
Hari ini, Darsh mulai masuk ke kantor. Di meja makan, Mama dan Papanya sudah menunggu. Darsh terlihat sangat rapi dengan jas kerjanya yang melekat pas di tubuhnya.
"Sudah siap, Darsh?" tanya Olivia.
"Iya, Ma. Seperti yang Papa minta. Aku akan bekerja dengan baik untuk kemajuan DD Corporation."
"Good job! Itu baru anak Papa," ucap Dizon bangga.
"Iya, dong. Sebentar lagi punya tanggung jawab anak orang. Kalau tidak bekerja dengan baik, mau dikasih makan apa?" canda Olivia.
"Hemm, Mama bisa saja," balas Darsh.
Mereka memulai sarapan paginya dengan suasana yang sangat tenang. Menikmati masakan Olivia yang rasanya lumayan enak itu membuat Dizon dan Darsh lebih suka makan di rumah, tetapi kalau sudah menyangkut kantor, Dizon selalu makan siang di restoran yang tidak jauh dari kantornya.
Setelah sarapan, dia berpamitan pada mama dan papanya. Dizon sengaja melepas putranya seorang diri. Pria paruh baya itu harus tega supaya Darsh bisa mandiri.
"Ma, Pa, Darsh berangkat ke kantor dulu," pamitnya.
"Hati-hati, Darsh. Oh ya, semua berkas meeting ada di meja Papa. Kamu pelajari dulu, jika sudah paham maksudnya, segera atur jadwal meeting dengan asistenmu dan beberapa staf yang lainnya."
Rasanya berat memang. Papanya langsung memberikan pekerjaan itu kepadanya. Mau bagaimana lagi, Darsh memang anak tunggal dan harus siap menggantikan posisi papanya sebagai CEO DD Corporation.
"Siap, Pa. Aku juga sudah mengabari Frey untuk masuk ke kantor hari ini."
"Bagus, Darsh. Harus kompak ya. Ingat, apapun masalahnya, selesaikan bersama-sama," pesan Olivia.
"Iya, Ma. Harus seperti itu."
"Darsh, mau disiapkan bekal untuk makan siang?" tanya Olivia.
"Tidak usah, Ma. Nanti aku dan Frey makan di restoran dekat kantor saja," ucapnya.
Darsh bergegas menuju ke Garasi untuk mengambil mobilnya yang pantas untuk dibawa ke kantornya.
...***...
Kantor DD Corporation mendadak heboh karena kedatangan Darsh Damarion, CEO barunya. Sementara asistennya, Frey Matteo juga terlihat keren di mata semua karyawan. Selain keduanya masih muda, pemandangan baru jauh terlihat lebih menarik daripada memandang Dizon Damarion yang sudah mendekati usia pensiun itu.
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan. Selamat datang di DD Corporation," ucap salah seorang karyawan yang memberikan penyambutan.
"Terima kasih. Semoga kalian betah bekerja sama denganku," ucap Darsh.
Beberapa karyawan DD Corporation menggerutu karena ketampanan CEO barunya. Mereka tidak bisa mengalihkan pandangannya pada lelaki itu beserta asistennya.
Tentu saja mereka bakal betah. Darsh paket sempurna versi lelaki. Walaupun Frey juga sangat tampan, tetapi bonusnya Darsh itu sikap dingin seperti es yang menarik untuk mereka kejar. Tak mudah menaklukkan lelaki itu.
"Frey, kita langsung masuk ke ruangan papa, ya," ajak Darsh.
"Baik, Bos," jawab Frey.
Darsh langsung masuk ke ruangan papanya. Frey mengekor dibelakang atasannya itu. Setelah Darsh duduk di meja kerjanya, lelaki muda itu meminta asistennya untuk mempelajari berkas di meja papanya.
"Frey, kamu pelajari berkas ini. Sementara aku harus menyelesaikan beberapa berkas di meja ini," ucap Darsh.
Tumpukan berkas di meja papanya seolah sudah disiapkan untuk pekerjaannya hari ini. Tidak banyak, tetapi cukup menyita waktunya.
Frey menerima berkas itu dan langsung membukanya. Cukup mudah untuknya karena Frey adalah mahasiswa yang cerdas. Begitu juga dengan Darsh. Tak salah memang jika DD Corporation dipegang dua orang hebat seperti mereka.
"Panggil saja seperti biasa, Frey. Jangan kaku seperti itu."
