
Glenda membuka matanya. Pandangan pertamanya jatuh pada ranjang di sebelahnya.
"Kemana perginya?" ucap Glenda. Dia tidak menyadari kalau Darsh sedari tadi mengamatinya.
"Kamu merindukanku?" tanya Darsh.
Deg!
Hah, rupanya dia berpindah tempat. Ish, kenapa pagi begini rasanya aneh diperhatikan seperti itu.
"Cepatlah bersiap! Mertuaku sudah menunggumu," ucap Darsh. Pagi ini dia sengaja menggoda istrinya. Semalam dia harus pergi ke Bandara seorang diri karena istrinya tertidur sangat lelap. Mau membangunkan pun, Darsh tidak tega.
"Darsh, kamu tidak membangunkanku?" protes Glenda. Kali ini dia sudah dalam posisi duduk, namun masih berada di ranjangnya.
Darsh menggeleng. "Kamu sangat pulas. Aku tidak tega membangunkannya. Ayo, cepatlah. Mereka pasti menunggu di ruang makan. Lihatlah, jam berapa sekarang?"
Glenda menoleh pada jam dinding. Tentu saja ini sangat terlambat. Di sana terlihat menunjukkan jam tujuh pagi. Tak menunggu lama, bergegas Glenda pergi ke kamar mandi. Sebelum mencapai pintu, Glenda mengatakan sesuatu kepada suaminya.
"Darsh, tunggu aku!"
Glenda masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan sangat cepat. Rupanya itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Darsh. Untuk pertama kalinya dia tersenyum melihat tingkah konyol istrinya, tetapi gadis itu tidak tahu sama sekali.
Tak lama, gadis itu keluar lagi dan sudah terlihat rapi. Glenda menuju ke ranjang untuk mengambil make up dan merapikan rambutnya.
"Jangan terlalu menor! Aku tidak suka," protes Darsh.
"Hemm, aku tidak pernah berdandan menor, Darsh," elaknya.
"Kata siapa? Pelayan restoran ZA? Karena make up mu yang membuatku tertarik," candanya.
"Darsh!"
Darsh tersenyum lagi. Namun, Glenda tidak menyadarinya. Dia seperti menghadapi manusia kulkas empat pintu. Betapa dinginnya Darsh. Glenda telah selesai dan merapikan alat make up-nya kembali.
"Cepatlah, kita hampir terlambat!" ucap Darsh.
Glenda terlihat cantik. Dia mengekor di belakang suaminya, tetapi lelaki itu langsung menarik tangan istrinya dan menggandengnya.
"Darsh," protes Glenda. Pasalnya dia terkejut dengan tingkah suaminya itu.
__ADS_1
"Eh, sayang. Baru bangun? Semalam suamimu yang menjemput Mommy," ucap Zelene yang kemudian berdiri dari kursi makan untuk menyambut putrinya. Wanita paruh baya itu langsung memeluknya.
Tentu saja Darsh otomatis harus melepaskan genggaman tangannya. Dia duduk di kursi makan tak jauh dari orang tuanya. Dia melirik tatapan Max dan Frey yang sangat mendominasi.
"Darsh, hari ini antarkan mertuamu ke makam grandma!" perintah Dizon.
"Baik, Pa," jawabnya.
"Ze, sarapan dulu! Nanti bisa lanjutkan lagi dengan Glenda," ucap Kayana.
"Iya, Kay. Aku masih tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu," ucap Zelene.
"Jodoh, Ze. Sejauh kita terpisah, tetap kembali lagi, bukan?" sahut Olivia.
"Sudah, lupakan dulu obrolannya, Kak. Nanti lanjut lagi. Lihatlah, semua sahabat Darsh sudah kelaparan," ucap Felix.
Meja makan terlihat sangat ramai sekali. Ada 14 orang yang sedang duduk di sana. Semua pelayan sibuk melayani majikan dan tamunya.
Mereka makan dalam diam. Sesekali saling melirik untuk sekadar mencari perhatian. Itu yang sedang dilakukan Max dan Frey pada Jillian. Sedangkan Glenda pada suaminya. Darsh sangat anteng. Dia tidak peduli lirikan istrinya walaupun menyadarinya. Glenda sampai kesal melihat tingkah suaminya yang sok tidak peduli.
"Mom, kapan kembali ke negara H?" tanya Glenda akhirnya. Dia sengaja ingin membuat suaminya kesal.
"Dad, kita pulang sama-sama, ya?" pintanya.
Vigor tentu saja menatap aneh putrinya. Pasalnya, Vigor hanya memesan tiket untuknya dan sang istri.
