
Benar saja, Darsh terus diikuti gadis itu kemanapun dia pergi. Sebenarnya Darsh merasa tidak nyaman, tetapi ini tempat umum dan Darsh tidak berhak melarang gadis itu.
Darsh tidak masuk ke toko buku melainkan ke toko alat tulis yang menyediakan berbagai macam buku. Rasanya sangat aneh untuk memberikan buku romantis pada Glen. Dia sengaja masuk ke sana untuk membeli binder berbagai ukuran dan beberapa bolpoin untuknya. Dia sengaja memilih warna khas perempuan.
"Untuk kekasihmu, Darsh?" selidik Clianta.
Gadis itu terlalu berharap lebih pada Darsh dan selalu penasaran apa yang dilakukan lelaki itu. Semenjak pertemuan pertamanya, Clianta selalu terbayang wajahnya. Dia ingin bertemu lagi dan lagi.
"Bukan, untuk sepupuku," jawab Darsh berbohong. Dia memang sengaja menjawab seperti itu agar usahanya mengejar Glen tetap terjaga dengan aman.
"Wah, kamu ternyata saudara sepupu yang keren, yah. Selain membelikan coklat, juga beberapa binder yang manis. Sangat beruntung sekali sepupumu itu," ucap Clianta.
Darsh tidak berkomentar. Dia fokus memilih beberapa bolpoin berwarna. Tak lupa, Darsh meminta penjaga toko untuk membungkusnya dengan rapi seperti kado.
Darsh mengambil lagi sebuah binder yang berbeda dari yang akan diberikan pada Glen. Dia menyerahkannya ke kasir dan membayar seluruh belanjaannya. Setelah selesai, dia keluar dari tempat itu.
"Darsh, tunggu! Kamu sudah selesai? Mau kemana?" ucap Clianta yang mengejar langkah Darsh.
"Aku mau pulang," jawab Darsh singkat. Dia tidak ingin memberikan kesempatan pada Clianta untuk mengejarnya.
"Tunggu, Darsh! Temani aku makan malam. Bisa?" Clianta tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ini merupakan pertemuan keduanya setelah malam itu. Padahal Clianta sangat berharap bisa bertemu dengan Darsh setiap hari. Tidak salah memang jika Helga dan Aimee memperebutkannya.
Darsh menghentikan langkahnya kemudian berbalik arah menghadap Clianta.
"Maafkan aku. Aku terbiasa makan malam dirumah," ucap Darsh kemudian berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya.
Clianta sangat kesal. Ternyata sangat sulit mendekati Darsh apalagi membujuknya. Clianta semakin penasaran pada lelaki itu.
Darsh merasa lega bisa terlepas dari Clianta. Dia segera memasukkan beberapa barang belanjaannya ke dalam bagasi. Malam ini, dia harus menyelesaikan barang itu untuk misinya esok hari.
Semangat Darsh!
Lelaki itu sekarang sudah masuk ke mobilnya. Dia bergegas meninggalkan Mal itu sebelum Clianta mengejarnya lagi.
"Ck, dasar gadis Club!" gerutu Darsh. Mereka hobi sekali untuk mengejarnya daripada harus Darsh yang mengejar mereka. "Aku tidak suka gadis agresif!"
__ADS_1
Perlahan mobil Darsh meninggalkan tempat parkir Mal. Dia sengaja mengemudi secara perlahan dan ingin menikmati malam yang indah ini. Sayang, ketika sedang menikmatinya, dari kaca spion terlihat sebuah mobil yang mengikuti jalannya. Darsh tidak mungkin salah. Suasana jalan lenggang dan seharusnya mobil itu bisa mendahuluinya.
"Ck, mau bermain denganku rupanya," ucap Darsh. Dia sengaja memutar mobilnya ke perumahan Frey. Di sana dia akan masuk dan menukar mobilnya.
Benar dugaan Darsh. Mobil itu terus saja mengejarnya. Tepat sampai di depan gerbang rumah Frey, Darsh membunyikan klaksonnya dan penjaga rumah itu dengan cepat membuka gerbangnya.
"Selamat!" ucap Darsh lega.
Dia langsung turun dan bergegas menemui Frey. Dia menekan bel rumah itu.
Ceklek!
Frey keluar. Dia baru saja hendak pergi tidur, tetapi bel yang mendadak membuatnya heran. Malam ini tidak ada janji dengan teman-temannya.
"Darsh?" Frey melihat lelaki itu sangat buru-buru datang ke rumahnya.
"Boleh aku masuk?" tanya Darsh.
