Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Titik Terang


__ADS_3

Willow tertawa, tetapi dia membiarkan tawanya itu cukup didengar oleh Darsh dan dirinya saja.


"Sudah kubilang kan bahwa aku menginginkanmu."


"Kau wanita gila!"


"Iya, memang aku gila. Apa kamu tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan orang tuamu terhadapku, hah?" bentak Willow. Dia seperti menjadi orang yang lain.


"Apa maksudmu?"


"Mamaku harus menjadi penghuni rumah sakit jiwa itu karena siapa? Karena kalian, kan?" Willow menuding Darsh.


Deg!


"Jadi, sebenarnya mamamu masih hidup?" Darsh lelaki. Dia tidak boleh takut atau ragu hanya menghadapi Willow seorang diri saja.


"Ck, apa pedulimu? Apakah jika aku mengatakan kalau mamaku masih hidup, kamu mau melepaskan istrimu, hah?"


Darsh tidak habis pikir. Dia harus menghadapi wanita gila ini. Apakah papanya mempunyai masa lalu yang kelam terhadap orang tuanya?


Pertengkaran terhenti ketika Olivia kembali masuk ke ruangan itu membawa sebuah nampan yang berisi makanan yang dibawanya tadi. Ketukan pintu lah yang membuat keduanya mengakhiri pertengkaran sesaat itu.


"Eh, kenapa kalian berdua diam saja? Bantu Mama dong!"


Willow mendekati Olivia untuk mengambil nampan itu kemudian dibawanya ke sofa dan diletakkan di atas meja.


"Darsh, mumpung ada Willow, ayo kita makan bareng!" ajak Olivia.


Deg!


Rasanya ingin membelah lautan agar airnya membanjiri seluruh ruangannya saat ini. Sebenarnya dia enggan untuk makan bersama Willow, tetapi demi menghindari kecurigaan mamanya, Darsh tetap melakukannya.


"Ma, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang tiada terhingga untukku. Ma, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Willow disela-sela makan siangnya.


"Hemm, katakan saja!" jawab Olivia.


"Seandainya Mama belum punya menantu, apakah Mama mau memilihku dan menjadikan aku sebagai istrinya Darsh?"


Deg!


Darsh tidak merespon apapun. Ini benar-benar nyata bahwa Willow sangat terobsesi pada dirinya. Bukankah dia juga tahu kalau sekarang dia sudah beristri dan memiliki anak? Bisa-bisanya dia berkata seperti itu.


"Mama tidak bisa menjawabnya, Willow. Mama rasa, Darsh bebas menentukan dengan siapa dia akan menikah. Maka tidak akan memaksakan kehendak kalau memang putra Mama itu tidak menyukainya."


Mendengar jawaban mamanya, Darsh rasanya sangat puas sekali. Walaupun bukan pembelaan secara langsung, tetapi mamanya selalu mendukung semua pilihannya.


"Kenapa begitu, Ma?" protes Willow seakan dia tidak terima jawaban wanita paruh baya itu.


...*****...

__ADS_1


Di rumah tahanan, seorang perempuan muda sedang menjenguk Max. Perempuan itu ingin berbincang secara langsung.


"Kamu datang?" tanya Max seolah tidak percaya.


"Iya, aku ingin berpamitan denganmu. Aku akan pergi ke negara tempat tinggal wanita ular itu. Apa kamu tidak apa-apa kalau kutinggal sendirian?"


"Livia, aku bisa jaga diri. Justru aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Max, aku dan Helga bersahabat dengan baik. Kurasa kamu tidak perlu khawatir. Dia juga akan baik-baik saja."


"Terima kasih, Livia. Tetap jaga dia untukku. Kita harus membuktikan bahwa wanita ular itu memang salah."


"Kamu jangan khawatir. Aku sudah resign dari Kafe tempatku bekerja. Kurasa aku cukup uang untuk menyusul Helga."


"Pergilah! Aku merindukan Helga. Sampaikan permohonan maafku padanya."


"Tentu, Max. Jaga dirimu baik-baik, ya."


...*****...


Sore hari di rumah mertuanya, Darsh mulai menemukan titik terang. Orang suruhannya menemukan sedikit kebenaran. Pria itu mengirimkan gambar seorang pria paruh baya yang sedang duduk di Club malam dengan gadis-gadis sewaannya. Sudah dipastikan bahwa pria itu adalah Juvenal. Vigor juga mengenalinya.


"Katanya bangkrut? Kenapa pria ini masih ada di Club malam?" Komentar Vigor tak bisa ditahan.


"Entahlah, Dad."


Gambar selanjutnya adalah rumah sakit jiwa.


