
Mendekati hari H persalinannya, Glenda semakin deg-degan. Semua persiapan sudah selesai. Selain kapan waktu operasinya akan dijalani, renovasi kamar kedua bayinya juga sudah selesai. Interiornya disesuaikan dengan kedua putra dan putrinya.
Sementara Darsh lekas menyelesaikan pekerjaannya agar pada saat persalinan istrinya, dia bisa menemani di ruang operasi. Dia sudah tidak sabar untuk menantikan kelahiran dua bayinya.
"Sayang, apakah sudah kamu putuskan kedua bayi kita akan diberi nama siapa?" tanya Darsh yang baru saja duduk di meja makan.
Semenjak kehamilan Glenda semakin besar, semua pekerjaan dapur dikerjakan oleh pelayan. Dia hanya menikmati hari-harinya sebelum melahirkan.
"Hemm, aku memutuskan akan memberikan nama baby W. Menurutku itu sangat elegan sekali."
"Apakah aku boleh tahu siapa namanya?"
"Tidak! Tunggu saja beberapa minggu lagi. Kalau disebutkan sekarang malah bukan kejutan namanya. Sesuai kesepakatan, bayi laki-laki akan memakai nama Damarion dan untuk yang perempuan memakai nama Abraham."
"Baiklah." Darsh tak bisa mendebat lagi. Sudah disepakati bersama.
Menyelesaikan sarapan pagi tidak terburu-buru karena hari ini hari libur. Darsh punya banyak waktu bersama istrinya. Wanita hamil itu ingin berjalan-jalan.
"Kamu mau jalan-jalan ke mana?" tanya Darsh.
"Aku ingin duduk santai sambil menikmati makanan di Kafe milik Owen. Bukankah sudah lama kita tidak ke sana?"
Terakhir setelah kejadian baku hantam pada saat ulang tahun Max. Setelah itu mereka memiliki kesibukan masing-masing.
"Baiklah, agak siangan ya?"
"Hemm."
...🍃🍃🍃...
Duduk manis dan memesan beberapa makanan sudah diidamkan Glenda semenjak beberapa waktu yang lalu. Hari ini menjelang siang, Darsh mewujudkan keinginannya.
Suasana Kafe yang belum terlalu ramai karena mendekati jam makan siang. Jika sudah waktunya, jangan tanyakan lagi. Kafe ini akan sangat ramai. Konsep semi restoran yang sudah diusungnya membuat Owen menjadi satu-satunya pengusaha muda yang berani menggabungkan keduanya. Setiap hari Kafe selalu ramai karena beberapa pengunjung banyak yang memilih makan di tempat ini.
__ADS_1
Setelah mendapatkan tempat duduknya, Glenda lekas memesan makanan dan minuman. Dia ingin berlama-lama di sini, apalagi ini Kafe milik sahabat suaminya. Dia merasa nyaman berada di sini.
"Sayang, lihatlah! Cuma kamu wanita hamil yang duduk di sini. Selebihnya tidak ada tuh," ucap Darsh mengawali perbincangannya.
"Memangnya wanita hamil tidak boleh datang ke Kafe? Tidak ada larangannya untuk masuk, kan?" balas Glenda.
Darsh salah lagi. Niatnya bercanda malah istrinya terlihat tidak suka dengan ucapannya barusan. Namun, lelaki itu menyadarinya kalau selama ini perhatian pada istrinya tidak penuh dilakukan. Wajar saja kalau Glenda sering ngambek mendadak dan terkadang tidak mau berbicara.
Menunggu pesanannya yang belum datang, rupanya Owen menghampirinya. Ada banyak hal yang akan disampaikan lelaki itu mengenai Max. Mumpung bertemu di Kafenya, ini kesempatan bagus untuknya. Karena tidak mungkin tiba-tiba dia datang ke kantor Darsh dan mengganggu pekerjaan lelaki itu.
"Wow, kakak ipar. Ini kejutan!" seru Owen.
Owen langsung bergabung di meja Darsh dan istrinya. Tak mungkin dia bercerita sambil berdiri. Apalagi suasana Kafe mulai semakin ramai saja.
"Apa kabar, Owen?" tanya Darsh.
"Aku baik. Oh ya, sebelumnya aku minta maaf mengganggu waktunya."
"Tak masalah, Owen," sahut Glenda.
Hari libur memang seharusnya membuat pemilik Kafe itu semakin sibuk di kantornya. Rupanya kali ini tidak. Owen sengaja meninggalkan pekerjaannya demi membahas kelakuan Max pada Willow.