"Tentu, masuklah!"
Darsh tidak ingin terlalu lama di tempat Frey. Dia harus bergegas pulang dan mengecoh gadis itu. Rasanya Clianta membuntutinya.
"What? Dikejar gadis dan kamu langsung membelokkan mobil ke rumahku. Astaga, Darsh. Kamu mau aku memakai piyama ini mengendarai mobilmu?" Frey tidak habis pikir. Sahabatnya itu menjadikan dia pengecoh yang ulung.
"Ayolah, Frey. Kamu bisa menggunakan jaket hoodie warna hitam. Please," pinta Darsh.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Frey hendak masuk ke kamarnya, tetapi di cegah Darsh.
"Tunggu! Berikan kunci mobilmu dulu. Aku mau memindahkan barang," ucapnya.
Frey masuk ke tempat penyimpanan kunci dan menyerahkannya pada Darsh.
"Terima kasih," ucap Darsh. Frey masuk ke kamarnya dan Darsh kembali ke mobilnya untuk memindahkan coklat dan paket binder yang sudah dibungkus sangat rapi. Darsh tidak ingin Frey mengetahui rencananya.
Frey sudah siap dengan jaket hoodie, ponsel, dan dompet. Untuk persiapan saja jika mobil Darsh kehabisan bahan bakar. Biasanya kadang seperti itu.
__ADS_1
"Ini kuncinya. Jaga mobilku dengan baik," pesan Darsh.
"Ck, tidak terbalik, Tuan Darsh? Harusnya aku yang bilang begitu," cibir Frey.
Darsh hanya tersenyum saja. "Baiklah, Frey. Kamu jalan berlawanan arah ya. Aku mau pulang, kamu ambil jalan lain. Kita lihat siapa yang membuntutiku," ucap Darsh. Dia bergegas masuk ke dalam mobil Frey. Secepatnya dia keluar dan memutar arah menuju rumahnya.
Dugaan Darsh benar. Mobil itu masih ada di dekatnya. Posisinya sedang berhenti. Setelah Darsh pergi dan ternyata melihat bukan Clianta yang ada di dalam mobil itu. Darsh semakin terkejut. Bagaimana gadis itu tiba-tiba membuntutinya?
Mobil itu mengejar mobil Darsh yang dipakai Frey. Pria itu harus mengecohnya untuk membuat pengintai itu lekas menjauh darinya.
"Maafkan aku, Frey. Aku tidak sengaja melibatkanmu," ucap Darsh ketika dalam perjalanan menuju rumahnya. Dia sempat berhenti sebentar untuk mengirim pesan ke Frey tentang orang yang membuntutinya.
[Frey, hati-hati. Di belakangmu itu Helga. Kupikir dia adalah Clianta.]
Setelah itu, Darsh melanjutkan perjalanannya kembali ke rumahnya. Rasanya malam ini dia sangat lelah. Setelah bertemu Clianta, Helga ternyata membuntutinya. Berarti tanpa sadar, Helga juga mengamatinya ketika berada di dalam Mal.
"Dasar gadis-gadis agresif! Aku semakin malas bertemu mereka."
Darsh membelokkan mobilnya ke area halaman rumahnya. Dia memarkir mobil Frey langsung masuk ke garasi. Setelah turun, tak lupa dia mengambil beberapa barangnya.
Darsh langsung masuk ke rumahnya dan disambut oleh Mamanya.
"Mama belum tidur?"
"Belum. Mama sengaja menunggumu. Kamu darimana saja? Kenapa memakai mobil Frey?" tanya Mamanya.
"Aku belanja untuk keperluan Glen, Ma. Di jalan, ada mobil yang membuntutiku. Aku terpaksa bertukar mobil dan tempat dengan Frey. Lelaki itu pasti sangat sibuk mengecohnya." Darsh terus saja masuk menuju ke kamarnya dan diikuti Mamanya.
Olivia sangat khawatir terhadap putranya. Dia takut jika orang itu berniat jahat padanya.
"Darsh, apa kamu punya masalah dengan orang lain? Tolong sebisa mungkin hindari mereka. Jangan mencari masalah dengannya."
Ceklek!
Darsh masuk ke kamarnya. "Ma, mereka hanya gadis labil yang selalu mengejarku. Aku sudah berulang kali menolaknya."
__ADS_1
Olivia mengakui itu. Pesona putranya memang sangat tampan. Darsh adalah perpaduan wajahnya dan suami. Tak heran, banyak gadis yang mengejarnya. Sayang, sikap Darsh itu kaku dan enggan untuk mendekati mereka.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