
Selesai makan siang yang hampir kesorean karena terlalu asyik mengobrol, mereka akhirnya pamit pulang. Sebenarnya mereka masih betah berada di sana, tetapi karena Jillian lebih memilih masuk ke kamarnya. Tak ada lagi yang menjadi daya tarik mereka.
"Darsh, kami pamit, ya. Besok siang bertemu di Restoran ZA, ya. Jangan terlambat!" pamit Justin.
"Hemm, aku pasti membawa Jillian ke sana. Jangan khawatir," ucap Darsh.
"Selamat dan sukses ya, Brother," ucap Owen.
"Terima kasih, Owen. Sukses juga buat kalian semua. Kapan-kapan kita pergi ke Club lagi, oke?" ucap Darsh.
"Kamu yakin, Darsh?" tanya Frey.
"Aku hanya ingin membuat Owen bertemu Helga. Lagi pula, aku tidak minat lagi dengannya. Oh ya, selain Helga, masih ada Aimee dan Clianta. Jangan berebut Jillian, oke?" jelas Darsh.
"Hemm, kamu tahu saja, Darsh," balas Owen.
"Owen, apa kamu tidak kecewa? Helga itu bekasku," sahut Max. Lelaki playboy yang hobinya celap-celup sana-sini itu mempertegas masa lalunya.
"Max, Helga pasti bisa berubah. Kalaupun dia tidak berubah, aku bisa mencari gadis lain lagi. Helga memang gadis seperti itu dan aku tidak mempermasalahkannya," ucap Owen. Lelaki itu benar-benar paling baik. Dia dengan tegas bisa menerima apapun keadaan Helga. Menurutnya, tidak ada manusia sempurna di dunia ini.
"Lanjutkan, Brother! Kamu lelaki istimewa," balas Darsh.
Darsh langsung mengantar mereka ke halaman. Ternyata mereka berangkat menggunakan mobil yang sama.
"Tumben kalian berangkat bersama? Kalian yakin tidak terjadi keributan?" Darsh berusaha memastikan.
"Kamu jangan khawatir, Darsh. Asistenmu aman bersama kami," ucap Max.
Mereka semua masuk ke mobil. Max yang mengemudikannya. Perlahan, mobil mulai meninggalkan halaman rumahnya. Darsh masuk lagi ke rumah untuk menemui keluarganya.
"Ma," panggil Darsh.
"Hei, sayang. Teman-temanmu sudah pergi?" tanya Olivia.
"Sudah pulang, Ma. Oh ya, Grandma jadi pulang malam ini?"
"Iya, Darsh. Sebenarnya Grandma masih betah di sini, tetapi Om-mu ada pekerjaan mendadak. Maafkan Grandma, sayang."
"Bagaimana, Darsh. Sudah siap mengemban tugas penting ini?" tanya Felix.
"Siap, Om," balas Darsh.
__ADS_1
"Bagus, Darsh. Sebentar lagi tinggal mencari calon istri," canda Kayana.
"Hemm, belum, tante. Nanti saja kalau Darsh sudah umur dua puluh lima tahun. Segera secepatnya," jawabnya.
"Jangan kelamaan. Nanti keburu tua," sindir Grandma-nya.
"Hemm, Grandma memintaku untuk menikah tahun ini?" tanya Darsh.
"Tidak juga, Darsh. Asal jangan seperti Papamu," tegas Grandma.
"Ma, aku terlambat menikah bukan karena tidak laku, tetapi Olivia baru datang di usiaku yang hampir empat puluh tahun itu," sahut Dizon.
Olivia tidak terima dikatakan seperti itu. Kesannya yang menghambat kedatangan jodoh suaminya adalah dirinya.
"Mana bisa begitu, Pa? Kita memang bertemu di usia yang tidak lagi muda. Jangan salahkan aku juga dong," protes Olivia.
"Hemm, kalian pasangan tua tidak memberikan contoh yang baik kepada anak-anakmu!" tegur Grandpa.
"Seperti kamu juga memberikan contoh yang baik saja, Grandpa," sindir Grandma.
"Ma, Pa, jangan bertengkar terus. Kalau kalian seperti ini, lihatlah Darsh. Dia pasti akan berpikir buruk bahwa pernikahan itu sangat mengerikan," tegur Felix.
"Tidak seperti itu, Felix. Pernikahan tidak semengerikan yang Darsh bayangkan. Kalau keduanya saling memahami. Kalau hanya salah satu, rasanya itu tidak adil," ucap Grandma. Dia melirik Grandpa dengan tatapan tajam.
"Darsh, Jillian mana?" tanya Kayana.
