
Berada di apartemen hanya berdua saja rasanya seperti orang asing. Darsh terkadang tidak menyadari sikapnya yang tanpa sengaja menyakiti hati istrinya.
"Darsh, apa tidak sebaiknya kita menginap dulu di rumah mama atau mommyku?" tanya Glenda.
"Bukankah ini permintaan daddymu agar kita bisa mandiri?"
"Tentu saja, Darsh. Tetapi ada hal yang mengganjal dibenakku. Sebelumnya aku minta maaf. Aku heran saja, kenapa sikapmu padaku masih saja dingin? Aku bukan orang lain, Darsh." Glenda hanya ingin membuat lelaki itu menyadari kekeliruannya.
"Aku tahu, Glenda. Maafkan aku, karena aku sendiri sedang berusaha."
Darsh hendak pergi. Dia ingin meredam pikirannya yang sedang tidak menentu. Namun, bukan Glenda namanya jika tidak bisa menahan lelaki itu.
"Darsh, kamu jangan pergi!" Glenda semakin berani memeluk suaminya dari belakang. Dia tidak akan membiarkan lelaki itu keluar dari apartemennya.
Darsh terdiam. Dia sebenarnya sangat menikmati pelukan istrinya, tetapi karena gengsinya ketinggian, Darsh meminta tolong agar Glenda melepaskan pelukannya.
"Glenda, jangan seperti ini! Aku risih," protesnya.
"Aku tidak peduli, Darsh. Kalau kamu tidak bisa memulainya, maka aku yang akan duluan. Aku punya hak penuh atas dirimu, jadi jangan tolak pelukanku ini," ucap Glenda. Dia tidak peduli lagi mau dikatakan istri agresif, terserah saja. Darsh terdiam.
Cukup lama Glenda memeluk suaminya. Dia kemudian melepaskannya. Mungkin Darsh memang tidak nyaman dengan tingkah istrinya.
"Maafkan aku, Darsh. Aku terlalu berlebihan, ya?" tanya Glenda.
"Hemm, tidak apa-apa."
Darsh kemudian keluar dari kamar. Dia ke mana, Glenda juga tidak tahu. Glenda harus pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Dia sudah membeli beberapa bahan makanan dari supermarket. Tak lupa, beberapa soft drink disediakan di dalam lemari pendingin.
Kegiatan Glenda terhenti ketika Darsh keluar entah dari mana. Posisi lelaki itu menerima telepon dari sahabatnya.
"Apa maksudmu, Owen? Kita bertemu di Club malam ini? Aku tidak bisa. Aku sangat lelah," balasnya.
Mendengar kata 'Club'rasanya Glenda ingin berlari dan menahan suaminya untuk tidak ke mana-mana. Namun, lelaki itu sudah keluar begitu saja tanpa berpamitan. Mungkin lupa atau memang sengaja. Glenda membiarkannya.
"Mungkin kamu merasa tertekan dengan pernikahan ini," ucapnya.
Jenuh berada di apartemen setelah memasak, Glenda berniat untuk membawakan makanan untuk mama mertuanya. Dia bisa saja ke sana karena Darsh tidak ada di apartemen.
Setelah makanan siap, Glenda ke kamar untuk membersihkan diri. Tak lama, semuanya siap. Glenda terlihat lebih segar. Bergegas dia mengambil ponselnya untuk memesan taksi. Glenda pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah dimasak.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju rumah mertuanya, Glenda memikirkan apa yang akan disampaikan pada mama mertuanya. Dia penasaran tentang Darsh dan cara menaklukkan lelaki itu. Kalau bukan mamanya yang tahu, lalu siapa lagi?
Taksi yang membawanya telah sampai di depan gerbang rumah mertuanya. Dia lekas turun dan masuk ke dalam. Sampai di depan pintu masuk ke ruang tamu, Glenda bertemu pelayan.
"Non Glenda mencari siapa?" tanya pelayan.
"Mama ada?"
Pelayan itu tidak terkejut karena sudah tahu kalau Glenda adalah menantu rumah itu. Pelayan mempersilakan masuk untuk mencari nyonya rumah yang kebetulan sedang bersantai di ruang tengah.
"Mama," panggil Glenda. Tentu saja Olivia terkejut melihat kedatangan menantunya tanpa putranya.
"Darsh ke mana?"
"Entahlah, Ma. Perginya juga tidak pamit, tetapi tadi Glenda mendengar kalau menyebutkan nama Club. Apa mungkin pergi ke sana?"
Olivia tak habis pikir pada tingkah putranya. Harusnya lelaki itu berada di apartemen.
"Ya sudah, lebih baik kamu di sini saja. Temani Mama!" pinta Olivia.
