Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Menolak Perjodohan


__ADS_3

Vigor sangat khawatir setelah jati diri putrinya terbuka. Banyak lelaki yang akan mengejarnya. Vigor tidak mungkin melepas putrinya untuk orang yang tidak tepat. Glenda bukan gadis mandiri seperti Mommynya dan bukan seperti gadis manja. Dia berada ditengah dari keduanya.


Vigor ingin lelaki yang baik. Yang bisa menerima semua kekurangan dan kelebihan putrinya. Glenda gadis yang cerdas. Hanya beberapa kelemahan yang dimiliki gadis itu.


"Kamu benar, sayang. Coba dulu jalani pendekatan dengan Darsh. Mintalah apapun padanya, maksud Daddy, biasakan kamu yang mengatur tempat pertemuannya. Kalau dia penurut, sepertinya dia benar-benar menyukaimu," usul Daddynya.


"Iyalah, Dad. Mana mungkin aku memintanya ke tempat yang jauh dari restoran. Daddy tau sendirilah. Aku tidak bisa mengemudikan mobil ataupun kendaraan lainnya. Mana mungkin aku bisa pergi jauh. Iya, kan?" ucap Glenda.


Vigor hanya mendengar keluhan putrinya itu. Dia terlalu menyayanginya sehingga melupakan betapa pentingnya bisa untuk mengemudi atau sekedar naik motor.


"Kamu mau ikut belajar mengemudi?" tanya Vigor akhirnya.


Glenda tidak siap. Sudah lama dia tidak memikirkan keinginan untuk itu. Padahal dulu, teman kampusnya menyarankan untuk belajar mengemudikan mobil supaya bebas pergi kemana-mana. Kenyataannya, dia menolak dengan alasan malas dan itu hal yang tidak terlalu penting baginya. Dia bisa diantarkan Daddy atau Mommynya. Bisa juga menggunakan taksi kemanapun dia pergi.


"Aku belum tahu, Dad. Sebaiknya bicarakan dulu dengan Mommy. Aku takut Mommy menolak keputusanku."


Vigor semakin yakin kalau putrinya juga memikirkan keadaan Zelene yang selalu ketat menjaga putrinya dengan baik. Apapun alasan Zelene, semua demi kebaikan Glenda.


"Baiklah, sayang. Nanti kita bicarakan lagi dengan Mommy," ucap Vigor.


Mobilnya mulai memasuki halaman rumah. Di sana, ratu rumah sudah menunggu kedatangannya. Glenda lebih dulu turun baru disusul Daddynya.


"Tumben Mommy berada di sini?" tanya Glenda. Tidak biasanya Mommynya menunggu di teras.


"Hemm, Mommy hanya ingin menyambut kedatangan kalian saja. Apa itu salah?"


"Sudahlah, Mom. Ayo kita masuk," ajak Vigor.


Mereka langsung masuk ke ruang tengah. Glenda sengaja menunda masuk kamar karena ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan Mommynya.


"Mom, kalau aku belajar mengemudi, apakah Mommy akan mengizinkan?" tanya Glenda.


Zelene menatap putrinya penuh tanya. Baru kali ini gadis itu menginginkan hal semendadak ini.

__ADS_1


"Mommy tidak setuju, yah? Kalau tidak setuju, Glenda tidak akan memaksa Mommy untuk mengizinkannya."


Zelene menatap pada suaminya. Dia meminta persetujuan darinya.


"Aku terserah padamu, honey. Putri kita berhak memutuskan juga, kan," balas Vigor.


"Sepenting apa tujuanmu untuk belajar mengemudi?" tanya Zelene.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan Mommy dan Daddy. Aku juga ingin seperti temanku yang lainnya, Mom. Mereka bebas kemanapun yang disukainya. Aku juga memikirkan kalau misalnya Da--" Glenda menghentikan ucapannya karena hampir saja dirinya keceplosan menyebut lelaki itu.


"Hemm, lanjutkan!" perintah Mommynya.


"Namanya Darsh, Mom. Aku khawatir kalau lelaki itu tidak mau menerimaku jika aku memiliki banyak kekurangan. Aku takut kalau Darsh menginginkan gadis mandiri yang tidak bergantung padanya. Apa aku salah, Mom?" ucap Glenda.


Rupanya Glenda memikirkan tentang kelayakan dirinya untuk bersanding dengan lelaki itu. Harapan Glenda terlalu besar, mengingat Darsh adalah orang pertama yang mendekatinya tanpa melihat siapa dirinya.


"Sayang, lelaki tidak semuanya harus menuntut macam-macam. Kalau Mr. D atau Darsh itu bisa menerima kekuranganmu, itu akan jauh lebih baik, bukan?"


