Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Candaan Suami Istri


__ADS_3

Jillian dan Justin kembali ke meja tempat berkumpul sahabat Justin termasuk kakak sepupunya. Kaduanya terlihat biasa saja seperti tidak ada masalah.


"Mana Frey?" tanya Max.


Di dalam Kafe, Owen memang sengaja membuat tempat khusus untuk perokok, sehingga kebiasaan Max yang merokok tidak bisa seenaknya merokok begitu saja. Kali ini, kegiatannya cukup makan, minum, kemudian melirik sepasang kekasih yang sedang berbahagia.


"Max, jaga pandanganmu!" sindir Owen.


"Aku bahkan tidak melakukan apapun," sungutnya.


Lama Frey berada di dalam ruangan itu, kemudian dia memutuskan keluar dan bergabung dengan sahabatnya.


"Frey, kamu baik-baik saja?" tanya Darsh.


"Aku baik, Darsh. Kita akan tetap seperti ini, bagaimana pun kondisi yang sempat kita alami," ucap Frey. Dia harus menjunjung tinggi persahabatan mereka. Bagaimana pun juga, Frey bisa seperti ini karena dukungan sahabatnya.


"Terima kasih, Frey. Semoga kamu lekas menemukannya lagi," ucap Justin. Dia tidak marah pada Frey karena memang mereka sama-sama tidak bersalah. Hanya saja, lingkaran takdir sedang mempermainkan perasaan mereka.


"Tentu. Jill, maafkan aku. Aku terlambat memberikan kepastian," ucap Frey.


"Tidak apa-apa, Kak. Maafkan aku juga, ya?" Agaknya Jillian harus berusaha menetralkan semua masalah yang dihadapinya. Bagaimana pun nantinya, Jillian akan bertemu terus dengan Frey dikemudian hari.


"Sama-sama." Frey tidak bisa menghapus semua masalah ini. Dia tetap akan bersama dengan sahabatnya, maka dari itu, dia harus bisa menerima kehadiran Jillian. Dia harus membiasakan diri untuk terus seperti ini.


Suasana Kafe sudah kembali normal. Hari semakin larut dan Darsh harus menjemput istrinya di rumah orang tuanya.


"Baiklah, karena ini semakin larut, dan semua masalah sudah dianggap selesai, aku pamit dulu. Aku mau menjemput Glenda di rumah mama."


"Hati-hati, Darsh," ucap Owen.


Satu per satu sahabat Owen pulang. Tinggalah Frey dan Owen berdua saja. Lelaki itu belum mau pulang. Dia ingin menikmati malamnya yang semakin larut bersama Owen. Frey tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam hal ini.


"Apakah kamu merasa gagal?" tanya Owen sembari membereskan beberapa gelas dan bekas makanan mereka.


"Tidak, Brother! Aku tidak gagal. Mungkin memang lebih baik Justin dengan Jillian. Aku belum bisa membahagiakan Jillian dengan baik seperti Justin." Frey menghela napas panjangnya. Penantiannya sia-sia karena tidak memberikan kepastian pada gadis itu.

__ADS_1


"Kapan kamu kembali?"


"Secepatnya. Aku akan kembali lagi ke negara H setelah pendidikanku selesai. Maafkan aku, Owen." Frey memeluk Owen dengan sangat erat. Dia sudah kehilangan Jillian dan tak akan mungkin kehilangan sahabat sebaik mereka.


...🌿🌿🌿...


Sepanjang perjalanan pulang, Jillian diam. Dia tidak menyesal telah melepaskan Frey dan mendapatkan Justin. Yang dia sayangkan hanya pada Frey dengan alasan untuk menyejajarkan dirinya dengan keluarganya, Frey harus rela kehilangan dirinya. Seandainya Frey mau mengatakan itu sejak awal, Jillian pasti akan mencegahnya. Semuanya sudah terlambat dan tak bisa dikembalikan lagi.


"Jill, kamu menyesal telah kehilangan Frey?" tanya Justin setelah keduanya saling diam.


"Tidak, Kak. Aku hanya menyesal tentang pikirannya. Apakah Kakak juga berpikiran sama tentangku?"


Justin menghentikan mobilnya. Dia merasa kalau Jillian sudah salah paham terhadapnya.


"Aku tidak mengerti, Jill."


"Apakah Kakak juga sama akan menempuh pendidikan setinggi mungkin agar sejajar dengan keluargaku?"


