Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Sudah Meminangnya


__ADS_3

Tidak hanya tentangnya saja. Glenda butuh kehadiran orang tuanya juga dalam masalah ini. Darsh tiba-tiba datang mengatakan hal yang tidak pernah terpikir olehnya.


"Darsh, kamu yakin? Ini hanya leluconmu saja, kan? Kita baru kenal beberapa kali, loh?" protes Glenda dengan rentetan pertanyaan.


"Aku tidak akan membuat lelucon sepenting ini, Glenda. Aku serius. Aku tidak sedang bercanda denganmu. Begini saja, kalau kamu memang tidak bisa menjawabnya langsung, aku beri waktu satu minggu untuk memutuskannya," usul Darsh.


Apakah ini pertanda jati diriku akan muncul? Sudah lama Daddy dan Mommy menyembunyikannya. Sekarang aku bisa apa?


"Darsh, sebelumnya aku minta maaf. Apa kamu yakin meminang pelayan sepertiku? Aku hanya seorang pelayan restoran. Aku takut kalau keluargamu menolakku jika nantinya aku menerimamu, misalnya," ucap Glenda.


"Masalah itu kamu jangan khawatir. Mamaku sudah tahu semuanya," balas Darsh.


"Apa? Mamamu sudah tahu tentangku?" selidik Glenda.


Darsh hanya mengangguk. Dia melihat jam tangannya. Sudah terlalu lama meninggalkan meja akan membuat beberapa sahabatnya curiga.


"Glenda, aku harus kembali. Aku tunggu seminggu lagi keputusanmu. Kalau misalnya kamu ada perlu apapun, kirimkan pesan saja. Pinangan resmi akan menyusul setelah kamu menerimanya." Darsh langsung pergi meninggalkan Glenda. Rasanya berbeda. Tidak seperti sedang bermain drama melainkan ini nyata.


Glenda rasanya lemas dan tidak bisa berkata apapun. Seperti sebuah mimpi yang tiba-tiba datang memberikan surprise yang begitu mendadak.


Masih belum percaya bahwa lelaki selama ini yang sangat diharapkan kehadirannya telah memberikan angin segar untuknya, tetapi tunggu dulu. Apakah Glenda siap untuk menikah di usia yang masih sangat muda ini?


Mom, Dad, aku bingung sekarang. Sebenarnya aku sangat menyukai Darsh, tetapi dia meminangku di usia yang masih sangat muda. Apa aku siap menikah sekarang?


Glenda bergegas kembali ke restoran. Dia tidak enak hati kalau berlama-lama di luar. Apalagi ini masalah pekerjaannya yang belum selesai. Dia kembali ke tempatnya dan melihat Darsh rupanya sedang bersama dengan teman-temannya.


Tunggu! Ada pemandangan yang mengganggu pikirannya. Ada seorang gadis muda yang bersama dengan lelaki itu dan berbincang dengannya.


"Apa aku secemburu ini?" gerutunya.


Glenda berusaha membuang pikiran buruk tentang Darsh. Kalau dia sudah yakin dengan lelaki itu, harusnya tidak ada keraguan di dalamnya.


Jillian yang melihat kedatangan kakak sepupunya nampak senang sekali. Dia langsung menginterogasinya karena lama sekali meninggalkannya.


"Kak Darsh dari mana saja, sih? Toiletnya jauh ya? Kenapa lama sekali?" tanya Jillian.


"Aku baru saja bertemu teman," jawabnya.


"Teman?" tanya mereka serentak.


"Aku kok tidak tahu kalau kamu punya teman, Darsh?" selidik Max.


"Ck, bukan urusanmu, Max. Apa pentingnya aku bertemu dengan siapa?" balas Darsh.

__ADS_1


"Wah, kamu sudah main rahasia di antara kita," tuduh Owen.


"Ck, kalian aneh. Kalau aku bertemu dengan calon klien, apa aku harus selalu mendetail cara berceritanya?" balas Darsh.


"Baiklah, Darsh. Tak masalah. Mungkin itu privasimu," sahut Frey.


"Nah, itu benar. Bagaimana, Justin? Apa kamu sudah puas berbincang dengan adikku?" Darsh berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja. Terima kasih, Darsh," jawab Justin.


Owen tidak mengomentari apapun karena dia memang tidak tertarik dengan Jillian. Sejak tadi lelaki ini hanya mengamati tingkah laku sahabatnya saja.


"Kalau kalian mau pulang sekarang, silakan. Aku yang akan membayar semuanya. Oh ya, Jill, kamu ke tempat parkir dulu bareng sahabat kakak, ya? Kakak mau ke kasir dulu terus langsung pulang," ucap Darsh.


"Kenapa kita tidak barengan saja, Kak?" protes Jillian. Sejak tadi gadis itu merasa tertekan karena kakak sepupunya terus saja meninggalkannya. Entah disengaja atau memang ada keperluan, Jillian sangat penasaran. Jika sampai Darsh sengaja meninggalkannya, Jillian pasti akan sangat marah sekali.


