
Darsh baru saja sampai di ruang kerjanya. Tak berselang lama, Frey juga datang. Pagi ini mereka datang tidak bersamaan.
"Darsh, kamu datang lebih awal."
"Tidak, Frey. Aku baru saja sampai. Oh ya, apa kita bisa bertemu dengan Max, Justin, dan Owen?" Darsh ingin mengatakan sesuatu yang penting pada mereka.
"Kapan?"
"Siang ini, sekalian makan siang," balas Darsh.
"Tumben, mendadak sekali. Memangnya tidak bisa menunggu untuk malam ini?"
"Aku tidak bisa keluar malam lagi, Frey," ucapnya sembari menyandarkan badan di kursi kebesarannya.
Frey sedikit aneh melihat tanggapan sahabatnya ini. Biasanya kapan pun, dia tidak pernah menolak. Tumben untuk kali ini Darsh tidak mau keluar malam lagi.
"Kamu kenapa, Darsh? Apa kamu tidak nyaman keluar bersama kami?" selidik Frey.
"Tidak, Frey. Ada hati yang harus kujaga. Aku tidak mau mengecewakannya." Tentu saja Darsh harus mulai mengurangi aktivitas yang tidak penting itu. Alasan pertama, Darsh tidak ingin bertemu lagi dengan 3 gadis aneh itu. Setidaknya itu yang dihindarinya. Kedua, jelas mamanya akan marah padanya. Mendekati hari pernikahan, Darsh harus selalu berada di rumah.
"Wah, kejutan apalagi ini, Darsh?"
Darsh mengangkat tangan kirinya. Tidak biasanya lelaki itu memakai perhiasan, tetapi untuk kali ini dia memakai cincin pertunangannya dengan Glenda.
"Selamat, Darsh. Aku pikir itu cuman candaanmu saja. Kira-kira, sahabatmu yang lain akan marah atau tidak ya?" Frey hanya mengira saja. Apalagi Max yang sudah berumur jelas sudah kalah telak begitu saja.
"Jangan marah padaku. Aku juga belum menginginkannya, tetapi aku harus bertanggung jawab atas apa yang menjadi permintaan grandma. Gadis ini anak kenalan mama dan papa, jadi aku tidak berani bertindak macam-macam."
"Wah, apakah kamu dijodohkan?" selidik Frey.
"Sudahlah Frey, jangan interogasi aku terus. Lebih baik kita bekerja dulu dan jangan lupa kirimkan pesan di grup chat. Aku akan traktir kalian."
Bukan maksud Darsh untuk menyuruh Frey, tetapi sebagai asistennya, tentu saja Frey akan menerima semua tugas pemberian Darsh.
"Mau bertemu di restoran ZA atau di mana?"
Deg!
__ADS_1
Restoran milik calon mertuanya. Tak mungkin Darsh membawa mereka ke sana lagi. Mungkin sampai Darsh resmi menikah.
"Restoran dekat kantor kita saja," jawab Darsh.
Lelaki itu langsung mengecek email masuk dari beberapa klien. Setelah membacanya, Darsh mengambil beberapa berkas penting di rak. Papanya sudah memberitahukan semua berkas itu sesuai dengan letaknya.
"Darsh, apa kamu yakin akan menikah? Maksudku, ini terdengar sangat cepat menurutku. Apa kamu yakin kalau setelah menikah bisa bebas seperti sebelumnya? Bahkan, pasca pertunangan saja kamu akan membatasi aktivitasmu di luar sana. Bagaimana kalau kamu setelah menikah? Jangan-jangan istrimu akan mengurungmu di dalam kamar seharian. Dan, kalian--"
"Lupakan pikiran burukmu itu. Mana mungkin aku tidak bisa bebas. Aku bisa mengajaknya ke mana pun aku pergi. Itu bukan masalah untukmu, kan?"
Darsh benar. Hubungan suami istri terlihat lebih rumit dari bayangannya. Frey tak lupa mengirim pesan di grup chat kelima sahabatnya.
[Siang ini datanglah ke restoran dekat kantor DD Corporation. Aku tunggu di sana!]
Setelah pesan terkirim, tak ada balasan lagi dari mereka. Mungkin ketiga sahabatnya sedang sibuk.