Pikiran picik itu tidak ada dalam pemikiran Justin. Dia hanya merasa bisa menerima Jillian dan sebaliknya. Itu sudah cukup. Perkara nantinya Justin akan meneruskan bisnis keluarga gadis itu, itu hanya perkara mudah. Sekarang pun semenjak bekerja di perusahaan Om-nya Jillian, banyak pelajaran yang didapat.


"Tidak, aku akan tetap seperti ini, Jill."


Justin melajukan kembali mobilnya yang sempat terhenti. Sepanjang jalan, Jillian sudah bisa tertawa dan bercanda seperti biasa. Rasanya malam ini Justin tidak ingin memulangkan gadis itu pada kakaknya. Namun, dia menjaga kehormatan gadis itu agar tetap baik. Justin tidak akan macam-macam sebelum semuanya beres. Untuk saat ini cukup membuatnya tersenyum, itu lebih dari cukup.


...🌿🌿🌿...


Di rumah, Darsh mulai uring-uringan. Dia merasa kalau suasana hari ini telah membuatnya tegang. Dia hampir saja kehilangan kedua sahabatnya karena pertengkaran mengenai wanita. Sementara Glenda yang melihat tingkah suaminya membuatnya protes.


"Darsh, kamu kenapa?"


"Oh, aku baik-baik saja," ucapnya beralasan. Dia tidak ingin istrinya ikut memikirkan hal yang tak penting ini.


"Jangan ada rahasia di antara kita! Katakan!" Glenda harus memaksa suaminya untuk berbagi keluh kesahnya.


"Aku hampir saja kehilangan dua sahabatku. Ini gara-gara wanita. Untung saja Frey mau mengalah. Jika tidak, aku tidak tahu hubunganku akan seperti apa?"

__ADS_1


"Salah Frey sendiri, Darsh. Dari awal kenapa tidak mengatakannya. Kalau sudah seperti ini, menyesal saja lebih baik. Kalau aku jadi Jillian, aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Tapi, Frey itu--"


"Alasan apapun tidak dibenarkan. Sekarang bagaimana kalau posisinya kita balik. Kamu mengenalku, tetapi aku tidak memberikan kepastian. Sementara salah satu wanita penggoda itu sudah pasti dan meyakinkan akan menikahimu. Apakah kamu akan tetap menungguku?"


Deg!


Kenapa istrinya masih menghubungkannya dengan wanita itu? Padahal Darsh tidak terpikirkan sama sekali ke arah sana.


"Kenapa diam? Karena dia wanita penggoda? Ya sudah, kita tukar saja. Seandainya ada gadis dari keluarga terpandang lalu memintamu, bagaimana?"


Ucapan Glenda barusan masuk akal. Darsh mencoba memposisikan dirinya menjadi Jillian. Memilih Justin sudah dilakukan dengan benar.


"Hemm, masih tidak bisa menjawabnya?"


"Tidak seperti itu, Sayang. Aku tetap akan memilihmu, karena aku tidak memiliki pilihan lain. Apa kamu percaya padaku?"


"Tentu saja aku percaya padamu. Mana ada orang mau merobohkan kulkas empat pintu kecuali wanita sepertiku yang tergoda iming-iming hadiah bunga, binder, dan omong kosong?" sindir Glenda. Dia mengingat pertemuan pertamanya.


"Glenda, aku sedang tidak bercanda. Aku sangat mencintaimu."


"Buktikan kalau begitu." Glenda lekas masuk ke kamarnya. Dia tahu kalau sebentar lagi Jillian pasti datang. Dia tidak ingin mengganggu privasi Jillian maupun Justin. Sementara suaminya mengikutinya masuk ke kamar.


"Glenda, apa yang harus kulakukan lagi untukmu?"


"Aku ingin makan mie instan," pintanya.


"Big no! Aku tidak suka kalau kamu makan mie instan. Kalau mau, aku akan membuatkanmu salad buah. Bagaimana?" tawar Darsh.


"Ish, mana bisa? Pasti jadinya bukan seperti salad, melainkan jus buah. Kamu kan tidak bisa memasak."


"Sayang, kamu tidak percaya pada suamimu? Aku ini apapun bisa. Hanya satu aku yang tidak bisa?"


"Apa itu?"

__ADS_1


"Menyentuh tanpa menyakitimu. Aku yakin, semua sentuhanku itu menyakitkan dan memabukkan," canda Darsh.


Glenda mengambil bantal kemudian melemparkannya pada suaminya. Rasanya ingin marah, namun malah tertawa mendengar ucapan suaminya barusan. Wajar saja, mereka hanya pertama kali melakukannya.


__ADS_2