
"Apa kamu serius dengan ucapanmu barusan? Kalau sampai kamu menggodaku, awas saja!" ancam Darsh.
"Coba saja. Oh ya, aku mau ke pantry untuk meminta secangkir kopi hitam. Aku mengantuk karena semalaman kurang tidur. Apa kamu mau dibuatkan sekalian? Maksudku, aku akan meminta office boy yang membuatkannya."
"Hemm, mintakan juga untukku. Kenapa kamu harus ke sana? Bukankah bisa memintanya melalui telepon?"
"Sekalian aku ingin jalan-jalan di dalam kantor. Pening, baru datang sudah memberikan ceramah tentang rumah tangga."
"Baiklah dan cepat kembali!"
"Sensitif sekali Anda, Tuan Darsh," goda Justin. Dia bergegas pergi sebelum dimaki lagi oleh atasannya.
Darsh menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia berusaha memikirkan ucapan Justin barusan. Dia tidak ingin terjebak dalam drama lelaki yang seperti wanita hamil. Rasanya sangat tidak nyaman sekali.
"Apa iya aku harus berubah menjadi pria romantis hanya untuk menetralkan kondisiku ini? Jika memang iya, ini patut di coba. Kalau berhasil, aku akan mengapresiasi Justin sebagai imbalannya. Namun jika gagal, aku bersumpah bahwa Justin akan merasakan hal yang lebih parah dari apa yang kualami. Lihat saja!" ucapnya.
Darsh bukannya memikirkan bagaimana cara untuk membuat istrinya tersenyum bahagia, tetapi malah sibuk mengutuk sahabatnya. Ada keraguan di dalamnya. Sibuk memikirkan dirinya tak kunjung usai sampai pada ketukan pintu yang menghentikan kegiatannya. Justin datang bersama seorang office boy yang membawa nampan berisi dua cangkir kopi, namun belum sampai di depan meja Darsh, CEO muda itu merasakan mual teramat sangat karena menghirup aroma kopi yang menyeruak dari balik penutupnya.
"Justin, bawa pergi kopi itu dari ruanganku! Aku ingin muntah sekarang." Darsh bergerak cepat menuju wastafel yang berada tepat di samping ruangannya. Dia memuntahkan seluruh isi perutnya. Ini sangat menyiksa sekali.
Justin dan office boy itu buru-buru keluar. Sebenarnya Justin harus masuk lagi, namun mendengar suara Darsh muntah, perut Justin seperti ingin meledak dan melakukan hal yang sama dengan Bosnya.
"Belikan aku permen. Rasanya aku ingin muntah juga," perintah Justin pada office boy tersebut.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Setelah dirasa mendingan, Justin masuk ke ruangan Darsh dan berniat melihat kondisi Bosnya. Darsh memegangi kepalanya yang hampir meledak. Ini bukan siksaan pertama untuknya, namun ini yang paling parah. Aroma kopi malah membuatnya mual. Padahal Darsh sendiri termasuk penikmat kopi.
"Darsh, kamu baik-baik saja?"
"Hemm, seperti yang kamu lihat. Aku sedang tidak baik. Aku benar-benar tidak bisa fokus untuk bekerja. Ini sangat gila," ucapnya lirih.
Sepagi ini, Darsh berusaha untuk mengatur kondisi tubuhnya untuk tidak muntah. Dari apartemen, dia bisa mengendalikan diri dengan aman. Namun, sampai di kantor malah mendapatkan pemicunya untuk muntah. Ini tidak bisa dibiarkan. Dia harus segera menemui papanya dan meminta pria itu untuk menggantikan sampai istrinya melahirkan. Jika tidak, perusahaan akan sama kacaunya dengan dirinya.
"Apa sebaiknya kamu pulang saja ke rumah orang tuamu dan katakan pada Om Dizon kalau kamu belum bisa mengerjakan pekerjaan ini. Aku yakin, papamu pasti mau membantunya."
"Aku akan pulang sekarang. Mengenai itu, aku akan meneleponnya."
Darsh tidak bisa menahan dirinya terlalu lama di kantor. Mungkin sebaiknya dia membelikan buket bunga untuk istrinya. Baru saja sampai di toko bunga, kepalanya semakin pusing menghirup aroma bunga yang beraneka ragam itu. Dia meminta sopir untuk membawanya pulang ke rumah orang tuanya. Setelah ini, Darsh akan membicarakan hal penting ini pada mereka.
