Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Dilema


__ADS_3

Obrolan keluarga telah berakhir. Kesepakatan antara Dizon dan Felix akan diputuskan kemudian. Semua orang disibukkan persiapan kembalinya ke rumah keluarga Damarion, kecuali Jillian.


Olivia dan Dizon sedang berada di kamarnya. Mengenai oleh-oleh untuk keluarganya, Olivia sudah menyiapkannya sejak awal.


"Pa, apa kamu yakin akan menikahkan Darsh di usianya yang masih muda?" tanya Olivia. Sebagai Mamanya sebenarnya Olivia tidak setuju, tetapi mengingat permintaan mertuanya, dia akhirnya ikut berpikir.


"Aku sebenarnya ragu. Mana mungkin Darsh mau menikah sekarang. Kalau aku serahkan pada Felix, Jillian belum selesai kuliah. Aku dilema, Ma," jawab Dizon. Dia memijit pelipisnya yang mulai pusing itu.


Sama dengan Olivia. Walaupun Darsh sudah lulus dan sekarang mulai menjabat CEO, usianya masih terlalu muda. Dia belum rela melepaskan anak tunggalnya itu untuk menikah.


"Aku tidak yakin kalau Darsh itu siap, Pa. Terlalu muda sekali. Setidaknya aku baru memikirkan jodoh Darsh nanti kalau usianya menginjak tiga puluh tahun. Masih perlu waktu delapan tahun lagi, Pa."


Ucapan istrinya benar. Kali ini dia sepemikiran dengannya.


"Kalau Jillian yang menikah, menurutmu bagaimana?"


"Aku sebenarnya kasihan sama gadis itu, Pa. Namun, aku teringat pada Kayana. Dia dulu menikah di usia yang sangat muda. Istrinya Sean juga masih muda, tetapi mereka sudah siap menjalani kehidupan rumah tangganya. Menurutku Jillian lebih tepat."


Dizon tidak bisa memutuskan apapun sebelum menemukan kesepakatan dengan Felix. Dia juga belum berani mengiyakan saran istrinya.


Olivia berdiri. Dia berniat untuk menemui Kayana. Dia akan berbicara dari hati ke hati sebagai seorang mama.


"Kamu mau ke mana, Ma?"


"Aku mau menemui Kayana dulu sebelum dia kembali. Aku akan berbicara padanya. Dia pasti bisa mengerti," jawab Olivia.


Dizon tidak bisa mencegahnya. Setidaknya akan ada orang yang membantunya lepas dari kebingungan ini. Olivia pasti bisa meyakinkan iparnya dengan baik. Nasib Darsh kali ini berada di tangannya.


Olivia yang sudah sampai di depan kamar Kayana berusaha mengetuk pintu.


Tok tok tok.


Ceklek! Kayana membuka pintunya.


"Boleh aku masuk dan berbicara sebentar?" tanya Olivia.

__ADS_1


"Silakan, Kak."


Olivia melihat Felix tidak berada di kamarnya. Ini kesempatan bagus untuknya.


"Ehm, Felix mana?" Olivia tidak yakin kalau pria itu berada di luar. Apalagi beberapa jam lagi mereka akan berangkat menuju Bandara.


"Ada di kamar mandi, Kak. Kenapa memangnya?" balas Kayana.


"Aku akan menunggunya. Aku ada perlu dengan kalian berdua."


Tak lama, Felix kebetulan langsung keluar. Dia telah bersiap untuk kembali pulang.


"Eh, ada Kak Oliv. Ada apa, Kak?" sapa Felix.


"Begini, Felix. Aku yakin tidak hanya kamu ataupun suamiku pasti merasa di posisi yang salah. Ini mengenai permintaan mama mertua sore tadi. Aku juga langsung memikirkan Darsh."


"Iya, Kak. Lalu?" balas Felix.


Kayana diam dan berusaha mencerna ucapan kakak iparnya itu.


"Soal itu, aku juga bingung, Kak. Jillian belum lulus kuliah. Apa iya, tiba-tiba aku menikahkan putriku yang masih sangat muda itu?" ucap Felix.


"Kalau untuk Jillian, usia sepertinya tidak terlalu masalah, Felix. Bukankah Kayana dulu menikah di usia yang masih sangat muda?"


"Iya, Kak Oliv. Jillian ini berbeda. Bahkan untuk mengenal lelaki saja dia belum pernah sama sekali. Bagaimana jadinya kalau dia langsung menikah?" ucap Kayana.


Bayangan ketiga orang itu berkelana kemana-mana. Menyetujui permintaan terakhir Grandma Carlotta sama saja menjerumuskan salah satu cucu Damarion untuk menikah muda.