"Karena makanan dan minuman kalian sudah datang, aku hanya akan bercerita sambil melihat kalian berdua makan. Ini masalah penting. Apakah akan mengganggu kalian?"
"Tidak, katakan saja!"
Glenda dan Darsh menikmati makanan dan minumannya, sementara Owen mulai bercerita. Awalnya agak terkejut, tetapi Darsh tidak akan berkomentar sebelum semua cerita Owen selesai.
Mendengar cerita dari awal sampai akhir, Darsh semakin geram pada tingkah sahabatnya itu. Beberapa gadis seperti dibuat mainan olehnya. Untung saja Jillian tidak menerima lelaki gila itu. Jika sampai itu terjadi, Jillian akan menjadi gadis yang paling menyesal di muka bumi ini.
"Lalu, di mana Willow sekarang?" Walaupun bukan keluarganya, namun mendengar ceritanya yang sangat menyedihkan itu membuat Darsh tidak tega.
"Ada di apartemenku. Dia kupekerjakan di sana. Awalnya kupikir akan memintamu lowongan kerja untuknya. Setelah kupikir lagi, itu tidak akan mungkin jika Willow masih berada di luaran. Bisa saja dia bertemu Max lagi."
__ADS_1
Sesaat Darsh berusaha mencerna ucapan sahabatnya. Di sisi lain, ada yang sedang dipikirkan Darsh. Sepertinya dia berhasil menyimpulkan sesuatu mengenai masalah ini.
"Owen, apa kamu menyukainya?" tanya Darsh spontan.
Suka? Mana mungkin aku menyukainya. Aku hanya kasihan pada gadis itu. Kehidupannya sangat menyedihkan.
"Tidak. Aku hanya kasihan padanya. Dia sangat menderita di dalam kehidupannya."
"Tapi, kamu tidak keberatan kan untuk menampungnya?" sahut Glenda.
Mendengar seluruh ceritanya, dia sangat beruntung memiliki orang tua yang utuh dan baik. Dia juga memiliki suami yang bertanggung jawab, walaupun kadang tidak sesuai dengan harapan.
"Tidak, kakak ipar. Biarkan dia bekerja di tempatku. Lagi pula, di tempat asalnya pun tidak aman. Sungguh kasihan sekali."
"He em. Aku setuju kalau pemikiranmu seperti itu. Oh ya, katamu Willow sebenarnya sangat cantik, namun karena luka yang dideritanya membuat kecantikannya memudar. Bagaimana kalau selain kamu mempekerjakan dia, kamu bisa memberikan beberapa perawatan untuk mengembalikan kecantikannya? Siapa tahu lambat laun kalian saling cinta. Tak ada salahnya, kan?" jelas Glenda. Seandainya dia berada di posisi Willow, belum tentu Glenda bisa sekuat dirinya.
Tak hanya Darsh, Owen pun menatap tak percaya usul dari Glenda. Owen belum memikirkan ke arah sana, namun mengingat usia gadis itu sudah cukup lumayan, Owen tidak tega juga.
"Saranmu ini apa tidak terlalu berlebihan, Sayang?" tegur Darsh.
"Tentu saja tidak. Bukankah Owen single? Lalu, apa salahnya dia mencoba menjalin hubungan. Dia sebenarnya gadis yang baik, bukan? Hanya saja karena suatu hal, dia menjadi seperti itu."
Sepertinya Owen mulai mencerna ucapan Glenda. Ingatannya kembali pada Helga. Gadis penggoda yang sempat masuk ke lubuk hatinya yang paling dalam. Bahkan, Owen rela menerima apapun kondisi gadis itu asalkan bisa berubah menjadi lebih baik. Sementara Willow, gadis ini rusak bukan karena keinginannya, tetapi karena keterpaksaan. Jelas akan lebih mudah dikendalikan daripada Helga.
"Apakah kamu akan mendukungku, Darsh? Maksudku, seperti yang kakak ipar katakan."
Sepertinya Darsh tidak bisa menolaknya. Kebebasan Willow dari Max jauh lebih penting. Mungkin juga garis takdir sedang berpihak pada Owen.
"Aku setuju saja. Mengenai Max, kalau aku bertemu padanya, aku akan berbicara dengannya. Namun, untuk beberapa minggu ke depan, aku masih fokus pada istriku yang akan melahirkan," jelas Darsh. Dia menggandeng erat tangan istrinya. Darsh ingin menunjukkan bahwa dia sangat peduli pada Glenda, istrinya.
...🍃🍃🍃...
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren ini. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya 💟💟💟 Terima kasih.
__ADS_1