"Itu sangat tidak nyaman. Bagaimana kalau bertemu dengan klien. Apa iya aku harus memanggilmu seperti itu?"
"Panggil namaku ketika sedang berdua saja. Jika bertemu klien, kamu bisa memanggilku Tuan Darsh. Biar sedikit terlihat keren," canda Darsh.
"Baiklah, Darsh. Terima kasih untuk sarannya. Mari kita mulai diskusi proyek A di negara K."
Butuh waktu sepuluh menit untuk membaca berkas penting itu. Barulah keduanya berdiskusi untuk menyelesaikan masalahnya. Cukup lumayan untuk mendiskusikan satu proyek besar yang akan dikerjakan perusahaannya. Tak lama, mereka terdiam sesaat.
"Bagaimana, Frey? Rumitkah menurutmu harus mengerjakan berkas seperti ini?"
"Tidak, Darsh. Ini cukup mudah untuk kita. Hanya tinggal membiasakan diri saja."
"Baguslah kalau begitu. Semoga kita bisa terus bekerja sama dengan baik," balas Darsh.
Darsh terlihat lain dari biasanya. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Frey. Lebih banyak diam dan melamun.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Darsh?" selidik Frey.
"Ehm, aku baik-baik saja, Frey. Apa aku terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu?" Kenyataannya, pikiran Darsh memang sedang memikirkan Glenda dan tentang pertunangannya beberapa hari lagi.
Frey cukup mengangguk. Itu jawaban yang tepat untuk bosnya.
"Aku akan bertunangan beberapa hari lagi. Tolong rahasiakan ini dulu. Aku tidak mau semua sahabatku tahu sebelum hari pernikahan kami. Kamu tahu sendirilah, bagaimana ketiga gadis penggoda itu gencar mengejarku. Kalau sampai mereka tahu, aku hanya khawatir kalau mereka akan mengacaukan rencananya."
Deg!
Ini seperti sebuah kejutan untuk Frey. Setelah mendengar kabar perjodohan dari Jillian, sekarang dia mengetahui kabar kalau sahabatnya akan beetunangan. Rasanya waktu berjalan sangat cepat atau Frey yang terkesan lambat.
Ucapan Darsh benar. Apalagi Max tipe lelaki yang gampang ngomong ke sana ke mari. Akan sangat bahaya kalau kenyataannya tiga gadis penggoda itu akan semakin menggila. Mereka pasti kecewa mendapati kabar kalau idolanya akan menikah.
"Boleh tahu siapa gadis beruntung itu?" selidik Frey. Dia sahabatnya, tetapi mengenai hal itu tidak tahu sama sekali.
Aku yang sangat beruntung, Frey. Gadis itu ternyata bukan gadis biasa. Kupikir dia adalah karyawan restoran dan berasal dari orang biasa. Ternyata aku salah. Dia berasal dari keluarga kaya raya.
Darsh berpikir jika sahabatnya yang lain belum boleh tahu, Frey juga tidak akan tahu. Dia harus merahasiakan ini semua sampai setelah pernikahannya selesai diselenggarakan.
"Tidak untuk sekarang, Frey. Secepatnya kalian akan tahu siapa calon istriku hanya pada saat kami sudah resmi menikah. Aku rasa itu cukup adil untukku, kan? Bagaimana kamu tahu gencarnya Aimee, Helga, dan Clianta. Jujur, aku tidak mau menyakiti hati calon istriku dengan kesalah pahaman yang tidak pernah aku buat dan selalu kuhindari."
Frey bisa menerimanya. Memang itu yang terbaik untuk Darsh. Bosnya itu juga butuh privasi supaya orang lain tidak pernah tahu bagaimana kehidupan pribadinya.
"Iya, aku akan merahasiakannya. Aku turut bahagia mendengarnya. Hanya saja, terlihat lucu seorang gadis akhirnya mau denganmu. Tentunya gadis itu sangat beruntung mendapatkanmu. Apa kita mengenalnya?"
Frey belum puas dengan jawaban Darsh. Dia berusaha memancing Darsh untuk mendapatkan titik terangnya. Namun, lelaki itu tetap pada pendiriannya untuk tetap merahasiakan calon istrinya.
...🥀🥀🥀...
Halo kakak readers. Emak hadir lagi merekomendasikan karya tamat milik teman Emak. Cus bisa baca marathon....Jangan lupa favorit, like, dan tinggalkan jejak komentar.
Rafa Dan Fatar by Author Libra
Terima kasih. Miss You All 😍😍😍🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1