darsh dan Glenda kembali lagi ke area pesta, namun Max belum terlihat lagi di sana. Mungkin lelaki itu masih berada di ruangan yang tadi. Hanya terlihat Owen saja yang baru keluar.


"Max bagaimana?" tanya Darsh.


"Biasa, sepertinya hanya terobsesi dengan Jillian. Aku sudah memarahinya. Kesal sekali sama tingkahnya. Kalau memang dia berniat serius dengan satu perempuan, harusnya jangan seperti itu!" keluh Owen.


"Aku harap dia menemukan wanita yang tepat."


"Kamu benar, Darsh. Semoga saja. Oh ya, mau melanjutkan pestanya atau pulang? Kurasa aku akan segera membantu Max untuk berkemas. Kalau memang kamu ingin pulang, pergilah! Aku bisa menyelesaikan ini dengan beberapa karyawanku."


"Terima kasih, Owen."


"Kami pamit dulu," ucap Glenda.


"Oke, kakak ipar. Jangan bosan dengan kelakuan sahabat suamimu yang banyak macamnya."


"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja."


"Owen, kami pergi dulu," pamit Darsh.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


"Kita tidak akan pulang, Sayang," ucap Darsh.


"Memangnya kita akan ke mana?"


"Nanti juga kamu akan tahu. Maafkan aku, ya."


Beberapa kali Darsh selalu mengabaikan istrinya. Bahkan jarang sekali lelaki itu memberikan kebahagiaan atau sesekali kejutan yang berkesan. Melihat kegigihan Justin dan Jillian melewati rintangan seperti Max, Darsh merasa harus lebih bersyukur karena memilih Glenda tidak terlalu melewati banyak rintangan. Justru dia mendapatkannya dengan mudah.


Sopir mengantarkan mereka ke sebuah hotel besar di kota tempat tinggalnya. Ini pertama kalinya Glenda masuk ke hotel itu. Darsh sengaja memesan kamar presiden suit untuk semalam dan menikmati candle light dinner berdua. Tidak di luar, melainkan di dalam kamarnya. Istrinya sedang hamil, udara malam tidak terlalu bagus untuknya.


"Darsh, kamu membawaku ke sini? Aku kan tidak membawa baju ganti?" protes Glenda.


"Justin sudah kuminta untuk mengambilkannya. Kamu jangan khawatir."


"Besok kita ke rumah sakit," ucap Glenda mengingatkan.


"Kita akan pergi dari sini. Aku sudah meminta Jillian untuk menemani Justin selama sehari. Santai dan nikmati malam kita. Jangan pikirkan orang lain, oke?"

__ADS_1


Glenda mengangguk. Setelah mendapatkan kartu akses masuk, Darsh meminta resepsionis hotel untuk menyiapkan keperluannya dengan segera. Dia ingin makan berdua dengan istrinya di dalam kamar hotel.


Darsh menggandeng mesra tangan istrinya. Ini pertama kalinya dia bisa bersikap romantis seperti ini karena teringat Justin yang harus berantem dulu dengan Max demi mendapatkan Jillian.


Kamar hotel yang nyaman membuat Glenda lekas merebahkan badannya. Kehamilannya yang terlihat lebih besar dari usia pada umumnya membuatnya gampang lelah.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku sangat lelah, Darsh. Aku merasa kalau kehamilanku ini tidak wajar. Lebih cepat besar saja kurasa."


"Maafkan aku. Aku belum pernah membahagiakanmu malah menjadi seperti ini."


"Tidak masalah. Aku memang menginginkan seorang anak."


Saat berbincang, pelayan hotel datang dan menyiapkan segalanya. Tak butuh waktu lama, makan malam romantis telah siap. Darsh membimbing istrinya ke meja makan. Di sana sudah terhidang beberapa makan favorit istrinya.


"Makanlah! Kamu dan anak kita pasti sudah kelaparan. Nikmati malam ini, aku akan menebus semua perlakuan burukku terhadapmu."


Mungkin ini saatnya Darsh berubah. Bagaimana pun juga, Glenda harus bahagia diperlakukan manis seperti ini. Padahal hanya makan malam berdua di dalam kamar hotel, rasanya seperti dunia milik berdua.


Darsh duduk tepat di samping istrinya. Dia menyuapinya dengan perlahan. Memperlakukan ibu hamil itu dengan sangat lembut dan mengesankan. Glenda jadi terharu. Harapan Glenda adalah bukan untuk malam ini saja suaminya bisa bersikap manis seperti ini.


