
Glenda menunggu daddynya yang belum keluar dari restoran. Rasanya seperti mimpi mendengar lelaki itu meminangnya secara mendadak. Bukan karena Glenda tidak mau menerimanya, tetapi dia belum siap menerimanya jika belum berunding dengan orang tuanya.
Menerima lelaki itu sama saja dengan membuka jati dirinya. Itu artinya dia akan dikenal sebagai anak dari Tuan Vigor Abraham. Daddy sekaligus atasannya di restoran. Otomatis dia akan berhenti dari pekerjaannya dan menjadi Nyonya Darsh. Terdengar sangat lucu, bukan?
Kenapa pemikiranku terlalu jauh ke sana? Padahal aku belum menerima pinangannya. Dia memberikan waktu seminggu untuk memberikan jawaban.
"Ehem, sedang melamunkan lelaki itu, Glen?" tanya Vigor.
"Eh, Daddy sudah datang?"
"Hemm, sejak tadi Daddy perhatikan kamu terus saja melamun setelah bertemu dengannya," ledek Vigor.
"Daddy melihatku?" selidik Glenda. Tidak mungkin rekan kerjanya yang menceritakan padanya.
"Ayo pulang. Jelaskan di dalam mobil," ucap Vigor.
Keduanya bergegas masuk. Suasana tempat parkir tidak terlalu ramai. Tak ada orang yang mencurigainya karena sering pulang pergi bersama Daddynya.
"Katakan, apa yang dibicarakan lelaki itu padamu?"
"Ehm, Daddy pasti tidak akan percaya pada ucapanku. Entah mungkin ini terlalu cepat menurutku."
"Dia memintamu menjadi kekasihnya?" selidik Vigor.
"Bukan, Dad."
"Lalu?"
"Dia meminangku."
Sreeetttt. Chiiiittt.
"Daddy ... kenapa mendadak seperti ini? Untung saja tidak ada mobil yang sedang lewat," protes Glenda.
"Maafkan Daddy, sayang. Daddy sangat terkejut." Vigor kembali mengemudikan mobilnya.
"Hemm, jangankan Daddy, aku sama terkejutnya dengan Daddy."
"Apa dia serius?" selidik Vigor lagi.
"Sepertinya begitu, Dad. Kita bicarakan ini di rumah saja. Mommy pasti terkejut juga," jawab Glenda.
Vigor tidak habis pikir pada lelaki itu. Dia tidak meminta putrinya menjadi kekasihnya melainkan langsung memintanya menjadi istrinya. Sepertinya dia lelaki baik-baik. Buktinya saja, dia menemui putrinya ke restoran dan tidak pernah terlihat Glenda meminta izin ke tempat yang memang belum pernah diinginkannya.
__ADS_1
Apakah ini saatnya Vigor melepaskan putrinya? Dia masih khawatir karena usia Glenda masih muda. Kalau misalnya istrinya juga mengizinkan, Vigor akan mempertimbangkannya.
Melamun sepanjang jalan membuat Vigor sepertinya terlalu lama mengendarai mobilnya. Biasanya sekitar Setengah jam lebih telah sampai, sekarang hampir satu jam baru sampai di rumahnya.
"Dad, ini hampir satu jam, loh. Daddy pelan sekali nyetirnya," protes Glenda.
"Maafkan Daddy. Rasanya Daddy sangat lelah, sayang," kilahnya.
Padahal Vigor sedang memikirkan kelanjutan hubungan putrinya dengan lelaki itu. Vigor sengaja membiarkan putrinya lebih dulu masuk ke rumah. Dia ingin menemui istrinya dan menjelaskan perihal Glenda hari ini.
Setelah dirasa Glenda sudah masuk ke kamarnya, Vigor segera masuk ke kamar untuk menemui istrinya.
"Honey," panggilnya.
"Ada apa, Honey? Mana Glenda?" tanya Zelene. Dia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ada hal yang penting ingin kukatakan padamu." Biasanya Vigor akan langsung membersihkan diri dulu, tetapi kali ini berbeda.
"Ada apa? Tumben sekali kamu terlihat khawatir seperti itu," balas istrinya.
"Darsh sudah melamar Glenda," ucapnya.
Deg!
"Ck, mana mungkin. Kamu pasti bercanda, Honey. Mereka baru mengenalnya beberapa kali dan lelaki itu berani melamarnya?" Zelene tidak percaya.
"Baiklah, kali ini tidak hanya kamu. Aku pun sebenarnya tidak percaya. Pergilah ke kamar putrimu. Aku mau membersihkan diri dulu. Tanyakan sedetail mungkin. Jika memang benar, mintalah bertemu dengan keluarganya."
