
"Wah, terima kasih, Darsh. Jadi, kapan aku bisa bekerja? Bukankah beberapa hari ini Frey masih bekerja di tempatmu?" balas Justin.
"Tidak, Justin. Aku sudah memutuskannya. Kalau Darsh menghendaki kamu bekerja mulai besok, maka persiapkan dirimu dengan baik. Jangan khawatir, kamu dan Darsh akan menjadi pasangan tersolid sebagai anak buah dan atasan," jelas Frey.
"Besok datanglah ke kantor! Aku menunggumu," ucap Darsh.
"Sayang, setelah ini kita mampir ke rumah mertuaku dulu, ya. Ada yang ingin kami bicarakan," ucap Glenda mengingatkan.
"Hemm, iya," jawab Darsh.
Setelah makan siang, Darsh dan Glenda pamit lebih dulu. Sementara keempat sahabatnya masih berada di restoran. Mereka ada urusan penting yang harus dibicarakan.
"Kamu tidak ada masalah denganku, kan?" tanya Max.
"Tidak ada, Max. Orang tuaku yang memintanya. Aku juga belum boleh menikah."
"Owen, sebenarnya kamu akan membuka usaha apa? Kenapa kamu tidak ingin menjadi asisten Darsh?" ucap Justin. Setelah Frey, orang yang paling dekat dengan Darsh harusnya Owen.
"Aku akan membuka usaha kecil-kecilan, Justin. Dari dulu, aku menginginkan memiliki usaha sendiri."
"Wah, kalian keren. Max punya showroom, Frey sekolah lagi, kamu membuka usaha mandiri, dan aku ikut Darsh menjadi asistennya. Ehm, Frey kapan kamu akan kembali?" ucap Justin.
"Aku belum tahu, Justin. Beberapa hari lagi, aku akan berangkat. Mungkin butuh lima tahun baru aku kembali," ucapnya.
Waktu selama itu tanpa Frey rasanya cukup aneh. Tak mengapa, mungkin ini awal saja. Setelah Frey pergi, mereka akan terbiasa.
...🍓🍓🍓...
Sampai di rumah orang tuanya, Darsh masuk ke kamarnya lebih dulu. Namun, istrinya mencegahnya.
"Kita ke sini bukan untuk masuk ke kamar. Ada urusan dengan Mama yang harus diselesaikan," ucap Glenda.
"Urusan apalagi?"
"Aku tidak ingin mengadakan resepsi pernikahan lagi. Aku lelah, Darsh."
"Kenapa?"
"Untuk apa diadakan kalau kenyataannya kamu tidak bisa lebih perhatian padaku?"
Mendengar keributan, Olivia mencari sumber suara. Dia menemukan putra dan menantunya sedang berdebat. Olivia sangat heran, bisa-bisanya mereka bertengkar di luar kamar.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya Olivia.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Kami hanya membahas masalah resepsi saja," jelas Glenda.
"Bagaimana, Sayang? Apakah resepsinya akan segera diselenggarakan?"
"Tidak, Ma. Aku tidak mau lagi. Rasanya lelah harus menyiapkan pesta pernikahan lagi. Kalau Mama mau, kami akan mengadakan makan malam keluarga saja di restoran daddy."
"Bagaimana, Darsh?" tanya Olivia.
"Tidak usah diadakan apapun, Papa lelah," sahut Dizon yang baru saja keluar dari kamarnya. "Kalau kalian mau, makan di rumah ini saja."
"Papa!" protes Olivia.
Dizon malas sekali kalau harus makan apalagi di restoran besannya. Di rumah saja sudah senyaman ini. Kalau di restoran, semuanya akan terasa berbeda.
"Kita ambil vote saja, Ma. Siapa yang setuju makan di luar, angkat tangan," usul Darsh.
Rupanya hanya mamanya saja yang setuju untuk makan malam di luar. Papanya maupun istrinya tidak mengangkat tangan, termasuk dirinya.
"Loh, kenapa Mama saja yang setuju? Glenda?"
Olivia rasa kalau menantunya itu masih malas bersama putranya. Mungkin saja Darsh melakukan hal yang membuat gadis itu kesal. Olivia sebenarnya tidak ingin ikut campur, makanya dia membiarkan mereka seperti itu. Supaya mereka terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Hemm, sebaiknya kalian pergi bulan madu," usul Dizon.
"Kami tidak akan ke mana-mana, Pa. Kami akan berada di apartemen sampai batas waktu yang tidak ditentukan," jawab Glenda.
