
Setelah resepsi pernikahan yang dilangsungkan di kediaman keluarga Damarion, Owen dan Willow tinggal di sana untuk beberapa hari. Itu dilakukan karena permintaan Olivia. Dia ingin momen kebersamaan dengan Darsh maupun Willow tidak hilang begitu saja.
"Mama ingin terus seperti ini. Jika Mama pergi, setidaknya Mama sudah pernah bahagia bersama kalian," ucap Olivia yang baru saja bergabung di ruang keluarga.
"Mama bicara apa, sih? Kita akan terus bahagia dan bersama selamanya," sahut Darsh sambil menimang putranya. Tidak rewel, namun Willy ingin digendong oleh daddynya.
"Aku hanya akan membawa Willow untuk honeymoon, Ma," ucap Owen. Atas permintaan Olivia juga, lelaki itu memanggilnya mama.
"Mau kamu bawa ke mana anak mamaku itu?" canda Darsh.
"Darsh, biarkan saja. Aku malah senang kalau Kak Owen pergi dengan kakak ipar. Biar Willy dan Welenora lekas punya teman bermain," sahut Glenda. Dia menyebut kakak ipar karena jarak usianya masih lebih tua Willow daripada suaminya.
Sejenak semua yang berada di sana menertawakan ucapan Glenda barusan, tetapi Willow malah wajahnya memerah karena malu. Walaupun dia pernah ternoda, namun dengan Owen adalah pertama kalinya.
"Pergilah! Papa memberikan tiket honeymoon ke mana pun Willow pergi," ucap Dizon. Tentu saja ini membuat Olivia semakin bahagia. Entah karena merasa kasihan pada Willow atau memang benar-benar berubah, setidaknya sesepuh kulkas empat pintu mulai mencair.
Darsh tidak iri atas apa yang telah diberikan papanya pada Willow. Walaupun dia orang lain, setidaknya membuat orang tuanya semakin bahagia. Itu sudah cukup membuat Darsh tenang.
"Pa, tidak perlu berlebihan seperti itu. Aku memiliki kalian sudah sangat luar biasa. Mama Diana pasti bahagia melihat kalian sangat menyayangiku." Willow terharu. Papa Dizon-nya sangat baik dan selalu memberikan dukungan. Tidak hanya orang tua angkatnya, tetapi Darsh juga sangat baik.
"Tak masalah, Sayang. Papa ingin kamu dan Owen menikmati kebersamaan. Berbahagialah!" Olivia memeluk anak gadisnya itu. Rasanya dia ingin membuat Juvenal menerima balasan yang menyakitkan karena telah menyakiti putrinya seperti itu. Untung saja Owen lelaki yang baik dan bisa menerima Willow dengan baik.
"Jangan pikirkan Kafe! Bukankah sudah ada orang kepercayaanmu?" Darsh merasa kalau Owen kepikiran usahanya yang sudah berkembang pesat itu.
"Bukan begitu, Darsh. Willow pernah mengatakan padaku kalau dia hanya ingin berada di apartemen saja."
Willow tidak ingin membuat Owen mengeluarkan banyak uang hanya untuk membuatnya senang. Melihat usaha lelaki itu semakin berkembang sudah cukup senang. Sayang kalau uangnya digunakan untuk berbulan madu.
"Papa tidak setuju! Tiket sudah diurus Darsh dan semua sudah siap berangkat." Dizon menjelaskan.
Kalau sudah seperti ini, Willow dan Owen tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka mau menerima karena semua sudah siap.
__ADS_1
Rencana bulan madu akan berlangsung selama seminggu. Itupun semua persiapan sudah diurus mama Olivia. Wanita paruh baya itu selalu memberikan kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
...🍃🍃🍃...
Owen dan Willow pergi ke negara T. Negara impian Willow sejak kecil. Dizon berusaha mewujudkan semua impian gadis itu. Toh bagaimana pun juga, Willow pernah menjadi bagian hidupnya.
Owen menggandeng mesra tangan istrinya memasuki kamar hotel. Tak lupa, dia membawakan beberapa koper yang seharusnya dibawa masuk, namun Willow mencegahnya.
"Biarkan dibawa oleh pihak hotel. Kita nikmati saja malam berdua kita, Sayang," ucap Willow.
