Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Perayaan Kelahiran (2)


__ADS_3

"Entahlah. Aku juga tidak tahu!" balas Max. Padahal dia memikirkan tentang masa depan. Namun, hendak melanjutkan perbincangannya, keburu Owen masuk dengan gadis yang pernah dikenal sebelumnya. Tatapan mata Max terus saja tertuju pada gadis itu.


Apakah itu Willow? Dia banyak berubah dan semakin cantik. Kenapa aku bodoh sekali melepas gadis sepertinya? Sekarang Owen sudah dekat dengannya dan aku akan kalah start lagi kalau tidak buru-buru mengambil keputusan.


"Max!" Helga menepuk pundak lelaki itu. Sejak tadi, Max terus saja melamun. Jika ditanya, jawabnya selalu tidak jelas seperti itu.


Alih-alih menjawab pertanyaan Helga, lelaki itu malah mendekati Owen yang baru datang bersama Willow. Tentu saja Helga pun mengikuti ke mana perginya Max. Helga memang belum mengenal Willow, tetapi Max mengenalnya.


"Owen," sapa Max pada lelaki itu.


"Hai, Brother! Apa kabar?" balas Owen.


Willow yang berada di sebelahnya memegang erat tangan Owen. Dia berusaha tenang padahal dalam dirinya sudah ketakutan yang luar biasa. Melihat ketidak nyamanan yang dirasakan Willow, Owen berusaha sebaik mungkin membuat suasana gadis itu baik-baik saja.


"Sayang, kamu jangan takut! Ada aku di sini," ucapnya pelan, namun masih bisa didengar jelas oleh Max.


Sayang? Satu kata yang membuat Max hampir tidak percaya. Semua gadis yang pernah dikejarnya, semua berakhir di pelukan sahabatnya.


Willow nampak mulai tenang manakala ada seorang perempuan yang pernah dilihatnya namun belum pernah tahu namanya mulai bergelayut manja pada Max. Willow meyakini bahwa gadis itu pasti partner ranjang Max yang selama ini terus saja dilakukan lelaki itu. Untung saja Willow tidak sampai menyerahkan tubuhnya pada lelaki tidak waras seperti Max, itu hanya pandangan versi Willow.


"Hai, Owen. Wah, kamu datang juga," sapa Darsh yang mulai mendekat dan melihat ketegangan di antara mereka. "Ayo masuk! Jangan berhenti di sini! Masih ada tempat untuk kedua sahabatku di dalam."


Baik Darsh, Max, maupun Owen, semua pasangan mereka sedang merangkul tangan masing-masing pasangannya. Max sudah tidak berani mengganggu Willow lagi. Apalagi ini tempat umum dan juga dia sudah membawa pasangan.


Kini Darsh yang mulai ketar-ketir. Dia berharap kedua sahabatnya yang lain juga datang. Walaupun mereka tidak mengonfirmasi bisa datang atau tidak, namun harapan Darsh, mereka bisa berkumpul lagi seperti sebelumnya.


Setelah Max dan Owen masuk, Darsh masih berada di tempat yang sama. Glenda mulai khawatir kalau suaminya sedang memikirkan sesuatu, namun Glenda tidak tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya.


"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Glenda yang baru saja melepas tangan suaminya kemudian berdiri tepat di hadapan Darsh.


"Aku menunggu Justin dan Frey!"

__ADS_1


"Jangan terlalu diharapkan kehadirannya. Mereka berada jauh dari kita. Asalkan mereka bahagia, kamu tak perlu khawatir," ucap Glenda mengingatkan.


Ucapan istrinya benar. Tidak mungkin mereka bisa datang, asal sama-sama bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Hendak melangkahkan kakinya bersama sang istri, Darsh menghentikan langkahnya manakala sebuah suara yang dikenalnya memanggil.


"Kak Darsh ...," panggil Jillian.


Darsh dan Glenda menoleh bersamaan. Mereka melihat kedatangan Jillian dan suaminya bersamaan dengan Om dan tantenya juga hadir di sana.


"Jill?" Rasa terkejut Darsh tidak berhenti sampai di situ saja. Keempat orang itu datang di waktu yang tepat. Itu artinya keberadaan mereka di tempat ini sudah lama.


"Selamat ya, Kak," ucap Jillian memeluk kakak sepupunya. Bergantian dengan kakak iparnya, Glenda.


