Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Perayaan Kelahiran (1)


__ADS_3

Seusai mengatakan cinta, baby sitter memanggil kalau kedua bayinya sudah siap. Bergegas sepasang suami istri yang sudah rapi itu keluar menuju ke mobil diikuti kedua baby sitter dan bayinya. Darsh yang mengemudikan sendiri mobilnya. Kedua baby sitter itu duduk di kursi penumpang, sedangkan istrinya duduk di sampingnya.


"Semuanya siap?" tanya Darsh.


"Sudah, Tuan. Perlengkapan semua bayinya sudah masuk semua," jawab salah satu baby sitter yang bernama Alicia.


Darsh lekas melajukan mobilnya menuju ke restoran ZA. Di sana semua restoran hanya menerima tamu undangan untuk menghadiri perayaan kedua bayi mungil saja. Restoran ZA hanya ditutup maksimal tiga jam untuk umum. Mereka juga tidak mau mengecewakan pelanggan yang ingin mampir.


Vigor Abraham memberikan diskon sebanyak 20 persen karena kelahiran kedua cucunya. Walaupun pemberian diskon tidak banyak, namun Vigor menyiapkan satu menu spesial yang akan diberikan kepada pengunjung restoran di hari itu. Jadi, tidak hanya mendapatkan diskon, melainkan satu tambahan menu spesial gratis.


"Naomi, apakah baby Willy rewel hari ini?" tanya Glenda.


"Tidak, Nyonya. Sangat tenang sekali. Mungkin senang karena kelahirannya akan diperkenalkan pada semua orang," jawab Naomi, baby sitter yang merawat Willy.


"Baguslah kalau begitu. Kalian cerdas sekali anak-anak Mommy," ucap Glenda.


"Hemm, mereka juga anak-anak Daddy. Jadi, semuanya pasti akan bersikap baik. Benar begitu kan, Alicia?" ucap Darsh. Kini gilirannya menanyai baby sitter yang merawat Welenora.


"Iya, Tuan. Bayi-bayi ini sangat menggemaskan dan cerdas sekali. Mereka jarang sekali membuat kami kesulitan," ucapnya menjelaskan.


Tak lama, mobil Darsh mulai memasuki halaman parkir restoran ZA. Semua orang sudah menunggu, termasuk grandma dan grandpa kedua bayi itu.


Olivia dan Zelene menyambut kedatangan kedua cucunya. Olivia mengambil Willy, sementara Zelene mengambil baby Welenora.


"Baby Ele cantik sekali," puji Zelene ketika sudah menggendongnya.


"Tentu saja, Grandma. Aku kan keturunan Grandma juga," canda Glenda dengan suaranya seperti anak kecil.


"Ayo masuk. Beberapa tamunya sudah datang," ajak Olivia.


"Sahabat Darsh sudah ada yang datang, Ma?" tanya Darsh pada mamanya.


"Belum, Nak. Mungkin sebentar lagi. Hanya Max dan Owen, kan?" Olivia tahunya kalau sahabatnya hanya tersisa itu saja. Olivia tidak tahu kalau Darsh juga mengundang Justin dan Frey.

__ADS_1


Darsh dan Glenda menghambur ke seluruh tamu yang mereka kenal. Karena undangannya tidak hanya rekan kerja Darsh, tetapi juga beberapa kerabat dan klien orang tuanya.


Suasana semakin riuh manakala Max datang dengan Helga. Hal itu membuat Darsh tidak habis pikir pada sahabatnya itu. Max bahkan sudah menghempaskan Willow begitu saja. Keterlaluan memang, untung saja Owen yang sudah baik hati mau menampung gadis itu.


"Wah, Max! Ini kejutan!" seru Darsh.


Glenda yang mengetahui kedatangan Max dengan ulet bulu itu lekas mendekati suaminya dan menggandeng mesra tangannya. Jika orang lain yang melihat sepasang tingkat orang tua baru itu pasti akan sangat cemburu.


"Aku tidak terlambat, kan?" ucap Max.


"Tidak, Max. Acara belum dimulai," jawab Darsh lagi.


"Hai, selamat ya!" Helga mengulurkan tangannya pada Glenda.


Glenda seakan meminta persetujuan suaminya untuk menerima jabatan tangan itu. Darsh menganggukkan kepalanya sehingga Glenda baru membalas jabatan tangan Helga.


"Terima kasih. Kapan kalian menyusul?" Glenda paham betul kisah sepasang lelaki dan perempuan di hadapannya ini.


Helga melepas jabatan tangannya. Sekarang seolah dia meminta persetujuan pasangannya. Max yang paham maksud istri sahabatnya itu lekas maju sedikit untuk menjawabnya. Dia sengaja melakukan itu takut didengar oleh banyak orang.


