
"Aku hanya bercanda, Darsh. Lagi pula aku juga tidak mau membiarkan senjataku ini menunggu terlalu lama. Bisa-bisa aku melemah tak berdaya," ucap Frey.
Beberapa sahabatnya langsung tertawa. Sementara Helga cukup menutup mulutnya saja. Rasanya dia ingin tertawa paling kencang kali ini.
"Kalau mau tertawa, jangan di tahan, Helga. Kasihan," ucap Owen.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau kalau ternyata aku hamil terus menertawakan pria yang gagal nikah berulang kali. Maaf, anakku jangan sampai kena sial," jawab Helga. Pasalnya, bulan ini dia merasa terlambat datang bulan. Ingin membeli tespek masih memikirkan lagi. Takut kalau hasil akhirnya zonk.
"Eh, kenapa bisa begitu, Baby? Apa kamu ada kemungkinan sedang hamil?" tanya Max.
"Woah, suaminya sangat peka dan berpengalaman, nih," sahut Frey.
"Jelas dong. Kami sama-sama berpengalaman. Seenggaknya kami sudah menikah sekarang. Dan, kalian berdua, jangan terlalu menunggu datangnya jodoh. Kalau kalian diam saja, mana mungkin banyak yang tahu. Satunya perjaka gagal nikah dan yang satunya lagi duda rasa perjaka," ucap Max.
Mereka sudah tidak terkejut lagi dengan ucapan Max barusan. Sejak awal persahabatan mereka, Max kalau bicara suka tidak tahu tempat. Namun, dia hanya berbicara seperti itu ketika bersama sahabatnya saja. Kalau bertemu klien, tentunya tidak akan seperti itu.
"Jangan begitu, Max. Usahakan dong. Siapa tahu kamu punya kandidat yang cocok untuk mereka," ucap Darsh.
Seakan-akan Max sedang berpikir. Pada akhirnya jawabannya pasti selalu menyakiti.
"Ck, kau ini, Darsh. Para gadis yang akan kukenalkan pada mereka bisa-bisa langsung menolak. Selama ini yang menjadi kandidat mereka selalu saja dirimu. Apalagi sekarang kamu sudah menikah dan memiliki anak. Jelas mereka akan lebih tertarik padamu yang semakin hari semakin matang itu," jelas Max.
Glenda yang baru saja kembali dengan kedua anaknya tentu saja langsung merespon ucapan Max barusan.
"Ngomong apa kamu, Max? Jangan ajari suamiku macam-macam. Awas saja kalau kamu buat suamiku malah tertarik wanita lain. Aku bisa nekad!" ancam Glenda.
Perkaranya dengan Willow beberapa bulan yang lalu ketika merayu suaminya saja dia hampir membabi buta. Jika tidak ingat kalau sudah punya anak, Glenda bisa saja membuat wanita muda itu hengkang begitu saja. Namun, takdir berkata lain.
"Dad."
__ADS_1
"Dad."
Kedua anak kembar itu langsung bergantian memanggil daddynya.
"Sini, kalian makan puding dulu. Uncle Owen sengaja menyiapkan makanan manis sebanyak ini. Kalian tahu, uncle tidak hanya membuat kalian gendut, tetapi kami juga," ucap Darsh seraya menyodorkan masing-masing satu cup ukuran kecil untuk kedua anaknya.
"Thanks." Cuma itu jawaban kedua anaknya.
Welenora menikmati pudingnya sambil sesekali memandang ke sekelilingnya. Cuek, hanya itu yang ditampilkan gadis kecil seusai Welenora. Lain lagi dengan Willy yang berusaha menawarkan pudingnya ke beberapa orang di sana. Namun, mereka menolaknya.
"Terima kasih, Willy. Aunty masih kenyang, Sayang," tolak Helga.
"Oke." Cuma sepatah dua patah kata saja jawaban Willy.
"Nah, kamu lihat kedua anakmu ini, Darsh. Kalau aku nungguin Welenora, bisa-bisa aku karatan," ucap Frey.
"Sudahlah, Frey. Lebih baik kita cari saja website biro jodoh. Kita cari kencan di sana. Siapa tahu di sana kita bisa bertemu jodoh," usul Owen.
Tentu saja hal ini membuat semua sahabatnya membelalakkan mata. Mereka tidak percaya kalau Owen akan melakukan hal seperti itu.
"Wah, ide apalagi ini?" ucap Darsh. "Kurasa tidak perlu seperti itu. Coba cari kerabat saja buat dikenalin. Ya, sekadar saran saja. Daripada kencan seperti itu, terus kalian dapat wanita yang gak bener? Bagaimana?"
