Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Menolak Menikah


__ADS_3

Darsh lekas mengambil ponsel, mendial nomor mamanya. Hanya beberapa detik saja, telepon tersambung.


"Ya, Darsh, ada apa? Kamu baru ingat Mama karena Glenda, kan?"


"Iya, Ma. Maafkan aku."


"Sebaiknya kamu perhatikan istrimu, kalau tidak, Mama akan menyerahkan pada orang tuanya. Istri mau melahirkan begitu, malah sibuk bekerja."


"Ma, aku sibuk banget." Semenjak Justin resign, Darsh terlihat lebih sibuk dari biasanya.


"Darsh, beberapa minggu lagi istrimu melahirkan. Masihkah kamu sibuk dengan semua pekerjaanmu?"


Darsh bahkan sampai lupa kalau kehamilan istrinya semakin mendekati persalinan. Dia semakin galau dan berniat meminta maaf pada istrinya karena sudah abai. Mungkin ini saatnya dia memperhatikan istrinya, walaupun sudah sangat terlambat.


"Baiklah, Ma. Terima kasih atas informasinya." Darsh menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Darsh keluar untuk melihat barang apa saja yang datang. Rupanya hampir semua barang memenuhi ruang tamu yang luasnya luar biasa.


"Sayang, apakah semua barang ini milik anak kita?" Darsh terkejut. Pasalnya, box bayi ada dua dengan warna biru dan merah muda. Itu artinya salah satu kembaran putranya itu perempuan.


"Menurutmu ini milik siapa kalau bukan mereka," jawab Glenda ketus. Setelah menerima beberapa barang itu dan menandatangani surat jalan, Glenda menerima bukti copy pelunasan invoice yang memang diberikan pada saat kirim barang berikut surat jalan untuk mencocokan semua barang yang sudah diterimanya.


Setelah transaksi itu dilakukan, Glenda masuk untuk meminta beberapa pelayan menempatkan barang baru milik bayinya itu di ruangan kosong yang disulap seperti gudang. Renovasi kamarnya masih berlanjut dan Darsh juga tidak tahu.


Selesai meminta pelayan maupun melihat renovasi kamar untuk kedua anak kembarnya, Glenda masuk ke kamar. Lebih baik menyendiri, daripada menunggu kulkas empat pintu bekerja. Sangat menyebalkan, bukan? Bahkan, menjelang hari persalinannya, Darsh masih saja bersikap dingin. Dalam satu bulan, sisi romantisnya bisa dihitung dengan jari. Terkadang, dari 30 hari, hanya 13 persen saja sisi romantisnya. Coba hitung, berapa hari perbandingannya? Masih lebih banyak sisi dinginnya, daripada kehangatan yang diberikan.


Merasa diabaikan istrinya, Darsh merapikan berkas dan beberapa pekerjaan penting yang telah selesai. Dia mengembalikan ke ruangan kerjanya, setelah itu berniat ke kamar mandi untuk sekadar membersihkan diri. Barulah setelah semuanya selesai, Darsh menemui istrinya.


"Maafkan aku, Glenda. Aku tidak bermaksud melupakanmu dan anak kita. Kamu tahu sendiri kan, pekerjaanku di kantor luar biasa sibuknya."

__ADS_1


"Hemm, aku tahu, tetapi sampai kapan harus seperti itu?"


Darsh sebenarnya ingin mengatakan kalau dia akan menyelesaikan pekerjaan secepatnya, setelah itu, dia bersiap untuk menemani istrinya saat melahirkan. Namun, sepertinya Glenda sudah sangat kesal padanya.


"Aku berjanji akan menemanimu saat lahiran," ucap Darsh akhirnya.


"Terserahlah, Darsh! Aku menikah, namun rasanya aku kesepian. Tidak ada yang perhatian padaku. Apa kamu hanya menginginkan anakmu saja?"


Deg!


Tuduhan Glenda terlalu menusuk ke ulu hatinya. Tentu saja tidak seperti itu. Darsh sangat mencintainya. Mana mungkin dia hanya mengharapkan kehadiran anak-anaknya saja? Apa gunanya selama ini Darsh mengejar Glenda sampai akhirnya mereka menikah.


"Sayang, itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku benar-benar sibuk. Tidak ada asisten lagi yang bisa kutemukan," jelas Darsh.


"Maka, carilah asisten dan jangan sampai karena kesibukanmu ini, kamu akan kehilangan keluargamu," ancam Glenda.