"Pulanglah bersama suamimu! Apartemen baru kalian sudah siap," ucap Vigor.
Deg!
Mengenai apartemen, Darsh akan mengurusnya setelah kembali ke negara H. Namun, kenapa mertuanya sudah mengatakan kalau semuanya siap?
"Maaf, Pa. Ini maksudnya bagaimana, ya? Sepulang dari sini, aku baru mengurus apartemen yang akan kubeli," jelas Darsh.
"Apartemen ini hadiah pernikahan kalian dari kami, Darsh. Sebaiknya kamu fokus saja bekerja. Mungkin kelak kalian bisa membeli rumah," ucap Zelene.
"Terima kasih, Ma," ucapnya.
Mereka melanjutkan makannya lagi sampai sebuah suara membuyarkan fokus mereka.
__ADS_1
"Darsh, aku akan kembali besok. Kapan kamu kembali?" tanya Frey. Dia sudah lebih dulu memesan tiket keberangkatannya karena mendadak orang tuanya mengabari kalau sudah di rumah.
Darsh memandang Jillian kemudian berganti menatap Max. Owen dan Justin juga saling pandang. Mendengar keputusan Frey yang mendadak itu seperti ada masalah besar yang sedang mereka hadapi.
"Kenapa kamu tidak pulang bersama kami, Frey?" selidik Darsh.
"Maaf, Darsh. Mendadak orang tuaku mengabari kalau sedang berada di rumah. Ini kesempatan langka, Darsh. Aku harus menemuinya," jelas Frey.
Jillian terdiam. Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya memandang Frey dengan tatapan kecewanya.
"Baiklah, sebelum itu, pesankan tiket pesawat untuk kami semua. Aku, istriku, mama, papa, dan sahabatku yang lainnya," perintah Darsh.
"Baiklah. Setelah sarapan pagi," jawabnya.
Setelah ini, Darsh akan pergi ke makam bersama dengan keluarganya dan mertuanya. Sedangkan Jillian, dia berniat untuk berbicara dari hati ke hati dengan Frey.
"Kak Frey, kamu bisa meminjam laptopku," ucapnya.
"Baik, Jill. Setelah sarapan, aku akan mengambilnya," jawabnya.
"Ajaklah ke dekat kolam renang, Jill. Di sana kalian bisa bersantai," ucap Felix.
"Iya, Dad."
Jillian lebih dulu meninggalkan meja makan dan mengambil laptopnya di kamar. Dia langsung membawanya ke dekat kolam renang.
"Kak Frey, aku tunggu di sana!" ucap Jillian.
Frey hanya mengangguk. Dia sempat melirik Max sejenak. Lelaki itu memandangnya dengan tatapan datar. Frey tidak mempedulikannya. Dia mengakhiri makannya lebih dulu dan segera menyusul Jillian ke dekat kolam renang.
"Jill, apa ini pilihan yang tepat?" tanya Frey.
"Maksud kakak?" Jillian menyerahkan laptopnya.
"Terima kasih. Maksudnya, hubungan kita. Kalau kamu memang lebih memilih Max, aku tidak masalah, Jill. Kamu harus tahu, aku baru saja bekerja di perusahaan Om Dizon. Sedangkan kamu sebentar lagi lulus kuliah. Aku harus lebih giat menabung lagi, Jill. Walaupun aku anak orang kaya, yang kaya kan orang tuaku, bukan aku. Sementara Max, dia sudah berbisnis sejak lama. Dia mandiri. Apapun yang ada dalam dirinya, semua wanita pasti tergila-gila padanya. Dia royal dan itu membuat nilai plus untuknya," jelas Frey yang memandangi manik mata Jillian.
"Aku belum fokus untuk ke sana, Kak Frey. Dalam jangka panjang, mungkin aku baru memutuskannya. Setelah kuliah, aku mau terjun ke perusahaan daddyku dulu. Baru setelah itu, kalau kita berjodoh, pasti bertemu lagi. Jika tidak, aku minta maaf padamu, Kak Frey. Aku juga belum memutuskan untuk memilih Max. Aku masih sama seperti gadis yang bebas dan tidak terikat hubungan apapun. Mungkin ini yang terbaik untuk masalah kita," jelas Jillian.
Frey sedikit lega. Perkara jodoh, semua sudah diserahkan kepada garis takdir. Kalaupun Jillian berjodoh dengan Max nantinya, Frey akan berusaha ikhlas. Yang terpenting masalahnya selesai dengan Max. Tidak ada lagi acara sindir-menyindir seperti sebelumnya.
__ADS_1