Owen sudah mempersilakan gadis itu untuk memanggilnya sayang. Begitu juga dirinya. Sepertinya budak cinta yang sebenarnya jatuh pada pasangan Owen dan Willow. Keduanya selalu bisa bersikap romantis walaupun jarak usianya lebih berumur pihak perempuan.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa untukku," ucap Owen memeluk gadis itu.
"Tidak, harusnya aku yang berterima kasih padamu. Kamu bisa menerima segala kekuranganku. Bahkan, semua tentang masa laluku."
...🍃🍃🍃...
"Kamu yakin sudah tidak trauma lagi?" tanya Owen ketika melihat Willow menggunakan lingerie seksi pemberian Glenda.
Sebenarnya Willow cukup malu di hadapan Owen. Dia lebih terlihat seperti wanita penggoda malam ini. Lingerie merah dan lipstik merah merona. Ini sebenarnya ajaran gila yang diajarkan Darsh dan Glenda. Mereka bilang kalau Owen sangat menyukai warna merah.
"Willow, sepertinya aku merasa tidak sedang berbulan madu denganmu."
Glek!
Sudah berusaha menahan malu dengan lingerie seksinya dan make up menornya itu bukan malah mendapatkan pujian, tetapi sepertinya salah sasaran.
"Lalu?" tanya Willow.
"Aku seperti sedang main matador. Kamu torero dan aku bantengnya. Hemm, menarik!"
__ADS_1
Owen menelan ludahnya. Dia tidak menyangka di bulan madu pertamanya mendapatkan suguhan yang luar biasa seperti ini.
Willow yang sudah berada di ranjang merasa gagal karena Owen tidak langsung menyerangnya, melainkan masih bermain-main. Willow mundur hendak berganti dengan pakaian tidurnya. Namun, Owen lantas mencegah sehingga gadis itu jatuh tepat di dada bidangnya.
"Mau kabur ke mana, kamu?"
Spontan, Owen langsung membungkam gadis itu dengan ciuman memabukkan. Owen memang baru pertama kalinya. Dia tidak boleh gegabah. Dia akan melakukannya dengan lembut.
Perlahan, Owen mulai memberikan kecupan mesra di setiap tempat sensitif yang diketahuinya. Willow merasakan getaran hebat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Owen memperlakukannya dengan sangat lembut. Bahkan, lelaki itu sudah sudah dalam keadaan polos. Tersisa bawahannya saja. Sedangkan Willow, dia sudah benar-benar polos.
Owen meminta izin untuk memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk Willow, namun ketika hendak masuk pada tempat yang tepat, tiba-tiba Willow menghentikan suaminya.
"Jangan lakukan, Owen!" Willow malah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa? Apa kamu takut kalau aku akan berlaku kasar padamu?"
Willow menggeleng. Rasanya bukan karena hal itu, tetapi Willow takut mengecewakan suaminya bahwa dia sudah pernah melakukannya dengan orang lain.
"Aku takut kalau kamu kecewa, Owen. Aku sudah sering melakukannya dengan pria yang menjadikanku sebagai penebus utang."
Owen terdiam. Hasratnya yang menggebu tiba-tiba luntur begitu saja. Mungkin Willow masih teringat masa suramnya kala itu sehingga dia menolaknya. Bagaimana pun juga, Owen tidak akan memaksa untuk melakukan jika Willow belum benar-benar siap.
"Tak masalah, Sayang. Gantilah pakaianmu. Aku bisa mengerti kondisimu. Kapan pun kalau kamu siap, aku pasti akan memperlakukanmu dengan sangat baik."
"Terima kasih, Owen. Maafkan aku."
"Tak masalah. Asal kamu bahagia. Jangan bersedih lagi, ya!"
Owen memberikan pelukan hangat wanitanya di dalam selimut yang sama. Dia menjanjikan banyak hal pada istrinya untuk tidak terlalu berpikir pada masa lalunya. Kehidupannya sekarang adalah tentang suami dan keluarga barunya.
"Jangan kecewakan keluarga Darsh. Dia sangat baik padamu. Ingat permintaannya untuk kita lekas memberikan mereka cucu. Aku tidak akan memaksamu, tetapi yakinlah kalau kamu siap dalam waktu dekat."
__ADS_1
Ucapan Owen benar. Tenggelam dalam luka masa lalunya tidak akan membuat Willow bisa memikirkan masa depannya dengan baik. Sebaiknya setelah ini Willow harus memberikan keputusannya.