
Pindahan dari apartemen ke rumah baru yang sudah disiapkan keluarga Darsh Damarion dibantu oleh orang tua Glenda. Zelene dan suaminya turut bahagia karena putrinya bisa hamil secepat ini. Ini sangat luar biasa.
"Sayang, apa semuanya sudah siap?" tanya Zelene pada putrinya. Darsh, menantunya sudah berada di rumah barunya karena selama beberapa hari, kondisinya semakin menurun. Lelaki itu terus saja memuntahkan semua isi perutnya.
"Sudah, Mom. Aku kasihan sekali sama Darsh. Semenjak kehamilan Glenda, dia terus saja tidak memiliki tenaga."
"Malah bagus itu, Sayang. Biar dia tidak bertingkah," balas Vigor.
"Dad, jangan seperti itu. Bagaimana pun juga, dia suami Glenda."
"Hemm, baiklah. Lelaki tertampan kedua setelah Daddy. Catat itu!"
Vigor tetap menjadi pria pertama tertampan di mata putrinya. Tentu saja hal itu membuat Zelene tertawa. Setelah menikah, tentunya pria tertampan di mata Glenda adalah suaminya.
"Dad, kalau itu diposisikan padaku, apakah kamu akan protes? Papaku orang tertampan pertama sebelum kamu," balas Zelene.
"Oh ya, jangan sampai nanti anakmu meniru kelakuan suamimu. Bisa gawat dunia ini," keluh Vigor.
"Astaga, Daddy! Mana mungkin anakku mirip Daddy. Itu tidak akan terjadi, Dad," sahut Glenda yang baru saja mengepak beberapa baju Darsh yang masih tertinggal.
"Hemm, mau kalau anakmu mirip kulkas empat pintu yang dinginnya melebihi kutub utara maupun selatan?"
Zelene tidak bisa menahan tawanya mendengar penuturan suaminya itu. Terlalu berlebihan menurutnya. Lagi pula Darsh juga tidak terlalu dingin melebihi Dizon. Justru pangkal utamanya adalah grandpanya, Denzel. Dia cocok disandingkan dengan grandma Jelita.
"Astaga, Daddy! Ini berlebihan sekali. Jangan seperti itu lah, doakan saja kalau anakku ini mirip mommynya. Please, Dad! Menghadapi Darsh seperti itu, aku juga tidak mau ada Darsh kecil lagi. Kacau dunia," sahutnya sembari tersenyum kecut.
Perdebatan berhenti manakala beberapa koper telah siap dan akan dibawa masuk ke mobil. Besannya sudah berada di rumah besar karena menjaga Darsh yang tidak bisa ditinggalkan sedikit pun.
Semua barang sudah masuk ke koper. Beberapa barang penting termasuk bingkai foto semua sudah masuk. Tak lupa, beberapa buku penting di meja kerja suaminya juga sudah masuk ke dalam dos yang sudah disiapkan.
Glenda kemudian menutup akses masuk unit itu kemudian langsung menuju basemen. Agak sulit memang, namun Vigor banyak membantu putrinya.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Vigor.
"Siap, Dad." Glenda duduk di depan. Sementara mommynya duduk di kursi penumpang.
__ADS_1
"Semoga di tempat baru, kamu semakin nyaman, Sayang," sahut Zelene.
"Tentu saja, Mom. Di sana akan banyak pelayan yang menemani kami. Mereka akan membantu semua urusan kami."
"Suamimu tidak bekerja?" tanya Vigor.
"Cuti, Dad. Entahlah sampai kapan. Dia benar-benar terpuruk. Aku yakin, setelah aku melahirkan maka dia tidak akan mengizinkan aku untuk memiliki anak lagi. Dia seperti sangat tersiksa dan terbebani sekali."
Bukan malah petuah atau nasihat yang diberikan, pria paruh baya itu malah tertawa puas. Kalau sudah seperti ini, maka Darsh akan sepenuhnya bisa menerima putrinya dengan kasih sayang yang melimpah.
"Dad, kenapa malah menertawakan menantumu seperti itu?" ucap Zelene.
"Tidak apa-apa, Mom. Lucu saja dengan kondisinya sekarang. Kehamilan istrinya membuatnya tidak berdaya sama sekali. Untung saja aku tidak seperti itu."
...🍒🍒🍒...
"Sayang, bagaimana kondisimu?" tanya Olivia pada Darsh yang saat ini posisinya berbaring di ranjang king size rumah barunya.