Zelene rasanya tidak bisa berdiri. Dia masih perlu mencerna ucapan suaminya.
"Pergilah! Jangan seperti itu. Dengar langsung dari putrimu," pinta Vigor sekali lagi.
"Baiklah." Zelene bergegas menuju ke kamar putrinya. Ada tanda tanya besar mengganjal di benaknya. Siapkah putrinya untuk menikah?
Tok tok tok.
Ceklek!
Glenda membukanya. Dia baru saja selesai membersihkan diri.
"Mommy?"
"Boleh Mommy masuk, Nak?"
__ADS_1
"Tentu saja, Mom," jawab Glenda.
Zelene mengambil posisi duduk di ranjang putrinya. Vigor benar, ini seharusnya menjadi pembicaraan antara sesama perempuan.
"Daddy bilang kalau Darsh melamarmu. Apa itu benar?" selidik Zelene.
"Iya, Mom. Mana mungkin aku berani berbohong pada Daddy."
"Sayang, apa yang dikatakan lelaki itu padamu?"
Glenda menceritakan detail pertemuannya sampai lelaki itu mengucapkannya. Zelene sungguh terkejut. Lelaki itu sangat pemberani sekali menurut Zelene.
"Kamu menyukainya, sayang?" tanya Zelene.
Glenda tidak tahu apakah ini nyata atau mimpi. Yang pasti, harapannya memang bisa dekat dengan lelaki itu.
Glenda mengangguk. Dia memang menyukainya. Bahkan, dia pernah mengejar lelaki itu untuk memperjelas status hubungannya.
Zelene mendekati putrinya. Dia mengecup puncak kepala gadis itu. Zelene juga memegang kedua tangan putrinya.
"Sayang, menikah bukan hanya sebatas perasaan suka atau kamu merasa nyaman dengan lelaki itu. Kamu harus siap dengan segala konsekuensinya sebagai seorang istri. Intinya, segala kehidupanmu akan saling terkait dengannya. Kamu tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus bersama-sama," jelas Zelene.
"Apakah itu artinya aku harus menuruti semua perintahnya?" tanya Glenda.
"Seharusnya semuanya. Terkadang perempuan sibuk dengan urusannya masing-masing. Di situlah cobaan di mulai. Menikah itu tidak gampang, sayang. Apalagi usiamu masih cukup muda dan kamu juga baru mengenalnya."
"Apa menikah itu berat, Mom?" selidik Glenda.
Gadis itu tidak mau terjebak dengan keputusannya yang terkesan terburu-buru itu.
"Tidak berat kalau kamu memang siap. Apalagi yang Mommy tahu kalau lelaki itu yang mengejarmu. Tentu tidak akan sulit untuk menjalaninya. Mantapkan hatimu dulu. Lagi pula tidak akan menikah hari ini juga kan? Oh ya, pertemukan kami dengan orang tuanya. Itu pesan daddymu," terang Zelene.
Glenda mendengar seluruh penjelasan Mommynya. Itu artinya setelah menikah, kebebasannya bergantung pada suaminya. Apalagi Glenda bukan perempuan yang serba bisa. Dia harus menghadapi berbagai macam karakter keluarganya.
Belum lagi kalau Glenda memiliki mama mertua yang galak. Ah, rasanya kembali ke ingatan film yang pernah ditontonnya. Dia merasa ngeri sendiri.
"Kapan Mommy dan daddy siap? Aku akan mengabari Darsh," ucap Glenda.
"Segera secepatnya, Sayang. Oh ya, bagaimana perasaanmu pada lelaki itu?" selidik Zelene. Wanita paruh baya itu tidak mau melepaskan putrinya ke tangan lelaki yang salah. Itulah sebabnya dia memintanya bertemu terlebih dahulu.
"Nanti aku kabari ya, Mom. Keluarga Darsh seperti dari kalangan orang terpandang. Dia tahunya aku kalau bekerja sebagai seorang pelayan saja. Mengenai perasaanku padanya, aku menyukainya semenjak pertemuan kami, Mom, " ucapnya.
"Itu artinya dia menerimamu apa adanya, sayang. Sudah jangan khawatir. Kita bertemu keluarganya dulu, setelah itu baru kita putuskan," usul Zelene.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu penasaran kepada keluarga lelaki itu. Dia juga penasaran pada lelaki yang mendadak meminang putrinya. Harapan Zelene sangat besar untuk melepas putrinya pada orang yang tepat. Semoga saja kebahagiaan Glenda semakin meningkat setelah ini.