"Terima kasih, Jill," sahut Glenda. "Lekas menyusul, ya."


Sepasang suami istri yang baru saja memiliki dua buah hati itu terlihat semakin romantis sehingga membuat om dan tantenya berkomentar.


"Wah, padahal baru kemarin memiliki bayi, semakin hari semakin romantis saja," ucap Felix.


"Tentu, Sayang. Kami ingin menikmati kebersamaan ini terus, Om," sahut Glenda.


"Para orang tua dan bayi kalian di mana?" tanya Kayana.


"Ada di dalam, Tante. Langsung masuk saja. Glenda dan suami akan menemui tamu yang baru saja datang. Silakan masuk," Glenda mundur karena ada tamu yang baru datang dan Darsh tidak menyadari kedatangannya. Maka dari itu, Glenda memilih membiarkan keluarga dekat suaminya masuk terlebih dahulu.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu tidak jadi masuk bersama Jillian dan keluarga?"


"Sayang, lihatlah siapa yang datang!" Glenda menunjuk seorang lelaki yang baru saja masuk dengan membawa bingkisan untuk bayinya. Dia datang seorang diri.


Frey? Ini bukan mimpi. Dia bisa datang? Seperti mimpi rasanya.


Frey terlihat lebih berisi sekaligus lebih keren daripada beberapa bulan yang lalu. Gaya potongan rambutnya juga sedikit berbeda dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan Justin, kedua lelaki itu memiliki dua sisi yang berbeda. Justin memiliki sisi lembut yang sangat kuat. Sementara Frey, lelaki itu terkadang memiliki sikap ragu untuk mengambil keputusan.

__ADS_1


"Frey ...," panggil Darsh ketika lelaki itu sudah dekat dengannya.


"Hai, aku datang spesial untuk keponakanku. Boleh salah satu untuk jodohku?" canda Frey.


"Jangan seperti itu, Frey! Jodoh akan datang pada saat yang tepat," balas Darsh. Dia memeluk lelaki yang beberapa bulan ini tidak ditemuinya.


"Ayo masuk. Semuanya sudah lengkap. Hanya kamu saja yang baru datang," ucap Darsh mengajak sahabatnya masuk.


Frey meletakkan kado yang dibawanya di meja yang sudah disiapkan untuk semua tamu yang ingin memberikan hadiah. Frey mengikuti langkah Darsh menuju ke tempat duduk yang sudah disiapkan. Di sana ada Max, Helga, Justin, Jillian, Owen, dan salah seorang perempuan yang belum pernah dikenalnya.


"Hai semuanya. Apakah tidak ada penyambutan untukku?" tanya Frey.


Owen berdiri untuk memberikan pelukan hangat pada sahabatnya itu. Jarang bertemu membuatnya lebih cepat kangen daripada biasanya. Justin dan Max pun melakukan hal yang sama. Sementara Jillian, dia cuek pada Frey. Tidak mungkin dia bisa bersikap seperti dulu sebelum bersuami. Statusnya sudah berubah sekarang.


"Maaf, Justin. Aku baru sempat mengucapkan selamat atas pernikahan kalian," ucap Frey.


"Terima kasih, Frey. Semoga kamu lekas menyelesaikan pendidikan dan menemukan gadis yang tepat," balas Justin.


"Apa kabar, Max?" ucap Frey yang memeluk lelaki itu yang paling akhir.


"Baik. Aku datang ke sini dengan Helga. Apa kamu tidak ingin menyapanya?"


"Hai, Helga. Kita bertemu lagi," ucap Frey berusaha bersikap biasa saja. Namun, dalam hatinya masih belum bisa melupakan Jillian begitu saja. Sesekali lelaki itu mencuri pandang pada istri sahabatnya.


Memutuskan komunikasi sepihak membuatku kehilangan segalanya. Cinta dan kebahagiaanku hilang dari genggaman. Aku berusaha ikhlas, tetapi ketika bertemu lagi dengannya, masih ada rasa nyeri yang menjalar. Aku terluka, tetapi aku belum bisa menyembuhkannya. Belum ada gadis yang bisa bersikap baik seperti dia memperlakukan aku.


...🍃🍃🍃...


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren milik teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💗 Terima kasih


__ADS_1


__ADS_2