Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Wanita Mandiri


__ADS_3

"Tidak, aku minta maaf," ucapnya.


"Hanya itu?"


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya."


"Cuma itu?"


"Lalu, aku baru bagaimana, Glenda?"


"Setidaknya kamu harus lebih peka pada istrimu. Aku butuh kamu, Darsh."


"Hemm."


Andai saja Glenda bukan perempuan, dia akan mendekati Darsh dan memberikan bogeman mentah kepadanya. Bagaimana dia bisa bersikap setenang ini? Sejenak keduanya terdiam. Ini bukan sekali atau dua kali mereka berada di posisi seperti ini.


"Darsh, aku ingin belajar mengemudikan mobil."


Glenda memaksa suaminya untuk mengizinkan rencananya karena suatu alasan. Dia ingin seperti Jillian yang mendapatkan perhatian lebih dari beberapa lelaki. Bukan tujuan Glenda seperti itu, tetapi untuk memancing suaminya agar lebih perhatian lagi kepadanya.


"Aku tidak setuju!"


"Kamu tidak adil, Darsh. Aku menginginkannya supaya aku tidak merepotkanmu."


"Aku lebih suka kamu yang sekarang. Aku akan mengantarkanmu ke semua tempat yang kamu inginkan."


"Bohong!"


Darsh sepertinya harus memiliki stok tenaga yang cukup banyak untuk melawan istrinya.


"Kamu menyudutkanku?"


"Tidak, aku hanya ingin mandiri seperti Jillian. Gadis itu banyak diperhatikan lelaki karena kemandiriannya. Sedangkan aku, jangankan orang lain, suamiku saja tidak perhatian."


Sebelum bom meledak dari suaminya, Glenda mengantisipasi untuk pergi ke kamar mandi. Walaupun hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Darsh juga tidak mencegahnya. Malah masih terdiam di posisinya tanpa pergerakan sedikitpun.


Lama berkutat di dalam kamar mandi. Glenda berharap, setelah dia keluar dari sana, suaminya sudah tidak berada di dalam kamar lagi. Rupanya Glenda salah. Lelaki itu masih tetap pada posisinya. Dia melihat semua pergerakan istrinya mulai dari keluar kamar mandi dan duduk kembali ke ranjangnya.


"Kenapa kamu memandangku seperti itu, Darsh?"


Darsh terdiam. Dia hanya menatap istrinya saja. Seberapa kuat gadis itu bertatapan melawan dirinya. Dia sadar sekali kalau hari ini salah. Meminta maaf bukannya mendapatkan maaf, malah seperti hendak melanjutkan pertengkaran.


Bunyi telepon membuyarkan Darsh. Dia mengambil ponselnya dan melihat nama pemanggilnya adalah Frey.


Oh God, apalagi sekarang? Batin Darsh.


Darsh segera menggeser tombol hijau di ponselnya. Dia mengangkat telepon tepat di hadapan istrinya.


"Halo, Frey. Ada apa?"


"Darsh, bisa kita bertemu? Ada hal penting yang ingin dibicarakan denganmu."


"Di mana?"

__ADS_1


"Di rumahku saja. Orang tuaku sedang pergi lagi."


"Aku ke sana dengan kakak iparmu."


Glenda tersenyum. Dia menang selangkah dari suaminya. Bagaimana pun juga, dia harus berusaha untuk mendapatkan hati dan cinta suaminya.


"Hemm, datanglah. Aku tak masalah." Frey menutup teleponnya.


Darsh mengembalikan ponsel ke saku bajunya. Sepertinya mulai hari ini dia harus berdua terus ke mana pun Darsh pergi kecuali ke kantor.


"Bersiaplah! Kita akan pergi ke rumah Frey."


"Baiklah."


Glenda menuju ke meja tempat Darsh meletakkan beberapa minyak wangi dan berbagai macam perlengkapan miliknya. Glenda mengambil sisir kemudian menyisir rambutnya di depan cermin. Dia tidak membawa bedak ataupun lipstik di dalam tasnya. Setelah itu, dia mengambil minyak wangi milik suaminya. Darsh membiarkan saja tingkah istrinya itu. Toh tak ada salahnya berbagi dengannya.


"Darsh, aku siap. Namun, aku tidak ada baju ganti."


"Begitu saja. Kita hanya sebentar di sana. Setelah itu, jangan kabur-kabur lagi. Kita pulang ke apartemen."


"Darsh, aku tidak kabur."


"Teleponlah mamamu dan katakan kalau kamu pergi ke rumah mertuamu!"


Glenda mengambil ponselnya di dalam tas. Dia melihat ponselnya sudah tidak bisa menyala lagi.


"Ponselku off, Darsh. Boleh pinjam ponselmu?"


