
Darsh memulai aktivitas paginya di dalam kamar. Selepas mandi dan bersiap untuk ke kantor, Darsh memandangi dirinya di depan cermin. Rasanya tidak percaya di usianya yang masih muda dan sebentar lagi akan menikah. Dia mengangkat tangannya memperlihatkan jari tangan kirinya di depan cermin. Semalam, untuk pertama kalinya, Glenda memegang tangannya dan memasang cincin pertunangan itu.
"Aku masih tidak percaya kalau sebentar lagi aku akan menikah," ucapnya. Beberapa kali memandang cermin dan akhirnya menurunkan tangannya. Dia tidak boleh terlambat ke kantor.
Menggunakan jas dan dasi sudah menjadi kesehariannya saat ini. Tak butuh waktu lama, Darsh segera ke ruang makan. Di sana, mama dan papanya pasti sudah menunggu.
"Selamat pagi," sapa Darsh.
"Pagi, sayang. Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Jauh lebih baik, Ma. Apakah Mama sudah mengabari grandma?"
"Belum, sayang. Nanti Mama akan mengabarinya melalui tante Kayana. Dia juga yang akan mengurusi gaun pernikahannya. Kamu jangan khawatir ya," jelas Olivia.
"Bagaimana pekerjaan kantor, Darsh? Apa semuanya berjalan sesuai rencana?"
"Seperti yang Papa lihat. Kalau aku tidak menanyakan apapun, itu artinya semuanya beres. Papa jangan khawatir, aku dan Frey cukup bekerja keras kali ini. Sebelum pernikahan dilangsungkan, aku akan menyelesaikan semuanya. Setelah itu, aku meminta cuti beberapa hari untuk berlibur dengan istriku," ucapnya.
"Wah, Darsh ... sepertinya kamu sangat bahagia dengan pernikahan ini, ya?" sindir Dizon.
"Pa, jangan seperti itu! Darsh sudah benar. Dia harus membahagiakan istrinya. Benar begitu, Darsh?" sahut Olivia.
Darsh hanya mengangguk saja. Setelah sarapan pagi, dia bergegas pergi ke kantor. Sedangkan Olivia sibuk membereskan meja makan.
"Apa yang kamu lakukan setelah ini?" tanya Dizon.
"Aku akan melakukan video call dengan Kayana. Aku akan memintanya menyiapkan pesta pernikahannya."
"Baguslah. Bicaralah dengan mama juga," pesan Dizon.
"Apa kamu tidak ingin mengatakan berita bahagia ini pada mama? Kenapa harus aku?"
"Kamu ataupun aku, sama saja. Yang penting mama senang. Itu sudah cukup untukku."
Olivia heran dengan sikap suaminya. Harusnya dia yang menyampaikan kabar penting ini, tetapi malah seperti tidak ada gairah untuk menyampaikannya. Selesai dengan urusan meja makan, Olivia masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya. Dia tak melihat keberadaan suaminya di sana. Mungkin saja masuk ke ruang kerjanya.
Suasana di negara H masih pagi. Jarak waktu dengan negara I tempat tinggal adik iparnya memiliki selisih waktu enam jam. Itu artinya di sana sudah siang. Tak menunggu lama, Olivia segera mendial Video Call kepada adik iparnya. Dia berharap kalau wanita itu sedang berada di rumahnya.
__ADS_1
"Halo kakak ipar," sapa Kayana. Terlihat wanita itu sedang berada di butiknya.
"Halo, Kayana, apa kabar?" Olivia melambaikan tangannya.
"Aku baik, Kak. Bagaimana kabar Darsh?" selidiknya.
"Wah, aku mau menyampaikan kabar penting ini padamu, Kay. Kamu pasti akan terkejut ketika mendengarnya."
Kayana merubah posisi duduknya di ruang kerjanya. Dia sudah tidak sabar untuk mendengar kabar baik dari kakak iparnya.
"Apa itu, Kak? Lekaslah. Aku sudah tidak sabar untuk mendengarnya."
Olivia tersenyum menatap adik iparnya itu. Tentu dia akan terkejut dengan kabar yang akan disampaikannya sebentar lagi.
"Kay, aku minta tolong padamu untuk menyiapkan pernikahan Darsh. Satu bulan lagi akan digelar di sana. Apa kamu bisa?"
"Wah, ini kabar bahagia, Kak. Mama pasti sangat senang. Aku akan menyiapkan tempat pernikahan dan beberapa gaun untuk calon menantumu, Kak. Ngomong-ngomong, siapa gadis beruntung itu? Apa aku boleh tahu namanya?"