"Tiga minggu lagi."


Kalau Darsh bisa bersikap dingin seperti itu, maka Glenda bisa lebih irit bicara dan bersikap. Itu imbang karena merupakan wujud protesnya kepada sang suami.


...🍃🍃🍃...


Di tempat lain, sepasang kekasih sedang bertengkar. Lelakinya itu ketahuan bermesraan dengan perempuan lain di dalam Club malam. Sebenarnya, kekasihnya itu tidak tahu apapun, namun karena kecurigaannya selama ini, dia berusaha mencari tahu.


Ya, dia adalah Willow Halbur. Namun, semenjak papanya menghilang, gadis itu tak lagi menjadi Willow Halbur. Dia lebih memilih menyebut namanya Willow saja tanpa embel-embel keluarga papanya.


"Max, kalau seperti ini, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Kamu pikir aku tidak trauma bersama lelaki sepertimu, hah?" sentaknya.


Max yang berusaha merayu kekasihnya itu dibuat kewalahan. Pasalnya, dia pikir kalau Willow itu gadis rumahan yang penurut. Max sengaja pergi ke Club hanya untuk membuat dirinya lebih tenang karena sebentar lagi memutuskan untuk menikah. Agak sulit, seorang playboy kelas kakap yang notabene sering menjalin hubungan dengan gadis-gadis malam, tiba-tiba akan menikah dan menjadi lelaki rumahan. Sebelum itu terjadi, Max sengaja memuaskan dirinya untuk berada di Club malam bersama dua gadis yang selalu dekat dengannya. Jika Willow tidak tahu, maka Owen-lah yang tahu mengenai kejadian ini. Namun, lelaki itu tidak berani mendekat karena bukan urusannya.

__ADS_1


Max sengaja menarik tangan gadis itu untuk menjauh dari kerumunan. Dia sengaja melakukannya agar tidak ada orang lain yang melihatnya. Max tidak sadar jika Owen kebetulan berada di sana dan sempat melihat sebentar.


"Aku tidak ingin kita berpisah. Kita akan tetap menikah seperti rencana awal!" sentak Max.


Max mendorong tubuh Willow merapat ke tembok dekat toilet pria. Karena di sana tempat yang aman dan tidak akan dijangkau Helga dan Aimee yang kebetulan sedang bersamanya.


"Max, kamu pikir aku wanita murahan yang mau menikah denganmu, hah?"


"Itu sudah cocok dengan kondisi kita, Willow! Apa kamu tidak sadar kalau sudah tidak virgin, hah?" Max sengaja memojokkan gadis itu supaya tetap mau menikahinya.


"A-aku lebih baik menyendiri seumur hidup daripada harus menikah denganmu!" Willow pikir kalau Max adalah lelaki yang baik. Lelaki itu bahkan telah memberikan tempat ternyaman saat berada di negara H untuk pertama kalinya.


"Tidak akan ada lelaki yang mau menikahi gadis sepertimu, Willow! Kecuali aku." Wajah Max mendekati Willow. Dia sengaja ingin membuat gadis itu tidak lagi berontak mengenai masalah pernikahan ini.


"Aku tidak peduli, Max! Setidaknya aku tidak menjual tubuhku demi uang!" Willow sengaja mendorong lelaki itu untuk mundur, namun rupanya Willow kalah kuat. Dia harus mengalah sekarang demi bisa keluar dari jeratan lelaki sepertinya. Kaya memang, namun tidak punya hati!


"Ck, Willow, apa kamu yakin? Bisakah kamu hidup tanpaku? Hidup itu realistis, Willow. Kita butuh uang dan kepuasan. Kalau kamu yakin akan mundur dari rencana pernikahan ini, akan kupastikan bahwa semua uang yang kuberikan padamu, aku memintanya kembali."


Max ingin mendapatkan status pernikahannya. Semenjak Jillian menikah dengan Justin, Max seperti pria bodoh yang terus terobsesi akan pernikahan.


Makanya, setelah bertemu dengan Willow dan memiliki kesempatan untuk mendekati gadis itu, Max tidak menyiakannya. Apalagi Willow mengenal keluarga sahabatnya, Darsh. Itu artinya, Willow pernah menjadi orang penting di masa lalu keluarga Damarion.


...🍃🍃🍃...


Halo akak readers, sambil menunggu update, yuk kepoin karya teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟


Kepedihan Jiwa by Author Rima junia Ermolina.


__ADS_1


__ADS_2