"Oh ya, satu lagi, Darsh. Panggil mereka mommy dan daddy. Bukan papa mama, oke," protes Glenda. Dirinya tentu saja merasa risih dengan panggilan itu. Sama seperti dirinya memanggil mertuanya dengan panggilan mama. Rasanya sangat aneh.


"No, Glenda! Aku tidak terbiasa."


"Oh ayolah, sayang. Demi istrimu. Please!"


"Ck, baiklah. Namun, jangan rubah panggilanku kepada orang tuaku sendiri. Cepatlah telepon mereka! Setelah ini kita akan pergi ke rumah Frey."


"Hemm, baiklah."


Glenda menghapal nomor mommynya. Tak sulit hanya mengetikkan nomor kemudian mendialnya.


"Halo, ini siapa?" tanya Zelene.


"Glenda, Mom. Ini aku pakai ponselnya Darsh."


"Sayang, kamu ke mana? Darsh mencarimu."


"Aku pergi ke rumah Mommy mertua, Mom. Glenda masak banyak dan belum ada yang makan, jadi kubawa ke sini," ucapnya sembari melirik suaminya.


"Oh, syukurlah kalau begitu."


"Yaudah, Mom. Lain waktu dilanjut lagi, ya. Glenda mau pergi dengan Darsh."


"Iya, Sayang. Jaga dirimu baik-baik."

__ADS_1


"Iya, Mom." Glenda menekan tombol merah tanda mengakhiri sambungan teleponnya. Dia menyerahkan pendeknya kembali.


"Terima kasih."


"Sama-sama. Lain kali ponselnya dicek dulu sebelum pergi. Jangan menyusahkan!"


"Darsh, pinjam sebentar saja. Nanti kuminta baru tahu rasa kamu." Glenda mengambil tasnya kemudian keluar lebih dulu.


"Mau ke mana kamu?"


Glenda menoleh sejenak sebelum membuka pintunya. "Keluar mencari mommy mertua untuk berpamitan kalau kita mau pergi ke rumah Frey. Apa masih kurang jelas penjelasannya, Tuan Darsh Damarion?"


"Hemm, kita cari mama bersama!" serunya.


Darsh beranjak dari kursi. Dia mengikuti istrinya. Tak sulit menemukan mamanya di rumah sebesar ini. Kebiasaan mamanya kalau tidak di kolam renang ya di ruang tengah. Kedua tempat itu menjadi favoritnya sejak dulu.


"Ma, kamu berutang penjelasan padaku!" protes Darsh.


"Tidak ada lagi yang perlu Mama jelaskan. Kamu sudah mendapatkan jawabannya sendiri. Kalian mau pulang?"


"Tidak, Ma. Aku mau pergi ke rumah Frey," jawab Darsh.


"Ajak istrimu! Jangan biarkan dia di apartemen seorang diri."


"Iya, Mom. Glenda mau ikut Darsh," sahut Glenda.


"Baguslah kalau begitu. Pergilah! Jangan lupa ajak makan malam istrimu." Pesan Olivia pada putranya.


"Mama jangan khawatir. Bukankah di apartemen sudah ada makanan? Tak perlu lah makan malam di luar," ucap Darsh.


"Kamu pelit sekali, Darsh." Tidak hanya istrinya, tetapi Olivia juga mengatakan hal yang sama.


"Hemm, kalian kompak sekali. Baiklah, kali ini aku turuti permintaan Mama."


Darsh lekas keluar menuju ke mobilnya. Begitu juga dengan Glenda. Sampai di sana, Glenda tak kunjung masuk ke mobil.


"Tunggu apa?" tanya Darsh.


"Tunggu dibukakan pintunya oleh suamiku."


"Tak ada adegan sok romantis seperti itu. Kalau mau belajar jadi wanita mandiri harus bisa membukanya sendiri."


Glenda benar-benar dikejutkan dengan tingkah suaminya yang mulai berubah itu. Terkadang manis dan sekarang sangat menjengkelkan.


"Oke, fine. Besok aku ambil kursus mengemudi."


Glenda masuk dan menutup pintu mobilnya sedikit kesal. Tahulah caranya seperti membanting pintu. Hanya sedikit.


"Aku tidak akan pernah mengizinkannya. Jangan berani melawanku!" protes Darsh. Lelaki itu menyukai Glenda apa adanya. Mungkin pemberontakan gadis itu juga karena ulahnya sendiri yang kurang perhatian terhadap istrinya.


"Kalau begitu, bersikaplah yang manis di depan istrimu!"


Oh God, itu bukan tipe Darsh sama sekali. Dia tidak akan mungkin bisa menuruti semua permintaan Glenda di luar sikapnya yang seperti ini. Darsh tidak suka dan tidak akan bisa.

__ADS_1


__ADS_2