Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Pesanannya Datang


__ADS_3

Tanpa memberitahukan pada suaminya, Glenda menurut saja. Lagi pula tak ada salahnya menerima ajakan mama mertuanya yang juga bakal menjadi oma untuk anak-anaknya. Selepas berbelanja, Glenda di antar pulang oleh mama mertuanya. Mampir pun cuma sebentar karena Olivia harus mengurus suaminya juga di rumah. Walaupun Dizon tidak sedang sakit, apapun maunya dilayani istrinya sendiri.


"Glenda, Mama pulang dulu, ya? Nanti kalau Darsh protes, suruh telepon ke Mama! Mama tunggu!"


"Baik, Ma." Tentu saja perubahan mimik muka Glenda dipertanyakan. Bagaimana kalau suaminya tiba-tiba marah karena kedatangan semua barang itu dan adanya pekerja yang merenovasi salah satu kamar di rumahnya?


Itu urusan nanti. Sekarang bagaimana Glenda melihat semua proses renovasi itu berjalan dengan baik tanpa kendala apapun. Mama mertuanya sudah memberikan list khusus akan dibuat seperti apa kamar cucu kembarnya.


Kiriman barang dari Baby Shop belum datang. Untuk sementara waktu masih aman karena suaminya belum pulang. Glenda berada di kamarnya untuk bersantai sejenak sembari mengelus perutnya yang tinggal beberapa minggu lagi akan dilakukan operasi caesar.


"Hemm, baby W atau baby Z? Apakah Mommy perlu lagi berunding dengan daddymu? Tidak perlu, kan?"


Sebenarnya Glenda ingin merembukkan nama kedua anaknya dengan sang suami. Namun, sepertinya kesibukan telah membuatnya lupa kalau sebentar lagi istrinya akan melahirkan.


...🍃🍃🍃...


Sore hari sepulang kerja, Darsh masih saja disibukkan dengan beberapa dokumen penting. Ini terjadi setelah Justin keluar dari perusahaan. Tidak ada lagi pilihan asisten yang bisa diangkatnya.


Glenda menghampirinya dengan membawakan minuman dana makanan ringan. Walaupun di rumah ada pelayan, kalau soal kecil seperti itu biasanya dia turun tangan sendiri.


"Sayang, kamu nanti capek. Lebih baik minta pelayan saja untuk menyiapkan semua ini," protes Darsh yang menghentikan aktivitasnya.


"Aku bisa, kok. Tak masalah. Oh ya, kamu sangat sibuk sekali, ya?"


Darsh mengangguk. Dia melanjutkan beberapa berkasnya kemudian membuka laptop untuk mengirim email kepada kliennya. Seharian ini sebenarnya Darsh tidak terlalu fokus pada pekerjaannya. Max datang ke kantor untuk meminta pendapatnya.


Flasback on.


Darsh yang sedang sibuk menyelesaikan beberapa berkasnya tiba-tiba mendadak mendapatkan telepon dari resepsionis bahwa Max datang bersama Willow.


Bagaimana pun juga, Darsh tidak mungkin mengusirnya. Max datang disaat yang tidak tepat ketika deadline untuk dikirimkan ke klien harus selesai hari ini. Walaupun semuanya sudah dikerjakan stafnya, namun dia harus mengecek hasil kerja mereka kemudian menandatangani berkas pentingnya.


Setelah pintu diketuk dan Max masuk bersama Willow, Darsh menghentikan pekerjaannya. Mengumpulkan beberapa berkas dan menutup laptopnya. Dia berharap kalau Max hanya sebentar.

__ADS_1


"Wah, ini kejutan untukku. Ada apa, Max?"


Max yang langsung duduk di sofa bersama Willow itu seperti berada di rumahnya sendiri. Dia datang dan langsung duduk begitu saja.


"Aku ingin meminta pendapatmu tentang rencanaku," balas Max.


Willow nampak diam saja mendengar pembicaraan kedua lelaki itu. Salah satunya sudah menjadi tumpuan hidupnya semenjak mamanya meninggal. Dia sudah tidak tahu lagi di mana keberadaan papanya. Yah, lebih tepatnya sebelum mamanya masuk ke rumah sakit.


"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Darsh.


"Ehm, Max akan menikah denganku. Bagaimana menurutmu?" sahut Willow.