Kebetulan di ruang kerja itu hanya ada Darsh dan Vigor, mertuanya. Dia tidak ingin kalau istrinya terkejut dengan fakta yang didapatkan.


Maaf, Bos. Rupanya yang ada di rumah sakit jiwa ini adalah mamanya Willow, Diana. Menurut informasi yang di dapat, dia berada di sana sekitar 5 tahun yang lalu.


Deg!


"Lalu, siapa wanita yang sedang video call dengan mama dan papa kala itu?" tanya Darsh.


Belum sempat Darsh mengirimkan pesan, orang suruhannya sudah mengirimkan pesan lagi.


Wanita yang tempo hari dinyatakan meninggal di rumah sakit adalah saudara kandung Diana. Wanita itu ada hubungan khusus dengan Juvenal.


Glek!


Rumit sekali keluarganya.


"Ini sangat rumit, Darsh. Bagaimana mungkin Willow dendam pada kita kalau tidak ada yang mengendalikan?"


"Maksud Daddy?"


"Apakah maksud Daddy, ada kemungkinan Juvenal ikut terlibat?"

__ADS_1


"Kau lihat, bukan? Kehidupan Juvenal terlihat mewah. Dia selalu berfoya-foya dengan para gadis Club. Kalau dia tidak memiliki uang, bagaimana bisa dia seperti itu?"


Ucapan daddy mertuanya benar. Namun, kalaupun Willow mengincar harta, harusnya dia bisa meminta langsung pada kakak iparnya, Sean. Yang kekayaannya masih sangat banyak itu. Bahkan tidak akan habis untuk beberapa puluh tahun ke depan.


"Tapi, mengapa harus mengincar keluarga kami, Dad?"


"Itulah yang harus kita selidiki sekarang. Setidaknya kamu sudah tahu kan kalau kedua orang tuanya masih ada. Dia pandai sekali mengelabui orang tuamu."


Walaupun sudah mendapatkan sedikit titik terang, tetapi masih banyak teka-teki lain yang masih sulit untuk disimpulkan. Namun, Darsh hampir melupakan sesuatu kalau Willow-lah yang menjadikan drama di apartemen Owen itu sehingga Max dipenjara.


"Dad, bagaimana sikap mamanya di masa lalu?" Darsh harus memulainya dari sini.


Vigor menceritakan kisah rumit antara Diana, Sean, dan Dizon. Sampai pada akhirnya mereka mendapati kenyataan kalau Willow adalah anak Juvenal. Sungguh rumit sampai Dizon dan Sean selalu berselisih paham.


"Jadi, papaku pernah menjalin hubungan dengan mamanya?"


"Ya, seperti yang Daddy ceritakan barusan."


Darsh memijit pelipisnya. Dia semakin pusing. Bagaimana harus memecahkan masalah ini dan membuat kehidupannya kembali tenang seperti sebelumnya.


Vigor menepuk pundak menantunya untuk memberikan semangat. Tak ada gunanya untuk terus pusing memikirkan. Yang seharusnya dilakukan saat ini adalah menjaga keutuhan keluarganya dari orang luar.


"Semua akan kembali seperti semula kalau kita bersatu. Jangan sampai kita terpecah belah hanya karena seorang Willow. Percayalah, kamu tidak akan sendirian menghadapinya.


"Itu yang dilakukan Willow pada sahabatku, Dad. Dia membuat Max dipenjara dan Helga hilang entah ke mana."


"Siapa Helga?" tanya Vigor.


"Dia teman dekat Max, Dad. Kurasa dia juga tahu segalanya."


Darsh membuka lagi ponselnya. Dia melihat dengan seksama wajah Juvenal yang yang terlihat tidak terbebani ketika berada di Club malam.


Pandangannya kemudian beralih menatap daddy mertuanya yang sedang berpikir. Walaupun sebagai mertua, tetapi di masa lalunya Vigor pernah tahu dan terlibat jelas dengan Diana, mantan istri kakak iparnya.


Darsh kembali lagi menatap foto di ponselnya. Selain memandang dengan seksama wajah Juvenal, kemudian perhatiannya tertuju pada salah satu wanita yang seolah tidak asing baginya.


Tunggu! Aku sangat tidak asing dengan wanita Club ini. Tapi, siapa? Batin Darsh.


Pandangannya terfokus pada wanita itu. Dan, ....


"Dad, aku mengenal salah satu wanita ini."


"Benarkah?"


"Ya, aku sangat mengenalnya, Dad."


Darsh nampak antusias kali ini. Perjuangannya tidak akan sia-sia. Karena bukan dia saja yang sedang berjuang, tetapi wanita yang ada di foto ini.


...💦💦💦...

__ADS_1


Yuk mampir rekomendasi keren berikut ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya



__ADS_2