"Baguslah kalau begitu!" sahut Darsh.


Max cuma bisa tersenyum mendapati sahabatnya bersikap seperti itu. Sangat wajar sekali memang kalau Darsh agak sensitif padanya. Itu karena Max sahabatnya paling brengsek daripada yang lainnya.


"Sayang, aku temui klien dulu, ya," pamit Darsh pada istrinya. "Ayo, Max. Ikutlah denganku. Jangan bucin seperti itu!"


Kini hanya Helga dan Glenda tinggal berdua saja. Helga dulu adalah fans beratnya Darsh. Termasuk Aimee dan Clianta. Sayangnya Helga lebih beruntung karena Max selalu memakai jasanya dan membuatnya seperti sekarang ini. Semua kebutuhannya tercukupi dan tidak kekurangan suatu apapun asalkan Helga bisa melayani Max semau lelaki itu.


"Kamu beruntung, ya," ucap Helga pada Glenda.


"Maksudmu?"


"Kamu menikah, memiliki suami yang tampan, pekerja keras, dan sekarang kalian telah memiliki anak. Jujur, aku iri padamu! Kehidupanmu sempurna, Glenda," ucap Helga.

__ADS_1


"Setiap orang memandangku seperti itu, Helga. Namun, aku melihat kehidupanmu sepertinya nyaman. Bebas ke sana ke mari tanpa beban. Bukan begitu?" balas Glenda.


"Itu hanya pandanganmu saja, Glenda. Maafkan aku jika pernah membuat suamimu tidak nyaman karena ulahku."


"Tidak masalah. Itu hanya masa lalu. Lagi pula sekarang kalian juga sudah mempunyai kehidupan masing-masing, bukan?"


Glenda tak perlu khawatir lagi. Setelah memiliki anak, Darsh lebih banyak di rumah. Sesekali suaminya itu pergi ke Kafenya Owen. Makanya Glenda sudah tidak terlalu khawatir lagi.


"Hemm, akupun tidak tahu kelanjutan hubunganku dengan Max. Apakah hanya sebatas balas jasa atau seperti apa aku juga tidak tahu," jelas Helga.


"Ehm, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur urusan kalian. Namun, ada satu hal yang mengganjal dipikiranku. Apakah kamu menyukai Max dari pandangan yang lainnya? Maksudnya, apakah kamu tidak tertarik dengan Max secara emosional?"


Deg!


Pertanyaan Glenda membuat Helga merasakan sesuatu yang lain. Jika dulu dirinya sibuk mengejar Darsh, maka semenjak lelaki itu menikah, Helga sudah menyadari bahwa dirinya sangat tidak pantas untuk Darsh. Apalagi Darsh berasal dari keluarga terpandang. Jelas saja Helga hanya seujung kuku dibanding dengan lelaki itu.


"A-aku tidak tahu, Glenda. Kehidupan kami sebatas balas jasa dan tidak lebih dari itu!"


Glenda menepuk pundak gadis itu untuk memberikan semangat padanya. Sebelum dia meninggalkan Helga karena suaminya memanggil untuk menemui tamunya.


"Semangat! Kalau memang cinta, perjuangkan! Hidup tak akan terus berjalan seperti ini, Helga. Masih ada waktu untuk berubah. Percayalah! Maaf, aku tinggal menemui tamu dulu, ya," pamit Glenda.


"Terima kasih, Glenda." Hanya itu yang mampu diucapkan Helga. Penuturan wanita itu jelas benar adanya. Kalau dia terus seperti ini tanpa kejelasan, akan sampai kapan? Hidup juga butuh sandaran dan bukan harapan semata.


Max kembali menemani Helga. Lelaki itu sadar betul telah membawa gadis itu dalam lingkaran kehidupannya. Entah dengan status apa yang diberikan, Max juga tidak tahu. Melihat kehidupan Darsh sangat sempurna, Max membayangkan dirinya berada di posisi lelaki itu.


Andai saja aku bisa seperti Darsh. Menikah dan memiliki keluarga lengkap. Rasanya mungkin sangat berbeda daripada harus hidup tidak jelas seperti ini.


"Max, apa yang kamu pikirkan?" tanya Helga. Terlihat jelas raut wajah Max sangat berbeda.


Acara ini mengubah pandangan seorang Helga terhadap kehidupan. Di kelilingi orang baik seperti Glenda dan Darsh rasanya membuat Helga ingin menentukan kehidupan selanjutnya. Akan terus seperti ini atau berubah menjadi lebih baik?


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren milik teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟💟💟 Terima kasih



__ADS_2