Darsh tidak tahu harus menjawab seperti apa. Yang pasti, dia tidak bisa berjanji apapun untuk selalu bersikap manis. Ada kalanya dia harus menjadi dirinya sendiri seperti biasanya. Dingin dan kaku.


"Hemm, akan kuusahakan," jawab Darsh. Dia tidak ingin menyinggung perasaan istrinya.


"Terima kasih, Darsh."


Keduanya menikmati makan malam romantis selayaknya sepasang kekasih. Mereka bisa bercanda dan menumpahkan segala kerinduan yang selama ini tertahan. Malam ini, Glenda sangat bahagia melebihi apapun.


Selepas makan malam, Justin sudah mengantar semua keperluan Bos dan istrinya. Dia meminta bantuan Jillian untuk menyiapkannya. Tugasnya hanya mengantarkan saja, setelah itu Justin pulang ke rumahnya.


"Sayang, gantilah pakaianmu. Justin sudah membawakannya untuk kita."


Darsh menyerahkan sebuah tas yang berisi beberapa pakaiannya dan suaminya. Glenda lekas ke kamar mandi untuk berganti. Begitu pun dengan Darsh.


Kini keduanya berada di ranjang yang sama. Darsh duduk bersandar pada headboard, sementara Glenda menyandarkan badannya pada suaminya.


"Darsh, apakah kamu mencintaiku?" tanya Glenda mengawali pembicaraan malam ini.

__ADS_1


"Hemm, tentu saja. Memangnya kenapa?"


"Kalau ternyata aku menyusul grandma, apakah kamu akan mencari penggantiku?"


"Kamu ini bicara apa? Kita akan selalu bersama untuk selamanya. Apa kamu tega meninggalkanku dan anak-anak kita?" ucap Darsh. Dia menggenggam erat tangan istrinya dan sesekali mencium tangan itu.


"Tidak, Darsh. Aku menyayangimu. Selalu bahagiakan aku, apapun yang terjadi."


"Kenapa ucapanmu malam ini membuatku sedih? Harusnya malam ini kita memikirkan kebahagiaan dan bukan kesedihan."


"A-aku terkadang merasa kalau umurku tidak akan lama lagi. Namun, aku kepikiran bagaimana nasib anak-anakku ketika kutinggalkan. Apakah dia akan mendapatkan ibu tiri dan menyiksa mereka sepanjang waktu?"


Darsh semakin ke sini kesal karena ucapan istrinya. Dia sedikit mendorong tubuh istrinya dan memposisikan di hadapan wanitanya. Darsh memegang dengan lembut pipi Glenda.


"Apa yang kamu katakan? Kita tidak akan berpisah dan jangan berpikir terlalu jauh."


Darsh mengecup bibir istrinya kemudian memberikan ciuman singkat di sana.


"Kita akan terus bersama sampai kapan pun. Jangan katakan mengenai seluruh kesedihan itu karena aku tidak suka," ucap Darsh lagi.


Glenda menarik tangan Darsh untuk memegang perutnya. Di sana, tendangan halus mulai terasa dari bayi mereka.


"Sayang, bayi kita menendang. Apa ini sangat sakit?"


"Tidak, Darsh. Rasanya geli sekali. Aku tidak tahu takdir apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kehamilanku ini terjadi sangat cepat. Bahkan, pertama kalinya kamu memberikan malam pertama dan aku hamil. Aku juga ingin kamu sentuh lagi, Darsh."


"Tidak sekarang, Glenda. Aku takut menyakiti anak kita. Besok kita ke dokter dan aku akan menanyakan hal itu. Apakah diizinkan atau tidak?"


"Hemm, baiklah."


"Tidurlah! Ini sudah sangat larut," ucap Darsh.


Glenda membaringkan tubuhnya tepat di samping suaminya. Dia meminta Darsh untuk menemaninya sampai tertidur. Darsh mengelus puncak kepala istrinya sampai terlelap. Setelah itu, Darsh membetulkan posisi selimutnya agar istrinya tidak kedinginan karena AC ruangan itu menyala. Darsh lantas turun dari ranjang kemudian menuju balkon.


Darsh merenung seorang diri. Dia menatap langit gelap malam ini. Rasanya ada sesuatu yang disembunyikan istrinya. Besok, setelah dari rumah sakit, Darsh akan menanyakan lebih jauh tentang hal itu.


...🌿🌿🌿...


Yuk sambil menunggu update, kepoin karya teman Emak yang keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejak πŸ’Ÿ

__ADS_1



__ADS_2