Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Ribut dengan Glenda


__ADS_3

Malam semakin larut, Darsh tidak bisa tidur. Perutnya mulai tidak beraturan. Gara-gara kesalahpahaman noda lipstik di bajunya, Darsh harus menerima hukuman yang luar biasa menurutnya. Kepalanya semakin pusing, dia sungguh tidak bisa memejamkan matanya. Darsh tak ambil pusing. Dia harus mencari keberadaan istrinya yang mungkin tidur di kamar tamu.


Beberapa pelayan yang kebetulan ditemuinya mengatakan kalau Glenda berada di kamar tamu. Dia tidak bisa memaksanya untuk membuka pintu, namun dia perlu mencari kunci cadangan untuk membukanya. Butuh waktu sepuluh menit sampai Darsh benar-benar berada di kamar yang sama. Glenda sedang duduk menghadap jendela.


"Eh, kenapa kamu masuk ke kamarku!" Glenda berdiri untuk menghindari suaminya. Dia mundur dan menjauh ke mana pun suaminya mendekati. Glenda memang sengaja melakukannya agar suaminya itu sadar dan tidak berbuat neko-neko


"Glenda, tolong jangan siksa aku seperti ini. Aku tidak melakukan apapun yang kamu tuduhkan. Ini hanya salah paham. Aku bukan pria yang seperti itu. Tolong kembalilah ke kamar kita. Aku sungguh tidak bisa tidur tanpamu." Rayuan maut Darsh mulai dilancarkan demi bisa tidur dengan nyenyak.


"Kalau begitu, aku butuh bukti kalau semua itu memang salah paham!" Tentu saja Glenda tidak akan mudah menuruti permintaan suaminya.


Glenda rupanya lebih garang daripada yang dibayangkan sebagai wanita yang lemah lembut dan penurut. Rupanya Darsh salah mengira. Glenda perempuan yang kuat walaupun terkadang hobinya ngambek.


"Kita ke kamar, setelah itu aku akan mendial nomor Owen. Bicaralah dengannya!" Salah satu kuncinya memang berada di Owen. Lelaki itu yang mengusir Clianta dari Kafenya karena Darsh tidak nyaman dengan tingkahnya yang sudah keterlaluan.


"Kamu sedang tidak mempermainkanku, kan? Kalau kamu berani berselingkuh, jangan salahkan aku akan pergi meninggalkanmu dan membawa anak ini bersamaku. Aku juga tidak akan pernah mengizinkannya untuk bertemu denganmu walaupun kamu daddynya. Aku akan mengatakan pada putraku kalau daddynya tenggelam kemudian ditelan lumba-lumba."


"Ck, kamu pikir anakmu akan percaya padamu? Tidak, Sayang. Anakku cerdas sekali."


"Bukan anakmu. Aku yang mengandung, jadi ini anakku!"


"Tidak! Ini anak kita," sahut Darsh. Dia juga ikut andil besar dalam keberhasilan kehamilan istrinya.


"Pergilah! Aku malas berbicara denganmu!" usir Glenda.


"Sayang, bukankah kita sudah sepakat untuk menelepon Owen? Ini sudah larut, Sayang. Kalau tidak segera kamu telepon, keburu tidur dia."


Glenda baru ingat. Ini kesempatannya untuk memastikan kebenarannya malah keburu ribut dengan suaminya.


"Baiklah. Awas saja kalau bohong!"

__ADS_1


Glenda keluar diikuti oleh Darsh. Dia mengambil ponsel suaminya yang diletakkan di atas nakas. Dia langsung mendial nomor Owen karena seperti kesepakatan awal, ponsel suami istri tidak boleh ada yang diberikan sandi khusus. Itu yang diminta Glenda pada suaminya. Apalagi Glenda baru mengenal Darsh dan sekarang dia sedang hamil. Hanya untuk berjaga-jaga dari perempuan penggoda seperti yang pernah diceritakan Darsh padanya. Sejauh ini, ponsel suaminya aman.


"Halo, Darsh. Ada apa? Aku baru mau tidur," ucap Owen melalui sambungan telepon.


Glenda sengaja menekan loudspeaker supaya bisa didengar bersama.


"Owen, ceritakan mengenai Clianta. Gadis itu yang kurang ajar padaku, kan? Istriku ingin mendengarnya," sahut Darsh.


Owen rasanya ingin tertawa mendengar tingkah sahabatnya. Bucin dengan suami takut istri rupanya beda tipis. Owen seperti tidak mengenal sahabatnya yang dulu. Dia berubah entah sampai kapan. Mungkin sampai istrinya melahirkan dan terbebas dari kutukan kehamilan simpatik itu.


