
Sama halnya dengan Darsh. Sepertinya lelaki itu merasa tidak senang atas keputusan orang tua Glenda, walaupun sebenarnya orang tuanya sendiri juga sama.
"Ma, ini bukan lagi urusan orang tua. Kalau kami sama-sama suka, apa kalian akan bersikap egois seperti ini?" tegur Darsh pada Olivia. Lelaki itu tidak menyangka jika harus terjadi seperti ini. Lingkaran kehidupannya tidak jauh dari masa lalu orang tuanya.
"Sebaiknya kita pesan makanan dulu. Setelah itu kita bicarakan lagi. Bagaimana, Ze?" Olivia berusaha membuat suasana benar-benar mencair. Dia ingat ancaman Mama mertuanya untuk membuat Darsh harus menikah dengan gadis pilihannya.
Jika bukan karena mama, aku tidak akan berada di posisi tengah seperti ini. Dizon pasti akan saling serang dengan keluarganya Zelene. Oh God, kenapa putraku harus menyukai gadis itu?
"Iya, sebaiknya begitu," balas Zelene. Kali ini Zelene mengkode suaminya untuk bersikap baik kepada keluarga dokter Olivia. Ya, walaupun kabar terakhir dokter Olivia tidak lagi bekerja di rumah sakit karena mengikuti suaminya. Rupanya puluhan tahun tidak bertemu, malah sekarang harus bertemu seperti sekarang ini.
"Pa, kamu mau pesan apa?" tanya Olivia pada suaminya.
"Apa saja, terserah kamu," jawabnya.
Pelayan segera mencatat semua pesanannya. Setelah itu, Darsh izin untuk pergi ke toilet.
"Maaf, Ma. Aku izin ke toilet sebentar," pamitnya.
Olivia hanya menganggukkan kepala. Sementara Glenda yang melihat pergerakan aneh dari lelaki itu, dia bergegas mengikutinya.
"Kamu mau ke mana, Glenda?" tanya Zelene.
"Ke toilet sebentar, Ma," bisiknya sedikit membungkukkan badan pada wanita itu.
Zelene tidak mungkin menahan kepergian anak gadisnya. Lagi pula hanya untuk ke toilet.
Tujuan Glenda rupanya untuk menemui Darsh. Benar saja gadis itu sudah menunggunya di depan toilet laki-laki. Darsh yang menyadari keberadaannya segera menarik tangannya untuk tidak berada di sana.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Darsh kaku.
"Aku menunggumu, Darsh. Kamu tahu kan orang tua kita sepertinya akan mempersulit hubungan kita. Aku tidak mau itu terjadi," ucapnya.
Jangankan Glenda, Darsh juga merasakan hal yang sama. Dia sedikit khawatir, tetapi masih bisa diatasi. Apalagi ini merupakan permintaan grandmanya.
"Glen, kamu jangan khawatir. Aku akan meminta orang tuaku untuk memikirkannya lagi. Apa kamu sudah yakin untuk menikah denganku?" selidik Darsh. Bagaimanapun juga hubungannya tidak lagi menjadi seorang kekasih melainkan langsung menjadi sepasang suami istri.
__ADS_1
Glenda terdiam. Kalau alasannya untuk mendekati lelaki itu untuk mencoba bagaimana rasanya diperhatikan, mencintai, dan dicintai mungkin sudah tepat. Namun, untuk menjadi istrinya yang seluruh hidupnya harus diserahkan kepada lelaki itu, apakah Glenda siap?
"Aku akan meyakinkan diriku, Darsh," ucapnya.
Keduanya kembali ke meja secara bersamaan. Hal itu membuat kedua keluarga memperhatikan gerak-gerik mereka. Tidak untuk Olivia, wanita itu berusaha mengambil sisi positifnya. Glenda dan Darsh pasti sedang merencanakan sesuatu untuk tetap bersama.
Kebetulan ketika kembali, semua makanan sudah tersedia di meja. Mereka mulai memakannya dalam diam. Sesekali, Dizon dan Vigor saling melirik. Untung saja mereka masih bisa menguasai diri masing-masing. Setelah selesai makan, Olivia melanjutkan pembicaraannya lagi.
"Ehm, begini, Ze. Ini melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. Putraku memang telah meminang putrimu secara pribadi. Namun, aku sebagai Mamanya ingin meneruskan ini untuk segera mengadakan pertunangan secara resmi," ucap Olivia.
"Tetapi, keluarga kami belum memutuskan apapun, Kak," balas Zelene.
"Aku akan menunggunya, Ze. Aku berikan waktu satu minggu. Seperti yang sudah Darsh berikan pada putrimu," balas Olivia.
