
Selepas kedatangan jenazah grandmanya, Felix meminta Darsh untuk beristirahat. Dini hari, dia harus menjemput orang tuanya dan sahabatnya ke Bandara. Itulah sebabnya Felix tidak tega
Hanya beberapa jam lagi, Darsh harus menjemput mereka. Berada di kamar berdua dengan orang baru dalam hidupnya membuat Darsh dan Glenda merasa kikuk. Keduanya tidak tahu harus memulai dari mana?
Sama-sama berdiri dan tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Ranjang king size harusnya bukan menjadi masalah untuk mereka, tetapi tidak untuk Darsh. Lelaki itu jelas sangat sulit untuk berbagi ranjang dengan istrinya.
"Tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa," ucap Darsh akhirnya.
"Darsh, ranjang itu luas. Kalau pun kita berbagi, tak ada salahnya. Hubungan kita sekarang sudah menjadi suami istri dan bukan orang lain lagi. Apa kamu ingin di hari pertama pernikahan kita tidur di ranjang terpisah? Apa kamu lupa dengan grandma?" ucap Glenda.
Darsh tak mengindahkan istrinya. Dia mengambil bantal dan memindahkannya ke sofa. Glenda tidak bisa melarangnya. Hanya ada satu selimut di sana. Darsh langsung tertidur tanpa selimut. Dia terlihat sangat lelah. Glenda mengalah, dia mengambil selimutnya di ranjang dan menyelimuti suaminya.
Terlihat damai sekali memandang wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya. Glenda tak melewatkan kesempatan yang berharga itu. Setelah puas memandangi suaminya, dia pergi ke kamar mandi. Sebelum tidur, Glenda mencuci muka dan menggosok gigi. Dia tidak menyadari kalau Darsh sebenarnya hanya berpura-pura tidur. Dia menghindari perdebatan yang tak berujung. Selesai berkutat di kamar mandi, Glenda lekas keluar menuju ranjang. Dia juga merasa lelah sehingga meletakkan tubuhnya saja sudah terlelap seperti itu.
Darsh membuka matanya. Dia memindahkan selimut ke ranjang untuk menyelimuti istrinya yang tidurnya meringkuk karena kedinginan. AC kamar itu dibiarkan menyala karena Glenda tak berhasil menemukan remotnya untuk mengurangi suhu ruangan biar tidak terlalu dingin.
"Tidurlah, Sayang," bisik Darsh pada Glenda. Gadis itu sudah tertidur pulas. Mungkin saja tidak menyadari kehadiran suaminya.
Darsh keluar kamar. Dia bermaksud untuk meminta kopi pada pelayan. Tidur dalam waktu secepat ini sangat membuatnya tidak nyaman.
"Darsh, tidak tidur?" tanya Felix yang bertemu dengannya di dapur.
"Belum mengantuk, Om. Aku butuh kopi," ucapnya.
"Glenda sudah tidur?"
"Hemm, baru saja. Dia mungkin kelelahan." Darsh mencari keberadaan kopi dan gulanya karena tidak menemukan satu pelayan pun di sana.
"Panggil pelayan saja! Mintalah kopi pada mereka," pesan Felix kemudian meninggalkannya seorang diri.
Darsh tidak ingin membangunkan pelayan yang baru saja masuk ke kamar masing-masing. Sebenarnya ini baru saja jam delapan malam, tetapi karena makan malam bersama ditiadakan, rasanya waktu berjalan lebih cepat.
__ADS_1
Secangkir kopi selesai dibuatnya. Darsh sengaja berlama-lama di meja makan agar istrinya itu tidak merasa terganggu dengan keberadaannya.
Grandma menyukaimu, Glenda. Rasanya aku harus menjagamu seumur hidupku. Grandma pasti akan kecewa kalau aku sampai tidak memperlakukanmu dengan baik.
Darsh menyeruput kopinya. Malam ini, dia harus tetap terjaga. Tugasnya menjemput orang tua dan sahabatnya ke Bandara. Dia melupakan sesuatu mengenai kunci mobil. Belum sempat menghabiskan secangkir kopinya, Darsh beranjak dari tempat duduknya.
Tok tok tok.
Darsh mengetuk pintu kamar Om-nya. Dia tidak mungkin membangunkan Jillian untuk menanyakan kunci mobil.
Ceklek!
"Darsh, ada apa?" tanya Kayana yang kebetulan membuka pintunya.
