
Bandara negara I bagian kedatangan Internasional, sepasang kakak beradik sedang menunggu kedatangan keluarganya. Jillian nampak antusias karena perjalanan menuju bandara, dia yang mengemudikan kendaraannya. Darsh menyampaikan kalau nanti Frey yang akan mengemudikannya saat kembali ke rumah. Siapa yang tidak mau mendapatkan penawaran sangat menarik seperti itu.
"Kak Darsh tidak bohong, kan?" selidik Jillian. Jangan sampai dia termakan trik cantik kakak sepupunya itu.
"Tunggu saja. Sebentar lagi juga datang."
Darsh mencari kopi lagi untuk menahan rasa kantuknya. Tidak biasanya dia merasa kelelahan seperti ini. Dia memang jarang sakit. Acaranya yang lumayan padat ini membuat tubuhnya sulit menerima kenyataan kalau ternyata sedikit dipaksakan untuk bekerja terlalu berat. Bukan karena pekerjaan, tetapi istirahatnya yang kurang.
Darsh tidak jadi membelinya. Kepalanya mulai sedikit pusing. Hampir saja dia rubuh jika Max tidak datang tepat pada waktunya.
"Darsh, kamu baik-baik saja?" tanya Max.
"Ya, aku baik, Max. Kamu sudah datang?"
"Iya, baru saja. Aku tanya Jillian, katanya kamu pergi untuk mencari kopi. Aku berniat menyusulmu karena aku juga butuh kopi," ucapnya.
"Mama dan papaku?"
"Ada bersama kami. Kebetulan kami satu perjalanan dengan mereka. Oh ya, kamu bisa jalan sendiri, Darsh?"
"Ya, aku bisa."
Rupanya Jillian sudah membawa mereka menuju ke mobil. Darsh melihatnya dari jauh. Mungkin juga Jillian ingin lekas sampai di rumah dan melanjutkan istirahatnya lagi.
"Ma," panggil Darsh.
Olivia mendekati putranya dan memeluk lelaki itu. Putranya yang kini sudah mempunyai tanggung jawab baru sebagai seorang suami.
"Kamu baik-baik saja, Nak? Jillian sudah menceritakan semuanya. Istrimu mana?" ucap Olivia melepaskan pelukannya.
"Ada di kamar Darsh. Dia sedang beristirahat," ucapnya.
"Syukurlah. Ayo, lekaslah. Sahabatmu sudah lelah," ajak Olivia.
Seperti perjanjian awal, Darsh akan meminta Frey untuk mengemudikan mobilnya. Beruntung Max menyadari kalau dirinya hampir saja oleng karena sedikit pusing.
__ADS_1
"Frey, kamu bisa gantikan Jillian untuk mengemudi?" tanya Darsh.
Mereka semua nampak memandang aneh pada Darsh. Padahal mereka baru saja sampai dan mungkin juga masih pusing karena perjalanan 30 jam. Ditambah lagi, Frey juga belum tentu hapal jalan menuju rumah keluarga Darsh.
"Biar papa saja, Darsh," ucap Dizon mengajukan diri.
"Jangan, Om! Jillian saja." Jillian mengambil kunci mobilnya dari tangan kakak sepupunya. Dia sudah tidak bisa mengharapkan Frey lagi.
"Kalau begitu, Frey duduklah di depan! Biar kamu cepat hapal!" perintah Dizon.
Pria paruh baya itu seakan paham keinginan keponakannya. Frey akhirnya menuruti kemauan papanya Darsh. Daripada tak kunjung berangkat karena hari sudah menjelang pagi. Pagi ini juga akan diadakan pemakaman grandmanya.
"Kalian bisa istirahat sebelum pemakaman yang akan dilangsungkan jam delapan pagi ini," ucap Darsh yang kebetulan duduk tepat di samping mamanya.
"Apakah mama mengatakan sesuatu padamu?" selidik Olivia.
"Tidak, Ma. Grandma hanya menyatukan kedua tanganku dan Glenda sebelum menghembuskan napas terakhirnya."
Tidak hanya Olivia, tetapi juga semua sahabat Darsh berkaca-kaca mendengar penuturan sahabatnya. Jillian yang melihat langsung kejadiannya merasa kalau Darsh dan Glenda memang ditakdirkan untuk bersama. Bahkan, grandmanya tidak ingin membuat mereka terpisah.
...🍒🍒🍒...
Perkiraan Kayana, mereka akan sampai pada jam dua dini hari. Sebelum semuanya terlambat, pelayan sudah menyediakan tiga kamar yang akan ditempati. Salah satunya adalah kamar lama Dizon Damarion yang sudah tidak ditempati beberapa puluh tahun. Hanya ketika Dizon pulang, kamar itu berfungsi lagi.
