
Tak menolak, bagaimanapun usaha Owen menghindari acara itu, Max tetap bersikeras untuk mengadakannya.
Benar saja, setelah hari itu, Max sudah memutuskan untuk membuat birthday party yang cukup meriah. Undangannya untuk para gadis singel atau janda muda. Max sengaja memesan ballroom hotel agar lebih leluasa dan berlangsung secara privat.
Tak semua orang bisa masuk ke sana melainkan melalui seleksi. Max benar-benar mengadakan pesta terniat kali ini.
"Lihatlah! Max benar-benar gila. Dia mengadakan pesta seperti ini hanya untukku dan Owen," ucap Frey yang sudah sampai di sana bersama beberapa sahabatnya yang lain, termasuk Max.
Darsh dan Glenda memang tidak mengajak kedua balitanya. Mereka sengaja dititipkan pada grandma grandpanya.
"Jujur, aku setuju kalau pesta ini diadakan. Kalau tidak, Welenora-ku terancam akan menjadi calon kalian," jawab Darsh ketus.
"Sudahlah, Sayang. Mari kita nikmati pesta ini saja. Semoga Owen dan Frey lekas menemukan tambatan hatinya." Usaha Glenda untuk membujuk suaminya rupanya berhasil. Pria dingin itu akhirnya bisa tersenyum menikmati pestanya.
Para gadis dengan gaun pesta yang sangat indah dengan macam-macam make up yang membuat mereka semakin terlihat cantik. Konsep pesta yang diambil Max adalah para gadis yang sedang mencari pangerannya. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk tampil cantik dan menunjukkan kemampuannya.
Beberapa kue ulang tahun sudah berjajar rapi di meja yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Max sengaja memesan ballroom berikut makanan, dekorasi, dan segala keperluan lainnya yang berhubungan dengan acara ini. Termasuk juga data tamu yang akan hadir. Karena tidak semua orang bisa masuk.
"Kalian tahu, Max sudah kelewatan. Masak dia memperlakukan aku dan Frey seperti seorang pangeran yang sedang mengadakan sayembara. Kesan tidak lakunya itu terlihat nyata," gerutu Owen.
Pasalnya Max meminta mereka untuk memakai sepaket jas dan perlengkapannya. Ya, seperti terlihat pengantin yang akan menikah.
"Itu cukup mudah, Owen. Bukankah kami ingin agar kamu lekas move on? Begitu juga dengan Frey. Kami merasa kasihan kalau hanya dua pasang saja yang sudah menikah," sahut Helga.
"Kau ini! Kurasa setelah menyatu dengan Max sikapmu berubah total. Ya, aku seperti tidak mengenalmu, Helga," balas Owen dengan bibir mengerucut.
"Kamu juga jangan seperti anak gadis yang terpaksa dijodohkan seperti itu. Have fun, sayang," goda Helga.
"Hemm, jika kamu bukan istri sahabatku, sudah kuajak ke hotel sejak awal," balas Owen lagi.
"Kamu itu duda perjaka. Mana berani bertindak nekad seperti itu," cibir Helga.
Dari beberapa sahabat suaminya, hanya Max saja yang sudah nekad kehilangan segelnya sejak awal. Namun, Helga tidak pernah mempermasalahkan. Max juga sudah jujur sedari awal. Itulah sebabnya keduanya bisa saling menerima.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian jangan ribut terus! Acara akan dimulai, sebaiknya Owen ke tempatnya langsung." Darsh sudah dikode oleh Max supaya lekas membawa Owen untuk segera meniup lilin ulang tahunnya.
Sebelum meniup lilin, MC mengajak mereka semua untuk menyanyikan lagu ulang tahun pada Owen. Sungguh, para gadis cukup antusias sekali. Pasalnya rumor yang beredar bahwa Owen adalah pengusaha muda sekaligus duda keren.
Happy birthday Owen
Happy birthday Owen
Happy birthday happy birthday
Happy birthday Owen
Tepuk tangan meriah mengantar Owen untuk meniup lilinnya. Sebelum itu, Frey mengingatkannya.
"Jangan lupa make a wish dulu!" ucap Frey yang kebetulan berada di sampingnya.
Owen memejamkan matanya sesaat sambil berkomat-kamit. Entah, apa yang diminta dalam harapannya? Semoga saja setelah ini, baik Owen maupun Frey menemukan salah satu gadis yang cocok.
Setelah memejamkan mata dan memberikan harapan yang tidak diketahui orang banyak, Owen meniup seluruh lilinnya yang ada di atas tiga kue tart yang berjajar di meja.