"Kalau begitu, pikirkanlah ucapanku. Untuk Jillian, aku minta tolong sama kalian. Persiapkan dirinya. Sewaktu-waktu dia harus siap menikah. Kalau Darsh, jelas dia menolak. Dia persis seperti papanya. Kalau bukan kemauannya sendiri, mana bisa seperti itu."


Kini tidak hanya Felix dan Dizon saja yang dilema, tetapi semua istri mereka juga. Felix sebenarnya setuju dengan usul kakak iparnya, tetapi dia belum tahu lelaki mana yang akan dipilihnya. Yang pasti, Felix butuh sosok lelaki yang lebih dewasa dan mapan.


"Akan kupikirkan lagi usul Kak Oliv. Mengenai Jillian, kalau misalnya dia mau, adakah calon yang cocok untuknya?"


Olivia tahu kalau sahabatnya Darsh itu banyak. Namun, ada satu lelaki yang menurutnya cocok untuk Jillian. Dia dewasa dan sudah mapan.

__ADS_1


"Ada, Felix. Sahabat Darsh ada empat orang, tetapi salah satu dari mereka sudah dewasa. Maksudku, usianya sudah lebih dari dua puluh lima tahun. Nanti coba kamu tanyakan pada Darsh. Dia hafal betul semua sahabatnya. Oh ya, apa kamu yakin untuk balik malam ini?"


Awalnya Felix yakin untuk pulang malam ini, tetapi mengenai usulan Kakak iparnya membuatnya kepikiran. Dia harus mencarikan pasangan yang cocok untuk Jillian dan siap menikah dengannya.


"Dad, apa kamu yakin akan menjodohkan Jillian dengan lelaki itu?" tanya Kayana.


Felix tidak yakin. Dia harus secepatnya menemui Darsh dan memutuskan secepatnya untuk memenuhi permintaan mamanya. Sebelum pergi, Felix akan menemui Darsh terlebih dahulu. Ini mengenai keputusan yang akan dibuat Felix untuk putrinya.


"Mom, aku tinggalkan kalian sebentar, ya. Aku mau menemui Darsh dulu," pamitnya.


"Iya, Dad. Pergilah! Aku akan mengobrol dengan Kak Olivia."


Setelah kepergian suaminya, Kayana ingin berbincang sebentar.


"Kak, aku ragu mengenai permintaan mama. Apa kita akan mengorbankan salah satu dari keturunan kita?" Naluri seorang mama tidak pernah salah. Dia takut kalau putrinya akan menolak pernikahan mendadak ini. Apalagi ada unsur perjodohan. Jelas Jillian menolaknya.


"Aku juga tidak yakin, Kay. Darsh masih muda. Dia sebenarnya suka sama seorang gadis, tetapi aku yakin kalau gadis itu juga masih muda," jawab Olivia.


"Aku jadi bingung, Kak. Aku khawatir saja kalau tiba-tiba suamiku memutuskan secara sepihak tanpa persetujuan dari Jillian. Aku kasihan pada gadis itu. Dia pasti merasa tertekan. Dia sangat berbeda denganku dan cenderung meniru daddynya."


Wanita ini sama-sama dilema. Kalau melepas Darsh untuk menikah lebih dulu, Olivia tidak siap. Sementara untuk melepas Jillian, Kayana tidak tega. Rasanya berada di puncak gunung tertinggi dan sewaktu-waktu akan terjun bebas ke dasar jurang.


"Kak, apa tidak sebaiknya kita bicarakan dengan keluarga besar. Aku tidak tega melepas Jillian, Kak. Rasanya gadis itu belum siap," ucap Kayana sendu.


"Akupun sama denganmu, Kay. Bayangkan saja, lelaki semuda Darsh harus menikah sekarang. Apa dia sanggup hidup bersama dengan istrinya. Bisakah dia menjadi pria dewasa yang masuk ke dalam rumitnya rumah tangga itu seperti apa? Bukan sekadar main rumah-rumahan, tetapi membangun komitmen untuk berjalan bersama itu bagaimana?"


Kakak iparnya benar. Lelaki seusia Darsh itu pasti belum siap untuk membangun rumah tangga, tetapi gadis seusia Jillian bisa siap sewaktu-waktu. Usianya lumayan cukup untuk perempuan karena Kayana dulu juga menikah di usia yang seumuran dengan Jillian.


...🍇🍇🍇...


Hai hai hai Kakak Readers di mana pun berada. Emak mau rekomendasikan karya teman Emak yang keren ini. Yuk kepoin. Jangan lupa kasih bintang, favoritkan, terus baca, dan tinggalkan jejak berupa like dan komentar.


Mantan Terindah by Author rini sya


Terima kasih. Luv yu All... 😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2