Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Tak Perlu Ikut Campur


__ADS_3

Dizon kembali ke ruang kerjanya membawa sebuah nampan yang berisikan air minum dan potongan buah-buahan.


"Makan dan minumlah. Setidaknya aku tidak akan membuat tamuku kelaparan. Itu ada irisan buah. Kurasa kerjasama kita sudah cukup bagus. Kamu yang membelikan buah, keluargaku yang memotongnya kemudian disuguhkan kembali padamu. Terima kasih." Dizon duduk kembali ke sofa.


Sean rasanya ingin menampar muka Dizon berulang kali. Dipikirannya, pria itu akan berubah seiring perjalanan waktu. Nyatanya sama saja.


"Sudah selesai bercandanya? Lanjutkan obrolan kita, setelah itu aku akan memakan buah yang kubawa tadi. Puas?" jawab Sean sedikit sengit.


"Sabar sedikit. Kurasa setelah ini kamu tidak akan bisa makan lagi."


"Kenapa?"


"Cukup diam dan dengarkan saja!"


Kalau bukan tujuannya untuk mengetahui kabar terakhir Juvenal yang seakan menelantarkan Willow, Sean tidak akan mungkin mau berbincang dengan Dizon. Dari dulu tetap sama dan tidak berubah.


Dizon memulai ceritanya ketika Juvenal kehilangan perusahaan dan mengganti utangnya dengan putrinya. Gadis itu seperti dijual oleh papanya.


"Seburuk itu kelakuan Juvenal pada Willow?" Sean benar-benar geram sekali.


"Apa yang kamu lakukan selanjutnya?"


"Aku akan menghajarnya jika bertemu."


"Baguslah. Kurasa Willow sudah membaik setelah menikah dengan Owen," ucap Dizon.


"Owen pria yang baik?" Sean takut kalau Willow akan mengalami hal yang sama.


"Tentu saja. Dia berhasil membuka Kafe juga atas arahan adikmu, Vigor."


Setidaknya Sean bisa tenang sekarang. Setelah tidak ada yang dibicarakan lagi, Sean lekas keluar dari ruangan itu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dizon. Minuman dan buah yang dibawanya tidak disentuh sama sekali.


"Menemui istriku. Kenapa?"


"Ya sudah, pergilah!" jawab Dizon.


Di sisi lain, semua orang yang ada di luar ruangan itu cukup khawatir. Takut saja kalau sampai keduanya bertengkar tanpa ada yang melerai. Melihat Sean yang baru saja keluar membuat mereka lega.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Sean.


"Kak Sean tidak apa-apa, kan?" tanya Zelene.


"Kalian terlalu berlebihan!" Sean kemudian mencari istrinya.


"Kamu mencari Callista?" Olivia mengikuti langkah Sean.

__ADS_1


"Hemm, suamimu itu masih sama seperti dulu. Tidak banyak berubah." Kritikan Sean barusan cukup beralasan.


"Setidaknya aku beruntung menikah dengannya. Andai saja aku jadi menikah dengan Juvenal. Bagaimana kehidupanku sekarang?"


Sean menghentikan langkahnya kemudian beralih memandang Olivia. "Apa maksud ucapanmu barusan?"


"Juvenal itu mantan calon suamiku yang kabur itu. Rupanya kehidupan sangat sempit ruang lingkupnya. Aku mengenalmu. Kamu dan Diana pernah menjalin hubungan suami istri. Kemudian Diana berselingkuh dengan Juvenal. Juvenal sendiri mantan calon suamiku yang kabur."


Spontan Sean memegang tangan Olivia sebagai seorang sahabat yang berusaha memberikan dukungan. Apalagi mereka sudah lama sekali tidak bertemu.


"Percayalah, kehidupanmu yang sekarang jauh lebih baik. Tetap semangat. Lupakan masa lalu, Oliv! Bagaimanapun, kamu pernah menjadi orang terdekat dalam kehidupanku."


"Kamu juga. Aku senang akhirnya Callista adalah pelabuhan cinta terakhirmu. Kalian juga berbahagia."


"Ma, ada apa ini?" tanya Dizon yang melihat sikap Sean tak biasa dengan istrinya.


Sean lantas melepaskan tangan Olivia. Mungkin juga sudah lama tidak bertemu sehingga Sean spontan bersikap seperti itu.


"Kalau kamu ke sini cuma berniat untuk mengganggu istriku, lebih baik kamu pulang sekarang!" Dizon berbalik arah meninggalkan.


"Kamu masih salah paham sama aku, Dizon!" teriak Sean.


Olivia menatap kepergian suaminya membuatnya harus berpikir ekstra. Lain halnya dengan Sean yang bersikap biasa saja.


"Masih suka ngambek?" tanya Sean.


Olivia bergegas menyusul suaminya sebelum benar-benar kacau. Rupanya dia sangat sensitif sekali.


