Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Cincin Pertunangan


__ADS_3

Darsh berada di kamarnya. Dia belum mulai bekerja karena menunggu keputusan keluarga Glenda. Harapan lelaki itu segera mendapatkan jawaban dari gadis itu. Setelah itu dia bisa fokus untuk bekerja.


Darsh terus saja memegang ponselnya. Dia berharap ada keajaiban yang muncul dari sana. Lama memegang ponsel itu, Darsh merasa kesal karena sejak pagi tak kunjung ada pesan masuk di sana. Terpaksa dia meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia memejamkan mata untuk meredam kekhawatirannya.


"Glenda, lama sekali kamu menggantung jawaban untukku. Kalau pun kamu menolaknya, tak masalah. Setidaknya aku sudah berusaha," ucapnya.


Memejamkan mata sesaat tak membuat Darsh tenang. Justru perasaannya semakin kacau karena tidak ada kejelasan dari gadis itu.


Darsh membuka matanya kemudian turun dari ranjang. Dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Rasanya dia ingin mencari aktivitas yang membuat tubuhnya kembali segar.


Memandang cermin di kamar mandi begitu lama membuat Darsh tidak bisa berpaling dari bayang-bayang Glenda. Wajah gadis itu seolah mempermainkannya. Terkadang menjauh dan mendekat. Rasanya garis takdir sedang mengujinya. Untuk kali ini, Darsh benar-benar dibuat gila oleh gadis itu. Gadis yang dikiranya sangat sederhana, tetapi kenyataannya sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilihat.


"Kamu gadis yang sudah mengusik ketenteraman jiwaku, Glenda. Kamu menarik dan sangat berbeda dengan gadis lainnya."


Berlama-lama di kamar mandi tak membuatnya tenang. Perasaannya seperti naik roller coaster. Terkadang harus berteriak sekencang mungkin untuk merasakan nikmatnya menaiki wahana itu. Setelah selesai, Darsh menuju ke nakas dan mengambil ponselnya.


Darsh memejamkan matanya. Berharap setelah membuka akan ada keajaiban.


Satu.


Dua.


Tiga.


Darsh membuka matanya kemudian beralih ke ponselnya. Ada sebuah pesan dari gadis yang ditunggunya.


Deg!


Rasanya tidak percaya. Gadis itu dan keluarganya sudah setuju. Sebentar lagi dia akan menikah dan memiliki keluarga baru. Dia juga harus berbagi kamar dengan gadis itu. Rasanya seperti baru kemarin dia mengenalnya kemudian mengajak gadis itu untuk menikah.


"Aku harus menemui mama. Secepatnya pertunangan resmi akan dilangsungkan. Aku yakin Mama akan menyiapkan segalanya," ucap Darsh. Bergegas dia keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan mamanya.


Bahagia, tentu saja hal itu yang dirasakan Darsh saat ini. Dia mendapatkan apa yang diharapkannya selama ini. Dia akan memiliki gadis yang telah membuatnya tertarik.


"Bi, mama di mana?" tanya Darsh pada pelayan yang kebetulan ditemuinya.


"Ada di kamarnya, Tuan. Nyonya baru saja masuk ke sana," jawabnya.


"Terima kasih."


Darsh ingin secepatnya menemui mamanya dan menyampaikan kabar bahagia.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanya Olivia.

__ADS_1


"Darsh, Ma. Tolong buka pintunya."


Ceklek!


"Ada apa, sayang?"


"Boleh aku masuk?"


"Tentu saja." Olivia duduk di ranjang. Sepertinya Olivia melihat aura bahagia nampak di wajah lelaki itu.


"Ehm, Glenda sudah mengabarinya, Ma."


"Serius, sayang? Apa jawabannya? Cepat katakan pada Mama!"


Darsh tidak menjawabnya, tetapi malah mendekati mamanya kemudian memeluk wanita itu dengan sangat erat. Kebahagiaannya tidak bisa disembunyikan walaupun sebenarnya Olivia sudah tahu apa jawabannya.


"Gadis itu menerimamu. Wah, selamat ya, sayang. Mama ikut bahagia. Sebentar lagi keluarga kita akan semakin lengkap," ucap Olivia. Wanita itu sangat bahagia sekali karena akhirnya keluarga Zelene mau menerima putranya.


Darsh kemudian melepas pelukan itu dan mulai berbincang dengan mamanya. Banyak rencana yang harus disusun sebelum pergi ke rumah gadis itu.


"Selanjutnya apa rencana Mama? Glenda meminta kita untuk datang ke rumahnya setelah dua hari ini."


