Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Rencana Hari Esok


__ADS_3

Sesampainya di rumah keluarganya, Darsh lekas membantu mereka semua untuk mengeluarkan beberapa barang. Orang tuanya pun ikut membantu. Justru kedatangan mendadak Felix dan keluarganya ini membuat Olivia dan Dizon sedikit heran. Sebelumnya mereka tidak mengabari. Hanya Darsh yang tahu.


"Kamu tidak mengabari Mama, Darsh?" tanya Olivia.


"Maaf, Ma. Aku hanya ingin memberikan Mama kejutan. Papa juga. Grandpa ikut ke sini," jelas Darsh pada orang tuanya.


"Feelingku tidak enak mengenai hal ini, Ma," bisik Dizon pada istrinya.


Olivia enggan menanggapi bisikan suaminya. Jelas saja dia juga kepikiran hal yang sama, tetapi Olivia berusaha berpikir positif.


"Ayo langsung masuk saja. Wah, ini Teofilo, ya? Tampan sekali kamu, Nak," ucap Olivia.


"Iya, Oma. Ini Teo," jawab Jillian.


"Baiklah, Ma. Darsh pergi ke kantor sebentar. Setelah itu menjemput anakku. Sore hari aku akan ke sini."


"Ya, Darsh. Hati-hati di jalan," balas Mamanya. "Kay, bawa barangnya masuk! Aku akan meminta pelayan membantu kalian."


"Iya, Kak. Aku dan Jillian akan membawanya sedikit demi sedikit sembari menunggu suami dan menantuku datang," jawab Kayana.


Tak lama, taksi yang membawa Felix, Justin, dan Grandpa Denzel datang. Felix sempat mampir ke toko bunga untuk membelikan buket bunga untuk kakak iparnya.


"Buket bunga untuk Aunty," ucap Justin yang menyerahkannya.


"Terima kasih. Harusnya tak perlu repot seperti ini. Ayo masuk!"


Beberapa pelayan membantunya membawa beberapa koper dan ransel. Tak lama, kini semuanya sudah bersantai di ruang tengah. Dizon mendekati papanya kemudian memeluk pria tua itu.


"Papa sehat?" tanya Dizon.


Denzel cukup diam saja. Semenjak sakit, beberapa inderanya tidak berfungsi dengan baik. Maklum, sudah sangat tua sekali.


"Papa memintanya, Kak. Dia ingin berkunjung ke sini sudah sejak lama, tetapi kemarin benar-benar memaksa," ucap Felix.


"Ya, tak masalah, Felix. Kesehatan Papa bagaimana?"


"Sejauh ini, kesehatan Papa membaik. Aku juga meminta dokter untuk mengeceknya apakah diizinkan untuk naik pesawat atau tidak. Beruntung, Papa masih diizinkan."


Dizon merasa ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Mengingat beberapa tahun yang lalu, mamanya datang untuk memberikan permintaan terakhir.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bawa Papa ke kamar untuk beristirahat," ajak Dizon.


Beberapa dari mereka berada di dapur untuk menyiapkan makan siang. Sementara Teofilo sedang bermain dengan daddynya.


"Teo suka berada di sini?" tanya Justin.


Entah apa yang ada dalam pikiran balita itu sehingga dia hanya mengangguk saja.


***


Di sisi lain, Darsh yang sudah mampir ke kantornya kini beralih ke sekolah kedua anaknya. Tak lama, Willy dan Welenora sudah masuk ke mobil.


"Sayang, Teo sudah datang," ucap Darsh. "Kita pulang ke rumah dulu, baru ke tempat grandpa dan grandma."


Tak ada jawaban. Mungkin mereka sedang malas untuk membalas ucapan papanya. Cuma Willy saja yang selalu terlihat semringah di setiap harinya.


Sesampainya mereka di rumah, Glenda menyambutnya. Dia membawakan kedua tas anak-anaknya kemudian meminta mereka untuk masuk ke kamar dan bersiap.


"Ganti baju dulu, ya." Glenda tak khawatir karena kedua anaknya akan dibantu oleh Governess untuk melakukan segalanya.


"Sayang, bersiaplah. Kita akan pergi ke rumah Mama. Oh ya, jangan lupa kabari mom dan dad. Besok harus ke rumah. Ada acara penting."


"Baik, Sayang."


"Welenora mau ikut juga kan ke rumah grandma?" tanya Glenda.


Tak ada jawaban. Sepertinya dia malas sekali untuk pergi ke sana. Apalagi dia mendengar kalau Teofilo datang.


Seusai makan siang, mereka bersiap menuju rumah grandma. Tak banyak barang yang dibawa karena sebagian kecil barang-barang si kembar berada di sana.


***


Turun dari mobil, kedua anak kembar ini langsung disambut saudaranya, Teofilo. Willy nampaknya senang sekali, sementara Welenora lebih memilih mengikuti grandmanya.


