
'Terkejut? Tentu saja. Namun, yang paling terkejut di sini adalah Darsh dan istrinya. Max terlihat biasa saja seperti tidak peduli dengan apapun yang dilakukan Owen di hadapannya. Sedangkan Willow, dia merasa dipermainkan di sini. Apakah ini drama yang sengaja dibuat Owen untuk memanas-manasi Max atau ada rahasia lain yang tidak Willow ketahui?
Acara telah berakhir. Willow lebih dulu mengajak pulang. Ada hal yang harus diselesaikan dengan Owen, majikannya. Sepanjang jalan, keduanya saling diam. Namun, sebagai perempuan, Willow akan memastikan suatu hal. Jika memang nyatanya dia dipermainkan, ada baiknya Willow keluar dan mencari pekerjaan lainnya.
"Owen, apakah kamu bercanda?" tanya Willow. Dia tidak ingin dipermainkan di sini.
"Yang mana?"
"Di restoran tadi."
"Kita bicarakan di apartemen. Oke?"
Willow cukup mengangguk tanda setuju. Hanya beberapa menit lagi, semua masalahnya jelas.
...🍃🍃🍃...
Kini, baik Willow maupun Owen berada di ruang tamu. Walaupun mereka tinggal bersama, Owen sangat menghormati privasi Willow. Dia bahkan tidak bertindak yang berlebihan pada gadis itu.
"Mengenai apa yang kukatakan di restoran tadi, aku sedang tidak bercanda. Aku serius akan menikahimu. Apa kamu bersedia?"
Deg!
Dari selisih usia, Owen memang berada jauh di bawahnya. Namun, dari segi pemikiran, lelaki ini jauh bisa bersikap lebih dewasa dari pada Max, mantan tunangannya yang tidak jelas kehidupannya. Willow merasa tersanjung dengan pengungkapan Owen barusan. Sebenarnya Willow tidak tahu harus menjawab seperti apa? Perbedaan antara dia dan Owen jelas terlihat. Selain Owen pemilik Kafe, dia merupakan anak pengusaha kaya raya. Namun, Owen jarang sekali menunjukkan kemewahan yang dimiliki. Dia berusaha hidup senormal mungkin seperti orang biasa.
"Aku tidak tahu, Owen."
Jujur, Owen terkejut mendapati jawaban Willow seperti barusan. Niatnya serius untuk meminang Willow, tetapi sepertinya gadis itu ragu-ragu.
"Kenapa? Apa kamu memiliki kekasih?" selidik Owen.
Willow membuang pandangannya. Dia tidak mau kalau Owen menatap mata kesedihan miliknya.
__ADS_1
"Aku bukan gadis yang sempurna, Owen. Aku sudah cacat. Aku juga bukan gadis yang memiliki apa-apa. Apa aku masih pantas untuk mendampingi lelaki hebat sepertimu? Perbedaan kita sangat jauh bagaikan bumi dan langit. Aku tidak bisa menggapaimu."
Owen terhanyut dalam kesedihan mendengar penuturan Willow. Dia juga tahu bagaimana kisahnya dijual papa biologisnya demi membayar utang kerugian perusahaannya yang sudah pailit. Sebagai anak penebus utang, Willow merasa rendah di mata Owen. Namun, Owen tak pernah menganggapnya seperti itu.
"Willow, tatap mataku!" Owen menarik tangan Willow. Dia sedang berusaha meyakinkan gadis itu. Willow pun menuruti ucapannya. "Aku bisa menerimamu apa adanya. Aku tahu, kehidupan setiap orang tidak sempurna. Namun, kalau kamu mau, aku akan membuat hidup kita sempurna. Percayalah! Aku dan Max berbeda. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Jadilah istriku! Jadilah ibu untuk anak-anakku! Aku percaya bahwa kamu adalah gadis yang baik."
Meleleh, terharu, dan bahagia bercampur menjadi satu. Willow merasa sangat beruntung bisa mengenal Owen. Walaupun kehidupannya sudah kacau balau, tetapi lelaki itu tetap memperlakukannya dengan sangat baik.
"Apakah aku bisa membuat permintaan? Ehm, maksudku, jika aku menerimamu, bisakah aku meminta syarat darimu?"
Willow takut kalau Owen kecewa dengan dirinya. Gadis yang dinikahinya sudah pernah dinikmati oleh orang lain. Bahkan, penderitaannya terus saja berlanjut sampai kehilangan mamanya.