"Semakin hari aku sangat tidak bertenaga, Ma. Rasanya ingin makan banyak kemudian memuntahkannya."
"Kamu mau diambilkan buah apa? Ceri atau Apel?"
"Aku menginginkan Ceri saja, Ma. Sepertinya bisa masuk ke perutku. Ma, ini akan berlangsung sampai kapan? Aku sangat lelah, Ma."
"Bersabarlah, Sayang. Kamu bisa melewatinya dengan baik."
"Bagaimana kalau aku tidak berhasil, Ma?"
"Apa kamu ingin membuat istrimu dalam kondisi seperti ini? Lihatlah, semakin hari perutnya semakin membesar. Apa kamu mau bertukar posisi?"
Darsh melihat tubuh Glenda yang mulai sedikit gendut dan perutnya membuncit. Sebenarnya dia memang tidak tega. Terkadang melihat Glenda sangat kesulitan untuk beraktivitas.
"Tidak, Ma. Namun, setelah kelahiran bayi itu, aku tidak akan mengizinkan dia hamil lagi. Kami berdua sangat tersiksa dengan kondisi ini, Ma."
"Jangan seperti itu, Darsh! Apa kamu hanya ingin memiliki anak tunggal? Tidak enak, sayang. Lihatlah dirimu. Tidak punya kakak maupun adik."
__ADS_1
Ucapan mamanya benar. Dia tidak boleh memiliki seorang anak saja. Dia akan membicarakannya nanti setelah anak pertama mereka tumbuh dengan baik. Setelah itu akan dibicarakan lagi rencana kehamilan kedua. Glenda dan dirinya sama-sama anak tunggal. Terkadang masih butuh kedua orang tuanya untuk membantu mereka. Andai saja ada kakak atau adik, mungkin mereka akan meminta bantuan dari salah satunya.
"Terima kasih, Ma. Akan kupertimbangkan lagi."
Bersamaan dengan itu, Glenda telah datang bersama orang tuanya. Beberapa barang yang ada di bagasi mobil langsung dikeluarkan oleh pelayan. Sementara dibiarkan dulu di dalam koper. Nanti kalau sudah sedikit longgar, semua barang itu akan diletakkan di tempatnya masing-masing.
"Semuanya sudah dibawa, Sayang?" tanya Darsh pada istrinya.
"Sudah. Mungkin beberapa ada yang tercampur dalam satu koper. Nanti aku pisahkan lagi." Glenda duduk di ranjang dekat suaminya.
"Bagaimana kehamilanmu, Sayang?" tanya Olivia.
"Baik, Ma. Beberapa hari lagi waktunya kontrol ke rumah sakit."
"Mama yang akan menemanimu," balas Olivia.
"Aku saja, Kak Oliv. Aku sudah lama ingin mengantarkannya," sahut Zelene yang baru saja masuk.
"Baiklah, Ze. Tak mengapa. Kalian atur saja jadwalnya. Biar Darsh di rumah saja."
Zelene tidak mempermasalahkan menantunya itu. Yang paling penting, putrinya menjalani kehamilannya dengan lancar. Sesaat semuanya hening. Pada akhirnya ketika Vigor masuk, semua menatap ke arahnya termasuk Darsh.
"Honey, semuanya sudah kuturunkan. Ada lagi yang harus kukerjakan?" tanya Vigor pada istrinya.
"Tidak ada. Kemarilah dan lihatlah kondisi menantumu!" panggil Zelene.
"Bagaimana kabarmu, Darsh?" tanya Vigor.
"Sedikit membaik, Dad. Aku sudah lelah berada di dalam rumah terus-menerus. Rasanya aku ingin bekerja lagi," jawabnya.
"Semangat! Cobalah perlahan kamu lawan kondisimu ini. Kalau tidak, maka sampai istrimu melahirkan, kamu akan seperti ini terus."
"Iya, Dad. Aku akan mencobanya."
Ini benar-benar siksaan untuk Darsh. Dia tidak bisa ke mana pun selain di atas ranjang. Hanya aktivitas di dalam rumah saja atau terkadang keluar rumah hanya untuk menghirup udara segar. Beberapa sahabatnya menertawakan Darsh karena mengalami kondisi seperti ini. Namun, Darsh tidak peduli. Dia hanya ingin beberapa sahabatnya mengalami hal yang sama seperti dirinya.
__ADS_1