"Tunggulah sebentar di tempat parkir. Tidak akan lama. Frey, ajak Jillian bersamamu," ucap Darsh.


"Oke, Darsh. Ayo, Jill," ajak Frey.


Darsh segera menuju ke kasir. Dia sempat melirik keberadaan Glenda yang sedang bersama rekan kerjanya. Setelah membayar, Darsh menyempatkan menemui Glenda sebentar.


"Ada apalagi?" tanya Glenda. Dia tidak nyaman dilihat rekannya.


"Seminggu lagi aku tunggu." Hanya itu yang diucapkan Darsh.


"Iya," jawab Glenda.


Darsh secepatnya kembali ke tempat parkir. Dia menghindari keributan lagi dengan Jillian. Dia harus mendapatkan Glenda juga karena Jillian sudah menyerah untuk menolak permintaan terakhir Grandma.


"Mana yang lainnya?" tanya Darsh ketika hanya melihat Frey dan Jillian saja.


"Sudah pulang, Darsh. Sepertinya tingkahmu mulai aneh," selidik Frey.


"Aneh bagaimana maksudmu?"


"Ya, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Apa yang sedang kamu sembunyikan dari kami?" tuduh Frey.


"Tidak ada. Hanya perasaanmu saja. Jill, ayo pulang," ajaknya.


"Kak Frey, aku pamit dulu ya," pamit Jillian.


"Hati-hati, Jill. Waspadalah pada kakak sepupumu itu," balas Frey.

__ADS_1


Darsh tidak peduli lagi dengan ucapan Frey. Bergegas dia masuk ke mobilnya. Jillian juga sudah masuk. Darsh segera pulang ke rumahnya dan menyampaikan kabar gembira ini. Walaupun hasilnya dia belum tahu.


"Kak, memangnya tadi Kak Darsh pergi ke mana? Sangat lama sekali, loh." Jillian penasaran.


"Mewujudkan keinginan terakhir Grandma. Memangnya kenapa?"


"Apa maksudnya?" Jillian sangat pusing dengan sikap kakak sepupunya. Benar-benar sulit ditebak.


"Jangan tanyakan lagi. Nanti juga akan tahu sendiri," jawabnya.


Jillian tidak habis pikir. Dia mempunyai kakak sepupu yang benar-benar berbeda. Bahkan Frey, lelaki itu sangat nyaman diajak untuk berkomunikasi. Kali ini Jillian harus bersabar sampai rumah. Kalau tidak, Darsh akan mengomel padanya karena terlalu banyak bertanya.


Bahagia Jillian bertambah ketika mobil Darsh sudah memasuki halaman rumahnya. Dia sebentar lagi akan tahu apa yang sedang disembunyikan kakaknya. Bukan karena dia terlalu penasaran, tetapi sikap kakaknya yang aneh itu membuat rasa penasaran Jillian semakin tinggi.


Darsh tidak lagi menunggu Jillian turun. Dia langsung ke dalam untuk menemui mamanya. Rupanya Darsh tidak hanya akan menyampaikan kabar ini pada mamanya, tetapi juga pada seluruh anggota keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tengah.


"Baru pulang, Darsh?" tanya Olivia.


"Ya, Ma. Boleh aku duduk?"


"Duduk saja, Darsh. Ini juga rumahmu, kenapa jadi seformal itu?" sahut Felix.


"Mumpung semuanya berkumpul di sini, aku ada kabar untuk kalian semuanya," ucap Darsh.


"Kabar apa, Nak?" tanya Grandma.


"Aku sudah meminang gadis itu."


"Apa?" ucap semuanya. Termasuk Jillian yang baru datang. Rupanya ini yang dimaksud kakak sepupunya. Dia juga tidak tahu siapa gadis yang di maksud.


"Secepat itu, Darsh? Bagaimana mungkin dia mau menerimamu? Apa keluarganya tahu? Apakah gadis itu tidak syok?" Olivia memberondong Darsh dengan beberapa pertanyaan.


"Jadi, maksudmu sudah ada gadis yang kamu pinang hari ini, Darsh?" Aura Grandma nampak sangat bahagia mendengarnya.


Lain halnya dengan Darsh. Dia belum menjawab semua pertanyaan mamanya. Bukan berarti dia tidak bisa menjelaskan, tetapi dia masih ragu apakah Glenda menerimanya atau menolak? Kalaupun sampai gadis itu menolak, Darsh sudah menyerah dan tidak akan mau lagi mengenal gadis selain Glenda yang sudah menarik perhatiannya sejak awal.


...💖💖💖...


Hai kakak readers, malam ini Emak mau rekomendasikan karya bestie Emak. Cus kepoin. Walaupun kita berada di tempat yang berbeda, tetapi masih di bumi yang sama.


Jangan lupa kasih bintang, masukkan favorit, baca dulu, terus tinggalkan like dan komentarnya...


Mendadak Menjadi Babysitter Anak Sang Duda by Author SyaSyi

__ADS_1


Terima kasih. Salam sayang selalu untuk Emak Author pada kalian semuanya 💟💟💟



__ADS_2