"Ma, papa kenapa?" tanya Darsh yang kebetulan baru saja melihat sikap papanya seperti orang yang sedang kesal seperti itu.


"Biasa, papa salah paham saja, Darsh. Ke mana perginya papa?"


"Sepertinya ke kamar, Ma."


"Ya sudah kalau begitu. Minta semua orang untuk bersiap-siap. Makan malam berlangsung on time jam tujuh malam."


"Baik, Ma."


Olivia lekas menyusul suaminya ke kamar. Dia harus menyelesaikan masalah sepele ini menurutnya.


Ceklek!


Olivia membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Dia melihat suaminya memandang jauh keluar jendela.


"Ada hubungan apa kamu dengan Sean? Apa kamu juga seperti Diana? Menjalin hubungan dengan banyak pria?" Tuduhan Dizon terlalu kekanak-kanakan sekali.


"Sayang, tatap aku!" pinta Olivia.

__ADS_1


Dizon berbalik arah mengikuti permintaan istrinya.


"Apa kamu pikir aku wanita murahan, Sayang? Kurasa kamu salah paham. Bahkan, aku saja sudah ditinggalkan Juvenal begitu saja di hari pernikahanku. Aku beruntung bertemu denganmu. Sampai saat ini, pria yang ada di hatiku cuma kamu."


Ya, merayu. Olivia harus sebisa mungkin merayu suaminya itu. Jika tidak, bisa dipastikan kalau kulkas 4 pintu itu akan ngambek sepanjang zaman.


"Lalu, kenapa Sean harus memegang tanganmu? Apa dia tertarik padamu?" Dizon masih dalam mode kumat level akut.


"Hanya memberikan support agar kita kuat melewati semua ini. Bukankah saat ini kita harus menjaga Willow?"


"Tapi, bisa kan tidak harus pegangan tangan di rumah kita? Aku merasa terganggu!"


Jurus terakhir, Olivia harus memeluk suaminya demi meredam amarah pria tua itu.


"Kamu merayuku?" Cuma ini respon yang bisa diberikan Dizon pada istrinya.


"Tentu saja aku harus merayu suamiku yang lagi ngambek ini. Apa kamu tidak malu kalau dilihat Welenora atau Willy? Mereka pasti bilang kalau grandpa ngambeknya mengalahkan kami. Sangat lucu, kan?"


Jika yang paruh baya bisa seromantis itu, bagaimana dengan pasangan muda yang baru saja melihat kecemasan di wajah papanya? Ya, Darsh sekarang berada di dalam kamarnya. Dia tak sengaja melihat papanya seperti orang yang sedang emosi.


Glenda yang baru saja masuk melihat suaminya itu bersikap aneh.


"Kamu kenapa, Sayang? Dari tadi kulihat sepertinya sangat cemas sekali."


"Ya, kamu benar. Aku sedang memikirkan papa. Entah, aku merasa akan terjadi keributan setelah ini. Tadi, aku sempat melihat papa yang buru-buru masuk ke kamarnya dalam keadaan kesal. Kemudian, mama menyusul dibelakangnya. Ini tidak pernah terjadi selama aku berada di rumah. Apa kira-kira penyebabnya?".


"Jangan negatif thinking dulu, Sayang. Mungkin saja papa hendak memberikan kejutan pada mama kemudian dia berpura-pura bersikap seperti itu. Bisa saja, kan?"


Kejutan? Itu tidak akan mungkin terjadi karena papanya hampir mirip dengannya. Jika bukan karena dipaksa untuk memberikan kejutan, baik Darsh ataupun Dizon hampir jarang sekali. Itupun bisa dihitung pakai jari.


Dua pria yang dingin dan kaku dipaksa romantis memang agak aneh. Terkesan kaku dan terlihat sekali kalau terpaksa.


"Itu mustahil. Kamu tahu aku, kan? Aku dan papa itu beda tipis. Apa sebaiknya aku pergi ke kamar mereka?"


"Untuk apa?"


Bisa-bisanya Glenda bersikap seperti itu padanya. Sudah jelas kalau papanya sedang ada masalah.


"Kamu masih bertanya untuk apa? Kalau sampai mama dan papa bertengkar bagaimana?"


"Sayang, percayalah. Mereka sudah sangat berumur dan tahu mana yang seharusnya mereka lakukan dan mana yang tidak perlu. Coba kamu pikir, seusia mereka kamu mau ikut campur? Lebih baik tetap tenang dan tunggu kabar terbaiknya."


Tenang dan tak perlu ikut campur menjadi nasihat yang penting untuk Darsh. Namun, dari dalam lubuk hatinya, dia masih sangat penasaran.


...🍃🍃🍃...


Sambil menunggu update, yuk kepoin Karya keren milik Author SkySal. Yang sudah kenal, ceritanya pasti nagihin, kan. Cus mampir dan jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏♥️

__ADS_1



__ADS_2