"Bagaimana, Bi? Apa sudah selesai?" tanya Kayana.
"Sedikit lagi, Nyonya."
Tepat seperti dugaan Kayana, hampir mendekati jam dua, mobil jemputan ke Bandara baru saja tiba. Mereka semua turun dengan membawa beberapa koper. Mereka dibantu beberapa pelayan. Kayana memintanya melalui pintu samping karena di depan ada jenazah mama mertuanya.
"Kak, selamat datang. Maaf, penyambutan yang seharusnya meriah menjadi kabar duka seperti ini," ucap Kayana memeluk Olivia.
"Mau bagaimana lagi, Kay. Takdir mama harus seperti ini. Lagi pula, dia sudah bahagia karena melihat Darsh sudah menikah."
Kayana mengajak mereka ke ruang tengah sebelum masuk ke kamar masing-masing. Kayana meminta suaminya untuk menyambut semua sahabat keponakannya. Mengenai Jillian, jangan tanya lagi, gadis itu sudah kabur ke kamarnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah keluarga Damarion. Frey, apa kabar?" ucap Felix.
"Baik, Om. Oh ya, perkenalkan sahabat Frey, yang itu Max, sebelahnya lagi Justin dan Owen. Maaf kedatangan kami akan sangat merepotkan."
"Tidak masalah Frey. Max, Justin, dan Owen, selamat datang."
"Terima kasih, Om," jawab ketiganya serempak.
"Kak Dizon, bisa bicara sebentar?" Felix berniat mengajak kakaknya ke ruang kerja papanya. Di sana, kedua pria paruh baya itu akan membicarakan banyak hal.
"Sayang, jangan sekarang! Kasihan, Kak Dizon baru saja sampai. Biarkan istirahat dulu. Ingat, pemakaman Mama jam delapan pagi," ucap Kayana.
Benar juga. Terlalu dini mengajak bicara kakaknya. Sebaiknya semua harus istirahat. Darsh juga sudah tidak kelihatan lagi. Hanya keempat sahabatnya dan orang tuanya saja.
"Darsh ke mana?" tanya Olivia.
"Mungkin sudah ke kamarnya, Kak," jawab Kayana.
"Frey, kalian akan menempati dua kamar yang berbeda. Om harap, kalian bisa menentukan tidur sekamar dengan siapa," jelas Felix.
"Frey sekamar dengan Max, Om," ucapnya.
Tentu saja membuat Justin dan Owen melirik tidak percaya. Di luar kamar dengan beberapa temannya saja sudah sering adu mulut. Bagaimana kalau sekamar berdua? Justin sangat mengkhawatirkannya.
"Frey, Max akan sekamar denganku. Kamu dan Owen saja. Aku ada urusan dengan Max," ucap Justin berbohong. Dia berusaha menyelamatkan rumah itu dari keributan keduanya.
"Baiklah, terserah kalian saja," balas Frey.
Justin tentu saja mengkhawatirkan dirinya. Max masih tidak terima kalau Jillian lebih memilih dirinya. Namun, semua sahabatnya menyadari kalau Max tipe lelaki yang suka memaksa. Hanya kepada Jillian, lelaki itu sedikit mengurangi sikapnya yang sangat keterlaluan itu.
"Ehm, bisa langsung ke kamar masing-masing?" tanya Kayana.
"Siap, Tante," jawab Justin.
"Bi, antarkan mereka ke kamarnya. Sementara aku akan mengantarkan Kakak Oliv ke kamarnya," ucap Kayana.
__ADS_1
Mereka semua mulai meninggalkan ruang tengah bersama dengan kopernya masing-masing. Kamar untuk keempat sahabat Darsh sudah disiapkan bersebelahan. Jangan tanyakan berapa banyak kamar di rumah itu. Sangat banyak sekali karena Denzel dan Carlotta sengaja menyiapkan untuk kondisi mendadak seperti sekarang ini. Walaupun hanya memiliki dua orang anak laki-laki, kelak anak cucu akan memenuhi rumahnya yang sangat luas itu.
Kehilangan orang yang paling disayangi sangat dirasakan keluarga besar Damarion. Namun, setelah pemakaman selesai, mereka akan mulai merundingkan kelanjutan pernikahan Darsh. Apakah tetap akan diadakan resepsi pernikahan atau ditiadakan? Mengingat setelah kehilangan orang yang paling dicintai dalam keluarga Damarion.