"Darsh, tidak ada balasan."
"Biarkan saja. Kalau mereka sempat, pasti datang. Kamu jangan khawatir."
...🍒🍒🍒...
Ternyata ketiga sahabatnya sudah berada di sana lebih awal. Tidak sesuai dengan dugaan Frey sebelumnya, tetapi Darsh yakin kalau mereka pasti datang.
"Halo, Mr. Bos, apa kabar?" sapa Max.
"Halo, Max. Aku baik. Bagaimana kabarmu? Apa harimu luar biasa?" balas Darsh.
"Tentu saja. Max memiliki janji temu dengan Helga lagi. Mungkin dia sedang butuh pelepasan," sindir Owen.
"Kalau kamu mau, buatlah janji temu dengannya. Helga patah hati karena penolakan Darsh. Dia membutuhkanku," balas Max ogah-ogahan.
"Sudah, kalian jangan ribut! Sudah pesan makanan?" ucap Frey.
"Wah, Tuan Asisten, kami siap memesan makanan," timpal Justin.
"Segeralah pesan. Aku cuman punya waktu satu jam lebih sedikit," balas Darsh.
__ADS_1
Frey segera memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan untuk sahabatnya dan dirinya sendiri. Selesai urusan itu, Frey membuka lagi obrolan sahabatnya.
"Bosku mau menyampaikan sesuatu pada kalian," ucap Frey.
Max, Owen, dan Justin mulai tertuju pada Darsh. Mereka menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Antara penasaran, sok tahu, dan perhatian. Mereka menunggu cukup lama untuk mendengarkan penuturan Darsh.
"Lama sekali, Darsh. Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Justin.
"Satu bulan lagi aku akan menikah dan--"
"Wah, ini berita mengejutkan sekali, Darsh," potong Max. "Aku pikir ucapanmu di Cafe hanya candaan belaka. Rupanya ini benar-benar serius."
"Tunggu, Max! Aku belum selesai," balas Darsh.
"Max, jangan main potong ucapan Darsh. Tunggu sampai benar-benar selesai. Tidak hanya kamu saja yang terkejut, aku pun sama terkejutnya denganmu," sahut Owen.
"Owen, sssttttt!" ucap Justin. Dia meminta Owen untuk diam dulu dengan meletakkan jari telunjuk tepat di depan mulutnya sendiri.
"Pernikahanku akan dilangsungkan di negara asal papaku," ucapnya.
Itu artinya aku bisa bertemu Jillian lagi. Rasanya rindu dengan gadis itu. Batin Frey.
"Kita pasti datang. Apa kamu ingin agar kami semua menjadi groomsmen di pernikahanmu?" tanya Max.
"Aku belum tahu itu, Max. Aku harus menanyakan pada calon istriku dulu," balas Darsh.
"Wah, Darsh. Aku penasaran, ini serius dan bukan mimpi, kan?" tanya Justin.
Tanpa banyak bicara, Darsh meletakkan tangan kirinya di meja. Dia berharap teman-temannya menyadari bahwa ini bukan hoax ataupun prank yang dibuat-buat olehnya.
"Woah, ini keren! Cincinnya benar-benar melingkar!" seru Max. Dia selalu menjadi orang yang paling heboh dari semua sahabatnya.
Justin dan Owen mengamati jari tangan sahabatnya. Benar saja, cincin polos dengan model yang terlihat elegan, tetapi terlihat pas di jari sahabatnya itu membuat semuanya terheran kecuali Frey.
"Wah, congratulation, Darsh! Akhirnya ada yang mendahului Max," ucap Justin.
"Apa maksudmu, Justin? Kamu sengaja menyindirku? Kenapa tidak langsung saja katakan, Max ingat umur, kamu sudah tua dan seharusnya sudah menikah. Itu akan lebih mendetail menurutku," jelas Max.
__ADS_1
Sahabat yang lainnya menertawakan keributan dua orang itu. Sebelum semuanya berlanjut lebih jauh, pelayan restoran datang disaat yang tepat. Makanan dan minuman di sajikan di meja. Tanpa banyak bicara, mereka langsung memakannya. Darsh sudah sangat lapar. Begitu juga dengan Frey dan ketiga sahabatnya yang lain. Semua makan dalam diam.