Darsh tentu saja terkejut. Sang istri memutuskan sesuatu hal yang tidak sejalan dengan keinginannya.
"Mana bisa begitu, Glenda? Kita akan pergi berbulan madu dua minggu lagi. Suka atau tidak, kita akan tetap berangkat," ucap Darsh.
"Darsh, selesaikan masalahmu di kamar. Jangan buat keributan di sini!" tegur Olivia.
"Kami pulang saja, Ma," ucap Darsh. Tidak mungkin dia akan ribut di rumah orang tuanya. Darsh menarik tangan istrinya untuk masuk ke mobil. Kali ini dia sengaja membukakan pintu untuk istrinya. "Masuk!"
Glenda tidak tahu harus berbuat apa. Masalahnya, dia terlanjur cemburu pada Darsh ketika berada di restoran. Orang lain saja bisa bergelayut manja padanya, sementara istrinya sendiri harus berusaha memintanya. Itupun Darsh tidak langsung mewujudkannya. Percuma juga kalau berjuang hanga selrang diri.
"Kamu kenapa seperti itu?" tanya Darsh.
"Aku kesal padamu, Darsh. Kamu tahu kan kalau aku ini istrimu? Tolong, bersikaplah manis atau sedikit romantis padaku. Kamu saja tidak pernah memberikan pelukan romantis. Sementara orang lain, dengan enaknya bergelayut manja seperti itu."
__ADS_1
"Sudah kubilang, aku tidak menyukai gadis itu. Harusnya kamu lebih peka bahwa aku memilihmu."
Darsh tetap tenang. Dia tidak boleh emosi. Bisa saja malah membuat istrinya itu ketakutan. Dia harus lebih bisa mengontrol dirinya. Setelah menikah, Glenda malah bertingkah diluar dugaan Darsh. Gadis itu sepertinya sedang mencari perhatiannya.
...🍓🍓🍓...
Sampai di unit apartemen, Glenda lekas masuk ke kamarnya. Dia tidak ingin lagi berbicara dengan suaminya. Sudah cukup kesal karena hari ini ada gadis lain yang berani memeluk suaminya. Glenda sengaja mengunci pintunya agar Darsh tidak masuk.
"Glenda, buka pintunya! Jangan seperti anak kecil. Kamu buka atau aku yang akan dobrak!"
Darsh tidak suka sikap Glenda yang tiba-tiba berubah seperti itu. Wajar kalau cemburu, tapi ngambek yang seperti itu sangat tidak disarankan.
Ceklek!
Darsh masuk ke kamar tanpa mempedulikan kalau istrinya sedang ngambek. Namun, dia selalu bisa mematahkan ucapan istrinya.
"Kamu cemburu padanya?"
"Hemm."
"Kenapa? Aku juga tidak suka padanya."
"Tingkahnya yang keterlaluan, Darsh. Aku tidak menyukainya."
"Tidak seperti itu juga cara menyampaikan rasa cemburu, Glenda. Kamu bisa bicarakan padaku baik-baik."
"Kamu nanggepinnya selalu begitu, Darsh. Mana mungkin aku mengatakannya padamu. Yang ada, aku semakin kesal."
Darsh segera duduk di ranjang. Dia meminta Glenda untuk mendekatinya. Mereka akan berbicara dengan baik mengenai hubungan masa depannya.
"Aku akan belajar memperhatikanmu. Maafkan aku, mungkin lebih baik kamu selalu mengingatkan aku."
"Mengingatkan seperti apa, Darsh?"
Darsh memegang tangan istrinya. Dia berharap semua kesalahpahaman segera berakhir. Hanya ini cara satu-satunya agar istrinya mau mengerti dirinya.
"Aku bukan manusia sempurna, Glenda. Aku juga punya salah dan khilaf. Aku mohon kamu mau menjadi pembimbingku yang baik. Mau menerima segala kekuranganku."
"Aku bisa saja, Darsh. Namun, kalau kamu tidak mau mendengarkanku, aku bisa apa? Lelah kalau kita ngomong berbusa, tetapi tidak mendapatkan respon dengan cepat."
"Maafkan aku, Glenda. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu." Darsh mulai memberikan sesuatu yang tidak diduga oleh Glenda. Gadis itu pun tidak bisa menolaknya. Keduanya sama-sama menginginkannya. Setelah ini, tidak akan ada keributan lagi di antara mereka. Kecuali Darsh mulai melupakan niat awalnya.
__ADS_1