Tentu saja Kayana penasaran karena Darsh baru saja mendapatkan gadis itu dan langsung meminangnya. Rasa penasaran Kayana tinggi semenjak berada di rumah kakak iparnya. Namun, semua rasa penasaran itu dikuburnya demi mendapatkan kabar terbaru yang langsung disampaikan oleh orang tua Darsh.
"Ehm, kamu masih ingat Zelene?" Kali ini Olivia ingin memainkan teka-teki ini dengan adik iparnya.
"Apa hubungannya Zelene dengan gadis itu, Kak?" Pertanyaan Kayana hampir saja mendekati klue teka-tekinya.
Olivia tidak bisa menyembunyikannya terlalu lama. Sebaiknya Kayana lekas mengetahuinya karena Olivia tidak ingin mengganggu kerja adiknya itu.
"Nama gadis beruntung itu adalah Glenda Abraham," ucap Olivia.
Tunggu! Nama belakang gadis itu sangat tidak asing di telinganya. Sepanjang hidupnya, Kayana hanya mengenal satu nama Abraham. Itu masih ada hubungannya dengan Callista, sahabat lamanya yang sudah putus komunikasi. Pikiran Kayana terbang ke mana-mana. Dia melihat layar ponselnya dengan pikiran terpecah.
"Apa hubungannya Zelene dengan Glenda Abraham, Kak. Aku memang ingat nama itu, tetapi aku juga agak lupa. Lagi pula, sudah 20 tahun lebih, kita tidak pernah berkomunikasi."
"Calon istri Darsh adalah anak Zelene dan Vigor Abraham," ucap Olivia akhirnya.
Deg!
Kayana melongo melihat ponselnya. Tentu saja itu membuat Olivia puas dan menertawakan adik iparnya. Rasanya masih tidak percaya kalau lingkaran kehidupan keluarga Damarion tak jauh dari keluarga Armstrong.
__ADS_1
"Kakak pasti bercanda, kan? Tidak mungkin ini terjadi begitu saja. Kakak berutang banyak cerita padaku. Kamu tahu Kak, aku terkejut mendengarnya. Ini benar-benar kabar bahagia dan sangat lucu. Aku yakin, mama mertua juga sama terkejutnya denganku."
Olivia tersenyum menatap adik iparnya yang masih terlihat sangat terkejut. Mimik mukanya sangat lucu sekali.
"Kamu pikir aku tidak terkejut? Pertemuan pertama kami di restoran waktu membahas kelanjutan hubungan Darsh. Mereka datang satu keluarga."
Kayana tidak bisa membayangkan setelah pertemuan terakhir beberapa puluh tahun yang lalu dan sekarang mereka akan berbesanan. Ini sangat lucu. Ada satu hal yang mengganjal dibenak Kayana.
"Bagaimana reaksi Kak Dizon?" selidik Kayana. Tentu saja bayangan Kayana kalau pria itu pasti menolaknya.
"Sudah, sudah, jangan tanya itu. Aku malas mengingatnya. Yang pasti usahakan untuk persiapan satu bulan lagi. Semua harus terlihat sudah beres. Aku akan ke sana ketika mendekati hari H pernikahan. Bisa, adik ipar?" jelas Olivia.
"Tentu saja kakak ipar. Aku akan menyiapkan gaun pengantin terindah untuk calon keponakanku. Kamu jangan khawatir kakak ipar," balas Kayana.
"Terima kasih, Kay. Semua tagihan untuk pernikahan putraku, kamu kirimkan invoice-nya ke tempatku. Nanti, kami akan mentransfernya," jelas Olivia. Karena sudah merepotkan banyak hal, tentu saja masalah biaya akan ditanggung keluarganya sendiri.
"Kakak jangan khawatir. Mungkin saja mama mertua akan mengadakan pernikahan Darsh di rumah saja. Kamu tahu sendiri kan Kak bagaimana kondisi mama?"
Sebelum menjawab ucapan Kayana, keburu suaminya memanggil.
"Ma ... ma, kamu di mana?" teriak Dizon.
"Kay, sudah dulu ya. Suamiku memanggil. Lain waktu, aku sambung lagi. Bye." Olivia mengakhiri sambungan video call dengan adik iparnya.
"Ada apa, Pa?" balas Olivia. Dia baru saja meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Video call kok lama sekali," sindir Dizon.
Kali ini Olivia malas berdebat. Dia membiarkan apapun ucapan suaminya. Suka-suka dia saja. Yang penting, semua urusan pernikahan putranya akan beres ditangan Kayana.
...🍊🍊🍊...
Halo kakak readers semuanya. Emak hadir lagi merekomendasikan karya keren. Cus kepoin
Aku Di Antara Mereka by Author Asyfa
Terima kasih. Miss you all 😍😍😍
__ADS_1