
"Ide gila apalagi ini, Sayang?" Darsh kesal. Sudah berulang kali dia menolak untuk membawa istrinya ke tempat itu, tetapi itu masih membuat Glenda penasaran saja. "Jangan jadi wanita terlalu polos! Aku tidak suka."
"Hemm, aku hanya bercanda saja. Lagi pula, siapa yang mau pergi ke tempat aneh seperti itu? Benar begitu, bukan?"
Darsh sedikit lega. Mungkin istrinya sedang mengerjainya sehingga selalu membuatnya tegang tanpa alasan.
"Gadis yang bersama Max itu gadis Club malam, kan? Dia fans fanatikmu, kan? Lihatlah Sayang, Daddy kalian ini sangat menarik di mata orang lain." Glenda menambahkan.
"Apa-apaan, kamu? Aku hanya akan terlihat menarik di depanmu dan anak-anak kita. Lupakan wanita itu! Aku sama sekali tidak tertarik padanya," ucapnya terlihat dan kesal.
Glenda tersenyum puas bisa mengerjai suaminya seperti itu. Selama ini, Darsh memang benar-benar banyak berubah. Glenda semakin mencintainya.
"Iya, Sayang. Ayolah kita ke depan. Biarkan dua bayi mungil ini bersama baby sitter-nya. Lagi pula keduanya sudah tertidur pulas, kan?"
Setelah meminta kedua baby sitter-nya untuk menjaga bayi mereka, keduanya kembali ke depan. Sebelum sampai ke sana, mereka bertemu dengan para orang tua.
"Bayinya sudah tidur?" tanya Kayana.
"Iya, Tante," jawab Glenda yang posisi tangannya menggandeng erat suaminya.
"Ya sudah, nanti Mama akan melihatnya," sahut Olivia.
"Oke, Ma. Terima kasih," jawab Darsh.
Keduanya lantas keluar untuk menemui sahabatnya. Sementara para orang tua sedang berbincang.
"Kay, kamu menginap di mana?" tanya Olivia. Sebagai kakak iparnya, kedatangan yang mendadak ke restoran tentunya sudah berada di sini lebih lama.
"Kami menginap di hotel, Kak. Tidak lama juga. Setelah ini, kami juga akan pulang dengan penerbangan malam ini. Keadaan papa tidak bisa ditinggal terlalu lama, Kak. Justin juga harus mengurus perusahaan. Maaf ya, Kak," jelas Kayana.
__ADS_1
"Om Denzel sakit, Kak?" tanya Zelene pada Kayana.
"Iya, sebenarnya kami tidak tega meninggalkannya. Namun, ini juga penting. Jadi, kita bagi waktu saja. Makanya di sini hanya sebentar. Papa masih di rumah sakit."
"Kay, aku dan suami akan mengusahakan untuk pulang. Perusahaan juga sudah diurus oleh Darsh. Kupikir ini saatnya Dizon juga ikut merawat papa," jelas Olivia.
"Suamiku pasti senang dengan kabar ini, Kak. Apakah kakak bisa berangkat nanti malam? Ya, setidaknya biar kita bisa pulang pergi bersama." Kayana sangat berharap lebih mengenai hal ini.
"Sangat mendadak sekali. Kami belum bisa meninggalkan Darsh. Secepatnya aku akan bicara dengan mereka." Olivia memang tidak ingin suaminya tidak mengetahui kondisi papanya yang sedang sakit itu. Bagaimana pun juga, Denzel sudah memberikan kehidupan terbaik untuk kedua putranya. Di akhir sisa umurnya, sudah sepantasnya sebagai seorang anak, Dizon berada di sampingnya.
"Oh ya, apa kalian sudah makan? Jika belum, mari kuantarkan. Ini menu spesial restoran kami. Semoga kalian menyukainya," ajak Zelene.
Mumpung kedua bayi itu masih tertidur. Para orang tua menikmati makan bersama. Mereka bergabung dengan suaminya yang masih berada di meja. Hidangan juga sudah tersaji di sana. Vigor sengaja meminta mejanya paling akhir untuk penyediaan makanan. Biar masih hangat semuanya.
"Bagaimana kondisi bayinya?" tanya Dizon.
"Mari silakan di makan," ucap Vigor akhirnya.
...🍃🍃🍃...
Sementara di meja lain, beberapa pasangan juga sedang menikmati makan bersama. Willow terlihat agak kaku untuk melayani Owen. Dia memang sengaja melakukannya untuk menutupi kebohongan bahwa dia tidak ada hubungan apapun dengan Owen.