"Tapi, kalian akan tetap menikah di sini, kan?" tanya Darsh. Kedua sahabatnya sudah menjauh. Justin sudah dibawa Jillian untuk pulang ke tempat tinggalnya. Sementara Frey, dia baru kembali beberapa tahun lagi. Itu pun kalau dia masih mau kembali setelah terluka.


"Iya, Darsh. Setelah Willow kehilangan orang tuanya, dia kembali ke sini untuk hidup bersamaku," jelas Max.


Sebenarnya Darsh kasihan pada Willow. Namun, dia juga tidak tahu kesulitan apa yang diderita gadis itu sehingga membuatnya bisa menerima Max yang sikapnya seperti itu.


Sebenarnya Max sudah menceritakan semua masa lalunya dengan Willow. Gadis itu mau menerimanya dengan semua apa yang pernah dilakukan di masa lalunya. Namun, entah dipikiran gadis itu seperti apa sehingga dia menerima Max dengan mudah.


"Jangan khawatir, Brother! Aku dan Willow sudah membuat kesepakatan. Aku sudah berjanji padanya untuk menjadi satu-satunya miliknya."


"Benar begitu, Willow?" tanya Darsh. Walaupun sebenarnya Darsh tahu bahwa usia Willow lebih tua darinya beberapa tahun, namun dia selalu menganggapnya seperti Jillian, adiknya.


Willow cukup mengangguk. Benar ucapan mamanya bahwa Dizon dan anaknya sama baiknya. Walaupun Willow mengingat Sean, namun mamanya malah memintanya untuk pergi ke tempat Dizon daripada ke tempat pria yang pernah disebutnya papa.


"Baiklah. Terserah kalian."


"Oh ya, Darsh. Untuk menjadi saksi pertunangan sederhana ini, aku memintamu untuk makan siang bersama."


Ketiganya pergi makan siang. Di sana, Max melamar Willow yang disaksikan oleh Darsh. Tidak sampai di situ saja, Max meminta Darsh untuk merekomendasikan tempat pernikahan yang bagus. Terpaksa Darsh membantunya. Padahal hari ini pekerjaannya masih banyak sekali. Ingin menolak sahabatnya sungguh membuatnya dilema.


Flashback off.

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Jadi begitu ceritanya."


"Ya sudah, selesaikan dulu! Aku menunggumu di sini," ucap Glenda.


Glenda senang. Rupanya Max akhirnya menemukan tambatan hatinya juga.


"Darsh, apakah kamu baik-baik saja? Maksudku-"


Darsh menoleh sejenak pada istrinya. Lelaki itu sebenarnya tidak nyaman untuk ditunggui saat bekerja. Namun, ingin meminta istrinya untuk masuk ke kamar dulu kesannya seperti mengusir.


"Ehm, maksudku apakah aku mengganggu pekerjaanmu?"


Huft, akhirnya dia akan pergi juga. Aku pusing sekali. Mana besok ada meeting mendadak.


"Masuklah ke kamar dulu. Nanti aku menyusul."


Mama mertuanya benar. Darsh fokus terus pada pekerjaannya sampai lupa kalau istrinya itu sedang hamil dan sebentar lagi melahirkan.


Glenda memutuskan hendak masuk ke kamar, namun langkahnya terhenti ketika pelayan memanggilnya kalau ada mobil box yang masuk untuk mengantar pesanan. Bahkan Darsh tidak menyadari kalau salah satu kamar sedang di renovasi. Mama mertuanya juga yang akan mencarikan baby sitter untuknya.


"Sayang, memangnya kamu pesan apa sampai yang kirim membawa mobil box segala?" ucap Darsh sesaat menghentikan pekerjaannya. Dia penasaran karena tidak tahu sama sekali kalau istrinya berbelanja sebanyak itu.


"Perlengkapan untuk anakku," jawabnya singkat.


Deg!


Darsh merasa tidak ikut ambil bagian masalah ini. Padahal dia ingin sekali berbelanja berdua dengan istrinya itu. Namun, entah mengapa tiba-tiba Glenda mengambil keputusan sepihak seperti itu.


"Kamu tidak memberitahuku kalau akan berbelanja sebanyak ini? Aku suamimu, loh!" protes Darsh. Dia merasa diabaikan dalam hal ini.


Glenda sudah menduganya jika ini pasti akan terjadi. Dia tidak ambil pusing, toh ini semua atas permintaan mama mertuanya.


"Kalau kamu mau tahu jawabannya, lebih baik telepon mama. Aku mau ke depan dulu. Keburu sopir marah padaku!"

__ADS_1


__ADS_2