Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Menghindar


__ADS_3

Setelah sambutan singkat yang diberikan Darsh, kini giliran Frey Matteo yang maju. Dia ingin mengucapkan terima kasih karena diterima bekerja di perusahaan DD Corporation.


"Halo, selamat siang. Perkenalkan namaku Frey Matteo yang akan mendampingi semua tugas Tuan Darsh Damarion. Terima kasih kepada Om Dizon dan Tante Olivia yang telah memberikan kesempatan terbaik ini. Terima kasih." Frey kembali ke tempatnya.


Para orang tua dan yang lainnya sudah pindah ke meja makan. Tersisa hanya ada enam anak muda di ruang tengah itu. Mereka sebenarnya ingin ikut masuk ke ruang makan dan makan siang bersama, tetapi Darsh sudah meminta izin mamanya untuk makan paling akhir.


"Selamat, Kak Frey. Akhirnya Kakak menjadi bagian dari DD Corporation. Perusahaan besar yang dirintis oleh Om Dizon semenjak pindah ke negara ini," ucap Jillian.


"Terima kasih, Jill," jawab Frey singkat.


"Hai, perkenalkan namaku Max Oringo." Max mengulurkan tangannya dan berharap bisa menjabat tangan Jillian.


"Jillian Damarion," jawabnya. Dia tidak mengulurkan tangan karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Frey di sana.


"Turunkan tanganmu, Max," perintah Darsh. Seperti dugaannya kemarin kalau Jillian sudah menaruh hati pada Frey.


"Hemm, baiklah Tuan Darsh. Sepertinya adikmu tidak nyaman," balas Max.


"Jill, perkenalkan dia Owen Othman. Kalau yang itu, Madava Justin. Barusan yang mengulurkan tangan, kamu sudah mengenalnya, bukan? Dan yang paling terakhir, asisten Kakak, kamu juga sudah mengenalnya." Darsh menunjuk satu per satu sahabatnya.


"Jangan bilang kalau kamu lebih dulu menemui Jillian," bisik Max pada Frey. Kebetulan tempat keduanya berdampingan.


"Tidak, Max. Kamu jangan salah paham. Aku kemari hanya menukar mobil dan aku tidak tahu kalau dia sudah datang," balas Frey.


"Jill, bisa ambilkan minuman untuk sahabat Kakak?" tanya Darsh.


"Tentu, Kak. Tunggu ya!" Jillian bergegas masuk ke ruang makan untuk meminta pertolongan tante Olivia.


Max mulai protes setelah kepergian Jillian.


"Frey, kamu jangan curang! Mana bisa mendekati seorang gadis dengan mencuri start seperti itu?" protes Max.


"Sudahlah, Max. Bukankah kalian mau bersaing secara sehat? Lagi pula Jillian juga bisa memilih mana yang tulus dan mana yang modus," ucap Owen.


Justin terdiam. Dia belum berkomentar apapun karena sejak tadi dia terus mengamati Jillian dari jauh.


"Justin, apa kamu menyerah?" tanya Frey. Rupanya mereka mulai salah paham padanya.


"Tidak, kita akan bersaing secara sehat. Sesuai ucapan Tuan Owen Othman," balas Justin.

__ADS_1


Darsh merasa lucu menghadapi tingkah keempat sahabatnya yang memperebutkan Jillian kecuali Owen. Owen lebih tertarik kepada Helga dibanding dengan adik sepupunya.


"Kalian jangan ribut terus. Aku juga belum ada hubungan apapun dengan Jillian. Silakan kalian berdua lanjutkan. Aku akan mundur karena menurut kalian aku terlalu cepat mendekatinya," ucap Frey.


Sebenarnya Jillian enggan untuk meladeni perbincangan mereka. Namun, kakak sepupunya memintanya dan dia tidak enak untuk menolak. Apalagi barusan dia mendengar ucapan Frey yang membuatnya malas untuk menatap lelaki itu. Dia pikir, Frey akan merasa nyaman sudah berbincang dengannya di awal pertemuan kemarin.


Tak sengaja, seseorang yang sedang membawa nampan itu mendengar ucapan Frey. Gadis itu langsung terdiam dan tidak mengatakan apapun lagi. Dia langsung meletakkan nampan itu di meja dan hendak kembali. Namun, Darsh lebih dulu mencegahnya.


"Tunggu, Jill! Sahabat Kakak masih ingin berbincang denganmu," ucapnya.


"Kemarilah, Jill. Kak Justin dan Max ingin mengenalmu lebih jauh," ucap Owen. Dia sahabat Darsh yang paling netral. Dia memang tidak berniat untuk mendekati adik sepupu sahabatnya.


Jillian mendekati Owen. Sebenarnya niatnya bukan untuk itu, melainkan untuk membuat Frey cemburu. Dia sengaja melakukannya.