"Nah, iya. Kencan seperti itu hanyalah keberuntungan saja. Aku masih ingat cerita daddy tentang bagaimana Uncle Sean menikahi Aunty Call. Itu keusilan daddyku, loh. Uncle Sean dah buntu banget harus nyari wanita malam. Ish, bayangin aja sudah ngeri. Gak kebayang kan kalau Aunty ku ternyata wanita malam beneran? Oh ya, aku say sorry buat kamu, Helga. Aku nggak ada maksud nyinggung kamu, ya," terang Glenda.
"Iya, Glenda. Tak masalah. Kamu hanya bercerita, kok. Memang benar ucapanmu. Kebetulan kalau dia baik, kalau ternyata malah morotin kekayaan kalian, bagaimana?" balas Helga.
Tak semudah yang mereka bayangkan. Sign in, terus mencari pasangan yang tepat, janjian kencan, dan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Yang ada bukan beruntung, tetapi malah dongkol. Mereka pun tidak terlalu memiliki teman perempuan. Mereka terlalu terikat persahabatannya sehingga mengenal perempuan itu dimulai setelah mereka lulus kuliah.
"Kenapa kalian tidak mencoba pergi ke Mal atau mungkin ke pusat perbelanjaan. Biasanya di sana banyak para gadis yang sedang jalan-jalan bersama sahabatnya. Mungkin kalian bisa menemukan kecocokan di sana," usul Max.
__ADS_1
Tak ada yang mustahil kalau mau berusaha. Setidaknya mereka berdua mau move on. Apalagi Owen yang statusnya duda. Tentu dia akan lebih sulit membuka hati untuk orang lain daripada Frey.
"Sudahlah, pikirkan hal yang baik saja, Owen. Kalian pasti menemukan pendamping yang tepat kok. Jangan menyerah. Keburu anak-anakku besar. Apa iya kalian mau jadi salah satu menantuku? Kalau aku sih gak mau, ya. Seperti dunia ini sempit saja," terang Darsh.
Sekali lagi, Darsh tentu saja menolaknya. Dia merasa kasihan sekali kalau putrinya yang masih muda harus bersanding dengan om-om yang usianya hampir 50 tahun. Tidak lucu, kan. Seperti seorang sugar baby saja.
"Tenang saja, Darsh. Kami bukan pedo--"
"Iya tahu." Darsh menyela ucapan Frey. Tentu saja ini hanya candaan saja. Darsh hanya khawatir kalau putrinya sampai berjodoh dengan sahabatnya sendiri.
"Sudahlah, Dad. Jangan dikhawatirkan ucapan Frey barusan. Kita doakan yang terbaik untuk Frey maupun Owen segera menemukan jodohnya masing-masing," sahut Glenda.
Kedua anaknya yang sedari tadi entah berkeliling di ruangan itu sehingga pembicaraan antara orang dewasa berjalan lancar. Walaupun tanpa ditemani baby sitter-nya, keduanya bisa bermain sendirian.
"Nah, itu dia, kakak ipar. Bagaimana kalau kita buat pesta untuk mengundang para gadis? Ya, setidaknya agar mereka saling mengenal," usul Max.
"Ide bagus, tuh," sahut Darsh dengan cepat. Semenjak jadi seorang daddy, seolah jiwanya untuk melindungi anak-anak semakin tinggi. Apalagi mendengar candaan Frey yang berencana menunggu Welenora tumbuh dewasa, terdengar menggelikan di telinga.
Max sedang berpikir untuk menentukan tempat yang tepat mengadakan pesta yang dimaksud. Namun, dia bingung harus menggunakan undangan seperti apa yang akan mereka sebarkan?
"Sebenarnya usulku bagus, tetapi aku bingung. Apa iya kalau kita mengundang mereka karena alasan biro jodoh. Ehm, maksudku karena kita tidak ada acara penting semacam pesta ulang tahun atau apa," terang Max.
Jelas saja itu hal yang sangat lucu. Bagaimana mungkin mengundang para gadis singel untuk datang ke suatu acara yang tidak jelas.
Darsh sepertinya sedang mengingat sesuatu. "Wah, kita melupakan sesuatu, Brother. Bukankah sepekan lagi akan ada yang ulang tahun?"
"Siapa?" tanya semua orang bersamaan. Sementara salah satu orang cukup diam dan mendengarkan rencana selanjutnya.
"Ulang tahun duda perjaka," jawab Darsh yang pastinya sebentar lagi mengandung kehebohan yang luar biasa.
__ADS_1