
Selama beberapa hari berada di negara H, akhirnya Willow memutuskan untuk kembali. Setelah sampai di rumah sakit tempat mamanya dirawat, Willow akan segera melakukan panggilan video call.
Tak lupa, gadis itu berpamitan pada Max yang sudah membantunya selama ini. Max merasa senang kalau akhirnya dia juga berguna untuk orang lain. Sebagai gantinya, Max hanya meminta pertukaran nomor ponselnya saja agar mudah terhubung.
"Max, terima kasih sudah membantuku. Aku janji, setelah sampai di tempatku, aku akan mengabarimu," pamitnya.
Setelah kepergian Willow, perlahan Max mulai menyadari kekeliruannya. Dia mulai menjadi pendiam dan tidak banyak berkomentar.
Sementara di keluarga Dizon, semuanya aman terkendali. Tak ada masalah yang serius. Bahkan Darsh yang mulai mengkhawatirkan kondisi orang tuanya juga berada di sana bersama istrinya.
"Ma, Willow bagaimana?" tanya Darsh.
"Dia sudah kembali, Darsh. Kamu jangan khawatir! Semuanya akan baik-baik saja."
Darsh merasa tenang sekarang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, sekarang fokusnya terpecah pada Jillian. Gadis itu sudah memutuskan keputusan sepihak bahwa dia akan menikah dengan Justin di negara tempat tinggal kakaknya. Ini sangat mengejutkan.
"Aku lega, Ma, Pa. Namun, aku masih kepikiran dengan Jillian. Dia akan menikah dalam waktu dekat."
"Oh God, apa yang ada di pikiran gadis itu?" sahut Dizon.
"Dia memikirkan permintaan daddynya, aku rasa ini tidak masalah. Lagi pula Justin juga sudah siap untuk semua ini. Dan kamu, Darsh. Bersiaplah untuk menanti kelahiran bayi kalian. Hanya beberapa bulan lagi setelah pernikahan Jillian. Kita yang akan menyiapkan segalanya, dan Om-mu akan segera datang," ucap Olivia.
Benar saja. Kesibukan ini akan semakin meningkat manakala Jillian memutuskan untuk menikah. Lagi pula, memang ini sudah seharusnya dipercepat. Grandpa-nya sudah sakit-sakitan, sehingga cepat atau lambat, Om Felix akan mengurus orang tuanya.
"Ma, apakah sebaiknya kita ke rumah sakit untuk berkonsultasi kapan aku akan melahirkan? Kapan hari dokter mengatakan bisa lebih cepat tiga minggu dari kehamilan tunggal," ucap Glenda.
"Tentu saja, Sayang. Mama akan mengantarmu. Biarkan suamimu mengurus perusahaan. Sebentar lagi dia akan bekerja seorang diri. Sedangkan Justin pasti akan pindah ke tempat Jillian."
...🍃🍃🍃...
Di tempat lain, sepasang kekasih sedang merajut mimpi-mimpinya. Ini hari libur, jadi Justin dan Jillian memutuskan untuk pergi berdua saja untuk sekadar makan siang.
__ADS_1
Setelah pertemuan Jillian dengan keluarga Justin, semuanya sudah setuju untuk mempercepat pernikahannya.
"Jill, apa kamu benar-benar siap?"
"Tentu saja, Kak. Aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku juga tidak ingin kehilangan kakak lagi. Hampir saja aku terluka kehilanganmu. Aku bisa apa? Aku belum pernah memiliki seorang kekasih dan semuanya berjalan cukup rumit."
"Hemm, percayalah padaku. Aku akan berusaha membahagiakanmu. Oh ya, ada kabar baik dari Max. Dia sudah menyukai seorang gadis. Hanya Owen dan Frey saja yang belum memberikan kabar bahagia itu."
Jillian semakin tenang sekarang. Pasalnya, tak hanya Justin saja yang berbahagia. Perlahan semua sahabatnya akan mendapatkan pasangannya masing-masing. Mengenai tanggal pernikahan Jillian juga sudah ditentukan. Tak ada lagi yang menjadi masalah. Beberapa hari lagi, Jillian memutuskan untuk melakukan fitting gaun pengantin.
"Terima kasih, Kak. Kamu mau membantuku melupakan Kak Frey."
"Sama-sama, Sayang."
...🍃🍃🍃...
Sepulang dari rumah mamanya, Darsh mulai membuat Glenda semakin betah berada di rumah. Pasalnya, lelaki itu sering sekali memberikan kejutan ataupun terkadang sesuatu yang membuat Glenda berbahagia.