"Terima kasih, Kak Ow--" Jillian melupakan nama Owen.


"Owen, Jill," jelas Owen. "Namaku lebih mudah diingat, bukan?"


Jillian tersenyum memandang Owen. Sepertinya strategi ini sudah benar menurut Jillian.


"Terima kasih, Kak. Oh ya, Kak Owen mau diambilkan minuman?" tanya Jillian.


"Jill, selama berlibur di sini, maukah kamu ikut denganku untuk jalan-jalan atau hanya makan siang? Kebetulan aku baru saja mendapatkan rekomendasi restoran yang menyediakan makanan enak," rayu Justin.


Max tidak mau kalah. Dia juga harus berjuang mengejar perhatian Jillian.


"Jill, ikutlah denganku. Kamu akan kuajak jalan-jalan menggunakan mobil mewahku dan terserah kamu ingin ke mana," ucap Max.


Jillian belum menjawab. Tatapannya berpindah-pindah. Dari Owen, Justin, Max, Darsh, dan paling terakhir menatap Frey. Lelaki yang paling terakhir itu merasa tidak nyaman ditatap Jillian seperti itu.


Frey mengalihkan pandangannya. Jillian merasa kalau lelaki itu berusaha menghindar darinya.


"Darsh, aku izin ke kamar mandi sebentar, ya," pamit Frey.


"Pergilah! Masih ingat semua sudut rumah ini, kan?" ucap Darsh.


"He em," balasnya.


Setelah Frey pergi, Jillian punya alasan khusus untuk kabur dari ketiga sahabat Darsh.

__ADS_1


"Kak Darsh, aku mau mengembalikan nampan ini kepada tante Oliv," pamitnya.


"Jill, tunggu! Bawakan kopi, ya," pinta Max.


Jillian hanya mengangguk. Padahal tujuannya untuk mengejar Frey dan menanyakan tentang sikapnya barusan. Setelah meletakkan nampan di dapur dengan mengabaikan permintaan Max, Jillian mulai mencari keberadaan Frey.


Rumah kakak sepupunya ini sangat luas. Kamar mandi bisa di mana saja. Ada juga yang letaknya di luar rumah dekat kolam renang.


"Tunggu! Pasti Kak Frey ke kamar mandi yang berada di sana," gumamnya.


Bergegas Jillian keluar rumah dan mencari sosok lelaki yang sudah menarik perhatiannya itu. Dia tidak ingin menyesal telah memilih dan mengejarnya.


Benar dugaan Jillian, baru saja menunggu, lelaki yang dicarinya muncul dari dalam kamar mandi.


"Kak Frey," panggil Jillian.


Lelaki itu sangat terkejut dengan keberadaan Jillian. Dia sampai tidak mengira jika gadis itu akan mengikutinya sampai kemari.


"Ada apa, Jill? Bukankah kamu sedang mengobrol dengan Max dan Justin?" tanya Frey.


"Hemm, ayolah Kak Frey. Jangan bersikap seperti anak kecil. Aku tahu kalau Kak Frey sengaja menghindariku, kan? Kakak pikir aku tidak tahu, hah?"


Frey terdiam. Rupanya menghindari Jillian sangat menyakiti hatinya. Dia hanya berusaha memberikan ruang untuk kedua sahabatnya mengenal lebih jauh, baru Jillian bisa memutuskan untuk memilih siapa.


"Jill, maksud Kakak adalah agar kamu berusaha mengenal mereka terlebih dahulu. Setelah itu baru memutuskan untuk memilih salah satunya," jelas Frey.


"Kak, boleh pinjam ponselnya?"


Frey mengernyit menatap Jillian. Sebenarnya dia juga bingung pada sikap gadis itu.


"Untuk apa?" tanya Frey.


"Sudah, kemarikan. Aku mau pinjam sebentar," pintanya.


Frey memberikan ponsel pada gadis itu dalam kondisi terkunci dan harus menggunakan pasword masuknya.


Jillian mengotak-atik ponsel tersebut. "Kak, bisa buka kuncinya sebentar?" Jillian mengembalikan ponsel itu sebentar. Setelah Frey membuka kuncinya, barulah Jillian mengetikkan nomornya di sana kemudian mendialnya. Setelah itu dikembalikan kepada pemiliknya lagi.


"Aku sudah menulis nomor ponselku di sini. Aku berharap Kak Frey bisa menghubungiku sewaktu-waktu setelah aku pulang." Hanya itu ucapan Jillian. Gadis itu langsung kembali ke dalam karena sudah kepalang malu terlihat mengejar Frey.

__ADS_1


Frey yang mendapatkan kesempatan besar ini hanya bisa tersenyum memandang ponselnya. Ternyata dirinya bisa juga memiliki pesona seperti Darsh dan mulai dikejar seorang gadis seperti Jillian. Frey sangat beruntung.


__ADS_2