Owen pun terdiam dengan apa yang dilakukan Willow. Kalau pun mau protes, ini bukan saat yang tepat. Tepat di hadapannya, Max dan Helga terlihat mesra. Jadi, untuk sementara waktu biarkan seperti ini. Sementara Justin dan Jillian, mereka sepasang suami istri yang sudah tidak malu lagi untuk mengumbar kemesraannya. Sedangkan Frey yang masih sendirian seakan menciut nyalinya. Keempat sahabatnya sudah bahagia dengan pilihan masing-masing.
"Frey, jangan seperti itu! Kami semua mendukungmu," ucap Darsh yang melihat sahabatnya merasa tidak nyaman.
"Darsh benar. Ingat, kamu masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik. Percayalah," sahut Justin. Bagaimana pun, dia sudah mendapatkan Jillian. Gadis terbaik yang sudah menjadi istrinya saat ini. Persahabatannya juga masih terjalin baik.
"Terima kasih atas dukungannya. Setelah selesai pendidikanku, aku akan pulang membawa pasangan. Saat itu, aku harap kita semua akan berbahagia," terang Frey.
__ADS_1
"Tentu saja, Frey. Doakan aku lekas menikah, ya!" ucap Max. Dia meneggenggam tangan Helga. Itu sudah cukup membuktikan bahwa Max lebih memilih Helga.
Owen melirik kepada Willow. Gadis itu terlihat biasa saja. Bahkan tidak terlihat cemburu atau apapun pada Max.
Mungkin ini saatnya aku masuk dalam kehidupan Willow seutuhnya. Lagi pula Max tidak lagi mengincarnya. Willow gadis baik-baik. Karena kesalahan orang tuanya, dia harus menerima akibatnya seperti ini.
"Tentu, Max. Aku menunggu undanganmu. Jadi, siapa gadis beruntung itu yang akan memilikimu seutuhnya beserta showroom yang kamu miliki?" ucap Frey mematahkan pemikiran Max.
Max hanya membawa Helga sebagai pasangannya. Dia tidak mungkin kembali lagi mengejar Willow. Gadis itu sudah sangat berbeda setelah bersama Owen. Terlihat sangat cantik dan lebih berisi. Dia kehilangan semuanya karena terlalu berlebihan dalam mengambil keputusan. Untung saja semesta masih berpihak kepadanya. Bagaimana pun sikap buruk Max, sahabatnya tidak pernah sedikit pun berniat untuk meninggalkannya.
"Tunggu saja namanya di dalam undangan yang akan kukirimkan nanti," jawabnya.
"Kurasa Helga mungkin yang pantas untukmu," sahut Owen.
Seketika semuanya terdiam mendengar penuturan Owen. Tidak ada yang berkomentar sama sekali. Namun, beberapa sahabatnya tampak saling pandang. Frey dan Justin tentu tidak tahu masalah yang terjadi antara Max dan Owen. Hanya Darsh yang memahaminya.
"Ehm, maksud Owen, Helga masih sendiri begitu juga dengan Max. Nah, kalau keduanya berjodoh, apa salahnya?" sahut Darsh berusaha memecah keheningan.
Setelah itu, barulah mereka ber o ria untuk merespon ucapan Darsh barusan. Mereka juga tahu hubungan apa yang terjalin antara Max dan Helga selama ini.
"Wah, selamat Max. Aku dan Jillian akan mengusahakan bisa hadir di acara pernikahanmu. Walaupun kesibukan kami sangat luar biasa, namun demi menghadiri pernikahan sultan, apa salahnya kita menyempatkan untuk hadir. Benar kan, Sayang?" Justin merangkul pundak istrinya. Beberapa pasang mata nampak cemburu melihat keromantisan Justin dan Jillian. Walaupun keduanya sudah menikah beberapa bulan yang lalu, namun sepertinya belum menampakkan tanda kehamilan padanya.
"Tunggu, Justin! Sepertinya aku akan mendahului Max." Owen lebih berani menggenggam tangan Willow dan mengecupnya di hadapan semua orang. Willow yang diperlakukan secara mendadak itu tidak bisa berbuat banyak. Di depannya ada Max. Tentu saja dia pasrah tanpa memberikan perlawanan apapun.
...🍒🍒🍒...
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟💟💟 Terima kasih
__ADS_1