Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Efek Cincin


__ADS_3

Menikmati kopi dengan orang yang namanya sudah tersemat dalam hati, membuat Justin semakin betah berlama-lama di Kafe. Jika tidak ingat bahwa hari semakin larut, tentunya lelaki itu tetap akan melanjutkan. Namun, di sini pekerjaan dan dirinya sama-sama dipertaruhkan. Kalau sampai Jillian pulang terlalu larut, bisa dipastikan Darsh akan marah kepadanya sepanjang waktu.


"Jill, selesai minum kopi, ayo lekas ikut denganku sebentar!" ucap Justin.


"Iya, Kak. Sebentar lagi habis." Secepatnya Jillian menghabiskan cangkir kopinya yang hanya tinggal setengah saja. "Habis, Kak. Aku tidak yakin malam ini bisa tidur."


"Kenapa? Apa kamu mulai memikirkanku?" canda Justin.


"Ish, mana mungkin seperti itu! Kak Justin terlalu kepedean."


"Ya sudah, ayo lekaslah!"


Justin meninggalkan pembayaran kopinya di meja. Ini sudah biasa dilakukan jika dia pergi ke Kafe hanya untuk meminum kopi. Justin mengajak Jillian ke toko perhiasan. Dia berniat membelikan gadis itu cincin sebagai permulaan yang bagus untuk hubungannya.


Jillian tentu saja terkejut mendapati dirinya di bawa ke toko perhiasan. Dia mungkin terlalu kepedean kalau Justin akan membelikannya sesuatu. Namun, Jillian akhirnya baru mengerti tujuannya di bawa ke tempat ini.


"Jill, sebelumnya aku minta maaf. Bukan maksudku untuk membuatmu terkejut. Pilihlah satu cincin yang membuatmu suka. Aku akan membelikannya. Ini bukan cincin pertunangan karena hubungan baru saja di mulai. Anggap saja ini hadiah pertemanan kita!" jelas Justin.


Jillian tidak mampu mengatakan apapun. Rupanya Justin tipe lelaki yang romantis dan sangat perhatian. Walaupun baru berteman, tetapi lelaki itu mampu membuatnya nyaman.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Jillian memastikan.


"Tidak sama sekali. Lagi pula, aku membelikanmu dari gaji yang sudah kudapat. Jangan khawatir!"


Mata Jillian mulai menyusuri seluruh tatanan cincin. Matanya terhenti ketika melihat cincin mungil dengan satu permata yang menempel di dalam cincinnya. Hampir mirip cincin pertunangan, namun bukan itu maksudnya. Jillian menyukai modelnya yang terlihat sederhana.


"Yang itu saja, Kak!"


Penjaga toko mengambilnya dan memberikan pada Jillian untuk dicobanya, namun Justin lebih dulu memintanya.


"Sini, biar aku saja yang pasangkan!"


Padahal hanya cincin biasa yang dipasangkan di jari manis tangan kiri Jillian, tetapi perasaan Jillian menanggapinya berbeda.


Rasanya aku seperti melangsungkan pertunangan. Ini benar-benar aneh. Kenapa ada perasaan aneh dalam diriku?

__ADS_1


"Pas sekali, Jill. Wah, kamu pandai sekali memilih," ucap Justin membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya, Kak." Jillian tersenyum kikuk.


Justin lekas memberikan kartu debitnya untuk membayar. Setelah itu, Justin mengajaknya sebentar untuk berbelanja.


"Kamu mau membeli sesuatu? Mungkin semacam makanan ringan atau soft drink?"


Entah kebetulan atau tidak, seakan Justin bisa membaca jalan pikirannya. Dia memang memerlukan beberapa makanan ringan sebagai teman disaat berada di kamarnya.


"Kakak ini kenapa bisa membaca pikiranku, sih?" canda Jillian.


"Hanya kebetulan, Jill. Ayo, hampir larut. Nanti kakakmu marah padaku."


Tak butuh waktu lama, Jillian sudah mengisi trolinya dengan beberapa makanan ringan, buah, dan soft drink. Setelah selesai, seperti sebelumnya Justin yang membayarnya.


"Kak, kali ini biar Jill yang bayar. Cincin ini lebih dari cukup," ucapnya.


"Baiklah kalau kamu menolaknya," balas Justin dengan senyuman merekah di bibirnya.


Satu kata yang terlintas dalam pikiran Jill kala itu adalah manis. Senyum Justin sangat manis rupanya. Selesai berbelanja, Justin meminta Jillian untuk menunggunya di pintu keluar. Justin mengambil mobilnya.