"Sayang, aku terserah padamu saja. Aku tidak bisa membuatmu kecewa dalam pemilihan nama. Namun, aku hanya berharap kita terus seperti ini. Berbahagia bersama dan akan terus seperti ini."
"Kamu berjanji padaku, Darsh?"
Semenjak diyakini bahwa kedua bayinya adalah laki-laki, Darsh semakin menunjukkan perubahannya. Dia semakin menjadi lelaki yang romantis. Bahkan semenit tanpanya, rasanya sangat aneh.
"Kehidupan berjalan dengan cepat, Darsh. Semuanya akan berubah dan berjalan sesuai dengan porsinya. Aku tahu, ketika kamu meyakini bahwa bayi kita adalah laki-laki, kamu telah banyak berubah. Namun, bagaimana salah satu bayi kita perempuan? Apa kamu akan berubah lagi menjadi dingin?"
Glenda harus mengantisipasi kejadian ini. Beberapa kali melakukan pemeriksaan ke dokter, selalu saja dokter hanya mengatakan salah satu saja yang terlihat.
"Tidak, Sayang. Setidaknya salah satu anak kita laki-laki. Percayalah, aku akan tetap seperti ini, Sayang. Apa yang kamu ragukan dariku?"
Glenda berdiri mematung menatap jendela. Rasanya sangat aneh dengan ucapan Darsh, mengingat beberapa keluarga pria di keluarga Darsh yang bisa bersikap selayaknya manusia hanya Felix, daddy Jillian. Papa mertuanya saja terkadang seperti itu.
__ADS_1
Darsh mendekatinya kemudian memeluk istrinya dari belakang. Karena dari depan sudah tidak mungkin dengan perutnya yang membesar seperti itu.
"Percayalah pada suamimu, aku akan selalu berusaha bersikap baik seperti sekarang. Apalagi yang kamu pikirkan?"
"Tidak, Darsh. Aku hanya khawatir saja. Kamu jangan pernah berubah seperti orang tuamu, ya?"
Sikap romantis suaminya itu seperti angin. Tiba-tiba datang dan sering menghilang. Itulah sebabnya Glenda semakin khawatir. Bagaimana pun juga, Glenda berusaha tetap menjadi istri yang baik untuknya.
"Entahlah, Glenda. Terkadang aku seperti orang lain. Apa kamu menyadarinya?"
Beberapa kali berusaha bersikap romantis malah terkadang terlihat aneh. Namun, Glenda tidak pernah memprotesnya. Dia merasa ini wujud pengorbanannya sebagai seorang suami untuk menyenangkan hati istrinya.
"Kita akan melakukan makan siang romantis esok hari. Apa kamu mau?" tanya Darsh yang baru saja melepas pelukannya.
"Apakah ini makan siang terakhir kita?" ucap Glenda.
"Tidak, memangnya kamu mau ke mana?"
"Aku tidak kemana-mana, Darsh. Aku hanya takut setelah anak-anakku lahir, kamu berubah lagi menjadi dingin. Bukankah kamu ini adalah duplikat dari papamu?"
Glenda benar. Sebanyak seratus persen, papanya mewariskan hampir 80 persen sikap papanya. Jadi, wajar saja kalau Darsh sangat kesulitan untuk mengubah sikapnya menjadi lebih romantis. Dia seperti seorang robot yang dipaksakan menari balet. Jelas akan patah karena tidak bisa bersikap luwes. Itu yang dimaksudkan Glenda, kalau Darsh sudah berada di titik jenuh untuk berusaha menjadi orang lain, ada kemungkinan dia akan kembali ke sikap aslinya.
"Maafkan aku, Glenda. Di situlah mungkin peranmu kubutuhkan untuk membuatku kembali lagi seperti apa yang kamu inginkan."
"Itu tidak mungkin, Darsh. Aku tidak sanggup. Setelah kelahiran anak-anak kita, fokusku akan berada pada keduanya. Jadi, aku mohon padamu pengertiannya. Jika kamu tidak bisa memahaminya, seperti kesepakatan awal. Aku akan membawa anakku menjauh dari kehidupanmu!"
Bukan sekali atau dua kali Glenda mengancamnya. Hidup bersama Darsh bukan perkara mudah. Dia harus ekstra mengalah dalam beberapa hal.
...🍃🍃🍃...
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren milik Author Age Nairie. Jangan lupa tinggalkan jejaknya. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1