Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Manusia Kulkas


__ADS_3

Kayana berinisiatif untuk mengantarkan keponakannya untuk beristirahat. Mama mertuanya masih menahan mereka. Mungkin karena belum sempat berkenalan dengan calon cucu menantunya.


"Ma, sebaiknya kita semua istirahat. Agak siang, Darsh dan calon istrinya akan ke butik dan melakukan fitting gaun," ucap Kayana mengingatkan.


"Tunggu, Kay! Calon cucu menantuku belum memperkenalkan dirinya," balas Carlotta.


"Grandma, namanya Glenda Abraham. Nanti saja dilanjutkan pembicaraan ini. Sebaiknya Grandma tidur sekarang!" perintah Darsh. Dia sendiri sudah lelah dan ingin lekas memejamkan matanya.


"Baiklah, kalau itu permintaan Darsh. Om ya, kamar untuk Glenda sudah siap?" tanya Carlotta.


"Mama jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan dua kamar. Satu untuk cucu kesayanganmu dan satu lagi untuk calon menantu keluarga kita," ucap Kayana.


"Ayo, Darsh! Om antar ke kamarmu. Biar Tante Kayana yang mengantar Glenda. Jill, kamu antar Grandma ke kamar dan pastikan jangan berisik. Grandpa bisa marah!" ucap Felix.


"Siap, Dad!" jawab Jillian.


"Ayo, Glenda! Aku antar ke kamarmu," ajak Kayana.


"Terima kasih, Tante," ucap Glenda. Dia langsung mengikuti ke mana perginya tante calon suaminya.


Sampailah keduanya di depan sebuah pintu kamar yang sangat elegan di rumah itu. Bisa dibilang kalau ini bukanlah kamar tamu, tetapi menengok kanan kiri selama masuk ke rumah itu memang seperti bukan rumah, lebih tepatnya Mansion mewah. Rumahnya sangat besar sekali dan tatanan interiornya mencerminkan kalau grandma-nya Darsh adalah wanita yang sederhana.


"Ini dulu kamar pertama kali mommy dan daddymu menginap di sini. Semoga kamu suka," ucap Kayana yang langsung membukakan pintunya.


"Tante mengenal mom dan dad-ku sangat dekat, ya?" selidik Glenda.


"Tidak terlalu dekat, tetapi Tante adalah sahabat Callista, istrinya Om Sean. Cuman, kami sempat putus komunikasi. Sampai saat ini kami belum pernah bertemu," jelas Kayana.


"Tante, mau temani aku sebentar? Aku belum bisa tidur. Masih gugup rasanya," pinta Glenda.


"Baiklah, tunggu sebentar! Masuklah dulu! Tante mau bilang sama Om Felix dulu," pamitnya.


"Ya, Tante. Sebelumnya, terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang."


Kayana mencari keberadaan suaminya. Rupanya pria itu masih berada di kamar Darsh.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanya Felix.


"Kayana, Dad," balasnya.


Ceklek!


Felix keluar kemudian menutup pintunya kembali. Dia sudah memberitahu Darsh untuk beristirahat dulu.


"Ada apa, Mom?"


"Aku pikir sudah kembali ke kamar. Oh ya, kamu tidur sendiri ya, Dad. Glenda minta ditemani tidurnya. Mungkin pertama kali di sini. Jadi, rasanya agak aneh. Sebelum itu, jangan lupa mampir ke kamar Jillian. Pastikan gadisku itu lekas tidur!" jelas Kayana.


Kayana berjalan menuju kamar Glenda. Rupanya gadis itu masih duduk di ranjang dan belum menutup pintunya. Dia menunggu kembalinya tantenya Darsh.


"Kenapa tidak di tutup pintunya?" Kayana masuk dan menutup pintu kamar itu.


"Menunggu Tante kembali. Maaf merepotkan," ucapnya.


"Tidak masalah, Sayang. Kamu ganti baju dulu, gih. Kamar mandinya di sana." Kayana menunjukkan kamar mandi yang terletak di sudut kamar itu. Walaupun tidak terlalu besar, tetapi di setiap kamar selalu disediakan kamar mandi.


Glenda membuka kopernya. Dia memang tidak terlalu banyak membawa baju. Dia pikir bisa beli cadangan baju di negara I. Toh di sini juga tempat tinggal Om-nya. Nanti bisa minta tolong tante Callista atau tantenya Darsh untuk mengantarkan beli baju. Dia mengambil piyama tidurnya dan langsung masuk ke kamar mandi. Tak lupa, dia mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu baru mengganti bajunya dengan piyama. Tak lama, Glenda sudah terlihat lebih segar. Secepatnya kembali ke kamar karena tak enak dengan tantenya Darsh sudah menunggunya.