"Welenora tidak bermain dengan Teo dan Willy?" tanya Olivia.


Welenora hanya menggeleng. Dia lebih memilih untuk bermain sendiri dengan dunianya.


Padahal Teo ingin sekali bermain bersama saudara-saudaranya. Sehingga menyebabkan balita kecil itu mendekati Welenora, tetapi gadis kecil itu selalu menghindar.

__ADS_1


"Hai, Welenora. Kamu cantik sekali, Nak," ucap Jillian yang sangat gemas dengan gadis kecil itu. "Duh, rasanya aku ingin Teofilo memiliki adik perempuan."


"Ya, langsung proses produksi saja, Jill. Kan suami juga ada," sahut Darsh.


"Jangan jadi provokator, Darsh! Aku masih tidak tega karena kelahiran Teofilo yang membuat aku setres," jawab Justin. Bagaimana tidak, sang istri mendadak kasar karena menjambak dan mencakar dirinya ketika proses kelahiran bayi Teofilo. Walaupun Teofilo dilahirkan secara normal, tetapi Jillian sempat di induksi. Itulah sebabnya yang membuat Justin ngeri-ngeri sedap kalau ingin memiliki anak lagi.


"Terserahlah. Aku hanya membaca keinginan Jillian saja."


"Lupakan Jillian! Apakah kamu serius akan mengundang sahabat kita?" tanya Justin serius.


"Kamu pikir aku bercanda? Aku bahkan sudah mengundang fotografer untuk membuat kenangan tentang kita, Justin. Kamu tahu kan, setiap pertemuan pasti ada perpisahan?"


Kedua sahabat ini sedang bercengkrama mengingat persahabatannya yang tak pernah putus. Walaupun beberapa masalah sempat menghampiri, namun itu semua tak mengurangi persahabatan mereka.


"Ya, kamu benar, Darsh. Beberapa tahun kita selalu bersama membangun cerita indah. Terkadang ada hal kecil yang membuat persahabatan kita renggang, tetapi persahabatan ini jauh lebih indah daripada apapun. Kurasa aku beruntung memiliki sahabat seperti kalian," ucap Justin. Walaupun dia terpisah tempat yang berbeda, tetapi semua sahabatnya masih menganggap dirinya ada. Bahkan, kesibukannya yang membuat Justin jarang berkomunikasi tetap menjadi prioritas mereka semua.


"Kalian jangan berdua saja dong. Ayo ke ruang tengah untuk membicarakan rencana esok hari," ajak Olivia.


Darsh dan Justin berjalan beriringan. Dari persahabatan kemudian menjadi keluarga besarnya. Rasanya seperti bermimpi bahwa baru kemarin mereka menjalin persahabatan.


"Jadi, bagaimana rencanamu besok, Darsh?" tanya Dizon.


"Aku sudah mengundang Owen, Frey, dan Max beserta istrinya. Aku juga sudah mengundang mertuaku. Mumpung kita semua berkumpul di sini, aku juga mengundang fotografer untuk mengabadikan keluarga kita. Kebetulan ada Grandpa juga, kan," ucap Darsh.


"Wow, ini keren sekali. Rasanya seperti reuni yang tiada henti," sahut Jillian.


"Kamu sudah tidak takut lagi dengan Max kan, Sayang?" tanya Justin.


"Tidak, Sayang. Kurasa Max sudah jinak. Bukankah dia sudah memiliki istri?" tanya Jillian.


"Ya, dia menikah dengan Helga. Kurasa Justin sudah tahu itu," sahut Darsh.


"Sudah-sudah, kembali ke topik. Besok pagi siapkan sarapan pagi dan beberapa menu makanan penutup. Jangan lupa siapkan makanan untuk anak-anak juga," jelas Dizon.


"Ya, Pa. Aku, Kayana, Jillian, dan Glenda akan menyiapkan sesuai keinginan Papa. Oh ya, jangan lupa siapkan pakaian yang bagus untuk acara besok," ucap Olivia.


"Oh ya ampun, Ma. Kenapa kita tidak terpikirkan ke sana, ya?" sahut Glenda.


"Baiklah, Aunty. Hari ini kita siapkan segalanya untuk hari esok. Benar begitu kan, Mom," ucap Jillian.

__ADS_1


"Ya, kamu benar, Jill. Mom dan Dad juga akan membantu menyiapkan segalanya. Kami ingin hari esok benar-benar menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan," ucap Kayana.


Hari ini semua orang benar-benar sibuk. Selain pergi berbelanja bahan makanan, mereka juga mampir ke butik untuk membeli baju yang akan digunakan untuk esok. Sungguh kedatangan mereka disibukkan dengan acara mendadak seperti ini. Setidaknya acara hari esok harus berjalan dengan lancar sesuai rencana.


__ADS_2