"Kita akan berbelanja cincin pertunangan dan membawa oleh-oleh untuk calon mertuamu. Bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya Olivia.


"Harus seperti itu, Ma?"


Darsh tidak menolak keinginan mamanya. Dia yang akan mengantarkan wanita itu untuk berbelanja. Dia juga yang akan membantu memilih cincin pertunangan untuk gadis itu.


"Kita pergi ke mana, Ma?"


"Mal XYZ. Di sana kita bisa menemukan semuanya tanpa harus berkeliling ke banyak tempat."


Darsh menyetujuinya. Bergegas lelaki itu mengambil mobilnya di Garasi. Dia menggunakan mobil bututnya untuk mengecoh gadis-gadis yang berusaha mengejarnya.


"Ma, maafkan aku. Kita harus memakai mobil ini," ucap Darsh.


"Tak masalah, sayang. Yang penting kamu bahagia dan nyaman."


Darsh mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik mamanya. Olivia sesekali melirik putranya. Darsh terus saja tersenyum. Tak lama, mobilnya telah memasuki area Mal. Bergegas Darsh mencari tempat parkir yang mudah dijangkau. Setelah itu, keduanya langsung masuk ke Mal.


Olivia merupakan mama yang cekatan. Dia tak perlu banyak berpikir untuk membeli apa-apa tanpa rencana. Dia sudah menyusun apa saja yang akan dibelinya dalam waktu singkat.


Berkeliling Mal dalam waktu satu jam, Olivia sudah mendapatkan beberapa banyak barang. Tinggalah waktunya untuk mampir ke toko perhiasan.


"Ma, apa kita perlu membeli perhiasan juga?" tanya Darsh.

__ADS_1


"Tentu saja, sayang."


"Aku tidak tahu ukuran jari manisnya, Ma."


"Pilihlah dengan keyakinanmu, Darsh. Mama yakin cincin itu akan muat dijari manis calon istrimu. Percayalah, kekuatan cintamu yang akan menjawabnya," jelas Olivia.


Ck, mana mungkin bisa seperti itu? Mama ada-ada saja.


Kini keduanya sudah sampai di toko perhiasan. Darsh mulai pusing dibuatnya. Ini pertama kalinya dia ikut mamanya untuk berbelanja. Ternyata perempuan itu begitu rumit.


"Ma, aku bingung mau memilih yang mana?"


Darsh menyerah untuk memilih hal yang tidak pernah dilakukannya seumur hidupnya. Sekarang dia terjebak drama pertunangan yang akan dilakukan beberapa hari lagi.


"Lihatlah dulu, kemudian tentukan pilihanmu," perintah Olivia.


Sesaat Darsh memejamkan matanya. Dia memang tidak pandai memilih perhiasan, tetapi selera Darsh sebenarnya cukup tinggi.


Darsh akhirnya memutuskan pilihan pada sepasang cincin polos yang nampak elegan.


"Ini saja, Ma." Darsh menunjukkan pilihannya.


Semua barang belanjaannya sudah terkumpul. Tak ada lagi yang ketinggalan. Darsh rasanya sudah cukup lelah untuk mengikuti ke mana mamanya melangkah.


"Ma, memangnya wanita harus seperti ini, ya?" tanya Darsh yang posisinya mulai mengarah ke tempat parkir yang ada di basemen.


"Maksudmu?"


"Ya, maksudku hobi sekali belanja dan menghabiskan uang suami," ucap Darsh.


"Tidak seperti itu, Sayang. Tidak semua wanita suka belanja dan menghabiskan uang pemberian suaminya."


Ah, semoga saja Glenda tidak seperti itu. Aku tidak sanggup kalau harus mengikutinya belanja sepanjang waktu. Lebih baik aku bekerja dan mengembangkan perusahaan papa supaya semakin maju.


"Ma, setelah ini mau kemana lagi?"


"Tidak ada, Darsh. Kita langsung pulang saja. Mama akan menyiapkan semua barang ini untuk disusun dengan indah."


Darsh melihat kebahagiaan terpancar jelas di wajah mamanya. Ini untuk pertama kalinya wanita itu antusias untuk belanja di luar. Biasanya dia akan menyuruh pelayan untuk membelikan beberapa kebutuhan bulanan dan sebagian kecil kebutuhannya akan dibeli secara online. Mamanya jarang sekali keluar rumah.


...🏵🏵🏵...


Hai akak readers, Emak mampir lagi untuk merekomendasikan karya keren milik Eveliniq. Jangan lupa mampir 😍


Cinta Online by Author eveliniq

__ADS_1


Terima kasih. Miss you all 🙏🏻🙏🏻😍😍😍



__ADS_2