"Gadis itu sebenarnya sengaja memeluk suamimu, kakak ipar. Namun, aku keburu mencegahnya. Memangnya kenapa?"


"Lain kali katakan padanya untuk tidak kurang ajar pada suami orang," jelas Glenda. Dia mengembalikan ponsel ke suaminya kemudian keluar kamar. Kesalnya bukan pada gadis itu, melainkan pada suaminya.


"Tunggu, kamu mau ke mana?" ucap Darsh. Dia memutuskan sambungan telepon sepihak.


Hampir saja Darsh mengelus dada. Kalau sampai Glenda kabur lagi, bisa dipastikan dia tidak bisa tidur nyenyak.


"Bisa minta tolong pelayan, kan?" protes Darsh.


"Darsh, ini sudah malam. Mereka pasti sudah tidur. Aku tak masalah kok."


"Kuantar, ya?" Darsh berusaha menawarkan diri. Alasannya memang klasik, takut kalau istrinya kabur.


"Darsh, aku hanya ke dapur dan bukan pergi jauh," sahutnya. Glenda lekas pergi ke dapur. Berdebat dengan suaminya tak akan ada hentinya.


Glenda pikir dia ke dapur seorang diri, ternyata suaminya diam-diam mengikutinya. Darsh berpura-pura hendak mengambil buah jeruk yang ada di lemari pendingin.


"Kamu mengikutiku?" tanya Glenda.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya ingin mengambil buah jeruk."


"Bohong!"


"Kenapa sih kamu tidak percaya dengan suamimu ini?"


"Bukannya tidak percaya. Aku yakin kalau lipstik yang tertinggal karena perempuan itu bergelayut manja padamu sampai kamu tidak menyadarinya. Iya kan?"


Darsh pikir setelah urusannya dengan Owen barusan kelar bersamaan dengan munculnya kepercayaan Glenda. Rupanya Darsh salah besar. Istrinya masih saja mengungkit masalahnya barusan.


"Harus bagaimana aku meyakinkanmu, Glenda? Aku sudah mengatakan yang sesungguhnya. Begitu juga dengan Owen. Kami tidak menambah atau menguranginya."


Glenda mengambil dua gelas penuh air putih. Biasanya dia mengambil tekonya sekalian, namun malam ini dia tidak terlalu butuh banyak air. Cukup dua gelas untuknya.


"Kamu mengambilkan air untukku juga?" tanya Darsh ketika menelisik nampan yang dibawa istrinya.


"Jangan kepedean. Ini buatku dan anakku!" Glenda bergegas kembali ke kamar tanpa mempedulikan suaminya. Malam semakin larut. Setelah menghabiskan dua gelas air putih, Glenda beranjak tidur.


Darsh menyusul 15 menit kemudian karena menghabiskan buah jeruk terlebih dahulu. Dia ingin muntah, sebagai gantinya, dia harus mengkonsumsi buah jeruk terlebih dahulu. Andaikan istrinya tidak ngambek, rasa mual ini tak akan menyiksanya.


Ceklek!


Darsh membuka pintu kamarnya kemudian menutupnya kembali. Dia melihat istrinya tidur nyenyak di balik selimut tebalnya. Sangat nyenyak menurutnya. Dia sangat sensitif ketika hamil. Terkadang seperti anak perempuan tingkahnya. Kadang juga seperti dirinya, keras kepala.


Darsh naik ke ranjangnya. Sebelum tidur, Darsh mengecup dahi dan puncak kepala istrinya. Rasanya sangat damai sekali. Mualnya juga mulai menghilang.


Cerita kita sangat menyedihkan dan lucu. Andai saja grandma tahu kalau cucu menantunya sedang hamil, wanita tua itu pasti bahagia. Sayang, grandma hanya mengantarkan kita ke gerbang pernikahan saja. Setelah itu meninggalkan kita dengan tenang. Setidaknya keinginan terakhirnya sudah terwujud. Terima kasih, Sayang. Kamu yang terbaik untukku.


Darsh membetulkan posisi selimutnya. Rasanya berbeda berada di dalam selimut berdua seperti ini. Rupanya sebelum tidur, Glenda mengubah posisinya memeluk Darsh. Pria itu memanfaatkan sesuatu yang menguntungkan. Dia juga melakukan hal yang sama pada istrinya. Untung saja sudah terlelap, jika tidak, Glenda kemungkinan marah besar padanya.

__ADS_1


__ADS_2