"Oh, dia bersemedi di kamarnya, Tan. Dia sedang galau."
Kayana menatap tidak percaya pada keponakannya itu. Semenjak berada di sini, anak gadisnya lebih betah berada di kamar daripada harus berkumpul bersama keluarganya.
"Anak gadis akan menjadi seperti itu pada masanya, Kay. Kamu jangan khawatir. Mama juga dulu pernah seperti itu. Biasanya sedang jatuh cinta atau mungkin mengagumi seseorang," balas Grandma.
"Iya, Ma. Aku hanya khawatir saja. Bahkan, nanti malam kita akan meninggalkannya di sini, tak nampak pun dia keluar kamar," balas Kayana.
Sesaat semuanya terdiam pada pikiran masing-masing. Darsh sebenarnya hendak masuk ke kamarnya, tetapi masih ingin mengobrol dengan keluarganya. Ini kesempatan langka bisa berkumpul dan mengobrol seperti ini.
Berbeda dengan pikiran wanita tua ini. Dia berharap di sisa umurnya bisa melihat salah satu cucunya menikah terlebih dahulu. Sebenarnya ini sedikit memaksa, tetapi Carlotta sangat ingin menyaksikan pernikahan pertama cucunya.
"Dizon, Mama sebelumnya minta maaf padamu. Mama bukannya ikut mengatur rumah tanggamu. Anggap ini permintaan terakhir Mama--"
"Ma, jangan berbicara seperti itu. Apapun akan aku turuti asal Mama tidak mengatakan hal itu lagi. Mama akan lama hidup bersama kami selamanya," ucap Dizon memohon.
__ADS_1
"Ma, katakan saja apa permintaannya?" desak Olivia.
"Mama ingin setelah ini Darsh segera mencari calon istri dan menikah dengannya," ucap Grandma.
Deg!
Jelas saja ini permintaan konyol untuk Darsh. Baru saja menjabat CEO DD Corporation dan sekarang diributkan dengan permintaan Grandmanya. Darsh harus bagaimana? Tentu dia belum siap karena usianya masih sangat muda sekali.
"Grandma, tidak adakah permintaan lain?" protes Darsh.
"Tidak ada, Darsh. Apa kamu tidak mau mewujudkannya?" tanya Grandma.
"Kalau begitu, biar Grandpa yang mencarikan calon untukmu," sahutnya.
"Tidak! Aku bisa mencarinya sendiri." Darsh tidak ingin orang lain ikut campur urusan jodohnya.
Darsh pusing. Apakah dia akan menikah di usia semuda ini? Apa yang akan dilakukannya? Mana mungkin dia langsung to the point pada Glenda untuk menikahinya? Kemungkinan dia akan menolaknya secara terang-terangan.
"Ma, Darsh masih muda. Apa Mama tidak kasihan padanya?" protes Felix.
"Felix, Mama tidak memintanya secara langsung. Cucu Mama ada dua. Salah satu dari kalian bisa menikah, aku sudah sangat senang," jawabnya.
"Ma, mereka masih terlalu muda," sahut Kayana.
"Bukankah kamu juga menikah di usia yang sangat muda, Kay. Buktinya kalian baik-baik saja," balas Grandma.
Dizon, Olivia, dan Grandpa tidak bisa berbuat apapun lagi. Mereka berada pada pikirannya masing-masing. Ada rasa dilema melepas Darsh atau Jillian menikah di usia yang masih sangat muda, tetapi permintaan mamanya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Memang jodoh mereka datang terlambat sehingga anak-anak yang masih muda telah membuat mereka tua terlebih dahulu. Permintaan Grandma Carlotta sepertinya akan dirundingkan lagi.
"Baiklah, Ma. Aku dan Felix akan berunding dulu. Siapa yang akan menikah dan akan kami putuskan seminggu setelah hari ini," ucap Dizon.
Tidak bisa dipungkiri ini pasti akan terjadi. Mama Carlotta sudah sangat baik membimbing mereka semua sampai mempunyai anak dan istri. Hanya saja, takdir menghendaki mereka menikah di usia yang lebih dari cukup untuk menikah. Masalah akan dimulai karena permintaan terakhir Grandma.
...🍓🍓🍓...
Hai Kakak Readers di manapun berada. Jangan lupa like, komentar, dan votenya.
Oh ya, Emak mau rekomendasikan karya keren yang baru netas. Yuk kepoin, masih anget nih... Jangan lupa mampir. Berikan bintang, favoritkan, like dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar.
Aku Diantara Mereka by Author Asyfa
__ADS_1
Terima kasih. Lup yu All 😍😍😍