"Maaf, menunggu terlalu lama," ucap Glenda.


"Tak masalah, Sayang. Istirahatlah!"


Glenda berbaring di ranjang itu. Sementara Kayana duduk di sofa melihat Glenda sangat tidak nyaman berada di kamarnya. Kayana berdiri berusaha menyelimuti Glenda.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Sayang?"


Glenda langsung duduk dan menyandarkan badannya pada headboard ranjang. Dia memandang lekat pada tante calon suaminya.


"Glenda tidak bisa tidur, Tante. Rasanya sangat gugup sekali. Apalagi Tante tahu sendiri kan, hanya tinggal beberapa hari lagi kami akan menikah."


Kayana mengelus puncak kepala Glenda. Dia berusaha menguatkan gadis itu agar tidak gugup. Rasanya seperti melepas Jillian menikah dengan orang lain saja. Apakah seperti ini rasanya?


"Sabar, Sayang. Kamu jangan khawatir. Darsh itu lelaki yang baik, tetapi--"


Kayana tidak tahu harus menyampaikan sikap Darsh pada calon istrinya. Darsh itu benar-benar duplikat kakak iparnya.


"Kenapa, Tante? Apa yang tidak Glenda ketahui tentang Darsh?" selidik Glenda.


Kayana berdiri. Dia duduk di sofa. Sebenarnya Kayana tidak ingin menceritakan apapun pada gadis itu. Namun, terlanjur gadis itu penasaran sehingga Kayana tidak tega padanya.


"Darsh itu sangat dingin, Sayang. Tante harap, kamu bisa mengendalikan lelaki itu. Jangan sampai kamu kalah. Oke?" ucap Kayana. Wanita paruh baya itu berharap pernikahan keponakannya itu langgeng.


"Terima kasih, Tante. Jujur, sejak awal pertemuan kami, aku sudah tertarik pada Darsh, tante. Tapi, aku tidak tahu bagaimana perasaan Darsh padaku, Tante," ucap Glenda.


Mendekati hari H pernikahan, Glenda seperti naik roller coaster. Rasa ragu, gundah gulana, dan tidak yakin akan perasaannya sendiri mulai membuncah dalam diri Glenda. Namun, dia harus meyakin satu hal kalau Darsh itu yang terbaik. Apalagi kedua keluarga sudah menyetujui pernikahan mereka.


"Darsh itu sangat baik, Glenda. Percaya sama tante. Walaupun dia kaku, kalau sudah menyukai sesuatu, dia selalu menjaganya dengan baik. Bukan berarti tante terlalu memuji keponakan sendiri, memang kenyataannya seperti itu."


Glenda lega. Apa yang ditakutkan tentang Darsh selama ini tidak terbukti. Dia juga masih teringat kalau Darsh itu penggemarnya banyak. Rasanya masih ingin menanyakan banyak hal dengan tante Kayana, tetapi itu tidak perlu lagi. Mungkin lain kali bisa bertanya dengan teman atau mungkin ikut bersamanya ketika pergi ke mana pun. Tentunya Darsh tidak akan menolaknya.


"Ehm, apakah sebelumnya Darsh pernah mempunyai kekasih, Tante? Maaf aku bertanya seperti ini. Jujur, terkadang perempuan lebih posesif daripada lelaki. Intinya, Glenda juga bisa cemburu, Tante," ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya.


Kayana tidak banyak tahu mengenai hal ini. Selain tinggal di negara yang berbeda, kakak iparnya, Olivia tidak pernah menceritakan tentang kekasihnya Darsh atau gadis mana pun yang sempat dekat dengan keponakannya. Kayanya hanya tahu kalau Darsh bersahabat dengan beberapa temannya. Itupun semua lelaki.


"Tante kurang tahu mengenai masalah itu, Sayang. Percayalah, Darsh sangat baik dan selalu menghormati perempuan. Dia tidak akan berbuat aneh-aneh seperti lelaki pada umumnya. Namanya manusia kulkas, kamu tahu sendiri kan dinginnya seperti apa?" jelas Kayana. Wanita paruh baya itu tersenyum karena menyebut keponakannya sebagai manusia kulkas.


Glenda semakin lega. Dia berharap pernikahannya berjalan dengan lancar. Setelah itu dia akan mengabdi pada suaminya. Mungkin saja dia akan menjadi ibu rumah tangga seperti Mommynya. Dia tidak memikirkan menjadi wanita karier lagi.

__ADS_1


__ADS_2