"Tentu, katakan saja!"
"Aku bisa menerimamu dengan syarat, pernikahan akan dilangsungkan secara tertutup. Aku malu pada orang lain, Owen. Aku bukan gadis sempurna!"
Owen menutup bibir gadis itu dengan satu jarinya. Dia tidak suka dengan ucapannya barusan. "Tidak, pernikahan kita akan tetap berjalan seperti pada umumnya. Kamu gadis istimewa untukku. Jadi, jangan berpikiran buruk!"
...🍃🍃🍃...
"Om yakin akan kembali malam ini?" tanya Darsh saat sudah berkumpul. Dia dan istrinya baru saja menidurkan bayi kembarnya di box bayinya dan sekarang kedua bayi itu dijaga oleh baby sitter-nya.
"Tentu, Darsh. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan Justin dan juga kondisi grandpa yang terus saja menurun."
"Sayang, Mama dan Papa berniat untuk ikut pulang. Apakah kamu bisa mengatasi dua bayi mungil itu?" ucap Olivia.
Olivia sudah membicarakan hal penting ini dengan suaminya. Dizon setuju dan harus membicarakan ini dengan putranya.
"Kalau itu menurut Mama dan Papa penting, Darsh tidak bisa menahannya. Lagi pula, grandpa pasti membutuhkan kalian untuk selalu berada di sampingnya. Jadi, kapan Mama dan Papa akan berangkat?"
"Besok, Darsh," jawab Dizon.
__ADS_1
"Sayang, kita bisa ya mengurus dua bayi itu?" tanya Darsh pada istrinya.
"Iya. Lagi pula ada dua baby sitter bersama kami. Mama dan Papa tak perlu khawatir," balas Glenda.
"Wah, bagaimana rasanya menjadi orang tua baru?" tanya Jillian. Sejak tadi dia berusaha menanyakan hal itu pada Glenda, namun karena kedua bayinya sulit sekali untuk ditinggalkan, akhirnya Jillian baru sempat mengatakannya sekarang.
"Buatlah sendiri, maka kamu akan merasakan apa yang kamu rasakan," jawab Darsh.
Glek!
Tentu saja ucapan Darsh barusan mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana. Felix dan Kayana pun merasa kalau Darsh masih belum bisa bersikap manis pada adik sepupunya. Masih dingin seperti sebelumnya.
"Oh ayolah, aku bertanya pada Kak Glenda. Kalau soal membuat, setiap hari kita membuatnya. Bukan begitu, Sayang?"
Jillian benar-benar membuat Justin wajahnya memerah karena malu. Bukan karena malu kalau setiap hari membuat, tetapi hal se-privasi itu jadi terbuka lebar untuk konsumsi orang banyak. Darsh tertawa. Dia puas sekali mengerjai sahabatnya. Kapan lagi bisa membuat Justin semalu itu di hadapan mertuanya?
"Jill, jangan bercanda!" Hanya itu jawaban Justin.
"Sangat bahagia, Jill. Ketika bayi masih berada di dalam kandungan, aku selalu berharap mereka lekas lahir. Walaupun lahir melalui operasi caesar, tetapi semua kebahagiaan terbayar dengan mendengarkan suara tangisan bayi. Rasanya haru dan bahagia bercampur menjadi satu," terang Glenda.
Jangankan Jillian, kedua wanita paruh baya itu pun mengingat bagaimana anak-anak mereka lahir dan sekarang sudah menikah. Memang benar, ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan ibu hamil yang kemudian melahirkan bayinya. Penuh dengan perjuangan.
"Kamu benar, Glenda. Mama jadi teringat bayinya Darsh. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi dia cucu pertama di keluarga Damarion. Semuanya sangat bahagia," sambung Olivia.
Kayana pun teringat perjuangan melahirkan Jillian. Anak gadis satu-satunya yang kini sudah menikah dan mungkin sebentar lagi akan mendapatkan kabar baik dengan kehamilannya. Harapan terbesar keluarganya untuk lekas memiliki keturunan.
...🍃🍃🍃...
Yuk mampir karya keren Bestie Emak. Marathon kuy... Dah End... Cerita ringan tidak menguras emosi dan ada unsur komedi juga. Cerita romantis. Author Syasyi
__ADS_1