Sebenarnya Jillian ingin mengatakan bahwa dirinya berusaha melupakan Frey, tetapi diurungkannya. Dia tidak ingin membuat suasana malam ini menjadi kacau karena satu nama itu. Lagi pula, Jillian sudah berniat untuk menerima siapapun lelaki yang mencintainya. Waktu yang diberikan daddynya tak lebih dari tiga bulan.


"Kak, terima kasih untuk malam ini," ucap Jillian di sela-sela keheningan mereka.


"Sama-sama. Semoga kamu bisa tidur malam ini."


Aku tidak yakin, Kak. Cincin di jariku ini mungkin yang akan menghambat rasa kantuknya.


"Ah iya, aku baru saja minum kopi. Semoga saja aku bisa tidur."


Jillian merasa banyak perubahan pada diri Justin di awal pertemuannya dulu dengan sekarang. Sekarang lelaki itu terlihat lebih dewasa dan sepertinya bisa menjadi partner yang pas untuk kehidupannya di masa mendatang.


Jill, sabar! Pikiranmu jangan sejauh itu. Masih ada waktu beberapa bulan lagi sampai kamu memutuskannya.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


Jillian sampai di rumah Darsh dengan selamat dan tak kurang suatu apapun. Namun, bukan Darsh namanya jika tidak menunggunya di halaman rumah. Setelah mobil Justin masuk dan gadis itu turun, Darsh mendekati mobil asistennya.


"Kak, terima kasih," ucap Jillian kemudian melenggang masuk ke rumah.


Darsh menggantikan posisi duduk Jillian barusan. Ada sedikit hal yang ingin dibicarakan dengan Justin.


"Justin, kamu tidak membuat adikku itu kecewa, kan? Kalau sampai kamu melakukannya, jabatan dan kariermu dipertaruhkan di sini," ancam Darsh.


"Jangan khawatir, Darsh! Aku berusaha membuatnya nyaman. Aku juga akan menjaganya jika kamu percaya padaku, namun aku masih kepikiran beberapa hal. Bagaimana mungkin Frey melupakan kita semua? Dan, apa yang akan kukatakan pada Max jika tak sengaja kami bertemu?"


"Entahlah, mungkin Frey ingin fokus pada pendidikannya. Tapi aku heran, harusnya dia kalau ingin menempuh S2-nya cukup menambah dua tahun saja, tetapi kenapa dia pamit sampai lima tahun?"


"Aku juga tidak tahu, Darsh. Mungkin dia ingin membuka bisnis atau apa. Dia akan kembali setelah berhasil. Soal Max, bagaimana?"


"Jangan katakan. Bersikaplah biasa saja karena Jillian tidak menyukai Max. Max saja yang terobsesi pada adikku itu."


"Hemm, baiklah."


"Terima kasih, Justin."


"Sama-sama. Kalau begitu, aku pamit dulu, Darsh. Besok pagi kita akan bertemu di kantor. Aku akan datang tepat seperti biasa. Selalu on time."


"Hemm, pergilah!"


Selepas Justin pulang, Darsh masuk ke kamarnya. Dia sudah tidak melihat Jillian lagi di luar kamar. Mungkin saja gadis itu sudah tidur lebih cepat. Padahal, di dalam kamar, Jillian terus saja menatap cincin yang berada di jari manis tangan kirinya. Rasanya seperti mimpi.


Jillian berada di kamar setelah meletakkan beberapa barang belanjaannya di dapur. Walaupun dia belum hapal, beberapa barang penting yang seharusnya masuk lemari pendingin sudah diletakkan di sana. Hanya tersisa makanan ringan dan beberapa soft drink yang sengaja dibawanya ke kamar.


"Aku masih tidak percaya. Cincin ini nyata. Bagaimana aku mengungkapkannya, ya? Rasanya seperti baru patah hati kemarin dan seorang pangeran berkuda datang untuk menghapus rasa sakitnya. Duh, Kak Justin membuatku tidak bisa tidur. Ini bukan efek Cappuccino tadi, melainkan karena ulahnya!"


Jillian seperti satu-satunya wanita yang berhak bahagia. Dia mengingat detik demi detik perlakuan manis Justin kepadanya. Harapan Jillian kali ini, semoga dia dan Justin bisa saling menguatkan untuk tetap bersatu sampai waktu yang telah ditentukan. Setelah itu, keputusan ada pada tangan Jillian. Melanjutkan atau berhenti di tengah jalan.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sambil menunggu Emak update, yuk kepoin karya milik Author Santi Suki



__ADS_2