"Ehm, nanti Darsh yang akan menjemput mama papa. Aku bisa pakai mobil yang mana, Tante?"
"Tunggu! Kamu pake mobil Om saja. Mobilnya jauh lebih besar dan cukup untuk membawa lebih dari 6 penumpang. Tante ambilkan kuncinya." Kayana kembali lagi ke dalam untuk mengambil kuncinya.
Tak lama, Darsh menerima kuncinya yang sudah lengkap dengan surat-surat kendaraannya.
"Kamu berangkat sendiri?" selidik Kayana.
"Kemungkinan, Tante. Tidak mungkin aku membangunkan Om dan mengajaknya. Om pasti sudah sangat lelah malam ini."
"Kalau kamu butuh teman, bisa bangunkan Jillian. Dia bisa bergantian mengemudikan kendaraan denganmu," saran Kayana.
"Terima kasih, Tante."
Darsh kembali ke meja makan. Dia menghabiskan secangkir kopinya yang sudah mulai dingin. Setelah ini, dia kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Darsh melihat Glenda terjaga dari tidurnya.
"Darsh, kamu dari mana? Aku mencarimu," ucap Glenda.
__ADS_1
"Dari dapur. Kenapa?" Sikap dinginnya mulai nampak lagi di mata istrinya.
"Aku pikir kamu sudah ke Bandara menjemput Mama dan Papa."
"Belum. Sebentar lagi."
Apa aku ikut saja, ya? Lagi pula di kamar seluas ini tanpa Darsh rasanya tidak nyaman.
"Boleh aku ikut ke Bandara?"
Darsh menatap tajam manik mata istrinya. Dia sebenarnya ingin mengajak Jillian untuk bergantian mengemudi. Menolak istrinya juga sulit untuk dilakukan.
"Sebaiknya kamu tidur saja. Aku tidak ingin membuatmu terlalu lelah. Besok pagi pemakaman grandma."
Jelas saja Darsh menolak. Dalam penerbangan saja, dia banyak menghindari pembicaraan dengan Glenda. Sekarang sudah dalam kamar yang sama. Mungkin kalau semobil lagi dan hanya berdua, Darsh sulit sekali untuk bersikap padanya. Tahu sendirilah, Darsh bukan tipe pria romantis. Dia menunjukkan perasaannya hanya dengan perbuatan.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan." Glenda merasa kecewa karena tidak bisa pergi berdua dengan Darsh. Mau bagaimana lagi, lelaki itu sudah menolaknya.
Darsh mengambil jaket dari dalam koper dan ponselnya yang sedari tadi di charge di atas nakas. Dia langsung keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tujuannya untuk ke kamar Jillian dan membangunkan gadis itu.
Tok tok tok.
Beberapa kali Darsh mengetuk pintu kamar adik sepupunya. Belum ada respon sama sekali. Darsh hampir menyerah. Dia bermaksud kembali ke kamarnya untuk mengajak Glenda, tetapi Jillian keburu membuka pintunya.
"Ada apa, Kak Darsh? Aku masih mengantuk," ucap Jillian. Memang dia baru saja tertidur dan terbangun ketika mendengar pintu kamarnya diketuk berulang kali.
"Mau ikut ke Bandara menjemput Kak Frey?" Pertanyaan ini bisa saja membuat Jillian tidak mengantuk lagi. Darsh sengaja memang.
"Kak Darsh serius? Kak Frey datang malam ini?" Jillian terlihat lebih bersemangat lagi. Dia memang merindukan lelaki itu. Mengirim pesan padanya sudah ditiadakan untuk mengetes bagaimana perasaannya pada lelaki itu. Sebenarnya Jillian belum mengerjakan tugas akhir sama sekali. Itu hanya alasannya saja untuk membuat Frey kelimpungan kalau memang lelaki itu menyukainya.
"Tentu saja. Mau ikut ke Bandara?" tanya Darsh sekali lagi.
__ADS_1
"Kakak tunggu di depan. Aku segera bersiap," pamitnya.
Darsh tersenyum melihat tingkah konyol adiknya itu. Bagaimana mungkin seorang Jillian bisa langsung merelakan perginya kantuk hanya dengan mendengar sebuah nama? Rasa ketertarikan Jillian pada lelaki itu terlihat sangat besar sekali. Namun, masa depan tidaklah tahu apakah Jillian berjodoh dengannya atau tidak.