"Dad, tolong berbicaralah. Jangan seperti itu," rayu Glenda. Dia berusaha membuat keadaan kembali seperti biasa.
"Daddy harus bicara apa, sayang?" tanya Vigor.
"Setidaknya sebagai seorang Daddy, berikan kesempatan Darsh untuk mengungkapkan maksud dan tujuannya. Kalau Daddy egois seperti ini, jangan salahkan aku," ancamnya.
Sepertinya Glenda sedang mengusahakan untuk bisa menerima Darsh bagaimanapun masa lalu orang tuanya.
"Kamu masih berharap dengan putriku?" tanya Vigor akhirnya.
"Dad, jangan seperti itu," sela Zelene.
"Mau bagaimana lagi, Mom?" tanya Vigor.
"Ehm, Vigor. Sebelumnya aku meminta maaf atas nama suamiku. Mungkin itu masa lalu kalian semua. Setidaknya untuk anak-anak kita, cobalah kesampingkan masa lalu itu," ucap Olivia. Dia bisa menguasai keadaan karena ada hal penting yang harus diselesaikan. Selain urusannya untuk memenuhi permintaan terakhir mertuanya, Olivia tidak akan pernah mengecewakan Darsh, putranya. Lelaki itu hanya akan memilih satu gadis sepanjang hidupnya.
"Ma, kenapa kamu mengatakan itu?" protes Dizon.
"Pa, sudah saatnya kamu melupakan masa lalu. Lagi pula untuk apa lagi? Kehidupan kita sudah berbeda sekarang," balasnya.
Darsh dan Glenda masih dalam diamnya. Gadis itu menyadari jika mamanya Darsh adalah orang yang sangat baik dan tegas. Sudah bisa dilihat dari perkataan dan tingkahnya.
__ADS_1
"Tante, terima kasih sudah memberikan kesempatan padaku," ucap Glenda.
"Sama-sama, sayang," balas Olivia.
Makan malam kali ini suasananya sangat tidak nyaman sekali. Antara Daddynya Glenda dan Papanya Darsh tetap tidak mau saling bicara.
"Ehm, Kak Oliv, kami akan memberikan jawaban dalam beberapa hari ke depan," ucap Zelene.
Wanita itu juga kasihan pada putrinya. Gadis itu sudah terlanjur suka pada Darsh. Ingatannya kembali pada masa lalunya yang tidak mau menerima laki-laki selain Vigor.
"Baiklah, Ze. Malam ini pertemuan pertama kita. Tiga hari lagi, aku menunggu jawabannya," ucap Olivia.
"Kenapa secepat itu?" protes Vigor.
"Maaf, Vigor. Semakin lama tidak baik untuk menundanya. Aku merubah waktu yang sudah kuberikan di awal. Apalagi kita semua sudah saling kenal. Mungkin anak-anak saja yang perlu membiasakan diri dengan keadaan kita," balas Olivia. Dia memegang tangan putranya untuk menguatkan lelaki itu agar bersabar dalam beberapa hari ke depan.
"Terima kasih, Ma," balas Darsh.
"Baiklah, tiga hari lagi, keluarga kami akan memberikan jawaban," ucap Vigor. Pria itu akhirnya mau berbicara secara langsung.
Dizon, dia tetap diam di posisinya. Kalaupun dia berani berbicara malah akan mempersulit istrinya. Apalagi wanita itu nantinya pasti akan mengancamnya dengan segala cara untuk memuluskan rencananya.
"Terima kasih, Vigor. Aku akan menunggunya," balas Olivia.
Mereka memutuskan menyudahi makan malam ini. Tiga hari lagi, keluarganya Glenda akan memberikan jawabannya. Olivia tidak akan mempersulit calon besannya.
"Kami pamit dulu, Kak," ucapnya.
Setelah kepergian Glenda, Olivia berbicara sebentar. Sebelum itu, dia meminta Darsh untuk membayar seluruh makanan yang dipesannya.
"Darsh, pergilah ke kasir. Bayar makanannya. Mama sudah bilang pada tante Zelene untuk membayar semua makanannya."
"Baik, Ma," Darsh bergegas meninggalkan Papa dan Mamanya.
"Ma, kenapa kamu malah meminta mereka menjawab dalam waktu tiga hari? Itu terlalu singkat," protes Dizon.
__ADS_1
"Kita bicarakan lagi di rumah, Pa. Banyak alasan yang ingin kuutarakan padamu," jawab Olivia.
Setelah makan malam yang tidak terlalu nikmat itu mereka pulang dengan membawa beberapa masalah yang akan diselesaikan di rumah. Sama halnya dengan Zelene dan Vigor. Dalam waktu tiga hari, mereka harus memberikan jawaban untuk masa depan putri tunggalnya.