Ucapan Mommynya benar. Ada baiknya jika Glenda berusaha menyelami sifat lelaki itu. Bisakah Darsh menerima kekurangan dari dirinya walaupun belum tentu lelaki itu akan menyukainya? Ah, sekali lagi Glenda dalam dilema. Darsh memberikan perhatian, tetapi dia masih belum memperjelas status hubungannya dengan Glenda.


Malam hari di kediaman Dizon Damarion, suasana ruang makan terlihat lebih ramai. Keluarga besar Damarion berkumpul di sana.


"Oliv, Mama dan Papamu tidak kamu kabari mengenai pengangkatan Darsh?" tanya Grandma Carlotta.


"Sudah, Ma. Mereka berhalangan hadir karena harus mengurus pengobatan Papa," jawab Olivia.


"Oh, kondisi Papamu bagaimana?" tanya Grandma lagi.


"Sebenarnya sudah mendingan, Ma. Untuk perjalanan jauh, Papa tidak kuat. Nanti saja kalau kami longgar, kami akan pergi mengunjunginya bersama Darsh," jawab Olivia.


"Ma, ayo makan dulu. Felix, Kayana, Pa, ayo dinikmati," ucap Dizon.


"Sebaiknya kalau pergi ke sana sekalian bawa calonnya Darsh. Setelah pengangkatan CEO selesai, carikan jodoh untuknya. Jangan sampai menikah tua dan salah pilih," jelas Grandpa.

__ADS_1


"Maaf, Grandpa. Darsh masih ingin fokus mengurus perusahaan Papa. Belum waktunya Darsh mencari jodoh," tolak Darsh.


"Jangan seperti itu, Darsh. Grandpa benar. Setelah ini Mamamu pasti akan mencarikan jodoh untukmu," sahut Kayana.


"Tan, aku belum siap untuk menikah muda. Aku masih ingin menikmati hidup dengan damai sampai waktunya tiba," jawab Darsh.


"Sudah-sudah, jangan sudutkan Darsh terus. Kasihan, kan," bela Mamanya.


"Jangan khawatir, Pa. Darsh sudah punya kekasih," sahut Dizon.


"Wah, benarkah? Apakah cantik? Pekerjaannya apa? Apa dia berasal dari keluarga terpandang?" cecar Grandpa.


Aku tidak mungkin mengatakan ini di depan mereka. Glenda memang gadis cantik dan bekerja hanya sebagai pelayan restoran. Aku sudah terlanjur tertarik padanya.


"Darsh, katakan pada Grandpa. Siapa kekasihmu itu?" desak Papanya.


"Maaf, Pa. Tidak untuk saat ini. Lain kali saja," jawabnya.


"Ayolah, Kak Darsh. Siapa gadis beruntung itu?" ucap Jillian.


"Sudah-sudah. Ayo makan dulu," perintah Olivia. "Kalau mau melanjutkan mendesak Darsh, nanti saja di ruang tengah."


"Tunggu, Ma! Apapun pemikiran kalian semua tentang pasanganku, aku tidak akan mau dijodohkan. Aku punya pilihan lain yang kalian semua tidak berhak mengaturku atau memandang rendah dirinya. Ingat itu," jelas Darsh.


Inilah Darsh. Dia tidak mau semua orang ikut mengombang-ambing dirinya. Dia manusia bebas yang berhak menentukan siapa saja yang akan menjadi pasangannya, yang dekat dengan dirinya, dan dari kalangan mana saja yang dia mau.


Semua terdiam mendengar ketegasan lelaki berusia dua puluh dua tahun itu. Kedewasaannya sangat terlihat. Dia juga tipikal lelaki yang fokus menatap satu hal. Dia masih memperjuangkan Glenda. Siapapun gadis itu, Darsh akan tetap menerimanya.


Darsh selesai lebih dulu. "Ehem, daripada kalian sibuk menjodohkan aku, sebaiknya pikirkan Jillian. Besok akan ada empat lelaki yang datang ke rumah ini. Silakan pilih salah satu untuk dijodohkan dengan Jillian. Aku menyerahkan ini pada Grandpa. Bagaimana Grandpa? Apa Grandpa setuju?" jelas Darsh.


Jillian melotot pada kakak sepupunya. Berhadapan dengan Grandpa akan membuat jalan pemikirannya semakin rumit.


"Tidak, Kak. Aku juga mau sepertimu. Aku akan memilih jodohku sendiri. Grandpa terlalu kaku. Bisa lari semua lelaki yang mendekatiku," balas Jillian.

__ADS_1


Felix dan Kayana tersenyum mendengar penuturan putrinya. Pernikahan mereka yang sempat terombang-ambing karena permintaan Papa Denzel yang menuntut semua menantunya sempurna. Walaupun awalnya Kayana sangat sulit berjuang seorang diri, tetapi pada akhirnya Papa mertuanya bisa menerima dirinya dengan baik.


__ADS_2