"Ma, Glenda membawa makanan untukmu. Semoga suka," ucapnya sembari menyerahkan paper bag yang dalamnya sudah berisi beberapa thinwall lengkap dengan makanannya.
Hal yang mudah. Hanya menjalankan perintah mama mertuanya kemudian kembali ke ruang tengah.
"Glenda boleh duduk, Ma?"
"Tentu saja, Sayang. Silakan."
Glenda sengaja mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari mertuanya. Dia ingin bertanya beberapa hal mengenai suaminya itu.
"Ma, papa ke mana?" Glenda menanyakan hal itu untuk menunjukkan perhatiannya.
"Istirahat di kamar, Sayang. Mungkin kelelahan setelah perjalanan jauh."
"Ma, boleh Glenda menanyakan tentang Darsh?"
Olivia sejenak menatap wajah menantunya. Gadis itu terlihat sangat kesal sepertinya. Mungkin karena Darsh yang tidak peka atau kurang memberikan perhatian kepadanya.
"Tanyakan saja. Mama hanya menebak, pasti kamu ingin mengetahui cara menaklukkan suamimu yang kaku dan dingin itu, kan?" Olivia tersenyum setelah mengatakannya.
__ADS_1
Glenda cuma bisa mengangguk kemudian tertunduk. Dia sebenarnya malu untuk mengatakannya. Namun, bagaimana pun dia harus berjuang untuk rumah tangganya.
"Terkadang butuh keberanian dan agresif. Sesekali buat dia menyesali telah mengabaikanmu."
Glenda memberanikan diri untuk memandang mama mertuanya. Dia ingin mengorek lebih banyak trik untuk membuat suaminya sadar bahwa dia tidak sendiri.
"Glenda harus bagaimana, Ma? Darsh terlalu kaku dan dingin. Rasanya kalau berbicara dengannya itu kita harus mengalah."
Olivia tersenyum. Dia menyadari kondisi menantunya sama seperti dirinya beberapa puluh tahun lalu. Semua ucapan mama dan mertuanya selalu dijalani demi bertahan terus di samping suaminya.
"Malam ini jangan pulang ke apartemen. Bukannya Mama mau menyembunyikanmu dari anak Mama. Namun, cara ini bisa dicoba agar suamimu itu menyadari betapa pentingnya dirimu untuknya. Mama yakin, kamu paham dengan maksudnya."
"Terima kasih, Ma. Jujur, Glenda awalnya tidak mengira kalau sikap Darsh sangat dingin."
"Namanya juga duplikat papanya. Wajar kalau seperti itu. Mama pun sama denganmu. Berjuang demi bertahan dengan suami mama," ucap Olivia dengan santai.
Glenda bisa bernapas lega. Setidaknya masih ada orang yang peduli padanya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi suaminya ketika mendapati dirinya tidak berada di apartemen. Panik atau biasa saja.
"Sayang, apa kamu tidak capek? Kalau capek, mama akan mengantarmu ke kamar Darsh. Istirahatlah di sana!"
Sebenarnya Glenda sangat lelah, tetapi dia masih ingin berbincang banyak dengan mama mertuanya. Glenda ingin mengenal lebih jauh siapa mama mertuanya itu.
"Nanti saja, Ma. Glenda ingin bertanya banyak hal."
"Silakan, Sayang."
"Sebelum Mama menjadi ibu rumah tangga, apa pekerjaannya?" Glenda hanya ingin tahu untuk mengambil keputusan ke depannya. Berada di apartemen akan membuatnya bosan.
"Mama seorang dokter, Sayang. Demi mengikuti papamu, mama rela melepaskan cita-cita mama yang sudah terwujud itu."
Glenda tidak menyangka kalau ternyata mama mertuanya adalah seorang dokter. Dia pikir hanya seorang ibu rumah tangga biasa seperti mommynya. Berbincang dengan mamanya membuat Glenda lelah. Dia ingin beristirahat.
"Ma, Glenda mengantuk."
"Ayo, Mama antar ke kamar suamimu." Olivia berdiri diikuti menantunya. Kamar yang dimaksud tidak jauh dari ruang tengah. Sampai di sana, Olivia memintanya untuk segera masuk dan beristirahat.
"Tidurlah. Makan malam jam tujuh malam. Kalau kamu terlambat bangun, bisa minta tolong pelayan untuk menyiapkan makananmu," pesan Olivia.
"Terima kasih, Ma."
__ADS_1
Glenda sudah berada di kamar suaminya untuk pertama kalinya. Kamar lelaki yang sangat rapi menurutnya. Suasananya juga tidak membosankan. Betapa nyamannya berada di kamar suaminya. Dia berharap malam ini suaminya segera sadar.