...🍃🍃🍃...
Darsh turun dengan langkah gontai. Dia seperti tidak memiliki kekuatan untuk berjalan sampai ke ruang tamu. Rasanya seperti orang lumpuh yang memaksa untuk berjalan.
"Darsh, kamu kenapa?" tanya Olivia ketika pelayan memberitahukan tentang kedatangannya.
"Papa mana, Ma? Darsh harus bicara dengannya. Ini kacau, Ma. Aku tidak bisa bekerja kalau kondisinya seperti ini. Aroma kopi telah membuatku tumbang bahkan tidak memiliki tenaga lagi. Aku sudah memuntahkan seluruh makanan yang ada di dalam perutku."
"Masuklah ke ruang tengah. Aku akan menyiapkan air jahe untukmu. Mama akan memanggil papamu. Sabar ya?"
Darsh mengikuti perintah mamanya. Sampai di sana, Darsh menyandarkan badannya ke sofa. Dia berharap setelah ini tidak akan ada drama muntah lagi untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup menyiksanya di kantor barusan.
__ADS_1
"Darsh, tumben kamu datang?" tanya Dizon yang baru saja keluar.
"Papa, aku ada perlu denganmu."
"Masalah apa?"
"Rasanya dia memintamu untuk bekerja lagi di kantor, Sayang. Putramu sedang bermasalah," sahut Olivia yang baru keluar membawa nampan berisi satu cangkir air jahe dan dua gelas teh hangat yang tidak terlalu manis.
"Kamu punya masalah apa?" Baru kali ini Dizon seperti khawatir pada putranya. Tak hanya itu, dia khawatir kalau perusahaan tidak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Namun, beberapa kali mendengar jawaban orang kepercayaannya di perusahaan membuat Dizon tenang. Selama ini semua berjalan seperti apa yang ada di pikirannya.
"Istrinya hamil, Sayang. Dia terkena dampaknya," ucap Olivia tersenyum ke arah putranya.
"Dampak apa maksudmu? Apakah Darsh ikut mengidam?"
Olivia mengangguk. Tentu saja hal itu malah membuat Dizon menertawakan putranya. Ketika Olivia hamil Darsh, untung saja dia tidak terkena imbasnya. Namun, tetap saja Olivia selalu meminta yang aneh-aneh. Bisa dibayangkan kala itu ketika Dizon hendak ke kantor, hanya karena secangkir kopi tumpah ke lantai membuat Olivia berteriak histeris. Bekas kopi yang hitam pekat mengotori lantai dan kalian tahu apa yang dilakukan Olivia pada suaminya? Dizon harus mengepel lantai itu sampai bersih. Dia tidak boleh ke mana-mana sampai bekas kopi itu tidak meninggalkan jejak ataupun bau yang tertinggal. Rasanya ingin berteriak, tetapi demi kandungan istrinya, Dizon menjalaninya dengan terpaksa.
"Lebih dari itu. Darsh mengalami kehamilan simpatik, Sayang. Glenda hamil, tetapi yang merasakan mual muntah dan lain sebagainya itu dirasakan oleh putramu."
Lagi-lagi Dizon tidak bisa menahan tawanya. Dia bisa tertawa lepas seperti itu untuk menertawakan putranya. "Hei, Boy! Nikmatilah pertunjukan istimewa ini. Papa tidak bisa membayangkan dirimu, Darsh. Sepanjang hari mual dan menolak seluruh makanan. Semoga cepat berakhir, kalau tidak, Papa akan lama mengurus kantor lagi."
"Kenapa Papa malah menertawakanku? Harusnya Papa bersimpati kepadaku atau minimal memberikan apresiasi. Aku akan memberikan cucu untuk Papa. Setelah anakku lahir, aku akan menitipkannya di sini," jelas Darsh.
"Tidak bisa! Enak saja, kamu yang membuatnya, kamu juga harus bertanggung jawab. Kamu mau menjadikan orang tuamu ini baby sitter, hah?"
"Sudah, jangan ribut! Darsh, minum air jahenya. Keburu dingin."
__ADS_1
Olivia sebenarnya ingin menertawakan suami dan anaknya. Kedua pria yang hidup bersamanya selama puluhan tahun telah memberikan kisah indah yang tidak bisa dilupakan. Agaknya ini waktu balas dendam Dizon pada putranya. Dia seperti melihat dirinya berada di posisi yang sama kala itu.