Owen tentu saja terkejut. Dari sekian banyak orang yang ada di sini, tak ada satupun orang yang disukainya sebagai pasangan. Daripada ribet, dia mulai memotong kuenya kemudian menyuapi dirinya sendiri.
"Owen! Tidak harus dirimu sendiri. Sahabatmu juga bisa." Glenda mendadak kesal karena tidak hanya suaminya yang terkadang aneh. Rupanya sahabatnya juga aneh.
"Maafkan aku, kakak ipar. Aku juga tidak mungkin menyuapi Darsh, Frey, atupun Max. Aku pria normal, jadi aku minta maaf."
Glek!
Rasanya pengen nonjok Owen sekencang mungkin supaya pria itu sadar. Namun, Glenda masih mengingat nasib putrinya yang terancam mendapatkan salah satu sahabat suaminya. Untuk itulah acara ini sengaja dibuat.
Setelah acara potong kue yang membosankan itu, MC akhirnya meminta semua orang turun ke tengah ballroom untuk berdansa. Ini awal yang bagus untuk Frey maupun Owen.
Max tepat berada di samping istrinya sehingga dia tidak ikut turun. Sementara Darsh yang hendak turun malah tidak diizinkan oleh sang istri.
__ADS_1
"Jangan turun! Ingat, kamu sudah beranak pinak. Lebih baik tetap di sini atau aku akan--"
"Akan apa, Sayang?" balas Darsh.
"Menjodohkan putri kita dengan salah satunya," ancam Glenda pada sang suami.
"Ya, ya, aku akan tetap berada di sini. Semoga Owen dan Frey menemukannya."
Alunan musik berdansa sudah terdengar menggema di dalam ballroom. Owen dan Frey ke sana ke mari mencari kecocokan. Sampai satu jam, keduanya naik ke tempatnya dengan tangan kosong. Kesempatan yang diberikan MC adalah ketika berdansa kemudian menemukan salah satu gadis yang cocok, maka baik Owen atau Frey diizinkan untuk membawa mereka naik ke panggung kecil.
Dua pasang suami istri yang sedang menunggu mendadak menatap tajam ke arah dua orang yang berdiri mematung dekat kue tart itu. Mereka sama sekali tidak mengajak pasangannya.
"Dari sekian banyak gadis, tidak adakah yang menarik perhatianmu?" tanya Max yang sudah berada tepat di samping kedua pria singel itu.
"Max, kau tahu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, mereka tidak ada yang menarik hatiku," jawab Frey lirih.
Sementara Owen memang merasa belum perlu mencari pengganti Willow. Waktu dua bulan atau lebih itu merupakan masalah yang sulit untuk melupakan masalah yang terlihat jelas di matanya. Dia merasa bersalah tidak bisa mencegah Willow kala itu.
"Owen, kenapa kamu diam?" tanya Max yang melihat perubahan mimik mukanya.
"Rasanya aku belum perlu mencari pengganti Willow, Max. Walaupun kamu tahu juga kan perpisahan kami seperti apa?" Owen menundukkan kepalanya.
"Owen, angkat kepalamu! Jangan menunduk seperti itu. Percayalah kamu akan menemukannya," sahut Darsh yang mengerti masalahnya.
"Ya, Owen. Kamu pasti bisa!" sahut Glenda yang terus saja menyemangati.
"Akupun harus semangat," sahut Frey.
Sejenak tatapan mereka tertuju pada beberapa gadis yang sedang berusaha merayu Owen maupun Frey menggunakan setangkai mawar yang sengaja disiapkan Helga untuk opsi terakhir. Ini sudah menjadi perhitungan matang antara dia dan sang suami. Owen ataupun Frey tidak akan semudah itu menerima gadis lain sebagai penggantinya.
"Bagaimana? Sudah ada yang cocok dengan mawar-mawar itu?" tanya Glenda.
Baik Owen maupun Frey sama-sama menggeleng. Itu artinya dari sekian banyak gadis di sini tidak ada yang menarik perhatian mereka.
__ADS_1
"Oh ya ampun, Max. Lama-lama aku harus kabur dari negara ini. Lihatlah kedua sahabatmu itu. Banyak gadis yang cantik, tetapi tidak satupun yang mengena hatinya. Kita harus apa?" Glenda berusaha mengungkap isi hatinya pada Max daripada suaminya.
"Maafkan kami, Kakak ipar. Tidak ada yang cocok untuk menggantikan Mezzaluna maupun Willow untuk saat ini. Walaupun keduanya pergi dengan cara yang berbeda, tetap tidak mudah mencari penggantinya," terang Frey.